Kinar terbangun, membuka matanya dengan perih karena kebanyakan menangis. Perlahan ia sadar ada Bara di sini. Ia segera bangkit dan memeluk suaminya.”Mas....” Bara bernapas lega.”Sayang....” “Maafin aku, Mas, sudah kabur dan ninggalin Mas,”isaknya. Bara mengangguk dalam pelukannya, ia menciumi kepala dan wajah Kinar sebagai bentuk rasa permintaan maafnya yang teramat dalam.”Aku juga minta maaf ya, sayang, sudah membuat kamu seperti ini.” “Iya, Mas...maafin aku. Aku nggak akan bertanya lagi soal kamu, Mas. Aku akan berhenti mencari tahu, sebab itu sama aja melukai diriku sendiri. Aku nggak sanggup.” Bara menarik napas panjang.”Iya, Kin, iya...tapi aku akan tetap cerita. Maaf untuk segala kekurangan.” Kinar menatap wajah Bara yang pucat dan dingin.”Kamu naik perahu malam-malam begini?”

