Bab 1

1015 Words
Nadia Rumaya.. Dia gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas, kelas 12. Dia gadis yang tidak di pedulikan oleh kedua orangtuanya. Dia anak tunggal, harta berlimpah, namun kedua orang tuanya hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Hingga Nadia hampir terjebak dalam pergaulan bebas. Beruntung.. Dia diselamatkan oleh laki-laki dewasa yang membuat dia sadar, jika yang dia lakukan itu adalah salah. **** Senin pagi, jadwal upacara sekolah berlangsung. Sekumpulan siswi sedang berada di belakang gedung sekolah, dengan masing-masing menghisap sebatang rokok di mulutnya. Salah satunya adalah Nadia, juga kedua temannya. Nabila dan Ernest, mereka sama-sama anak yang tidak di pedulikan oleh kedua orang tuanya. Hanya saja, Nadia lah yang memiliki pergaulan jauh lebih bebas dari mereka berdua. "Eh, Nad.. nanti malam lo jadi clubbing?" tanya Ernest pada Nadia. "Jadi maybe.. Why?" Nadia menatap Ernest. "Ngga apa-apa sih, gue ngga ikut. Gue males kalo nyokap gue ngomel." jawab Ernest. "Ya udah nggak apa-apa, kalo lo gimana?" tanya Nadia pada Nabila. "Gue liat nanti aja, takut ada kakak gue pulang." jawab Nabila. "Oh.." jawab Nadia singkat sambil menghisap sebatang rokok di sela jarinya. Mereka terbiasa pergi clubbing, mereka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dan minum-minuman beralkohol. Saat mereka sedang asik menghisap rokoknya tiba-tiba seorang guru datang. "Hei, kalian.. Kenapa kalian merokok, hah? kalian ini perempuan, tidak baik untuk kesehatan kalian." kata guru itu pada mereka dengan sedikit menaikkan nada bicaranya. Nadia menatap guru itu tidak takut, ia justru malah mendekatinya. Lalu menyemburkan asap rokok pada guru itu. "Wuhhhhh.." Nadia menyemburkan asap rokok pada guru itu. "Uhuk-uhuk.." guru itu terbatuk. Nadia dan kedua temannya terbahak melihat hal itu. "Jangan ganggu kita-kita Bapak Guru yang tampan." kata Nadia sambil tersenyum sinis pada guru itu, kemudian berlalu meninggalkannya disana. "Dia.. Benar-benar kurang ajar, untung cewek. Kalo bukan udah gue tonjok, tapi nggak ding. Gue kan guru," katanya sambil berjalan menuju kantor. *** Jam istirahat.. Nadia dan kedua temannya berada di kantin, dia memesan makanan. Saat mereka akan makan, segerombolan anak laki-laki datang menghampirinya. Johan, Kenzo, Daniel dan juga teman lainnya. Johan telah lama menyukai Nadia, namun Nadia tidak menggubrisnya. Karena Nadia bukan tipikal gadis yang suka berpacaran atau bahkan menjalin hubungan. Karena yang ia mau hanyalah kebebasan. "Hei, sayang.." sapa Johan menyolek dagu Nadia. Nadia menepis tangan Johan, dia menatap tajam pada Johan. "Singkirkan tangan lo dari gue, jangan deketin gue dan jangan pernah lo sentuh gue. Ngerti lo!" kata Nadia berkata dengan tatapan tajam pada Johan. "Oke-oke sayang, jangan marah-marah dong. Makin cantik tau ngga hehe.." gombal Johan. "Cih.." Nadia meremehkan Johan. Di bangku kantin paling ujung, terlihat seorang guru sedang menatap ke arah mereka. *** Gerry Archer Dialah guru yang telah memergoki Nadia dan kedua temannya merokok di belakang gedung sekolah. Diam-diam dia sering memperhatikan Nadia, Nadia sangatlah cantik dan bertubuh ideal nan wangi. Karena itulah, banyak laki-laki yang terpesona ketika melihat Nadia. Usia Gerry saat ini menginjak 26th, laki-laki yang berwajah tampan, berkulit putih dan bertubuh kekar. Namun di mata Nadia, dia laki-laki yang bernyali ciut karena dia berpenampilan biasa saja, bahkan dia tidak pernah marah pada Nadia ketika Nadia menyemburkan asap rokok ke wajahnya. Gerry hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Johan akan menyentuh b*k*ng Nadia, karena Nadia sadar akan hal itu. Dia refleks menendang s**********n Johan. Nadia hanya tersenyum sinis pada Johan. "Udah gue bilang, jangan macam-macam. Lo masih aja tuli, rasain akibatnya!" kata Nadia sambil tersenyum senang meninggalkan Johan. "Sial.. Arghh, tunggu pembalasan gue Nadia." kata Johan mengancam. Nadia berhenti dan berbalik badan pada Johan, lalu berkata.. "I'm always waiting for your revenge." kata Nadia lalu berjalan kembali meninggalkan Johan. Gerry hanya tersenyum tipis melihat kejadian itu. "Menarik.." kata Gerry. **** Seminggu kemudian, Nadia datang ke club seorang diri. Karena kedua temannya tidak bisa keluar rumah, pasalnya fasilitas mereka di cabut karena ketahuan sering merokok di sekolah dan rumahnya. Berbeda dengan Nadia yang memang terbiasa hidup dengan kebebasan, orang tuanya tak peduli padanya. "Arghhh..." Nadia teriak kesal sambil meneguk minuman beralkohol di tangannya. "Gue ngga punya orang tua, ngga ada yang peduli sama gue hahaha..." Nadia yang sudah mulai mabuk pun tertawa miris dengan kehidupannya. Lalu datanglah Johan, Daniel dan Kenzo. "Hai, sayang.." sapa Johan pada Nadia. Nadia menatap ketus wajah Johan. "Siapa lo?" tanya Nadia ketus pada Johan. "Aku pacar kamu kan?" ucap Johan sambil membelai wajah cantik Nadia. Lalu Nadia menepis tangan Johan. "Cih.. Gue ngga punya pacar, ngerti ngga lo!" kata Nadia. "Hmm, kita pulang yuk, ke apartemen aku.." rayu Johan pada Nadia. "Ngga" tolak Nadia. "Pfffft...bahahahaha" Kenzo dan Daniel tertawa puas melihat Johan ditolak Nadia. "Puas lo berdua!" Johan menatap sinis pada kedua temannya. "Udah lah Jo, dia kan udah nolak.. Jangan di paksa." Kenzo. "Iya, kasian juga kalo di paksa.." lanjut Daniel. "Gue mau hancurin dia, dia udah berani nolak gue dan hina gue. Jadi gue harus kasih pelajaran dong buat dia." jelas Johan sambil tersenyum licik. "Jahara kau, Jo.." kata Kenzo sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan Daniel, ia menatap kasihan pada Nadia yang sudah berada di genggaman Johan. "Gue nggak peduli." jawab Johan. Lalu, Johan memaksa Nadia ikut dengannya, Nadia terus berontak untuk menolak namun dia tetap kalah karena dia mabuk. "Lo jangan kurang ajar..." kata Nadia. "Ssst.. nggak apa-apa, Sayang. Kita senang-senang sebentar kan aja kok." kata Johan, Kenzo dan Daniel hanya diam tak berani melawan Johan, karena di antara mereka bertiga, Johanlah yang paling berkuasa. Mereka tak ingin mencari masalah dengannya. Di belakang gedung club, Johan memojokkan Nadia ke dinding. Lalu dia berusaha untuk mencium Nadia. Nadia berusaha keras untuk mendorong Johan. "Lo brengs*k.." kata Nadia. "Ini akibatnya kalo lo, nolak cinta gue dan selalu berlaku sombong sama gue." Kata Johan yang terus berusaha untuk mencium Nadia. Lalu Johan berusaha melepas kancing baju Nadia, beruntung seseorang datang. "Apa yang kamu lakukan, Johan?" nada marah terdengar dari belakang tubuh Johan. Johan paham dengan suara itu, dan ia menoleh. Ia terkejut, jika itu adalah sang papa. "P-papa?" Plakkk Sang papa menampar pipi Johan, dan hal itu membuat Johan meringis kesakitan, ia pun menunduk takut. "Anak kurang ajar!" Ujar sang papa, yang lalu menyeret tubuh Johan menjauh. Sedangkan Nadia, dia sudah tidak ada disana. Seseorang telah membawanya pulang ke rumahnya. … Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD