Tamara bahagia karena Damar dan Dinar mau membantunya dalam penyamaran sebagai Theodore. Tamara mulai membaca buku naskah dialog film action. Mata cantik itu mulai berkunang-kunang, yang biasanya hanya menghafalkan lirik lagu, sekarang ia harus memasukkan setiap dialog yang ada dalam buku ini. Kira-kira hampir lima puluh lembar.
“Aaarrgghhhhh” teriak Tamara yang mulai putus asa. Ia menutup matanya dengan buku naskah.
Dinar dan Damar pun ada disana, mereka sibuk menyiapkan tim untuk memperlancar penyamaran Tamara. Dua hari setelah Tamara mengunjungi Damar di rumah sakit dengan penampilan sebagai Theodore itu seperti obat mujarab, karena setelahnya pria itu sudah diizinkan pulang. Namun tetap harus kontrol dengan dokter Febrian.
“Ra, apa kita batalin aja buat jalanin ide gila kamu itu?” Damar merayu Tamara. Pria itu tak tega melihat Tamara tersiksa karena harus menghafalkan buku naskah film action.
Lembaran naskah yang menutupi wajahnya diangkat dengan tangan kirinya, “Jadi Kak Damar rela aku disembunyiin sugar daddy, yang harus melayani apapun permintaannya termasuk having s*x, Begitu?”
“Ya gak lah Ra. Kamu itu jangan ngaco kalau ngomong” Damar menatap dengan kesal.
“Ya sudah, Kak Damar harus janji jangan minta aku untuk berhenti melakukan hal ini” pinta Tamara dengan nada dan tatapan serius.
“Aku kasihan sama kamu Ra. Kamu yang biasanya hanya menghafalkan bait lagu tak seberapa baris itu, sekarang harus menghafalkan ribuan kata.” Damar berusaha membuat mood Tamara kembali baik.
“Kak, ini tantangan terbaru untukku. Siapa tahu nanti aku bisa jadi partner lead Theodore di project berikutnya.” seulas senyum manis terlukis pada wajah oval bule Tamara.
Dinar hanya menonton saja perdebatan mereka, sejujurnya ini bukan kali pertama mereka adu argumen. Dinar menghampiri Tamara di kursi santainya yang ada di ruang tengah rumah mereka.
“Sudah… sudah… kalian ini ya, seperti bocah saja. Malu sama umur!” Dinar mendapat tatapan tajam dari keduanya. Bulu halus Dinar sedikit meremang sekarang.
“Hey, jangan liatin aku kayak gitu. Kalian seperti singa yang kelaparan saja. Ini Ra liat dulu jadwal yang aku udah susun rapi.” Dinar memperlihatkan layar tablet lipatnya di hadapan Tamara.
Sang pemeran utama mulai memperhatikan layar dengan seksama. Ia manggut-manggut paham dengan jadwal gandanya.
“Seperti biasa Din, rapi dan tersistematis. Well Done!” Tamara mengacungkan ibu jari kanannya kepada Dinar.
“Thanks Ra. Jadi menurut aku, selama kamu meranin Theodore Kak Damar yang akan mendampingi kamu. Aku akan menjaga Theodore di rumah sakit. Nanti kalau kamu ngerjain jadwal pribadi maka aku yang akan mendampingi kamu. Aku dan Kak Damar akan gantian.” jelas Dinar kepada Tamara.
“Dinar, Kak Damar. Makasih banyak ya. Aku bersyukur punya kalian.” ucap Tamara dalam lirih. Dinar langsung memeluk Tamara.
“Okay Ladies, let’s work again!” Damar melerai pelukan dua gadis yang ada di hadapannya.
Tamara bertekad akan memasukkan kata per kata ke dalam benak pikirannya. Kemanapun dia pergi, buku naskah selalu ada ditangannya. Bu Yum dan Mbak Yun sampai geleng-geleng kepala melihat tekad kuat Tamara. Para maid telah di briefing Damar dan Dinar, mereka setuju dan sebisa mungkin akan membantu juga.
Hari ini Tamara berlatih dengan Coach Berta, ia harus mematangkan lagi stilasi suara laki-laki pada dirinya. Awalnya susah namun Coach Berta memberikan beberapa teknik untuk memudahkan.
Stilasi sama dengan menggambarkan, kebetulan Tamara pernah merekam suara Theodore sedang bernyanyi dan berbicara saat mereka merayakan birthday tahun ini. Dan rekaman itu dijadikan patokan arah untuk menirukan suara Theodore. Penyempurna penyamaran dari Tamara.
Walau secara harfiahnya setiap manusia tidak akan bisa meniru setiap suara dari manusia lain. Suara manusia itu berbeda-beda dan itu hasil karya Tuhan. Manusia manapun tak ada yang bisa meniru karya Tuhan barang seujung kuku.
Tamara hanya akan menirukan dasar-dasar dari suara Theodore yang berat, serak dan agak sexy kalau didengar kaum hawa. Sedangkan suara Tamara lebih ringan, tidak serak dan lembut.
Tipe suara Theodore dikategorikan Bass, sedangkan Tamara masuk kategori Mezzo-Sopran. Jadi Coach Berta akan membantu Tamara untuk memperkuat dasar suara Alto yang sudah ada dalam dirinya.
Seminggu tiga kali Tamara akan bertemu dengan Coach Berta. Mereka bisa berlatih hingga dua jam lamanya. Mulai dari latihan pernapasan, haming untuk menghangatkan tenggorokan supaya tidak cedera, lalu masuk ke teknik penggunaan suara Alto.
“Ra, ini minum dulu biar tenggorokan kamu gak sakit.” Damar memberikan sebotol air hangat yang bercampur dengan perasan lemon dan madu.
Tamara menerimanya seraya tersenyum, “Makasih Kak Damar.” beberapa saat netra mereka bersirobok. Segera Damar mengalihkan matanya ke arah lain.
Tamara meminumnya dengan rakus, hingga tersisa setengah. Ia pun memberikan lagi botol tersebut kepada Damar, “Kak aku titip ya, tiga puluh menit lagi aku kelar latihan dengan Coach Berta. Sing sabar ya.” gadis itu menepuk pundak Damar dengan lembut.
‘Oh God? What’s wrong with me?’
‘Damar loe kenapa jadi deg degan b**o begini saat bersama Tamara. Focus Mar! FOCUS.’
Damar mencoba mengacuhkan desiran dalam darahnya. Percayalah jantungnya serasa mau copot dari sarang.
“Damar, loe harus fokus bantu Tamara. Ini buat nyelamatin Theodore. Loe cuma kagok aja karena harus berdua kemanapun dengannya. Kan loe biasanya ngurusin Theodore yang notabennya cowok. So jangan Baper bro!” kalimat itu terus saja Damar ucapkan seraya menunggu Tamara selesai dengan latihan vocalnya.
(Chat Screen)
-Damar, hari ini ada gala dinner dengan produser dan semua tim tak terkecuali dari film action. Lokasi Pasola Restaurant, The Ritz Carlton. Pukul 7, on time. Karena ini acara sangat penting, maka semuanya harus berpakaian rapi minimal semi formal- Astrada Film Action.
*
“Kak” gadis itu menegur Damar dan menepuk pundaknya. Damar terkesiap seketika.
“Udah selesai Ra?” tanya dia polos.
“Sudah kak, kenapa Kak? Ada sesuatu kah?” Tamara bertanya balik.
“Ini ada info dari astrada film action. Dia kasih tahu kalau nanti malam ada gala dinner di Pasola Ritz Carlton jam 7. Opening sebelum syuting Ra.”
“Lalu, kenapa Kak Damar gelisah gitu?” tanya Tamara bingung.
“Kak Damar takut aja Ra. Takut kalau rencana kita terbongkar.” ucapnya gugup, ada getaran kekhawatiran dalam suaranya.
Tamara menangkup kedua tangan Damar, ia menautkan tangan mereka di udara, “Kak, percaya deh semua akan baik-baik aja. Lagian bagus dong, dengan begitu aku bisa melihat dan berkenalan dengan para pemain, kru, bahkan aku bisa tahu siapa produser film ini.”
Damar terlena melihat netra kebiruan dari Tamara, suara gadis itu seperti hembusan angin yang menyapu daun telinganya. Damar mengulas senyuman manisnya, membalas Tamara.
Mobil yang dikemudikan Pak Sidiq memasuki halaman rumah. Tamara dan Damar turun berbarengan setelah posisi mobil diparkirkan. Mereka melihat Dinar turun dari mobil daring dengan membawa beberapa kantong belanjaan. Damar bergegas membantu adiknya, Dinar melempar sebuah senyuman.
“Din, kamu belanja?” tanya Tamara syok.
“Nggak Ra, ini beberapa baju Theodore yang aku kecilin di tempat kak Ana. Tadi sebelum ke rumah sakit, aku masuk kamar Theodore untuk memilih beberapa pakaiannya yang akan kamu gunakan untuk syuting.”
Ada sedikit perasaan lega mendengar penjelasan Dinar barusan. Jujur saja Tamara sedang menekan pengeluaran, supaya dia masih bisa untuk membayar gaji orang-orang yang bekerja padanya, biaya rumah sakit Theodore dan kebutuhan harian mereka.
Tamara tidak mau memecat secara sepihak mereka yang bertahun-tahun bersamanya. Baginya, mereka sudah seperti keluarga walau mereka tidak ada ikatan darah. Bukankah keluarga itu bisa dengan siapa pun tak harus yang bertali darah sekalipun!
“Syukurlah kalau begitu Din. Aku lega dengernya.” mereka akhirnya memasuki rumah dan menghempaskan diri di atas sofa ruang tamu.
“Din, aku kayaknya mau jual aja deh mobil Theodore yang kecelakaan kemarin.” Dinar melihat Tamara, netra mereka bersirobok.
“Kenapa mau dijual Ra?” tanya Damar terkejut.
“Kata Bang Simon rusaknya cukup parah kak, kalau dibetulin pasti butuh banyak biaya kak. Lagian aku nggak tega liat Dinar harus bolak balik rumah sakit pake mobil daring.”
Tamara menangkap wajah-wajah keterkejutan sekaligus bingung pada mereka, “Kalau mobil itu dijual, maka uangnya bisa kita gunakan buat beli mobil biasa biar Dinar bisa pake, dan kalau ada sisanya bisa dimasukin ke tabungan urgent.”
“Ra, aku nggak apa-apa kalau harus pake mobil daring. Biarin aja mobil itu ada di bengkel Bang Simon, lagipula dia tidak keberatan kan. Apa kamu lupa janji mu waktu itu?” Dinar menangkup wajah Tamara.
“Janji apa?” tanya Damar bingung.
“Janji kalau Tamara akan mengungkap kasus kecelakaan itu lagi setelah semua urusan ini beres. Kalau mobil itu dijual maka bukti kecelakaan akan hilang gitu aja Ra. Apa kamu mau?” tanya Dinar penuh penekanan.
“I don’t want to!” balasnya singkat.
“Din, nanti malam aku dan Rara akan pergi gala dinner di Pasola jam 7. Opening sebelum syuting dimulai.” Damar memecahkan keheningan yang terjadi sesaat.
“Ya sudah, sebaiknya kalian siap-siap sekarang jangan sampai telat. Lumayan Pasola Ritz Carlton itu macet kesananya, apalagi dari sini.” ucap Dinar memberi saran ke mereka.
“Din, kamu ikut aja ya. Buat nenangin Tamara. Aku takut dia gugup.” titah Damar. Dinar membalas dengan kerlingan mata.
Mereka bersiap. Mereka janji akan melakukannya bersama. Demi kehidupan mereka dan demi hidup orang-orang yang bekerja dengan mereka.
*
Brody meregangkan otot-otot tubuhnya menegang. Ia pun membalik kursi kenyamanan yang memberinya kehormatan sekaligus. Pria itu menatap sunset dari ruangannya yang letaknya hampir menyentuh langit. Dia menggunakan si hitam guna mengurangi kilauan yang menyilaukan penglihatannya sedikit.
Langit kemerahan dan semakin menggelap. Sang surya pulang sementara, ia berjanji akan kembali esok hari. Menyinari dan memberi kehangatan kepada setiap yang membutuhkan.
“Tuan, kenapa anda meminta saya mengatur gala dinner dengan para kru dan pemain film action” tanya Joey menginterupsi waktu santai Brody.
“Saya harus memastikan sesuatu. Semua sudah bereskan?” tanya Brody balik.
“Sudah tuan. Gala Dinner di Pasola Ritz Carlton malam ini pukul 7. Keamanan sudah siaga. Saya juga sudah menyiapkan tuxedo terbaik untuk anda. Semua keperluan anda sudah ada di ruang istirahat.” jelas Joey, Brody menganggukan kepalanya.
“Okay, kau juga bersiap. Saya akan membersihkan diri dulu. Saya harus tampil mempesona. Ini pertama kalinya untuk saya bertemu klien sebagai seorang produser.” Brody menatap lurus tepat kepada langit yang mulai gelap.
‘Dia kenapa lagi ini Tuhan, seperti bunglon. Joey kau harus bersabar padanya, walau bagaimanapun dia masih ada sisi baiknya. Tabungan masa depan itu perlu kau isi. Dan cara yang tepat untuk membuatnya penuh adalah bertahan pada posisi ini.’
Joey menggerutu sendiri, lalu Brody tidak peduli akan hal itu. Pria itu memilih masuk ke ruangan khususnya yang ada dalam ruangan kerjanya.
Pria itu melepaskan seluruh pakaiannya, ia telah masuk ke dalam kamar mandi. Air dari shower itu mulai membasahi setiap inci tubuh atletis Brody. Tangan kekar itu meraih body foam dan memoleskan pada tubuhnya.
Seketika ruangan itu menyeruak dengan wangi woody dan terasa segar karena ada kandungan ocean minerals. Rambut itu dihempaskan kiri kanan ketika menerima butiran air shower yang menyentuhnya.
Brody mengenakan handuk di pinggangnya, ia menatap pantulan dirinya dari cermin wastafel. Diam sesaat, “Kau memang tampan Brody Wang. Tak seharusnya hidup kau berakhir di lingkaran perjodohan bodoh itu.”