Menggapai Pelangi di Ujung Senja

2130 Words
          Di desa ini, suasananya sangat terasa sejuk bila dipandang, apalagi di waktu sore menjelang senja, matahari terlihat dengan jelas ketika akan terbenam di sebelah barat. Jika kita berjalan ke arah barat, pasti akan kita temui rel kereta api yang menghubungkan jalur kota Surabaya dan Blitar. Tak jauh dari situ, ada sebuah stasiun yang ukurannya kecil dan tidak terlalu besar, yaitu namanya stasiun Pakisaji. Untuk menuju ke stasiun ini, jalur yang dilalui sangatlah mudah.           Di baratnya rel kereta ada sebuah jalanan berpaving dengan lebar dua meter, dan jalan itulah yang selalu dilewati grup Empat s*****n di sore hari di saat mereka pulang usai mengaji. Ya, Putri, Ninin, Hanifa, dan juga Nayla selalu kompak untuk pulang bersama kecuali ketika pada saat mereka berangkat, karena lebih banyak diantara yang diantar oleh orang tuanya, tapi untuk pulangnya mereka tidak ingin dijemput, agar bisa pulang bersama dengan berjalan kaki.           Mereka berempat mengaji di sebuah TPQ yang bernama Al-Hikmah, yang lokasinya tidaj jauh dari stasiun, tak heran di saat mereka mengaji, seringkali mereka mendengar bunyi klakson kereta api yang begitu keras, sebagai pertanda bahwa kereta api telah lewat.           Di sore ini juga grup Empat s*****n sedang mengaji bersama, tak begitu lama waktu yang mereka rasakan di saat proses mengaji, mungkin sekitar Sembilan puluh menitan. Jika jam telah menunjukkan pukul lima kurang seperempat sore, maka itu adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk segera pulang usai mengaji. Biasanya, usai pulang mengaji mereka berempat mulai berjalan pulang sambil bernyanyi-nyanyi, tapi untuk hari ini mereka sedang ingin berduduk-duduk di sebuah pos ronda dekatnya stasiun itu, dan mereka menamakannya dengan pos “Disini Selamanya.”           Saat mereka berempat duduk, mereka sempat bercerita-cerita tentang apa yang ingin mereka ceritakan. Putri bercerita tentang sebuah buku unik yang dia temukan di perpustakaan sekolah, Ninin bercerita tentang tangannya yang terasa sakit karena kemarin terlalu keras dalam memukul chock badminton, begitu juga dengan Hanifa, dia  menceritakan tentang lagu baru yang dia nyanyikan sejak dua hari yang lalu, dan Nayla bercerita tentang rambutnya yang keriting, berharap agar secepatnya bisa di smoothing, seperti rambutnya Putri dan juga Hanifa.           Namun di saat jam telah menunjukkan pukul lima sore, mereka dikagetkan dengan suara klakson kereta api yang keras di saat sedang asyik-asyiknya mereka bercerita. Mereka serentak menoleh ke belakang dan ternyata ada sebuah kereta api sedang berhenti di stasiun itu. Ternyata kereta tersebut sedang menurunkan maupun mengantarkan penumpang ke arah utara, yang lebih tepatnya menuju kota Surabaya.           Kereta tersebut tak berhenti lama, tapi hanya lima menit saja. Tak lama setelah itu, petugas perjalanan kereta yang ada di dalam stasiun mulai memberikan aba-aba kepada masinis dari kejauhan. Terlihat petugas membawa sebuah palang yang ujungnya bundar berwarana hijau. Priitttt, suara peluit telah dibunyikan, dan masinis yang ada di dalam lokomotif meresponnya dengan membunyikan klakson, sebagai pertanda kereta akan segera berangkat. Tiba-tiba, langit berubah menjadi gelap serta mendung, sebagai pertanda bahwa hujan akan segera tiba. Gerimis sedikit demi sedikit pun telah tiba, maka dengan spontan mereka harus segera pergi dari tempat itu dan pulang.            Tik tik tik tik.            “Waduh gawat temen-temen, udah mulai gerimis nih.” Gumam Putri.            “Iya nih, sepertinya hujan akan turun dengan sangat deras.” Tambah Ninin.            “Ya sudah kita segera pulang yuk!” Seru Hanifa.           Baru saja di saat mereka berempat berdiri, gerimis kembali turun semakin kencang, sehingga membuat mereka berempat berlari sekencang-kencangnya ke arah utara. Mereka berlari dengan sangat kencang sejauh tiga ratus meter, saat mereka sedang berlari, tiba-tiba kereta yang ada di stasiun tadi sudah melaju, sehingga di saat mereka berlari, kereta di sampingnya turut menemaninya. Hanya dalam waktu tidak sampai lima menit mereka berempat sudah berhenti di meter yang ketiga ratus, mereka baru berhenti karena di titik meter jalan tersebut, jalannya berbelok ke arah timur, dan akan melintasi rel kereta api.           Ketika mereka selesai berlari dan melintasi rel kereta api, mereka berempat pun mulai berhenti karena merasa sangat lelah, pada saat itu juga gerimis mulai menghentikan rintikannya. Detik ini juga matahari mulai menyembunyikan sinarnya, pertanda sebuah senja akan segera tiba.            “Aduh, aku capek banget nih.” Ucap Hanifa.            “Iya aku juga.” Tambah Nayla.            “Yaudah yuk, kita kembali jalan!” Seru Putri.           Mereka berempat pun kembali berjalan. Mereka juga tidak merasa terburu-buru yang ingin pulang ke rumah dikarenakan hujan sudah tidak lagi datang.            “Sepertinya seru juga ya, kita yang tadi lari-lari.” Ucap Hanifa.            “Ihhh, seru apaan, bikin orang tambah capek aja deh.” Jawab Putri.            “Emmm, lu aja yang nggak ngerti Put. Iya kalau kamu lari-lari sendiri bikin capek, tapi kalau sama-sama ya nggak.” Ucap Hanifa kembali.            “Iya nih, apalagi pas tadi kita lari, di samping kita ada kereta yang ikut berlari. Seakan-akan kereta itu adalah musuh kita pada saat perlombaan berlangsung, hahaha.” Celetuk Ninin.            “Ahhh, kamu ini Nin, dari dulu sukanya ngomongin lomba melulu.” Tukas Putri.            “Yaiyalah, gue kan calon atlet, gitu loh.” Jawab Ninin.            “Iya bener juga, sepertinya asyik juga tadi, besok kita ulangi lagi ya!” Seru Nayla.            “Ayokkk.” Jawab Ninin dan Hanifa, kecuali hanya Putri.           Senja pun mulai redup, kini saatnya langit berubah warna dari yang sebelumnya cerah harus menjadi gelap. Suara adzan mulai berkumandang dan bersahutan antar setiap masjid. Jarak rumah mereka yang jauhnya sekitar satu kilometer dari TPQ ke rumah, kini telah mereka lewati bersama. Sebagaimana rutinitas yang telah mereka lakukan di setiap harinya, waktu Maghrib adalah waktu yang cukup seru bagi mereka, karena di saat menjalankan shalat Maghrib itulah mereka selalu menjalankannya bersama-sama di masjid Al-Ikhlas.           Sebenarnya, bukan soal kebersamaannya yang utama, yang menurut mereka terasa seru, akan tetapi di saat pulang shalat Maghrib itulah ada seorang pedagang cilok Bandung yang bernama pak Ahmed. Ya, kesehariannya pak Ahmed selalu mangkal di masjid tersebut usai shalat Maghrib, dagangannya juga sangat laris dikarenakan ciloknya yang empuk, bumbunya yang sedap, harganya yang murah serta penjualnya yang tidak ganteng.            “Bang beli dua ribu bang.” Ucap Hanifa.            “Aku tiga ribu bang.” Tambah Ninin.            “Aku beli sepuluh ribu bang.” Sahut Putri.            “Wahhh banyak banget kamu belinya Put?” Tanya Hanifa.            “Iya nih, yakin kamu bakal habisin semuanya.” Tambah Nayla.            “Yaelah, emang di rumah ntar yang makan aku saja.” Jawab Putri.            “Oalahhh, jadi itu ada yang cuma titip.” Tukas Ninin.            “Ya iyalah, jadi kalau misal yang makan aku sendiri, bisa sampai dua hari nih habisnya.” Jawab Putri.            “Yaa, yaa, yaa….” Jawab serempak Ninin, Hanifa, Nayla.           Malam telah tiba, kini saatnya grup Empat s*****n harus bubar, menuju rumahnya masing-masing. Teringat oleh pesan bu Indri, setiap usai shalat maghrib, mereka diwajibkan belajar masing-masing di rumah, apalagi mereka sudah kelas lima, banyak sekali segala target yang harus dia lakukan sebagai persiapan untuk menjelang kelas enam di tahun depan, mulai dari hafalan perkalian, hafalan rumus-rumus serta belajar menyelesaikan soal-soal yang sulit. Pesan bu Indri telah mereka jalankan di rumah. Mereka belajar usai shalat Maghrib sampai jam delapan malam.           Usai belajarpun, terkadang ada beberapa kegiatan yang akan mereka lakukan selanjutnya, Putri lebih asyik untuk tetap belajar dan membaca novel. Ninin sibuk membaca informasi di berita maupun internet, berkaitan dengan informasi seputar info olahraga. Nayla yang selalu merasa risih menata rambutnya, kini kebiasaan yang kadang dia lakukan setiap malam hanyalah mencatok rambutnya. Yang paling keren adalah Hanifa, kalau tangannya sudah memegang gitar, waktu dua jam hanya akan terasa lima menit baginya. Karena Hanifa memiliki jiwa seni yang sangat tinggi, tak heran jika dia selalu bersemangat untuk terus berlatih bernyanyi sambil bermain gitar hingga waktu larut malam.           Dari grup Empat s*****n, yang paling larut malam tidurnya adalah Putri. Putri selalu membaca buku dongeng sebelum tidur, mungkin hal tersebut sudah menjadi kebiasaanya sejak dari kecil sehingga tanpa membaca sedikitpun, dia tidak akan bisa tidur.           Jam telah menunjukkan pukul enam pagi, kini saatnya grup Empat s*****n bersiap diri menuju ke sekolah. Namun, di hari ini juga mereka semua merasa tidak bersemangat yang mau masuk sekolah dikarenakan pada pelajaran utama adalah pelajaran seni budaya, di mana yang mengajar pelajararan seni budaya itu gurunya sangat seram dan galak sekali, yang tidak lain adalah pak Bima.           Bel telah berbunyi pada pukul tujuh pagi, sebagai pertanda bahwa jam masuk pelajaran sudah dimulai. Para siswa di kelas lima mulai terdiam tak berani berbicara sepatah katapun. Tak lama kemudian suara kaki melangkah mulai terdengar, pak Bima telah tiba di kelas lima, Putri segera memimpin doa untuk persiapan awal pelajaran.            “Persiapan.” Ucap Putri.            “Berdoa, dimulai.” Seru Putri.             Lalu mereka segera berdoa masing-masing dalam hati.            “Berdoa selesai, siap berdiri.” Anak-anak pun segera berdiri.            “Kepada pak guru memberi salam.” Seru Putri kembali.            “Assalamualikum warahmatullahi wabarakatuh.” Ucap anak-anak serempak.            “Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi anak-anak.” Ucap pak Bima.            “Pagi pak.”           Hari ini pak Bima terlihat tidak begitu keras dalam mengajar, sepertinya pak Bima terlihat sedikit tidak enak badan. Apakah mungkin karena faktor usia, di mana saat ini usia beliau sudah menginjak di angka lima puluh tahun ke atas, yang selalu saja datang akan suatu penyakit.            “Anak-anak, ada satu hal yang ingin bapak sampaikan pada kalian semuanya.” Ucap pak Bima.            “Iya pak.” Jawab Hanifa.            “Mohon maaf hari ini saya mau ke dokter, untuk memeriksakan kondisi kesehatan, karena akhir-akhir ini bapak sering mengalami pusing dan mual-mual, maka dari itu bapak ingin agar kalian semua bisa belajar mandiri bisa?” Terang pak Bima.            “Bisa pak.” Jawab anak-anak serempak.            “Ya sudah kalau begitu bapak tinggal dulu, terus bapak kasih tugas ya. Tolong kerjakan LKS halaman tiga puluh tujuh sampai empat puluh dua, nomer satu sampai lima puluh!” seru Beliau.            “Baik pak.”            “Jangan lupa nanti istirahat dikumpulkan ya.” Pinta pak Bima.            “Iya pak.” Jawab mereka.           Waktu sore telah tiba, dan waktu telah menunjukkan di angka tiga. Usai menjalankan shalat Ashar, Putri, Ninin, Hanifa dan juga Nayla akan berangkat bersama-sama dengan berjalan kaki. Hari ini sengaja mereka berangkat bersama dengan berjalan kaki karena mereka ingin menikmati senja di sore nanti usai pulang dari mengaji nanti. Ada satu hal yang cukup terlihat aneh pada diri Nayla, di mana saat dia berjalan bersama, Nayla membawa kayu sepanjang empat puluh sentimeter, dalam kayu tersebut juga dipasang bendera warna merah dan kuning yang biasa mereka gunakan pada saat kegiatan pramuka di sekolah.           “Nayl, kamu bawa apaan sih?” tanya Ninin.           “Ya bendera lah.” Jawab Nayla.           “Ya tau kalau itu bendera, tapi buat apaan sih?” Tanya Ninin kembali.           “Ahhh, ntar kamu juga akan tahu sendiri.” Jawab Nayla kembali.           “Terserahlah.” Sahut Ninin.           Mereka berempat mulai melintasi rel kereta api. Saat mereka sudah melintasi rel itu akhirnya mereka menjumpai jalan belokan yang mengarah ke selatan. Dan di saat itulah Nayla menancapkan sebuah bendera itu diatas sebuah tanah, dimana tanah tersebut adalah garis finish sebagaimana yang mereka lakukan di saat kemarin mereka berlari.           Tak terasa juga satu setengah jam telah berlalu. Jam telah menunjukkan pukul lima sore. Kini saatnya semua anak-anak yang mengaji di TPQ tersebut segera pulang menuju rumah masing-masing. Tetapi tidak untuk grup Empat s*****n, di mana mereka berempat akan berdiam diri di sebuah posko ronda untuk menantikan sebuah senja. Waktu dua puluh menit sudah terasa sangat cukup bagi mereka untuk sekedar berbagi cerita serta bercanda tawa. Waktu telah menunjukkan pukul lima lebih dua puluh menit. Suara klakson kereta api mulai terdengar dengan jelas dan juga keras, sebagai pertanda kereta api tujuan kota Surabaya telah tiba.           Putri, Ninin, Hanifa, dan juga Nayla mulai berdiri menghadap ke arah utara bersama-sama. Akan tetapi jalanan berpaving ini lebarnya hanya dua meter, jadi harus berbagi posisi. Nayla dan Hanifa di posisi depan, sementara Putri dan Ninin di posisi belakang.            “Oke temen-temen, jadi kita semua akan berlari di saat kereta sudah melaju. Dan di depan sana ada bendera, siapakah yang mampu mengambil bendera itu dengan cepat, maka dia yang menang. Bagaimana siap?” Terang Nayla.            “Siap.” Jawab mereka serentak.             Priittttt. Petugas perjalanan kereta telah membunyikan peluit dan memberi tanda hijau pada masinis. Suara klakson telah berbunyi dengan sangat keras, kini kereta pun perlahan demi perlahan telah melaju. Grup Empat s*****n segera berlari sekencang-kencangnya sambil teriak-teriak.            “Aku pasti menang.” Teriak Nayla.            “Aku yang akan memenangkan ini.” teriak Hanifa.            “Aku bisa.” Teriak Putri.            “Aku pasti bisa.” Teriak Ninin.           Akhirnya mereka telah sampai di garis finish, dan yang memenangkan kali ini adalah Ninin, cukup seru juga kegiatan yang mereka lakukan. Senja mulai hilang, kini Putri memberikan usul kepada teman-teman yang lain untuk membantu memberi nama permainan ini. Tak lama kemudian, mereka semua telah menyepakati untuk memberi nama permainan yang selalu mereka lakukan di waktu senja, grup Empat s*****n memberikan nama permainan ini dengan nama “Menggapai Pelangi di Ujung Senja.”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD