Sedari pulang dari mal, Diva tak mau lepas dengan boneka Kudanil miliknya. Perempuan itu terus memeluk boneka itu. Angkasa yang sedang duduk di sofa ruang keluarga di rumah Diva pun hanya mendengus kesal. Pasalnya, Angkasa menjadi orang yang di cueki oleh Diva. Mbak Retno membantu rumah tangga Diva membawa nampan memberikan dua gelas jus jeruk dan beberapa cemilan.
"Monggo den ..." tutur Mbak Retno, Angkasa hanya tersenyum sambari manganguk.
"Div ..." panggil Angkasa, Diva hanya bergumam. Perempuan itu masih asyik dengan boneka kudanil tersebut.
"Gue pulang ya?" tanya Angkasa, lagi Diva hanya bergumam. Angkasa kesal dengan Diva lelaki itu pun menarik pinggang Diva untuk mendekat kearahnya.
Diva terpikek kaget, saat Angkasa menarik pinggangnya. Angkasa juga mengatur pergerakan Diva. "Saaa, Lepasin engap tahu nggak!" seru Diva dengan nada kesalnya.
"Nggak!" seru Angkasa. "Suruh siapa lo nyuekin gue." sambung Angakasa menengelamkan milik di leher bangian belakang milik Diva.
Angkasa mendengus, mengirup aroma tubuh Diva. "Sa! Geli." kata Diva, mencoba meronta.
Angkasa menarik dari leher Diva. Lelaki itu mengambil boneka Kudanil yang di pengang oleh Diva. "Eh lo mau apain boneka gue." kata Diva mencoba meraih kembali boneka itu.
"Mau gue buang! Sebenarnya tunangan lo gue atau Kudanil jelek ini sih." ucap Angkasa kesal.
"Tunangan gue? Kudaniil jelek." kata Diva sesantai mungkin, sembari tersenyum mengejek.
"Oke, udah sana nikah sama Kudanil." ucap Angkasa kesal, bertindak nampak memerah. Dalam hati, Angkasa menyesal telah membelikan Diva boneka itu.
Diva tersenyum manis melihat raut wajah Angkasa. Perempuan itu memindahkan dan memeluk tubuh Angkasa dari samping. "Kudanil jelek ngambek." ucap Diva mengelus rahang bawah Angkasa.
Angkasa masih membuang mukanya. Angkasa juga terasa geli, jari jari-jari halus milik Diva merambat di rahangnya. "Berhenti!" seru Angkasa dengan nada kesalnya.
"Uhhh, Kudanil jelek ngambek." kaya Diva terkekeh geli.
Diva terpikek kaget, saat Angkasa mengangkat tubuh Diva dan menaiki tubuh Diva di pangkuannya. Angkasa juga mengatur pergerakan Diva. "Angkasaaa, apa-apan sih lepasin!" seru Diva meronta.
Angkasa tidak melepaskan Diva lelaki itu masih memeluk Diva. "Suruh siapa dari tari nyuekin gue. Dan lebih milih Kudanil Jelek itu," sebal Angkasa dan masih memeluk Diva.
"Gilaa! Enggap tau!" seru Diva mendorong bahu Angkasa.
Angkasa tak mengihiraukan perkataan Diva dia masih dengan posisi yang sama. Beberapa menit kemudian, Angkasa menghentikan aksi pelukannya. Namun tangan Angkasa masih melingkar di pinggang Diva. Angkasa memandang Diva, Diva salah tingkah dengan tatapan Angkasa.
Angkasa juga merapihkan rambut anak Diva yang mendukung wajah manis Diva. Entah bagaimana jadinya, Angkasa mengecup kening Diva lama. Tangannya juga memeluk bahu.
Seperti mendapat aliran listrik, wajah Diva langsung memerah saat Angkasa menempelkan bibir Angkasa di kening miliknya. Setelah mencium Kening Diva, Angkasa menatap Diva dalam. Sebelum akhirnya menengelamkan di caruk leher Diva. Diva terdiam merasakan nafas Angkasa di lehernya. Tangan mungilnya beralih untuk memeluk bahu Angkasa, dan mengeluas-elusnya lirih.
****
Angkasa terbangun dari tidurnya saat adzan magrib berkumandang. Ia melihat Diva yang juga tertidur di pelukannya. Angkasa tersenyum tipis, Diva adalah orang pertama yang mengetuk pintu hatinya. Gadis manis dan sangat mengemaskan ini sudah mengisi perasaan sedari dulu.
Menurut Angkasa Divaa adalah spesies perempuan yang langka. Dia bisa menjadi perempuan galak dan manja sekaligus. Angkasa mengusaap bahu Diva, jika dilihat dari apa yang dilakukan Angkasa untuk Diva, mereka sebaliknya seperti Ayah dan anak. Ayah yang sedang menimang anak perempuannya.
Diva nikmati usapan lembut di bahunya membuat perempuan itu terbangun. Mata Diva terbuka, di depan tertutup sudah ada Angkasa yang tersenyum manis untuk Diva. Diva menggerakkan tubuhnya yang terasa kram. Lalu ia bangkit dari pangkuan Angkasa.
"Lama juga gue tidurnya," kata Diva dengan suara seraknya.
"Iyalah orang lo tidur di pelukan gue." goda Angkasa terkekeh geli.
"Sa, Lo udah nggak ngambek?" tanya Diva tersenyum cerah. Angkasa melirik Diva sekilas lalu membuang mukanya.
"Ck sok-sokan mau marah sama gue. Tadi aja tidur sambil meluk gue." cibir Diva ia mengambil kembali boneka kudanilnya.
"Sa lo tau nggak? Kenapa gue sama-in lo sama Kudanil ini?" tanya Diva memainkan bonekanya.
Angkasa menggelengkan kepalanya . "Karna, lo itu jelek kayak Kudanil," ujar Diva lalu tertawa keras.
Angkasa menatap Diva yang tertawa keras. "Jadi gue jelek kayak Kudanil?" tanya Angkasa tersenyum sinis. Diva mengangguk seperti anak kecil yang memberi permen. Angkasa mendekat kearah Diva dan mengklitikinya membuat Diva yang tertawa meminta Ampun karna geli.
"Saa! Udah gue ngompol ini!" seru Diva mata sambil tertawa, matanya sudah berair.
Angkasa mengantikan aksinya, Diva tergeletak di lantai dengan Angkasa di tasnya. Ia suka mengambil posisi push up Diva berada di bawahnya.
"Lo tuh salah paham, Kudanil emang jelek, tapi lucu. Dan lo itu lucu." jelas Diva menatap wajah Angkasa sembari tersenyum manis.
Angkasa mulai gerakan push up hingga bibirnya menempel pada bibir Diva. Diva melebarkan matanya. Angkasa bangkit lalu berlari pergi. Sebelum akhirnya lekingan suara Diva terdengar. Membuat Angkasa yang sudah masuk ke dalam mobil tertawa keras. Angkasa mengusap bibirnya dengan ibu jari miliknya. Ia tersenyum sembari melajukan mobil miliknya.
****