Sudah sekitar 3 bulan lamanya, hubungan Angkasa dan Diva terjalin. Semua masih sama, Angkasa degan sifat jahilnya. Diva kadang terlalu kesal kepada Angkasa. Ia juga sering sekali mengumpat kasar kepada tunangannya itu. Setiap Diva mengambek, Angkasa harus bersedia memberikan 3 boneka Kudanil. Kini Kamar Diva penuh dengan boneka-boneka Kudanil miliknya.
"Ya allah, bonek lo udah 27 Div, masih mau lagi?" tanya Angkasa frustasi.
"Bodo Amat, suruh siapa lo bikin sepatu gue masuk ke got!" seru Diva kesal.
Hari ini mereka jalan layaknya sepsang kekasih. Dengan jahilnya Angkasa mengambil sepatu Diva dan dia juga tidak sengaja menjatuhkan sepatu itu kedalam got yang penuh dengan air.
"Gue ganti sepatu lo deh, tapi jangan minta boneka ya," ucap Angkasa menatap Diva.
"Nggak! Boneka Kudanil titik." ucap Diva membuang mukanya.
Angkasa hanya diam, menunduk lesu. Bukan karna harga boneka yang di minta oleh Diva. Harga boneka itu hanya 80 ribu, dan angkasa bahkan bisa membeli 100 boneka kudanil untuk Diva. Tapi dia itu tidak suka dengan Kudanil, karna Diva selalu menganggap kudanil-kudanilnya adalah dirinya.
"Nanti kamar lo nggak cukup gimana?" tanya Angkasa nampaknya lelaki itu masij berusaha.
"Kamar gue gede kok!" seru Diva, sedikit sewot.
"Oke-oke. Gue beliin tunggu sini bentar." ucap Angkasa akhirnya lelaki itu berjalan menuju mall untuk membeli boneka.
Diva tersenyum, alasan gadis cantik itu untuk meminta boneka Kudanil adalah, karna dia ingin Angkasa tidak jahil lagi dengan dirinya. Diva tau Angkasa tidak suka di samakan dengan kudanil.
****
Hari pertama masuk sekolah, Diva sudah kelas 12. Pagi ini dia berangkat sendiri, karna tugasnya sebagia ketua kedisplinan masih berlaku. Diva melahap roti selainya dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya di gunakan untuk menstabilkan mobilnya.
Pukul 6:15 pagi Diva memarkirkan mobil kesayangannya di halaman sekolah. Sekolah masih sepi. Diva pun, turun dari mobilnya. Perempuan itu memakai pita berwarna kuning di sebelah kanan rambutnya.
Jika di lihat dari dandannya, Diva tampak seperti perempuan femim pada umum nya. Tapi jika secara sikap dan prilaku menunjukan bahwa dirinya seorang perempuan yang tomboy.
Setelah rapat, Diva berdiri di depan gerbang mengecek satu persatu persyaratan mos yang harus di bawa oleh peserta mos. "Ini Kancing bajunya, kan di minta putih sama abu abu kenapa lo pasang merah." kata Diva galak pada siswa itu.
Si anggota mos yang terlihat tengil itu tersenyum remeh. "Terserah gue lah, sekolah disini juga gue bayar." bantah Siswa di depan Diva.
Diva mengkerutkan keningnya, ekspesi wajahnya benar-benar mengejek Siswa itu. "Lo pikir lo sekolah di sini, cuma modal duit doang? Nggak usah belagu lo!" sewot Diva menaikan satu oktaf suaranya.
Siswa itu masih mempertahankan senyum remehnya. "Cepet baris di sana!" perintah Diva ia masih mempertahankan nada galaknya.
"Nggak mau!" bantah Siswa tersebut.
"Lo tuh ya! Mau gue seret kesana?" ucap Diva menatapnya dengan geram.
"Cewek modelan kayak lo bisa apa? Paling bisa ya cuma bedakan doang!" ejek Siswa itu di sertai kekehan di ujung kalimat. Sudah cukup kesabaran Diva benar-benar habis.
Perempuan itu memutar tangan sebelah kiri Siswa terssebut kebelakang. "Jangan lo pikir, lo bisa ngeremehin gue ya!" ucap Diva semakin menekan tangan siswa tersebut. Semua murid baru, dan teman-teman Diva menatap kearah keduanya.
Putri berjalan kearah Diva. "Div udah Div. Nanti tanga nya patah, lagi." lerai Putri panik.
"Dia itu harus di kasih pelajaran Put, seenaknya ngerendahin gue!" balas Diva sambari menahan amarahnya.
"Diva!" teriak sesorang ketika keluar dari mobilnya. Seketika Diva melepaskan tangan siswa itu. Angkasa berlari kearah Diva, dan mengabaikan perempuan yang baru saja keluar dari mobil nya.
"Kenapa?" tanya Angkasa. Diva tidak menjawab perkataan Angkasa matanya masih fokus kepada perempuan yang juga memakai baju putih biru. Dan Diva sadar bahwa dia murid kelas 1.
"Hey!" Angkasa menguncangkan bahu Diva membuat Diva menatap Angkasa angkuh. Lalu selanjutnya Diva meninju perut Angkasa dan pergi meninggalkannya.
"Kok gue yang di tonjok?" gumam Angkasa sembari meringis kesakitan di bagian perutnya.
Pagi ini mood Diva benar-benar hancur, oleh 2 orang. Yang pertama siswa baru yang meremehkannya. Dan sekarang Angkasa yang datang dengan seorang, perempuan.
****