“Kamu punya pacar, Bi?” tanya Fabian begitu melihat adik kandungnya seperti akan menemui seseorang. Apalagi Abi tampak sangat rapih kali ini meski memang adiknya selalu berpenampilan rapih. Tapi aroma parfum yang menurutnya berlebihan menjadi pemicu pikiran Fabian soal adiknya. “Eh, nggak kok, Kak. Kenapa memangnya?” tanya Abi balik yang kemudian menghampiri meja makan untuk menyantap makan siangnya. “Parfummu wangi banget.” Fabian menjawab dengan jujur. “Dan beberapa hari ini kamu suka pulang larut malam juga. Padahal setahuku jadwal mengajarmu di universitas tidak sepadat itu,” lanjutnya dengan hati-hati, takut dikira mencurigai kehidupan adiknya di luar sana. Padahal Abi juga punya tanggung jawab terhadap perusahaan keluarganya tapi adiknya itu malah lebih memilih menjadi asisten dos

