Chapter 13

1080 Words
Kazuki nyaris meremas ponselnya sampai remuk saat berjalan memasuki bar itu. Sangat marah bahkan tidak cukup untuk menjelaskan suasana hatinya sekarang. Belakangan, muncul nomor asing yang menerornya. Mengaku-ngaku bahwa dia adalah kekasihnya yang lain. Mengingat kembali kata-kata orang sinting itu saja sudah membuat Kazuki merasa sangat muak. Kekasih lain apanya! Dasar b******k! Selama ini ia sudah berusaha keras menghindarkan hal ini dari Eru. Takut gadis itu akan salah paham dengannya. Karenanya sekarang, ia sudah tidak tahan lagi. Dan setelah kesepakatan, akhirnya ia membuat janji untuk bertemu di bar ini. Kazuki sudah tidak sabar untuk meremas mulut mana yang berani membuat omong kosong semacam itu. Bahkan seburuk apa pun dirinya, ia tidak akan mengkhianati gadis yang paling dicintainya. Sebenarnya Kazuki memiliki beberapa dugaan. Dan yang paling masuk akal adalah, ini adalah perbuatan dari orang yang ditolak Eru. Paling tidak iri dengan hubungan mereka dan berusaha menghancurkannya. Kazuki mendenguskan senyum sinis, nyaris-nyaris bangga. Karena ia tahu pasti Eru begitu setia pada dirinya. Mengingat hal itu lagi membuat hatinya menghangat. Sesaat kemarahannya turun dan langkahnya berubah menjadi lebih tenang. Orang itu mengatakan akan menunggunya di meja konter. Kazuki melihat ada seorang laki-laki di sana, dan seorang bartender yang sibuk nampak membelakanginya. Benar kan. Mana ada perempuan waras yang mau repot-repot mengaku jadi kekasih gelapnya. Paling hanya laki-laki b******k yang tidak pantas untuk Eru terima. Setengahnya Kazuki merasa senang, menyangka bahwa semua hal konyol ini akan segera berakhir. Ia jelas sudah bersiap untuk memberi perhitungan pada siapa pun orangnya. "Hei," kata Kazuki dingin. Berdiri di sebelah laki-laki itu dan menghadapnya. Sosok berpakaian hitam itu pun menoleh, sebelah alisnya terangkat, memperlihatkan tato di sisi wajahnya yang lain. "Apa kau orangnya?" Kazuki tak ingin berbasa-basi. Tapi melihat reaksi orang ini, membuatnya agak kurang yakin. "Orang apa?" Dia bertanya dengan heran. Kazuki mengernyit dan berpikir sejenak. "Kurasa aku salah orang," lantas ia berbalik dan duduk dua kursi jauhnya dari orang itu. Laki-laki tadi tidak mengatakan apa pun lagi, sama sekali tidak berminat pada Kazuki dan melanjutkan minumnya. Kazuki menundukkan kepala dan memeriksa ponselnya. Di mana si b******k itu? Ia mengirim sebuah pesan baru padanya, yang kurang lebih isinya sama. Tak lama sebuah balasan muncul, mengatakan bahwa orang itu akan segera sampai. Di saat yang sama si bartender datang, Kazuki secara acak memesan dan mengalihkan perhatian lagi pada layar ponsel. Ia menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya menghapus seluruh riwayat pesan dengan orang itu. Eru tidak perlu tahu. Gadis itu tidak perlu mendapatkan kekhawatiran apa pun mengenai dirinya. Singkatnya, Kazuki tak ingin Eru tersakiti. Si bartender mengulurkan segelas minuman padanya. Kazuki meminumnya tanpa berpikir dan bermaksud untuk menghubungi Eru. Bagaimana pun belakangan ia begitu sibuk dengan banyak tugas dan makin memiliki sedikit waktu untuk Eru. Oh, ya. Sebelumnya Eru juga mengatakan jika sekarang ia pergi ke apartemen Hori karena ibu temannya yang satu mengirim banyak persediaan makanan. Bukan hal yang asing lagi. Jadi Kazuki tidak melarang. Meski sediki banyak, kehadiran Erwin di sana agak membuatnya merasa tak nyaman. Tapi toh ia sudah bertekad untuk tidak bersikap egois dan kekanak-kanakkan lagi. Kazuki baru mengetik separuh pesan yang ingin ia kirimkan. Namun sebelum sempat menyelesaikannya, mendadak ia merasakan serangan pusing yang begitu menyiksa. Kepalanya seolah berputar, dan dengan kedua tangan ia terpaksa menahan diri agar tidak jatuh. Ponselnya juga tanpa sengaja terlempar ke lantai. Kazuki mendesah keras dan berusaha mengatur napas. Sayangnya, sekeras apa pun ia berusaha. Pengaruh obat yang tanpa sepengatahuannya telah dicampurkan ke dalam minumannya, tidak bisa ia lawan. Dan hal terakhir yang ia dengar adalah suara seorang wanita yang berkata "dia lumayan tampan" dan disusul oleh suara tawa seorang laki-laki. Jika Kazuki tidak salah mengingat, suaranya terdengar seperti suara laki-laki yang tadi ditanyainya. * * * Eru tidak mendapati siapa pun saat ia pulang ke apartemen Kazuki. Bahkan seluruh ruangan masih gelap. Membuat Eru menghela napas berat dan dengan malas menyalakan lampu di seluruh ruangan. Ia bertanya-tanya heran, kenapa Kazuki masih belum juga menghubunginya? Ia bahkan tidak membalas pesan yang ia kirimkan. Mengingat hal itu lagi membuat Eru mendengus sebal. Setelah mandi dan berganti pakaian, Eru dengan santai berjalan ke dapur. Padahal ia menolak makan malam bersama teman-temannya tadi karena khawatir pada Kazuki. Karena biasanya jika sudah sibuk, bisa-bisa dia lupa makan dan lupa beristirahat. Oh! Eru teringat pada banyak sayuran yang ia bawa pulang tadi. Lantas bergegas kembali dan dengan segera menata semuanya di kulkas. Kazuki tidak pintar memasak, yang membuatnya praktis lebih sering makan masakan siap saji. Eru mendengus lagi, membayangkan kehidupan Kazuki tanpa dirinya, akan jadi seperti apa laki-laki itu? Ia mendenguskan senyum kecil begitu memikirkannya. Dan mendadak merasa begitu tak sabar untuk menunggu laki-laki itu pulang. Jadi setelahnya, meski lelah, Eru memutuskan untuk memasak. Ia sendiri masih cukup kenyang karena sudah makan banyak sepanjang sore. Ah, ia jadi teringat pada Erwin. Saat ini segalanya terasa begitu sempurna. Tak ada lagi kesalahpahaman. Tak ada lagi hal-hal yang membuat kesal. Eru tersenyum. Ia juga teringat pada obrolan sore tadi sebelum ia pulang. Hori mengatakan ia akan ikut kencan buta bersama Erwin. Hal itu jelas membuat Eru makin merasa lega. Benar kan! Kekhawatiran dirinya selama ini pada Erwin sepenuhnya salah. Bahkan sekali pun ia pernah terobsesi padanya, yang jelas obsesi itu sudah tak ada lagi. Dan Eru tidak lagi memikirkan mengenai masa lalu mereka. Lalu saat itu, obrolan berlanjut mengenai Yama. Jika dia dengar mengenai kencan buta, pasti akan merengek untuk diikutkan. Hah, teman-temannya yang satu itu juga sama seperti Kazuki. Jika sudah sibuk seolah menghilang dari muka bumi. Dua jam berlalu dan Eru selesai memasak. Karena tidak ingin merepotkan Kazuki dan ingin laki-laki itu sepenuhnya beristirahat setelah pulang nanti, maka ia juga membereskan semuanya sendiri. Setengah jam lagi telah berlalu. Eru mulai gelisah, dengan sedih menatap masakannya di meja yang mulai dingin. Pada akhirnya, dengan terpaksa ia makan sendirian dan membiarkan sisanya tetap tersaji di meja. Nanti Kazuki bisa memakannya sendiri. Mau bagaimana pun Eru juga lelah setelah banyak aktifitas seharian. Jadi setelah makan dan menjadi mengantuk, ia memutuskan untuk menunggu Kazuki sambil menonton film. Setengah jam pertama ia duduk di sofa sambil menonton. Setengah jam berikutnya ia mengambil keripik kentang dan s**u pisang dari kulkas untuk menemaninya. Sejujurnya, Eru tidak bisa tidak merasa gelisah. Ia berulang kali melirik ponselnya di meja. Bahkan tanpa ia inginkan, pemikiran-pemikiran negatif mulai bermunculan. Termasuk tentang sikap Kazuki yang beberapa kali terlihat aneh bekalangan. Tidak kah ia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu? Eru menggeleng keras dan menepuk-nepuk pipinya sendiri. Menolak semua pemikiran negatif itu dengan keras. Pada akhirnya setelah dua jam berlalu, ia tertidur di sofa. Dan Kazuki masih belum juga kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD