LIMA PULUH SATU Athar tersenyum lebar, menatap wajahnya yang sudah tak semengerikkan kemarin. Luka menganga di pelipisnya sudah di tempel perban, dan obat merah. Lebam-lebam di wajahnya sudah di olesi oleh dokter dengan salep termahal agar lukanya cepat kering, dan sembuh, dan Athar bisa segera menemui Inne, dan anaknya Amar. Hei, bagaimana'pun juga, Amar masih'lah bocah kecil yang akan takut apabila melihat wajahnya yang hancur seperti kemarin. Setelah di rasa, penampilannya sudah rapi, dan segar, Athar segera beranjak dari depan cermin besar kamarnya, tidak sabar ingin bertemu anaknya, dan ibu dari anaknya. Tapi, langkah lebar, dan semangatnya terhenti, melihat sebuah pigura foto besar yang menggantung diatas dinding kamarnya. Senyum ceria yang terbit dengan indah di kedua bibir

