Bab 42

1504 Words

“Aku telah mengenal ayahku sejak aku kecil. Kami tinggal bersama-sama hingga aku kuliah. Selama itu, dia adalah orang terkedat denganku lebih dari siapapun – bahkan ibuku sendiri.” Melissa berdiri menatap lurus pada cahaya lampu yang menyorot wajahnya. Seisi ruangan tampak hening ketika ia berdiri di atas panggung untuk memberi pidato. Orang-orang yang hadir disana duduk dan memenuhi kursi-kursi kosongnya. Beberapa di antara mereka adalah media massa yang hendak meliput acara pembukaan misi itu, beberapa yang lain adalah rekan kerja dan orang-orang terdekatnya. Ibunya dan Ian duduk menempati dua kursi di barisan terdepan. Wanita yang tampak pucat itu tersenyum ketika mendengarkannya. Wajahnya tetap sama seperti yang diingat Melissa, kecuali karena garis-garis kerutan yang mempertegas usia

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD