Segala aspek tentang rumah lamanya masih sama seperti yang dapat diingatnya: pintu kayu dan jendelanya yang berderit, sebuah tangga di depan teras, dua kursi kayu yang menghimpit sebuah nakas kecil di antaranya. Ketika Evan memandangi kursi kayu itu, ia mengingat momen ketika ia duduk bersama ayahnya disana, memandangi langit malam dan berbicara. Rasanya momen itu baru terjadi kemarin. Evan berjalan menyusuri permukaan lantai kayunya yang lembab, memeriksa dapurnya yang masih tampak sama seperti kali terakhir ia meninggalkannya – kecuali karena kepulan debu yang menyelimuti barang-barang disana. Kemudian ia menaiki tangga untuk melihat kamar lamanya. Evan menyusuri lorongnya yang gelap hingga sampai di ujung, persis dimana kamarnya terletak. Pintu kayunya masih tertutup rapat dan begitu

