-Cermin tidak pernah berbohong. Dia merefleksikan apa yang tersaji di hadapannya-
*
Pak Sidiq sudah datang ke rumah Tamara, seperti biasanya. Pria paruh baya itu teringat nasehat Pak Yapto, “Kerja itu kudu sungguh-sungguh, jangan fokus ke duitnya aja Diq”
“Pak Sidiq, ini kopinya.” Mbak Yun membawa secangkir kopi dan sepiring roti untuk sarapan Pak Sidiq.
“Terima kasih Yun. Saya jadi nggak enak dapat pelayanan seperti majikan begini terus menerus Yun.” ucap Pak Sidiq.
“Ini kan memang tugas saya dari Non Tamara, jadi mohon diterima dengan senang hati ya pak.” Tamara memang berpesan untuk menyediakan sarapan, makan siang dan makan malam untuk supir pribadi yang bekerja disini.
“Yun, non Tamara sudah selesai belum ya? Saya dari tadi malam belum dapat info apa-apa dari dia.” Pak Sidiq heran karena Tamara tidak memberitahu jadwalnya untuk esok hari.
“Nanti coba saya cek ya pak. Ya sudah bapak sarapan dulu ya. Saya tinggal ke dalam.” Mbak Yun meninggalkan Pak Sidiq di teras rumah, pria itu baru saja membersihkan mobil pribadi Tamara.
Mbak Yun memberitahu budenya Bu Yum kalau Pak Sidiq mulai mencari Tamara. Mbak Yun tidak enak hati untuk memasuki kamar Tamara. Alhasil Mbak Yun meminta bantuan Bu Yum untuk menanyakan jobdesk Tamara hari ini.
Kedua wanita beda generasi itu menaiki tangga, Bu Yum mengetuk pintu kamar Tamara. Namun tidak ada jawaban darinya. Mbak Yun pun meminta Bu Yum untuk langsung membuka pintu kamar, mereka tidak mau nanti ada kejadian yang tidak-tidak.
Mereka terkejut, keadaan kamar gelap dan tidak sejuk seperti biasanya. Mbak Yun menghidupkan lampu, namun orang yang dicari tidak ditemukan oleh mereka.
“Kemana ya Bude? Non Tamara kan nggak keluar kemana-mana lagi setelah makan malam.” Mbak Yun mulai khawatir.
“Bude juga nggak tau nduk. Apa dikamar Den Theodore ya? Non Tamara kangen ama kakaknya jadi milih tidur disana.” Bu Yum mulai berasumsi berharap Tamara ada di kamar Theodore.
Akhirnya mereka mematikan lampu kamar dan keluar dari ruangan itu. Mereka menuju kamar Theodore. Bu Yum membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci. Kedua pasang mata itu menemukan apa yang mereka cari.
Tamara bergelung di dalam kasur Theodore. Bedcover itu memang belum diganti oleh para maid, sejak Theodore mengalami kecelakaan. Tamara memeluk bantal dengan erat. Ia membungkus tubuhnya hingga meninggalkan wajahnya saja.
“Bude, aku nggak tega banguninnya? Kasihan Non Tamara.” ucap Mbak Yun kepada Bu Yum.
“Sama nduk, Bude juga nggak tega. Kayaknya Non Tamara kurang istirahat kemarin-kemarin. Tuh liat wajahnya lelah begitu.” Bu Yum memperhatikan mimik wajah Tamara.
Mereka memutuskan untuk membiarkan Tamara beristirahat lebih lama lagi. Mereka tak tega untuk membangunkannya.
“Nduk, bilang ke Pak Sidiq kalau Non Tamara masih istirahat.” titah Bu Yum. “Siap Bude!” balas Mbak Yun.
Mbak Yun kembali menemui Pak Sidiq di teras rumah. Ia menyampaikan pesan dari Bude Yum. Pak Sidiq mengerti, akhirnya beliau beberes halaman rumah guna mengusir rasa bosannya. Mbak Yun pun kembali bekerja.
Tiba-tiba jam weker yang ada di atas nakas berdering. Tamara terkejut, langsung saja ia membuka matanya. Ia mengedarkan matanya lalu melihat sekeliling, ia sadar kalau semalam masuk dan memilih untuk tidur di kamar Theodore.
Tamara bangkit, ia keluar dari kamar Theodore dan masuk ke dalam kamarnya. Ia melepaskan kaos Theodore, kemudian ia letakkan di atas ranjangnya.
Ia menuju kamar mandi dan mencuci muka lalu menggosok gigi. Setelah itu ia melepas semua pakaiannya dan memasukkannya ke dalam keranjang kain kotor yang ada di toilet.
Tamara memasuki bathup, ia ingin sekali berendam. Ia belum menemukan solusi untuk mengumpulkan uang demi membayar wanprestasi yang telah dilakukan Theodore.
Dalam lamunannya ia teringat akan kasus Theodore. Semua kembali terbayang dihadapan Tamara. Gadis itu mengusir bayangan dengan menenggelamkan diri ke dasar bathup. Berkali-kali ia lakukan hal itu hingga deru nafasnya tidak stabil.
Tamara berendam cukup lama, sekarang kulit di jari-jari tangan dan kakinya mulai mengerut. Akhirnya ia menyiram tubuhnya di bawah guyuran shower dan memakai kimono.
Tamara keluar kamar mandi. Ia melihat baju kaos Theodore, ia mencoba baju itu lagi. Tamara melihat penampilannya di depan kaca.
“Pas ya, seperti Theodore saja!” kalimat itu keluar dari mulut Tamara.
Deg!
Tamara mendapat the craziest idea ever, segera ia menuju kamar Theodore dan mengambil beberapa setelan pakaian yang biasa pria itu gunakan.
Tamara balik ke kamarnya, kemudian mencoba setelan itu satu per satu. Tubuh Theodore memang tinggi dan atletis. Ia selalu merawat tubuhnya, mengingat ia berkarir di bidang akting dan modelling.
“Ketahuan nggak ya?” tanya Tamara pada diri sendiri.
“Coba dulu aja deh, hari ini aku akan berpenampilan seperti Theodore. Kita lihat reaksi orang-orang ketika melihatnya.” ucap Tamara dengan yakin.
Tamara mulai memakai semua setelan Theodore. Walau kebesaran, ia menyiasatinya dengan beberapa penitik dan ikat pinggang. Untuk rambut Tamara mengikatnya satu ke atas dan dicepol, kemudian dia mengambil sebuah topi.
“Theodore wanna be!” Tamara bersemangat mengucapkan itu di depan cermin.
Tamara keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan. Mbak Yun terkaget saat Tamara melewatinya. Bu Yum pun bingung dibuatnya.
“Pagi Bu Yum, Mbak Yun” sapa Tamara.
“Non Tamara bikin pangling aja deh. Saya pikir Den Theodore lho Non.” seloroh Bu Yum berkata.
“Masa iya Bu? mirip banget ya?” tanya Tamara penasaran.
“Iya non mirip banget, kalau non nggak bersuara ya pasti kita nggak tau kalau ini non Tamara.” kata Mbak Yun penuh semangat.
‘oke mirip. Namun sekarang kendalanya ada di suara.’ batin Tamara.
“Pak Sidiq sudah datang Mbak?” Tamara memastikan Pak Sidiq sudah ada di rumahnya atau belum.
“Sudah non, beliau juga sudah sarapan. Tadi saya lihat, beliau lagi beberes halaman depan non.” balas Mbak Yun.
“Mbak Yun, tolong bilangin ke Pak Sidiq ya. Saya lagi sarapan dan akan pergi ke rumah sakit.” titah Tamara. Segera Mbak Yun pergi menemui Pak Sidiq dan menyampaikan pesan Tamara.
Tamara telah sampai di lobby rumah sakit. Segera ia turun. Sebuah topi sudah menutupi rambut cepolnya. Sebuah kacamata hitam milik Theodore sudah bertengger di hidungnya yang mancung. Ia mengenakan kaos oblong hitam dan sebuah sweater longgar. Tak lupa jeans dan sepasang sepatu cats.
Tamara memasuki ruang rawat Damar, ia mengetuk dan masuk ke dalamnya. Damar dan Dinar heran melihat siapa yang masuk ke kamar ini.
“Maaf anda siapa?” tanya Dinar sopan.
Tamara membuka kacamatanya, “It’s me Tamara, Dinar” singkat balasnya.
“Astaga Ra, kamu ngapain pake baju begitu. Udah kayak cowok aja.” protes Dinar.
“Gimana udah mirip Theodore belum?” Tamara bertanya kepada mereka.
“Mirip sih Ra, kecuali suara kamu.” Damar menanggapi pertanyaan Tamara.
“Ra, kamu belum jawab pertanyaan aku lho, kenapa pake baju begitu hari ini?” sekali lagi Dinar menanyakan hal yang sama.
“Kalian belum paham juga neh, kenapa hari ini aku berpakaian begini hari ini?” tanya Tamara dengan semangat.
Kedua kakak beradik itu hanya menggelengkan kepala. Mereka juga saling menatap namun belum juga paham dengan maksud pertanyaan Tamara.
Tamara menghela nafas panjang, ia pun berkata “Aku akan menggantikan Theodore!”
“What?” pekik Dinar dan Damar berbarengan. Mata mereka seakan keluar dari sarangnya.
Dinar segera menghampiri Tamara dan mengusap pelipis gadis itu, “Normal, kenapa dia jadi gila begini?” Dinar bingung sendiri.
“Ra, coba kamu duduk dan jelasin semuanya biar aku dan Dinar paham.” pinta Damar.
“Kak, ini aku baru kepikir pagi ini. Kita nggak mungkin bisa ngumpulin uang dengan nominal segitu. Aku sempet mau berbuat nekat tapi aku nggak mau karir yang aku bangun hancur begitu saja. Dan aku juga takut sih.”
“Aku iseng pake baju Theodore, dan respon dari Bu Yum dan Mbak Yun juga sama kayak kalian. Aku itu secara fisik mirip banget ama Theodore kecuali suara. Ya sih tubuh aku lebih ramping sedangkan Theodore berisi dan atletis gitu. Tapi itu bisa kita bentuk. Dan untuk suara, aku akan latihan dan pelajari stilasi suara cowok dengan Coach Berta.”
“Gimana menurut kalian?” tanya Tamara.
“Nggak Ra, aku nggak setuju dengan ide gila kamu.” Dinar lantang menolak ide yang diusulkan oleh Tamara.
“Berarti kalian rela aku jadi sugar baby, lalu dipelihara oleh sugar daddy yang bentukan aneh-aneh. Kalian rela aku ngelakuin hal itu?” tanya Tamara lirih.
Damar langsung menoyor kepala Tamara, “Neh biar otak kamu beres lagi!” Damar geram dengan pertanyaan yang Tamara ucapkan.
Tamara hanya terdiam, “Jadi tolong bantu aku ya buat meranin Theodore, please?” ia memohon dengan suara lirih.
“Tapi kamu harus bekerja ekstra Ra.” balas Damar. “Aku akan melakukannya dengan sungguh-sungguh kak.” jawab Tamara.
“Aduh.... sakit kepalaku” kata Dinar sambil memegang kepalanya sendiri.
Kasus kecelakaan Theodore tidak diketahui publik, pihak kepolisian juga tidak memberitakan hal itu kepada media. Berita hanya mengabarkan bahwa terjadi sebuah kecelakaan di Lembang Bandung. Dua orang korban selamat, satu orang meninggal ditempat dan satu lagi jatuh ke jurang.
Identitas korban tidak diungkap, polisi telah melakukan olah tempat lokasi kejadian. Pihak kepolisian pun sudah menutup kasus ini dan menganggap sebagai kecelakaan lalu lintas biasa.
“Ra, nanti kalau ketahuan publik gimana?” tanya Dinar.
“Nggak akan Din. Publik tidak tahu kalau Theodore kecelakaan. Sampai saat ini belum ada berita tentang kecelakaan itu.” ungkap Tamara.
“Oya Ra?” Damar terkejut.
“Jadi inspektur yang menangani kasus ini bilang kalau ini murni kecelakaan lalu lintas. Dua orang selamat, satu orang meninggal dan satu orang lagi dinyatakan hilang. Polisi udah menelusuri lokasi kejadian, nihil.”
“Jadi polisi menutup kasus ini, awalnya aku berat menyetujui untuk menutup kasus ini. Tapi setelah aku pikir, kesembuhan Theodore lebih penting saat ini. I agree!” papar Tamara menjelaskan kepada Damar.
Damar terlihat bingung dan heran sendiri, “Aneh nggak sih menurut kalian?” tanya Damar kepada kedua gadis itu.
“Kak, itu nanti aja mikirnya. Sekarang kita harus fokus untuk persiapan peran aku menyamar sebagai Theodore sementara.”
“Semoga saja, Theodore cepat sadar dan pulih. Jadi aku lebih cepat berhenti meranin ide gila ini.” kata Tamara.
Damar dan Dinar akhirnya setuju. Walau ide ini gila tapi lebih baik melakukan hal gila daripada harus menyerahkan Tamara kepada seorang sugar daddy.
Mereka mulai membahas apapun untuk menjadi Theodore. Tamara mulai mempelajari naskah dan dia sudah harus hafal diluar kepala. Dua minggu lagi dia harus mulai syuting film action.
Dinar mulai membuat schedule dengan Coach Berta buat melatih stilasi suara laki-laki. Coach Berta mau membantu dan merahasiakannya. Damar juga mulai mempersiapkan asisten dan make up artist guna mempertegas raut wajah Theodore di muka Tamara.
Damar juga meminta Tamara untuk berlatih dasar-dasar gerakan boxing. Di dalam film action ini dia akan banyak memperagakan adegan perkelahian. Theodore juga seorang yang ahli bela diri, jadi Tamara harus berusaha menjadi Theodore sesungguhnya.
Damar juga menyediakan seorang pelatih boxing untuk Tamara. Mereka harus melakukannya dengan rapi dan hati-hati. Dinar telah mengatur ulang jadwal manggung, rekaman single baru, photoshoot dan latihan vocal. Dinar menyesuaikannya dengan jadwal yang harus dikerjakan Theodore.