Rasa frustasi mungkin bisa saja melanda semua orang apalagi melihat Ibu yang melahirkan kita terbaring di atas ranjang rumah sakit. Fegying sungguh dilema dengan kejadian yang menimpanya hari ini. Dia bingung harus memihak siapa antara Kavya atau ibunya. Fegying tidak menyangka dengan memilih menikahi Kavya akan membuat ibunya sangat kecewa padahal ia tidak bermaksud menyakiti siapapun.
Fegying duduk di kursi ruang tunggu sambil memijit pelipisnya agar nyeri yang menyerang kepalanya segera hilang. Kavya sungguh merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Ibu mertuanya.
"Fegying apa kepalamu sakit?" Kavya bertanya sedemikian polosnya. Fegying menoleh menatap istrinya yang masih mengenakan gaun pengantinnya. Ia tersenyum dan mengangguk pada wanita itu.
"Aku akan memijit kepalamu," ujar Kavya lagi ingin menyentuh pelipis suaminya. Sebelum tangan mungil itu mendarat di sana, Fegying sudah lebih dulu menahan tangan Kavya lalu menggenggamnya erat dan mengecupnya singkat. Sontak mata Kavya membesar lalu tersenyum, terkejut mendapat perlakuan romantis dari Fegying.
"Tidak usah, Sayang. Sakit kepalaku ini akan segera hilang hanya melihat senyummu." Fegying menggodanya, membiarkan wanita itu mencetak semu merah di pipinya.
"Kau tidak pernah berubah Fegying, selalu saja menggodaku."
"Ya, aku tidak pernah puas menggodamu karena kau sangat menggemaskan," ucap Fegying menatap bola mata hazel milik Kavya yang berbinar. Kavya memeluk suaminya lalu menangis terisak dalam dekapan tubuh kekar itu. Tangisnya meluap begitu saja setelah menahannya sejak tadi, hanya Fegying tempat pelabuhan hati yang paling mengerti dirinya.
"A-aku minta maaf Fegying karena aku Mama sakit, seharusnya kita tidak menikah tanpa persetujuan Mama. Dia pasti berpikir kalau aku yang meracuni otakmu untuk menikahiku." bulir-bulir air menderas di pipi Kavya, membasahi jas yang Fegying kenakan.
"Ssssstt... Jangan menangis lagi sayang! Kau tidak bersalah, pilihan yang kita ambil hari ini sudah benar. Aku sudah lama menantikan hari dimana aku bisa menikahimu. Kau Kavyaku, belahan jiwa Fegying." lelaki itu turut menghibur hati Kavya yang gundah, mengelus punggung istrinya.
Sakit sekali melihat Kavya bersedih, semenjak mereka memutuskan menjalin hubungan. Kavya selalu murung dan sedih saat tahu Ibu Fegying tidak menyetujui hubungan mereka karena Kavya tidak punya orang tua lagi. Kadangkala Helsi menuduh Kavya kalau wanita itu pembawa sial. Orang tuanya harus meninggal secara tragis akibat menabrak truk sewaktu melahirkan Kavya, sialnya hanya dia yang selamat.
Kavya kecil yang tidak tahu apapun saat mengetahui orang tuanya telah tiada hanya bisa menangis dalam gendongan Radit, kakak kandungnya. Orang tua mereka meninggalkan banyak harta termasuk perusahaan yang Radit kelola sekarang, untung saja orang tuanya memiliki pengacara yang baik mengurus seluruh aset warisan di jaga sepenuh hati sampai mereka dewasa.
"Terima kasih, Fegying. Hanya kau yang mengertiku selama ini. Jangan pernah tinggalkan aku!" seru Kavya menatap Fegying yang terdiam sesaat menatap sorot mata kesepian di bola mata itu.
"Sampai kapanpun aku tidak akan bisa meninggalkanmu. Jadi, berhentilah menangis dan jangan pikirkan hal yang tidak-tidak." kedua jari Fegying mengusap air mata yang membekas di pipi wanita itu. "Kembalilah ke rumah kita untuk ganti pakaian! Kau juga butuh istirahat, Sayang. Tunggu aku di rumah! Setelah Mama sadar aku akan datang kesana," pinta Fegying memaksa wanita itu untuk menuruti perkataannya.
"Tidak, aku disini saja menunggu Mama bangun. Aku tidak mau pulang sendirian di rumah kita." bersikukuh tinggal di rumah sakit. Ia tidak mau Ibu mertuanya berpikir yang tidak-tidak karena pergi dari rumah sakit.
"Sayang, dengarkan aku! Semua akan baik-baik saja di sini. Aku pasti datang, dan tidak akan melewatkan malam pertama kita. I promise you," bujuk Fegying agar Kavya mau menuruti keinginannya. Wanita itu hanya bisa menarik nafas panjang tidak ingin membantah perkataan suaminya.
"Tapi--"
"Apa perlu aku menciummu disini agar mau menuruti perkataanku? Jangan salahkan aku kalau sampai kau malu di lihat orang lain." Hanya ini satu-satunya cara untuk mengusir secara halus istrinya. Fegying menangkup kedua rahang pipi Kavya bersiap mendaratkan ciuman ganas di sana. Ia semakin mendekat dan benar-benar nekat ingin menciumnya.
Kavya mendorong jidat suaminya dengan jari telunjuknya agar pria itu menjauhkan wajahnya. "Jangan gila, Fegying! Apa kau tidak malu menjadi tontonan semua orang." nyaris saja jantung Kavya melompat dari tempatnya. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak waras ingin menciumnya di rumah sakit. Mungkin otak suaminya sudah terbentur benda keras hingga lupa bagaimana rasa malu itu. Kavya sebaiknya memang harus pergi sekarang sebelum Fegying menerjangnya.
"Kenapa harus malu mencium istri sendiri? Jika mereka iri melihat kemesraan kita, itu malah lebih bagus, memotivasi mereka yang jomblo untuk segera menikah mengikuti jejak kita," jawab Fegying tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Sebaiknya aku pergi sebelum ambulance rumah sakit jiwa menjemputku sekarang karena mendengar ocehan berlebihan suamiku." Kavya memutar bola matanya jengah, kemudian berdiri memutar badannya meninggalkan suaminya.
"Kau melupakan sesuatu, sayang." Fegying memegang pundak istrinya untuk berhenti melangkah. Kavya membalikkan badannya, Fegying mengulurkan tangan, sebelum meraih tangan itu Kavya menepuk jidatnya karena ceroboh melupakan kewajibannya.
"Astaga, aku lupa." ia mencium punggung tangan Fegying lalu pamit meninggalkan rumah sakit. Gaun yang di kenakan membuatnya gerah dan sulit melangkah. Kavya memencet tombol lift turun, tidak lama kemudian pintu lift pun terbuka lebar. Ia masuk perlahan, kebetulan Kavya sedang sendiri di dalam lift.
Pintu lift pun perlahan tertutup. Kavya terlalu asik melamun sampai lupa kalau ia sedang mengenakan gaun panjang dan setengah gaunnya terjepit di pintu lift padahal Kavya sudah merasa cukup hati-hati memasukinya. Ia menoleh kebelakang, tidak bisa melangkah lebih jauh lagi karena gaunnya terjepit di pintu.
"Sial, kenapa juga gaun ini sampai terjepit?" Kavya menariknya tapi tak kunjung lepas padahal pintu lift semakin rapat tertutup. Kavya memencet tombol agar pintunya terbuka kembali tapi tidak bisa.
"Siapapun di luar tolong aku! Hei, please buka pintunya!" hampir saja Kavya menangis mengutuki kesialan yang menimpanya hari ini. Lift tak kunjung bergerak, mungkin saja error.
"Tolong!" Kavya menggedor pintu lift. sambil berteriak kencang. Tak lupa juga memencet tombol emergency yang tidak jauh terletak dari tombol angka semua lantai rumah sakit. Lelah meminta tolong Kavya terduduk terkulai lemas karena mulai merasa kepanasan di dalam sana.
Ting!
Akhirnya pintu lift terbuka lebar. Kavya mendongak ke atas melihat siapa orang yang membantunya. "Kak Radit!" girang Kavya menghambur ke pelukan kakaknya.
"Syukurlah, kakak datang menolongku. Aku hampir kehabisan nafas di dalam."
"Bukan aku yang menolongmu tapi dia," pungkas Radit menunjuk seseorang yang berdiri di sampingnya. Mendengar itu Kavya melepaskan pelukannya ingin melihat siapa yang menolongnya.