Raya melamun. Bukan sekadar perasaan Samesta. Berkali-kali Raya tidak fokus meladeni pembicaraan. Ada yang kurang beres sama istrinya. Samesta meredam segala pertanyaan di hadapan anak-anak. Dia tidak ingin ribut pagi-pagi dan didengar mereka.
Bicara soal anak-anak, hari ini Samesta kembali mengantarkan Sansan ke kindergarden. Kemungkinan-kemungkinan bertemu dengan si masa lalu menghantuinya lagi, kalau tidak saat mengantar ya menjemput. Atau bisa jadi dua-duanya.
Di kursi belakang kedua anaknya meributkan game. Keributan mereka sudah jadi makanan sehari-hari. Samesta menyetir dengan berteman kelumit pemikiran sendiri. Sedangkan di kursi samping, Raya terlelap tenang. Dia heran sebenarnya, bukan kebiasaan Raya sekali mudah tertidur di perjalanan dalam waktu menit. Istrinya ini orang yang susah tidur di perjalanan. Terutama perjalanan jauh, Raya bisa tidur hanya dua jam dalam satu hari satu malam. Samesta berinisiatif mengulurkan tangan ketika kendaraan mereka berhenti di lampu merah. Dia menyentuh dahi Raya membandingkan dengan hangat di dahinya, tidak panas, suhunya normal, hanya saja pagi ini Raya terlihat lesu.
"Adek ... kakak ..., jangan ribut. Mamanya lagi tidur tuh." Jika Samesta bicara anak-anaknya akan langsung diam, untuk ribut lagi kemudian. Semenjak dirinya jadi bapak-bapak, Samesta banyak sekali mengusap d**a. Takut kebablasan mengeluarkan kata-kata kasar.
"Adek sih!"
"Kok aku? Kakak tuh!"
"Saluna ...." Samesta menghela napas.
Sepanjang perjalanan Samesta banyak melirik Raya. Kemungkinan projek istrinya kali ini cukup menyita pikiran. Melihat gurat kelelahan dalam pejamnya, Samesta jadi tidak tega membangunkan Raya. Dari dulu Samesta tidak bisa melihat Raya kesusahan sendiri. Mau membantu pun Samesta tidak bisa. Menulis cerita bukanlah passion-nya, kecuali jika Raya meminta saran cover dari ceritanya, Samesta akan senang membantu.
Inginnya Samesta, Raya berhenti dari pekerjaan yang menguras pikiran hingga rambutnya rontok banyak itu. Samesta mendambakan Raya jadi ibu rumah tangga biasa, yang menyambutnya saat pulang kerja, mengurus anak-anak mereka dengan perhatian penuh, mengantarkan Samesta sampai depan pintu rumah waktu berangkat kerja. Bukan seperti ini, hanya bertemu saat malam hari dan pagi di meja makan saja. Andai semua hal bisa terjadi seperti kemauan Samesta. Padahal penghasilan Samesta lebih dari cukup. Namun bukan hanya itu yang dicari seorang Raya, Samesta paham. Kepuasan terhadap pencapaian adalah idealisme Raya. Samesta mencoba mengerti itu.
Mereka sampai di sekolah Saluna terlebih dahulu. Anak gadisnya berlarian begitu keluar dari mobil disambut teman-teman. Beberapa teman Saluna berjenis laki-laki, Samesta menggeleng kecil, putrinya sudah besar. Tidak satu pun dari mereka wajahnya dikenali Samesta. Yang Samesta tahu teman Saluna hanya Langit. Rumah Samesta sering kedatangan Langit sejak Saluna kecil. Mereka bertetangga, juga teman satu kindergarden. Lalu orang tua Langit sering menitipkan anak mereka pada keluarga Samesta jika ada urusan bisnis ke luar negeri.
Langit itu anak sematawayang, keluarganya sibuk berbisnis ke sana ke mari sehingga kekayaan mereka tertimbun banyak sekali. Istilahnya kerajaan bisnis Diwangkara. Kadang kala Samesta miris melihat Langit. Anak itu kekurangan perhatian orang tua. Makanya Langit senang jadi bahan omelan Raya, karena semakin besar anak itu jadi bandel. Kelakuan Langit selalu berimbas pada Saluna, putri Samesta. Anehnya setiap mendapati Raya marah-marah, Langit selalu mendengarkan tanpa membantah, seakan hal itu yang dia inginkan. Esoknya Langit akan kembali melakukan kenakalan dan mendapat omelan Raya lagi. Begitu seterusnya. Samesta tak pernah ikut campur jika menurutnya kenakalan Langit bersifat kecil menjerumuskan Saluna, tapi bukan berarti lepas tangan. Samesta akan memerhatikan putrinya dari jauh. Hati kecil Samesta berkata kalau Langit tahu batasan.
Bisa dibilang Samesta sudah mengenal bibit, bebet, bobot Langit beserta keluarga. Jika suatu saat dia harus merelakan putrinya pada seseorang, Langit bisa jadi mendapat suara paling tinggi darinya, dari Raya juga (sepertinya). Saking seringnya dititipi Langit, mereka sudah menganggap Langit seperti anak sendiri.
Sampai di kindergarden Sun Flowers, Raya masih terlelap damai. Dengan menghela napas lesu, Samesta turun mengantarkan anaknya ke depan gerbang. Di sana beberapa ibu sedang berkumpul setelah mengantar anak mereka. Perasaan Samesta sudah tidak enak begitu melihat kumpulan ibu-ibu dari jalan.
Mereka bisik-bisik ketika Samesta menggandeng Sansan sampai gerbang. Samesta mencoba abai, namun pertahanannya roboh mendengar nama Raya dijelek-jelekan.
Dengan senyuman paling manis Samesta menghampiri mereka. Ibu-ibu itu saling lirik dan terkagum-kagum.
"Selamat Pagi, ibu-ibu," Sesungguhnya Samesta geli, dia lebih terdengar seperti sales yang menawarkan kredit rice cooker serba guna. "Saya Samesta."
"Papanya Sansan, kenalkan saya Livia," ujar salah satu dari mereka cepat.
Samesta melirik sekilas uluran tangan wanita menggenggam tas hijau tua bertekstur kulit itu. Entah terbuat dari kulit buaya atau apa. Sekali lirik terlihat mahal. Livia pun menelan ludah kecewa uluran tangannya tak bersambut.
"Istri saya sedang ada di dalam mobil, katanya titip salam buat ibu-ibu. Maaf tidak bisa keluar, sedang tidak enak badan."
"Ya ampun Ibu Raya sedang sakit?"
Maafkan aku Ray. Samesta mengangguk lesu mengiyakan.
"Kalau begitu kita harus jenguk Bu Raya, jeng."
"Ah, haha. Tidak perlu ibu-ibu, istri saya sebentar lagi baikan. Hanya perlu istirahat yang cukup dan selalu ditemani saya." Dalam hati Samesta tertawa terbahak-bahak. Mereka agak mengernyit jijik. Itu bagus untuknya. "Kalau begitu, saya permisi."
"Mesta?"
Samesta kembali berhenti. Apa yang dia takutkan selama di perjalanan terbukti. Bertemu si masa lalu. Samesta membalas dengan senyuman getir. Kenapa mereka harus bertemu di saat-saat begini. Samesta melirik ibu-ibu tadi kembali berbisik-bisik menatap ke arahnya penuh selidik. Keberadaan Raya di dalam mobil makin membuatnya ketar-ketir. Kapan saja Raya bisa terbangun. Jika sampai melihat Samesta sedang mengobrol dengan seorang perempuan terlebih mereka juga saling kenal, maka tamatlah riwayat Samesta.
Melihat gelagat aneh laki-laki di hadapannya, Lintang mengeryit. Wanita itu menyelipkan rambut ke sela-sela telinga, baru mengerti ketika tatapannya tak sengaja bertubrukan dengan sekumpulan orang tua siswa di kindergarden. Ibu-ibu di sana menatap ke arahnya penuh selidik sebab Lintang sempat memanggil santai Samesta seperti sudah kenal lama. Pasti itu yang membuat Samesta tidak nyaman.
Lintang berdeham, mengubah suaranya. "Papanya Sansan mengantar lagi?"
Sontak Samesta pun mengerjap. Ditatapnya Lintang yang tersenyum penuh arti.
"I-iya Bu Lin. Saya dan istri membagi tugas antar Sansan sekolah."
Lintang membasahi bibir. Membiarkan Samesta berpamitan dan berlari kecil menuju kendaraan terparkir di bahu jalan. Lintang bisa melihat orang lain di kursi depan samping Samesta. Orang yang sudah lama tak terlihat olehnya tengah memejamkan mata. Satu kesadaran Lintang bertambah, Samesta takut orang itu melihat mereka bicara berdua.
Sesak itu kembali hadir. Lintang membalikan badan bersama perasaan mengganjal setelah cukup menyaksikan Samesta menjauh. Dirinya harus menelan kenyataan. Samesta bukan gapaiannya.
***
Samesta mengembuskan napas lega. Saking takutnya Raya mengetahui Lintang hadir lagi di kehidupan mereka, sepanjang bersama wanita itu Samesta hampir lupa cara bernapas.
Kenapa harus begini ....
Samesta meremas stir kemudi. Ingin menggeram marah pada diri sendiri kalau tidak sadar ada seseorang bersamanya. Samesta menoleh ke samping begitu bangunan berwana merah dan coklat tua terlihat. Jarak kedai roti dengan kindergarden Sansan cukup dekat, hal ini memungkinkan Raya bisa mengantar jemput anaknya dengan mudah tanpa meninggalkan pekerjaan lama-lama.
Samesta mengernyit, wajah Raya berubah tak tenang dalam tidur. Jemari Samesta mengusap air mata di pipi Raya yang tiba-tiba turun. Samesta takut diam-diam Raya melihat Lintang tapi kesulitan melampiaskan kekesalannya.
"Ray ..., bangun, Raya?" Samesta khawatir.
Raya enggan membuka mata, tangannya tergepal erat meningkatkan kegusaran Samesta.
"Raya?" Samesta balas meremas genggaman Raya sampai kedua mata itu terbuka perlahan menatapnya bingung.
"Kamu baik-baik aja?"
Raya balas tersenyum, membalas genggaman Samesta yang melonggar karena rasa lega.
"Anak-anak?" Raya mengalihkan perhatian ke kursi belakang. Sudah kosong.
"Saluna dan Sansan sudah sampai di sekolah mereka."
"Ahz maaf, aku ketiduran. Makasih sudah mengantar sampai sini." Raya melepas self drive.
Samesta menghela napas. Dia bisa merasakan Raya sedang menyembunyikan sesuatu. "Ada yang mengganggu kamu?"
Sejak pagi istrinya terlihat kurang fokus. Raya memang sering terdiam tiba-tiba tapi Samesta yakin kali ini bukan lamunan mengenai lanjutan novel. Ada suatu hal mengganggunya.
"Enggak. Aku cuma kepikiran novelku belum selesai."
Raya menunduk, mengurungkan niatnya membuka pintu.
"Kenapa kamu enggak bilang kalau Sansan luka?"
"Itu ... aku lupa. Udah diobatin kok, tenang. Kamu keburu ngomel-ngomel sih semalam." Samesta mengecup singkat punggung tangan Raya. Sekedar memberitahu pada wanita itu bahwa Raya punya Samesta. "Jangan memendam masalah kamu sendiri, Ray. Apa fungsinya aku kalau kamu masih saja susah sendiri, hm?"
Setidaknya Samesta ingin bisa diandalkan walau Raya bisa melakukan semua hal sendiri.
Sayangnya Raya terbiasa mandiri. Segala beban selalu ditanggungnya. Tidak berubah dari awal mereka kenal sampai belasan tahun bersama. Terkadang sikap Raya melukai harga diri Samesta sebagai laki-laki. Seakan kehadiran Samesta tidak merubah keadaan. Sorot hampa Raya masih sering Samesta lihat. Untuk itu Samesta membebaskan apapun yang Raya ingin.
Raya terlalu banyak menyimpan luka. Wanita itu selalu menganggap nasibnya buruk, latar belakang hidupnya membuat dia sedih. Semua pemikiran pesimis istrinya itu selalu membuat Samesta gemas.
"Kan kamu yang mengajarkan--" Perkataan menggantung Raya membuat kening Samesta berkerut. "kalau aku harus berani membuat keputusan sendiri."
"Ya enggak memutuskan kita pisah juga ...."
Pada akhirnya pembahasan mereka kembali pada perceraian. Lama-lama Samesta bisa memutuskan lompat dari gedung.