Tak sama

1054 Words
Ternyata usia kandungan Kavya sudah memasuki 6 minggu itu artinya ia sudah hamil 1 bulan lebih. Pantas saja ia sudah telat datang bulan dan tidak mengira kalau tubuhnya sudah berbadan dua. Kavya teramat sangat bahagia karena kabar ini akan menyebar sampai ke penjuru dan sudut-sudut keluarga Karena mereka ingin menginginkan cucu pertama. “Mas, aku pengen deh punya anak yang mirip kayak Cha Eun Woo.” Itulah kebiasaan bareng istrinya yang selalu membandingkan kehamilannya dengan pria-pria tampan tetapi memakai lipstik dari negara ginseng. Padahal kan suaminya sudah ganteng. Kenapa Kavya tidak berpikiran ingin punya anak setampan suaminya sendiri? “Aku nggak setuju, Sayang. Aku pengennya punya anak perempuan biar lengkap kita sudah punya Delon.” Ah, mengenai Delon, anak itu juga sama antusiasnya dan bahkan memamerkan kepada beberapa temannya kalau dia akan segera punya adik. Ia bahkan sudah menabung untuk memberikan beberapa baju karena tidak ingin adiknya memakai baju bekasnya dulu saat masih bayi. “Tapi kan aku maunya laki-laki, Mas. Ih!” Baiklah. Namanya juga baru hamil muda pasti banyak keinginannya dan banyak timbul masa-masa manja bagi Kavya. Keluarganya juga sudah tahu dan mereka juga sama antusiasnya. Apalagi keluarga Fengying yang sudah tidak sabar ingin mengunjungi menantunya yang kini tengah berbadan dua. Kavya menjadi lebih sensitif dan banyak maunya seperti saat mengambilkan handuk, saat tidak sengaja Fengying menjatuhkan benda kesayangannya dan banyak hal lagi yang kadang tidak masuk akal. Tapi tak apa, Kavya memang nggak ada nggak sengaja ingin menggoda suaminya karena pria itu selalu berekspresi menggemaskan. “Mas, kalau misalnya aku kan anak kita laki-laki kamu mau namakan dia siapa?” “Sayang, kita baru tahu kamu hamil aja dua hari yang lalu dan sekarang sudah memikirkan nama. Kamu nggak boleh banyak pikiran, Sayang. Ingat apa kata bu dokter kan? Jangan mangan Yang pedas-pedas jangan minum es dan juga jangan makan yang asam-asam seperti nanas dan juga kedondong.” Baiklah. Kavya akan berusaha menjadi istri yang sangat-sangat super penurut. “Sebenarnya aku ingin menamai mereka, semisal laki-laki Aku ingin menamakan Adam Askara Denandra, Mas. Kalau Perempuan, aku ingin namakan Hawa Aurora Olivia. Cantik kan?” Boleh juga. Asalkan itu nama yang baik dan memang keinginan istrinya mau bagaimana lagi, toh yang hamil adalah istrinya tubuh istrinya juga ia tidak punya hak untuk mengatur soal nama karena ia hanya berkewajiban untuk menjaga istrinya agar terjauhkan dari marabahaya apalagi saat ini sedang hamil. Banyak tantangan dan larangan seperti membunuh ataupun memburu hewan. Kadang saja, Fengying tidak berani membunuh kecoa ataupun nyamuk yang berusaha untuk mengambil darahnya. “Assalamualaikum. Sayang, kamu udah bangun kan?” Hampir setiap pagi mamanya akan selalu datang untuk memastikan kalau anaknya sudah sarapan dan juga berolahraga agar sehat untuk kandungannya. Kavya bahkan pernah sekali mager, padahal mereka juga baru tahu kehamilan anaknya dua hari ini. “Waalaikumsalam, Ma. Kayaknya sekarang aku jadi anak kecil lagi deh. Selalu dijenguk, dikasih makan secara gratis hampir setiap hari dan dipastikan selalu olahraga sama Mama sendiri.” “Nggak apa-apa, Ma. Aku malah senang, aku bisa menitipkan istri sama mama karena harus pergi ke bengkel. Pamit dulu ya, Ma. Nanti kalau pulang aku bawakan martabak langganan Mama di dekat bengkel. Oke, Ma?” Farah hanya mengacungkan jempol dan melihat kepergian menantunya. Pasti Fengying mati-matian menabung untuk persalinan istrinya karena biaya perjalanan itu tidak murah meskipun hanya memakai BPJS misalnya. Beda dengan Farah dan Kavya yang lebih memilih untuk menonton film ataupun berenang, Fengying tidak menyangka kalau ada tamu yang mencarinya. “Halo, Fengying. Apa kabar? Sepertinya hidup kamu makin bahagia ya? Sampai-sampai kamu lupa menjenguk seseorang yang sudah kamu penjarakan 3 tahun yang lalu.” Dara, kenapa wanita itu tiba-tiba muncul di sini? Kenapa saat kehidupannya sudah lebih baik harus ada benalu di dekatnya? “Ternyata benar, kamu sudah bebas. Selamat ya atas kebebasanmu semoga kamu bisa mengambil Pelajaran apa yang telah kamu perbuat dulu.” “Terima kasih, Fengying sayang. Sayang sekali, padahal dulu tuh aku sayang banget sama kamu tapi sayang banget kamu udah bukan kesayangan aku lagi.” Banyak yang bertanya siapa wanita itu karena dari dulu memang banyak para kaum hawa yang mengintai dan bahkan terang-terangan mengincar Bos mereka. Kavya, dari sejak kepergian suaminya merasa gelisah dan ia tidak peduli dilarang oleh mamanya untuk tidak pergi ke bengkel karena takutnya malah mengganggu pekerjaan suaminya. Baru saja sampai, emosinya naik pitam. Ia mengenal Dara, wanita yang diri dulu berusaha untuk mendapatkan suaminya dengan berbagai cara bahkan membahayakan dirinya. “Hai, pelakor! Ups! Salah, maksudku mantan narapidana ngapain kamu ada di sini?!” “Sayang.” “Minggir, Mas. Jangan halangin jalanku karena aku mau membuat rambutnya botak!” Kavya dari dulu tidak pernah bermain dengan kata-katanya. Langsung masuk ke ruangan Fengying dan mencari gunting. Dara kaget, aksi kejar-kejaran pun terjadi. Akhirnya Fengying bisa menenangkan istrinya, pasangan suami istri itu akhirnya bisa berdamai dan lebih tenangnya lagi Dara bisa kabur dari wanita gila yang marah besar. "Sialan! Sejak kapan dia menjadi berani seperti ini?” Sedangkan Kavya membuat isi bengkel ramai. Mereka juga ketakutan kalau semisal nanti ada aksi potong rambut gratis di sini, bisa-bisa Kavya malah membuka ajang Barbershop. *** Kabar tentang bibi Olla semakin lancar jaya. Okta sudah lebih dari setengah tahun pergi melanjutkan bidang studinya di luar kota dan meninggalkan pria yang dari dulu menunggunya yaitu Brian. “Sepertinya kamu sangat mencintai anakku. Aku bahkan sudah berkali-kali menyuruhmu untuk tidak selalu datang ke sini dan aku bisa saja menggajimu tapi kamu nggak mau kamu nggak banyak pekerjaan selain menjadi pegawai di sini, Brian?” Menunggu seseorang bukanlah keahliannya tetapi karena rasa cintanya yang besar ialah menunggu Okta dan berencana untuk menikahinya. Baru saja kembali ke dapur dan mengambil beberapa menu, Brian nampak familiar dengan wanita yang ada di hadapannya. “Karena aku tulus dengan Okta, Bibi. Aku bahkan hampir setiap malam tidak bisa tidur membayangkan dia ada di sini. Bukankah sebentar lagi dia akan pulang? Aku bahkan sudah menyiapkan cincin.” “Oh ya?” Sebenarnya Olla menipu Brian. Anaknya sudah pulang dari kemarin tetapi sengaja tidak keluar Agar memberi kejutan kepada pacarnya yang sudah setia lama menunggu. Dan benar, dari arah belakang, Okta sengaja tidak berbicara dan memerankan langkahnya agar tidak ketahuan. Pun dengan Brian yang membuka kotak beludru berwarna merah dengan ada cincin di tengahnya. Tanpa basa-basi Okta langsung memakainya dan bilang, “Yes I will be your wife my darling I miss you so much!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD