2 - Dekati Ayahnya, dan Dekati Anaknya Juga

1866 Words
Aruna benar-benar memegang kata-katanya untuk menunggu Arsen sampai Ares pulang. Azan maghrib sudah berkumandang, anak-anak Arsen sudah mandi dan sedang bermain lego di ruang keluarga. Karena tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya Aruna membantu Bi Ririn untuk menyiapkan makan malam. Awalnya wanita itu menolak, tapi karena Aruna bersikeras akhirnya dibiarkan saja. Begitu makan malam sudah siap, Bi Ririn meminta Aruna untuk menunggu di sofa saja selama dirinya membersihkan dapur. Tapi karena sepertinya lebih menyenangkan bermain bersama anak-anak Arsen, Aruna akhirnya mendatangi mereka. Keduanya sibuk membangun sesuatu yang entah apa itu. Hanya kumpulan lego yang ditumpuk-tumpuk menjadi satu. Aruna ikut duduk di karpet. "Hai," sapa Aruna. Keduanya menoleh. "Hai juga," sahut mereka serempak. "Ini kalau aku boleh tahu, sebenarnya gimana sih cara ngebedain kalian?" Keduanya langsung berdiri begitu saja. Salah satu anak, mengukur kepalanya sendiri dengan kepala anak di sampingnya yang sedikit lebih tinggi. Sekarang Aruna tahu sedikit perbedaannya. "Aku Bintang. Sedikit lebih pendek, tapi aku ini sebenarnya kakak." Aruna tertawa. Bintang seolah sedang menegaskan bahwa meskipun dirinya sedikit lebih pendek, ia tetaplah seorang kakak. "Sama ini." Bintang mengambil rambutnya yang dikuncir dua, "biasanya aku dikuncir aja." "Oh, jadi Binar dikepang gitu? Supaya teman-teman kalian juga bisa lebih ngebedain kalian?" Mereka mengangguk. "Dan aku juga emang lebih suka dikepang," tambah Binar. Aruna bertanya lagi, "Kalau misalnya rambut kalian sama-sama lagi digerai gimana? Terus misalnya kalian berdua lagi duduk, jadi kadang susah bedain mana yang lebih tinggi? Gimana cara bedanya kalian?" "Karena sering dikepang, rambutku jadi sedikit lebih keriting, daripada rambut Bintang yang lurus." "Udah gitu Binar juga gak bisa diam anaknya. Gak mungkin kakinya diam aja kalau lagi duduk." Bintang menambahkan. Aruna tertawa lagi. Cukup senang karena rupanya kedua anak Arsen begitu terbuka dan ramah. Niat hati hanya ingin menyapa, ia malah jadi bisa mengobrol. "Oh, iya. Kakak sendiri kenapa masih di sini? Nungguin papaku?" tanya Bintang. "Papaku juga." Bintang menoleh. "Iya, papa kita berdua." Lucu sekali! pekik Aruna dalam hati. Sepertinya sifat mereka yang banyak bicara dan lucu itu menurun dari ayahnya. Aruna ingat betul bahwa Arsen adalah orang paling ramah yang dikenal olehnya. Bicaranya menyenangkan, dan terkadang suka menimpali bicaranya yang tidak jelas. "Iya, kakak lagi nunggu papa kalian." Aruna menyahut. Tidak ingin membahas hal itu lebih jauh, ia mengalihkan pembicaraan. "Gimana kalau kalian lanjut main? Boleh gak kalau kakak gabung?" Seramah sambutan mereka sebelumnya, Aruna dipersilakan duduk. Mereka menggeser posisi agar Aruna bisa ikut bermain. Bangunan tidak jelas yang awalnya hanya ditumpuk-tumpuk, perlahan-lahan mulai terlihat bentuknya menjadi rumah karena bantuan dari Aruna. Bintang dan Binar bertepuk tangan melihat keahlian Aruna. Yang akhirnya malah Aruna yang justru bermain lebih banyak. *** Sekitar setengah jam kemudian, terdengar suara klakson mobil dari arah luar. Bi Ririn yang sedang menggosok pakaian berlari dengan langkah lebar ke luar rumah. Yang ditunggu-tunggu Aruna datang. Arsen keluar dari mobil dengan tampang lelahnya. "Tadi anak-anak telepon saya, katanya ada tamu. Itu bener?" tanya Arsen berjalan lebih dulu. "Iya, Pak. Dia datang dari siang, dan sekarang lagi main sama anak-anak." "Siapa?" tanya Arsen lagi. "Saya juga kurang tahu, Pak. Tapi tadi katanya dia itu dulu sempat jadi tetangga Bapak." Arsen nampak mengingat-ingat. Tapi tidak tahu siapa yang dimaksud. Ia membuka pintu. Menyapu pandang dan dengan cepat langsung menemukan orang itu. Aruna. Langkahnya tenang. Meski terlihat lelah, Arsen tidak menunjukkannya. Keningnya berkerut saat Aruna mendongakkan kepala. Menatapnya. Arsen berhenti tepat saat sepatu pantofelnya satu jengkal di dekat karpet. Ia bertanya, "Kamu nyari saya?" Demi Tuhan, cakep banget! Aruna hanya mampu membeku di tempatnya. Arsen yang dulu dikenalnya sangat jauh berbeda dengan Arsen yang saat ini ada di depannya. Laki-laki itu terlihat sangat tampan di usianya yang ke tiga lima. Benar-benar duda tipe ideal pilihan emak-emak buat dijodohin sama anaknya. "Halo?" Arsen melambaikan tangan melihat Aruna yang hanya terdiam. Bukannya Aruna yang menjawab. Bintang menarik-narik jemari Arsen yang bebas. "Pa, Papa. Coba liat, deh. Kakak ini hebat banget nyusun lego-nya. Lebih pinter dari kita berdua masa." Tangan mungilnya menunjuk rumah lego yang sudah rampung. Arsen hanya tersenyum. "Gimana kalau kalian berdua ke kamar? Nanti papa panggil sebelum makan malam." "Tapi ini masih berantakan. Mainannya belum dirapiin." "Gak pa-pa, nanti biar papa atau Bi Ririn yang rapiin. Oke?" "Oke!" Cepat dan lincah. Mereka bangun dan langsung pergi ke arah tangga menuju lantai dua. Bersamaan dengan Aruna yang juga ikut berdiri. Sekali lagi Arsen bertanya, "Kamu nyari saya?" Wajahnya nampak bingung. Persis seperti dugaan Aruna bahwa Arsen ternyata bahkan tidak mengenali dirinya. Maklum saja, belasan tahun bukanlah waktu yang sebentar. Terlebih lagi ia bukanlah seseorang yang berharga untuk Arsen. Semakin tenggelam saja dalam ingatan Arsen. "Mas Arsen gak inget sama aku?" tanya Aruna. "Mas Arsen?" Arsen semakin terlihat bingung. Pasalnya, di matanya Aruna hanyalah seseorang yang sok akrab. Aruna mengangguk. Ada alasan kenapa dirinya memanggil Arsen dengan sebutan 'mas'. Jadi dulu, ibu Arsen juga memanggil Arsen menggunakan panggilan itu. Entah apa alasannya, karena Arsen sendiri adalah putra tunggal dan tidak memiliki saudara. Karena terdengar enak di telinganya, Aruna ikut-ikutan saja. Dulu, panggilan itu sekilas hanya sebatas panggilan yang menunjukkan bahwa Arsen adalah sosok yang jauh lebih tua darinya. Tapi sekarang, entah kenapa rasanya menjadi beda. "Dulu pas SD, aku pernah tinggal di rumah sebelah. Aruna, Mas. Yang suka gangguin Mas Arsen, dan suka rebut ayunan di pohon mangga milik Mas Arsen." Untuk sesaat, Arsen hanya terdiam. Jelas sedang berusaha mengingat sebaik mungkin. Sampai kemudian, bola mata Arsen membesar. Aruna senang bukan main saat Arsen membeberkan semua tentangnya. "Aruna anaknya Tante Mitha? Yang ngomongnya ceplas-ceplos, yang suka masuk ke rumah saya tanpa ngetuk pintu dan lari ke dapur cuma buat minta cookies buatan mama saya, dan ya, yang lebih sering naikin ayunan di pohon mangga padahal ayunan itu punya saya." Arsen tertawa. Demi Tuhan, tawa itu terdengar merdu sekali di telinga Aruna. Mungkin karena tidak mendengarnya untuk waktu yang sangat lama. Aruna senang karena rupanya sifatnya yang sedikit buruk berhasil mengingatkan Arsen tentang dirinya. Tidak masalah, meski tidak tinggal lama dulu sebagai tetangga Arsen, ternyata Arsen memiliki ingatan tentangnya. Meski Arsen terdengar sedikit formal karena menggunakan bahasa ,saya', rasa senangnya tidak akan pudar. "Iya, Mas. Itu saya. Maaf lho, kalau Mas Arsen masih gak ikhlas tentang ayunan itu. Saya harap setelah saya pindah, Mas Arsen punya banyak waktu main ayunan." Arsen tertawa. Lagi-lagi menyihir Arsen hanya karena tawanya itu. Lalu, seolah sadar akan sesuatu, tawa Arsen terhenti. "Astaga, maaf. Harusnya kita ngobrol sambil duduk." Ia mempersilakan Aruna untuk duduk di sofa. Dan Aruna mengikutinya. Keduanya duduk di sofa yang berbeda. Tas kerja yang dibawa Arsen diletakkan di sisi sofa yang kosong yang juga diduduki Arsen. "Gimana caranya kamu bisa ada di rumah saya? Kayaknya kita nggak pernah ketemu lagi setelah kamu pindah ke luar kota. Jujur aja, saya sebenarnya agak sedikit kaget liat kamu ada di sini." "Yang pasti aku nggak jalan kaki sih, Mas. Soalnya jauh. Aku naik pesawat. Baru nyampe sini semalem." Arsen manggut-manggut. "Terus sekarang tinggal di mana?" "Kalau sekarang sih cuma tidur di hotel untuk beberapa hari. Sambil nyari-nyari tempat tinggal yang cocok." "Ada tujuan khusus datang ke sini?" Ada, Mas. Ada! Dan kebetulan tujuannya udah ada di depan mata. Ingin rasanya Aruna mengatakan hal itu, Tapi tentu tidak akan ia lakukan, karena itu hanya akan menjatuhkan harga dirinya. Ya, memangnya orang gila mana yang mau melakukan hal itu di kunjungan pertamanya? "Kebetulan aku baru lulus kuliah. Lagi santai-santainya aja sih sebenernya. Tapi kalau ditanya punya tujuan khusus atau enggak, mungkin aku cuma mau nyari kerjaan aja." "Nggak nyangka saya. Terakhir ketemu kamu, itu masih sekolah dasar dan masih pecicilan banget. Kalau mau, nanti bisa saya bantu soal kerjaan." Tambah senang saja Aruna. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tidak sia-sia ia terbang dari jauh. "Makasih lho, Mas." Aruna terkekeh pelan. Arsen mengangguk. "Ngomong-ngomong, kayaknya kamu udah nunggu cukup lama di sini. Kayaknya juga udah kenal sama anak-anak saya." "Iya, udah ngobrol banyak juga tadi sambil main. Soalnya kebetulan aku nggak punya orang lain yang aku kenal di sini. Cuma Mas Arsen aja. Jadi daripada besok balik lagi dan belum tentu ketemu sama Mas Arsen, aku mutusin buat nunggu aja." "Maaf ya kalau harus nunggu lama. Maaf juga kalau anak-anak saya nakal." Cepat-cepat Aruna menggeleng. "Gak sama sekali kok, Mas. Bintang sama Binar gak nakal. Saya malah seneng main sama mereka. Soalnya mereka manis dan ramah banget." "Waw! Udah tahu namanya juga ternyata?" "Masa udah sempet main gak sempet kenalan?" "Iya juga." Arsen tertawa lagi. Pembicaraan terhenti saat Bi Ririn datang lagi-lagi membawa suguhan untuk Aruna. Hanya saja kali ini tidak hanya untuk Aruna, tapi untuk Arsen juga. Wanita itu pamit undur diri setelah menyajikan kopi dan jus. Hebatnya, kedatangan Bi Ririn membuat Aruna tiba-tiba memikirkan sesuatu. Sesuatu yang sangat konyol sekali. Yang paling konyol dalam hidupnya. "Ngomong-ngomong anaknya Mas Arsen itu umur berapa?" tanya Aruna. "Tujuh tahun. Baru masuk sekolah dasar." Masih sangat muda dan perlu perhatian ekstra. Aruna melihat itu sebagai kesempatan. Karena sejak tadi tidak melihat orang lain selain Bi Ririn, mungkin memang tidak ada pengasuh yang dipekerjakan untuk mengurus Bintang dan Binar. "Terus kalau pergi ke sekolah? Gak sama pengasuhnya?" "Sama Bi Ririn." "Saya kira Bi Ririn itu asisten rumah tangga Mas Arsen aja." "Emang iya, tapi sekalian ngasuh anak-anak juga. Udah dari kecil juga." "Aduh, Mas. Padahal Bi Ririn udah tua. Mana dia harus beresin rumah juga sambil ngurus anak-anak. Bukannya artinya Mas Arsen harus cari orang lain buat ngasuh anak-anak?" Untuk ukuran pertemuan pertama, Aruna memang Terdengar sangat lancang, tapi baik Aruna ataupun Arsen sama-sama tahu bahwa seorang Rhea memang memiliki mulut seperti itu. Arsen yang sudah lama tidak bertemu pun memakluminya dan tidak ambil pusing. "Sebenarnya udah beberapa kali saya pertimbangin hal itu, tapi belum sempat nyari aja. Apalagi anak-anak juga udah terlanjur akrab sama Bi Ririn. Pas masih bayi sih ada yang sempat kerja di sini selama dua tahun, tapi dia berhenti karena mau pulang kampung. Sekali lagi, emang belum sempat nyari yang baru aja." "Ih, ngapain dicari atuh, Mas. Orang calonnya aja ada di depan mata, tinggal diwawancara aja." Satu detik hening. Detik selanjutnya, Arsen tertawa terbahak-bahak. Itu adalah tawanya yang keempat setelah berbicara dengan Aruna. "Kamu itu, ya. Bener-bener gak berubah. Selalu aja ngomong seenaknya. Mana bisa saya pekerjakan kamu sebagai pengasuh anak-anak? 'Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu itu baru lulus kuliah. Masa udah bertahun-tahun kuliah malah jadi pengasuh? Gak lucu, dong!" Aruna mengambil gelas miliknya. Meneguknya karena tiba-tiba merasa haus setelah mempersiapkan diri untuk mengatakan hal tidak masuk akal itu. "Sebenarnya sih aku gak bercanda. 'Kan gak ada salahnya juga ngasuh anak sambil nyari kerjaan lain. Daripada nganggur, 'kan? Apalagi anak-anaknya Mas Arsen juga udah bisa semuanya sendiri. Jadi cuma tinggal ngawasin aja, dan aku pikir aku bisa." Gantian Arsen yang meneguk kopi miliknya. "Udah, gak usah ngawur. Nanti biar saya bantu soal kerjaan, tapi gak ngasuh juga." Ia berdiri, "saya mau panggil anak-anak buat makan malam. Kamu ikut aja. Nanti saya antar pulang. Tapi sebelum itu kita harus ngobrol-ngobrol dulu, nanti saya kenalin ke anak-anak saya kalau kamu itu pernah tinggal di rumah sebelah." Meski Arsen menganggapnya sebagai candaan, Aruna tidak menganggapnya demikian. Kata orang-orang, kalau mau mendekati seorang duda, dekati juga anaknya. Dan itulah yang sedang berusaha Aruna lakukan. Tidak apa-apa jadi pengasuh, apalagi setiap hari bisa lihat Mas Duda yang kelewat tampan. Ikhlas lahir batin Aruna mah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD