Hari ketiga MOPD...
Para calon siswa baru di sibukkan dengan segala persiapan perkemahan..
Mulai pembagian kelompok, peralatan regu dan lainnya.
"Hai Nis..., masuk ke sini?"
"Eh hai Aldi.., iya. Kamu juga?"
"hmm..." gumam Aldi disertai anggukan dan senyuman.
"Ikut perkemahan besok?"
"In Syaa Allah Di.. Kamu?"
"Ok. Aku juga ikut. Eh Nis ditinggal dulu ya.." Aldi pamit dari hadapan Nisa.
Tanpa sengaja pandangan Nisa menangkap Mario yang sepertinya tengah memperhatikannya dengan sorot mata yang tak bisa diartikan.
Tapi bukan Anisha namanya jika mau peduli akan hal itu, meski sekilas keningnya sempat berkerut, tanda heran dengan fenomena yang ditemukan.
***
Mario POV on
"Kenapa gue ini? Seolah tak rela Anisha berinteraksi dengan cowok itu. Tahan Mario, tahan..." lirih ku geram melihat Anisha bercakap dengan pria lain.
Rasanya ingin ku tarik Anisha untuk putuskan interaksi itu sekarang juga. Tanpaku sadar tanganku mengepal membentuk tinju, hingga buku- bukunya memutih. Saking geram menyaksikan pemandangan di depan mata.
"lagi pula apa hak lo terhadap Anisha, Yo.. Sadar. Kenapa sih lo ini?".
Entah kenapa rasanya aku begitu terganggu dengan adanya kejadian tadi. Moodku tiba- tiba hancur berantakan. Semangat berada di tempat yang sama dengan Anisha tiba- tiba luruh, mendapatkan kenyataan bahwa Anisha bisa berinteraksi seluwes itu dengan pria tegap tadi. Lain halnya jika terlibat obrolan denganku. Singkat, padat dan jelas.
Siapa pria tadi? Apa mungkin dia... Ahk... Berbagai pemikiran terlintas di kepalaku saat ini. Hingga...
"Hei teh Rio Mario, kenapa lo.. Bengong kek ayam kena to'un..?!" tiba - tiba muncul.
"Sialan lu Ndra.." Maki ku saat Andra tiba- tiba muncul. Menepuk keras bahuku. Menyadarkan ku dari lamunan.
"Napa sih lo? Kusut kaya cucian gak ke jemur. Di tinggal kawin gebetan?" cerocosnya. Langsung ku hadiahi bogem yang sedari tadi membulat sempurna.
"Sotoy lu..!." aku beranjak menuju kelas. Meninggalkan hiruk pikuk kegiatan yang belum kelar di lapangan. Dimana Anisha masih larut dengan segala aktivitasnya.
"Yaelah gito ja ngambek.. PMS lo?" Andra pun beranjak mengikuti langkah ku.
Aku hanya mendelik tajam ke arah Andra. Bukannya takut, dia malah terbahak seolah faham kondisi ku yang tengah terbakar api cemburu..
"Dih galak bener lo. Kalo cinta mbok yo ngomong toh le. Jangan terbakar sendirian. Mana do'i tahu derita apa yang lo alami bro.." ledeknya mendramatisir keadaan dengan menirukan logat tempat asalnya.
Aku mendengus kasar. Sambil geleng- geleng kepala.
Seketika mengernyitkan dahi. Dalam hati bertanya.
'Apa iya gue tampak seperti apa yang Andra bilang? Padahal gue ga cerita apapun pada siapapun. Hanya menyimpan semuanya dalam hati'.
"Ga sah heran Lo kulkas, tuh ada tulisan gede- gede di jidat lu 'MODUS CEMBURU' huahaha... Makanya gue tahu. Hahahaha..." lagak Andra nunjuk jidatku.
"Apaan sih lu Ndra, bikin rusuh aja" kesal ku. Menepis dahi seolah coba menghapus tulisan seperti yang tadi Andra bilang.
"heh kulkas gue tau lu. Dan BTW, Ini tu bukan lu banget. Sejak kapan sih lu jadi BUCIN hah?" Buru Andra masih enggan menyerah..
"Sotoy lu kompor. Emang gue nampak gitu di mata lu?"
"OMG.. Lu boleh piter IPA, IPS, Matematika, Basket dan lainnya apapun itu. Tapi satu hal yang gak lo sadari kalo lu itu ga pinter bohong. Dan reaksi macem lu ini..." Andra menjeda kalimatnya.
".. Terindikasi gejala BUCIN akut yang tengah terserang wabah JEALOUS.. Hahahaha... "lanjutnya.. Mengetuk- ngetukan telunjuk di keningnya, seolah sedang berfikir serius. Lantas terbahak menyebalkan..
"Udah deh lu nyerah ma gue, siapa sih cewek beruntung yang jadi cinta pertama lu itu?" lanjut si Andra S****n itu menggerak- gerakkan alisnya, makin memojokanku.
Ya Andra tahu sepak terjang ku selama ini. Dia temen ku dari kecil, sejak jaman ingusan. Meski umurnya satu tahun di atas ku. Tapi kita sekolah di SD, SMP dan kini SMA yang sama. Ga ada alasan lagi aku menghindar dari desakan si k*****t satu ini.
Wal hasil meluncurlah semua rahasia yang beberapa hari ini ku pendam tentang Anisha.
Tanpa ku duga si k*****t itu terbahak tanpa henti. Dan tak terlihat tanda akan berakhir dalam waktu cepat.
"nyebelin lu k*****t. Nyesel gue percaya sama lu...!" Geramku. Noyor kepalanya.
"hahahaha... Tunggu.. Tunggu... Hahahah... Gue kira... Tadinya lu tu... Lu tu kagak doyan cewek.. Hahahaha.. Tapi.. Tapi.. Hahaha..." ujar si k*****t masih asyik ngetawain.
Aku melengos, malas nanggapinnya..
"Tapi ternyata syukurlah dugaan gue salah.. Mmpptt" pungkasnya sambil menahan tawa. Berlaga sok bijak.
"Puas lu sekarang!!" acuhku.
"Hei.. Hei... Tenang brother.. Kalo mnurut gue ni ya... Menurut gue.. Ngomong dehl lu ma dia, sebelum keduluan orang loh. Nyesel deh lu nanti". Saran dari si k*****t tu masuk akal juga.
'Tapi nyali gue belum nyampe situ..' lirih batinku
Mario POV end
***
Hari ini Anisha Sudah siap dengan segala keperluan perkemahan. Bahu rapuh itu berusaha kuat menopang semua beban yang ditanggungnya.
Tapi siapa yang tahu, jika semua itu hanya caranya untuk menutupi kekurangan yang tak ingin dibaginya dengan siapapun. Seperti rembulan yang tak kan pernah izinkan siapa pun melihat sisi gelapnya.
'Ya Rabb, andaikan kakak lelaki ku masih ada. Pasti aku tak hadapi semua ini sendiri' lirihnya. Menyeka peluh didahinya..
Ia letakkan seluruh barang bawaannya, beserta barang lain milik regunya.
"Hai Sri, jadi ikut.."
"So pasti.."
"Mana yang lain?"
"Tu.. Mereka.." tunjuknya pada kerumunan riuh Gadis2..
Entah siapa yang di cari Anisha, karena ia masih mengedarkan pandangannya setelah itu.. Nampak sedikit raut muram kekecewaan diwajah cantiknya..
***
Sementara itu di lain tempat seorang anak muda yang sepertinya kembali kehilangan semangatnya karena efek kejadian kemarin, nampak malas mengemasi perlengkapannya. Otaknya berputar bekerja keras mencari beribu alasan agar tidak harus pergi menuju ke tempat yang selama ini paling tak ingin ia datangi, yaitu sekolah.
Meski dia hobi mangkir dari sekolahnya, tapi dia lebih suka berada dalam rumahnya, dari pada keluyuran tak jelas.
Siapa lagi dia kalau bukan Mario Dewantara.
Tapi sepertinya semesta mendukung keinginan si tampan yang tengah galau tingkat alam semesta itu. Karena tiba- tiba saja Tante Emi muncul di depan pintu bersama seluruh anggota keluarganya..
"Kejutaaaaannnnn.......!!!" teriak Mereka kompak.
Mario pun tersenyum penuh arti. Seolah terbit lampu pijar menyala di atas kepalanya..
Padahal hatinya tak bisa dibohongi bahwa ia teramat sangat rindu pada gadis berkerudung putih itu. Yang telah begitu mudah mencuri perhatian beberapa hari ini. Ya benar dia adalah Anisha-nya?
Ah, bisakah Rio mengklaim "Anisha-nya?"
'Whatever... Biarkan gue merdeka untuk saat ini' gumam Rio menepis segala dugaan tentang Anisha..
***
Anisha POV on
"Ya Rabb.. Apa yang kamu lakukan Nisa...?" lirih batinku saat menyadari tingkah konyolku. Mencari- cari sosok Si SKSD yang bahkan aku belum tahu jelas siapa namanya.
Entah mengapa aku seperti kehilangan. Pikiran ku berkecamuk tentang sesuatu yang bahkan aku sendiri pun tak mengerti.
"Ah.., apa lagi itu Nisa..?"
Tapi seolah mata ini tak mau berhenti untuk memastikan dimana dia.
Hingga tiba saatnya keberangkatan ke lokasi perkemahan. Aku harus menelan pil kekecewaan, karena tak berhasil menemukannya.
"Ish Nisa, berhenti berfikir tentang dia" ku tepuk dahiku seolah bisa rontokkan seketika isi kepala ku tentang si SKSD itu.
Anisha POV end
***
Mario POV on
Sebenarnya aku sangat rindu padanya. Tapi segala pemikiran tentang apa mungkin dia sudah memiliki kekasih, membuatku mati kutu. Mengingat dia seperti menutup diri dari interaksi dengan lawan jenis.
Rasanya aku gak kan sanggup menerima kenyataan bahwa gadis pertama yang berhasil menarik perhatian ku itu, gak akan pernah bisaku menangkan.
So, daripada aku kecewa nanti. Lebih baik sekarang mundur dengan teratur.
Mario POV end
***
Tak terasa akhirnya tiba di tempat tujuan, inilah tempat perkemahan mereka.
Sejuknya udara perkebunan teh menyapa wajah cantik yang sedari tadi nampak muram diliputi rasa kecewa.
Segarnya angin pegunungan, nyatanya tak mampu terbangkan resahnya.
"Ok, Alhamdulillah kita telah sampai di lokasi perkemahan. Dan untuk sekarang kakak beri waktu 1 jam untuk mulai mendirikan tenda. Setelah itu, para ketua regu di tunggu di pos utama, untuk pengarahan selanjutnya". Ujar Randi si ketua OSIS.
Seluruh peserta perkemahan mulai sibuk dengan aktivitas mendirikan tenda. Begitupun Nisa yang bertindak sebagai ketua regu. Sungguh ini bukan hal baru baginya. Tapi ia tetap tak ingin menonjolkan diri. Dia lebih senang bekerja dalam diam.
"Wah hebat kelompok ini. Dah hampir selesai tendanya.. Siapa ketuanya...? Hebat.. " Ujar ketua OSIS yang sedang memantau jalannya kegiatan. Berdecak kagum.
"Anisha Kak..." jawab mereka kompak.
"O.. Pantas saja..." sahut Randi, si Ketua OSIS. Manggut- manggut, seraya melirik ke arah Lisa. Mengundang berbagai macam spekulasi di masing- masing kepala mereka yang berada di sana. Lantas berlalu.
"Lo kenal KETOS Nis?" Tanya Yayu.
"Ga tau.." jawab Nisa singkat.
"Naksir Lo kali...?" goda Nadin. Di amini yang lainnya.
"Apaan sih kalian..?!" Nisa terhenyak dengan dugaan teman - temannya.
Pura-pura acuh. Mengalihkan rasa gugup dengan kembali fokus dengan apa yang dilakukannya.
"Cie... Cie... Witwiw..." goda Hani memancing tawa regu edelweis. Tentu saja itu regu Anisha.
"Sudah, sudah ayo balik kerja kasian tuh, mukanya Nisa merah banget tau.." rerai Laras. Namun dengan nada menggoda.
'Kenapa bukan dia? Dan kenapa juga aku ngerasa.. Ah sudahlah lupakan saja Nisa..' sesaat pikirannya kembali menerawang ke arah si SKSD yang belum ia ketahui namanya itu.
***
Seusai solat Ashar seluruh peserta perkemahan berkumpul di tengah area perkemahan. Berbaris berkelompok sesuai regu masing- masing. Berbagai acara telah berlangsung. Dari pembukaan, materi hingga game pun terlaksana.
Menjelang magrib mereka kembali istirahat. Anisha dan beberapa orang dari regunya memutuskan pergi ke toilet.
"Hai Nisa.." Suara yang Nisa kenal, mengintruksi langkahnya.
"Eh Galih.." sahut Nisa yang memang mengenal Galih, karena teman sekelasnya waktu kelas 1 SMP.
"Ada yang titip salam buat Lo tuh.." bisiknya, sambil menuding ke arah belakang, dimana berdiri salah seorang temannya.
Anisha hanya tersenyum simpul.
"Dah gue sampein Lan.." teriak Galih begitu Nisa berlalu.
"Tenang aja dia orangnya baik ko. Gak pernah gue denger Nisa jalan ma cowok selama gue kenal dia" restoris Galih..
"Hei Alan, Galih mo kemana Lo. Masa Lo pada mo ngikutin ampe ke toilet cewek?!" panggil teman Galih yang lain. Yang tentu saja masih bisa Nisa dengar.
"Da pa Nis..?" Tanya Sri.
Anisha menggedikan bahu acuh.
***
Anisha POV on
Malam makin beranjak pekat. Udara dingin makin menggigit, menusuk, serasa menembus tulangku.
Mengusik hatiku yang tiba- tiba terasa perih, entah kenapa. Kosong, ya aku rasakan kekosongan itu lagi. Tapi penyebabnya saat ini berbeda. Apa mungkin karena si SKSD, padahal kami baru saja bertemu beberapa hari.
Tak mungkin aku merindukannya.
Alhamdulillah seluruh rangkaian kegiatan hari ini selesai.
Lelah sekali rasanya tubuh ku..
"Misi, ada yang pernah aktif PMR di SMP-nya di regu ini?" suara dari luar tenda menghentikan laju kepalaku yang hendak berlabuh menuju tas yang ku kondisikan sebagai bantal.
Buru- buru ku raih kembali kerudung yang sempat ku lepas sebelum hampir berbaring.
"Saya Kak.." Sahutku. Segera keluar tenda.
"Ayo Nisa.." ajak Kakak kelas kami itu.
Begitu sampai di pos kesehatan, ku dapati cukup banyak peserta perkemahan yang tumbang di sana.
Aku segera larut dalam aktivitas di pos kesehatan yang ternyata mereka membutuhkan tenaga tambahan. Sehingga mendatangi tenda peserta mencari bantuan.
Tak lama pekerjaan usai. Yang tersisa di pos kesehatan hanya mereka yang benar- benar butuh pengawasan saja.
"Nis kamu boleh kembali ke regu. BTW makasih ya dah bantu..." ucap Randi si Ketua OSIS yang ternyata juga ada di tempat itu.
Aku hanya menggangguk dengan seulas senyum.
"Nis, gimana kata Alan?" tiba- tiba Galih berjalan di samping ku.
"Apanya?" tanyaku tak paham.
"Salamnya..."
"Wa'alaikum salam.." jawabku.
"Jadi..?" kejar Galih tak puas dengan jawabanku. Yang ku tahu ke arah mana tujuannya.
"Masuk dulu ya Lih. Dah malem. Ga enak dilihat orang.." Elak ku. Melarikan diri.
Masih bisa ku lihat raut Galih yang menuntut jawaban. Tapi bukan aku namanya jika mau peduli dengan hal tersebut.
***
Tiba- tiba terlintas wajah si SKSD saat ku coba pejamkan mata.
'Astagfirullah...' lirihku..
'Aku ga mau semua terulang sama Ya Rabb... Cukup... Aku belum siap' lirihku membuang napas kasar, berharap bisa kurangi sesak di dadaku.
Anisha POV end
***
'Kenapa gue ni..?
Sedahsyat itukah seorang Anisha sampai buat kasur empuk gue seperti serasa gue tidur di atas hamparan paku?' bisik Mario prustasi, yang sedari tadi hanya berguling tak jelas di atas tempat tidurnya.
Jangan dikira dia "Merdeka" seperti yang diinginkannya dengan tidak turut serta dalam perkemahan. Nyatanya ia menyesal. Hingga jadi bahan bulan- bulanan Andra selepas Shalat Isya di masjid komplek.
***
Mario POV on
"Puas lo ngetawain gue?" cecar ku, saat si k*****t itu begitu nikmat terbahak- bahak di atas derita penyesalan ku.
"Ck cemen Lu Yo. Gue bilang ngomong, ya ngomong.. Biar semua jelas dan Lo ga terjebak di ruang pikir Lu sendiri.. Payaaaah...!" lanjut Andra begitu bisa menguasai dirinya. Meski masih membekas sisa tawanya.
"Nyali gue lom sampe ke situ Ndra..."
"Payah Lu.. Badan doang yang gede, nyali Lu cemen". Ejek Andra
"Lu ga ngerti Ndra. Gue tu speckles kalo dah di depan dia". Lirih ku pasrah jadi bahan ejekan.
"Sumpeh Lo.. Wah... Waaah... Hebat bener tu cewek. Bikin kulkas kalangkabut ga jelas gini" Andra masih belum puas ngejek gue.
"Apa kata Lu ja Ndra. Pusing gue..." Beranjak pulang meninggalkan Andra.
Dan disinilah aku sekarang. Tempat ternyaman sedunia yang sekarang tak mampu nina bobokanku seperti biasa. Secara bayangan tentang Anisha terus menghantui.
"Mungkin benar saran si k*****t itu. Gue harus secepatnya bicara dengan Anisha, biar semua jelas dan pasti" .
Akhirnya aku berdamai dengan diri sendiri.
Mario POV end
***
Rangkaian acara perkemahan satu persatu selesai hingga tiba di penghujung acara.
Penutupan MOPD dan mereka telah sah jadi siswa SMA.
Berganti kostum dan menuju fase baru, fase awal kedewasaan.
Dalam perjalanan pulang dari lokasi perkemahan tanpa diduga Anisha duduk bersebelahan dengan Aldiano. Ya, benar. Aldi yang membuat Mario kalangkabut terbakar cemburu tempo hari.
"Hei Sa.."
"Hei Di..."
"Gimana lancar aktivitasnya?".
"Alhamdulillah Di. Kamu?"
"Alhamdulillah lancar juga"
"Gimana masih mo nerusin aktif PMR Di?"
"Belum tahu Sa. Lihat ja nanti"
"Secara Pak Ketu gitu loh..."
"Hahahaha..., kamu ni Nisa.. Nisa.. Masih dibawa ja gelar tu.." Sekilas Aldiano tertawa.
'Si pria irit ekspresi itu tertawa?'.
'Ya Rabb, apa dia orangnya yang Engkau hadirkan dalam mimpiku tempo hari sebagai jawaban tanyaku?' Anisha membatin.
'Tapi aku tidak rasakan apaun di sini terhadapnya, malah si SKSD yang kian terlintas di benakku'. Lanjutn batin Anisha.. Sekilas menekan d**a.
"Nis.. Nisa.." Teguran Aldi kembali buat Anisha tersadar.
"Hah..? Ah ya Di, ada apa?" tanya Anisha. Gelagapan.
"Kamu kenapa? Sakit?"
"Eng, enggak kok Di. Memang aku kenapa?" tanya Nisa bingung.
"Dari tadi tu, aku tanya kamu mau gak pulang bareng? Itu juga, emm kalo gak keberatan. Kan lumayan banyak juga barang bawaan kamu.." jelas Aldiano.
"Ah ya.. Ehm.. Mak, Maksudku, aku pulang ke tempat bapak kok. Ga jauh tempatnya dari sekolah.." ujar Nisa salah tingkah, tertangkap basah melamun.
"Hmm oke kalo gitu. Da no telpon?.. Ehmm.., takutnya da sesuatu yang penting, jadi aku bisa ngubungi". Tanya Aldi nampak ragu.
Mungkin dia tahu Nisa yang selalu menghindar untuk hal diluar bahasan umum.
"Ada". Jawaban singkat Anisha membuat Aldiano hembuskan napas lega.
***
Anisha POV on
'Akhirnya usai juga' ku hembuskan napas lega.
Dalam perjalanan pulang dari lokasi perkemahan tanpa ku duga ternyata duduk bersebelahan dengan Aldiano.
"Hei Sa.."
"Hei Di..."
"Gimana lancar aktivitasnya?".
"Alhamdulillah Di. Kamu?"
"Alhamdulillah lancar juga"
"Gimana masih mo nerusin aktif PMR Di?"
"Belum tahu Sa. Lihat ja nanti"
"Secara Pak Ketu gitu loh..."
"Hahahaha..., kamu ni Nisa.. Nisa.. Masih dibawa ja gelar tu.." Sekilas Aldiano tertawa.
'Si pria irit ekspresi itu tertawa?'
'Ya Rabb, apa dia orangnya yang Engkau hadirkan dalam mimpiku tempo hari sebagai jawaban tanyaku?' batinku.
'Tapi aku tidak rasakan apaun di sini, di dadaku terhadapnya, malah si SKSD yang kian terlintas di benakku'.
"Nis.. Nisa.." teguran Aldi kembali buat Anisha tersadar.
"Hah..? Ah ya Di, ada apa?" Tanya ku. Gelagapan.
"Kamu kenapa? Sakit?"
"Eng, enggak kok Di. Memang aku kenapa?" tanya ku bingung.
"Dari tadi tu, aku tanya kamu mau gak pulang bareng? Itu juga, emm kalo gak keberatan. Kan lumayan banyak juga barang bawaan kamu.." jelas Aldiano.
"Ah ya.. Ehm.. Mak, Maksudku, aku pulang ke tempat bapak kok. Gak jauh tempatnya dari sekolah.." jawabku salah tingkah, tertangkap basah melamun.
"Hmm oke kalo gitu. Da no telpon?.. Ehmm.., takutnya da sesuatu yang penting, jadi aku bisa ngubungi". Tanya Aldi nampak ragu.
Mungkin dia tahu Aku yang selalu menghindar untuk hal diluar bahasan umum.
"Ada". Jawaban singkat ku membuat Aldiano hembuskan napas lega.
Ku sodorkan secarik kertas bernomor pada Aldiano.
'Apakah ini artinya Engkau jawab kegundahan hatiku Ya Rabb?, Apa ini bisa disebut sisi hangat dari Aldiano si irit ekspresi? Ah entahlah, apapun itu' batinku.
"Di kamu sakit? Muka kamu pucat loh.."
"Mungkin masuk angin dikit".
"Mau obat, kayu putih atau.."
"Ga perlu, istirahat bentar juga sembuh Nis" sembari merebahkan sedikit rubuhnya. Bersiap memejamkan mata.
Sekilas ku tatap wajah terpejamnya. Coba yakinkan sekali lagi. Ku cocokan rasa saat dalam mimpiku seusai istikharoh tempo hari.
Tapi hambar. Aku tak temukan clue-nya. Meski sekilas nampak seperti wajah Aldiano.
Biarkan seperti ini dulu saja. Lagi pula aku lebih siap memikul tanggung jawab sebagai seorang istri, daripada menjalin hubungan konyol dengan segala tuntutan yang ah.. Entahlah...
Anisha pov end
***
Mario POV on
Apa kabar gadis pencuri hatiku. ..
Andai saja kamu tahu sulitnya hari yang ku lalui tanpamu...
Ya Rabb...
Semudah itukah aku menyukai seorang Anisha...
Mengapa?
Seolah dia magnet yang kian menarikku ke arahnya.
Meski pikiran tentang kemungkinan dia yang sudah tak sendiri sempat membuat ku hampir urungkan niat untuk menyukainya. Tapi dorongan itu begitu kuat.
Sudah ku putuskan untuk berdamai dengan diriku sendiri. Biarkan Engkau yang bertindak dengan cara-Mu melalui pelantara waktu yang akan menjawab semuanya. Biarkan semua mengalir seperti air sungai, yang menemukan muaranya. Karena ku yakin rasa ini tak akan pernah salah menemukan pemiliknya.
Rasa ingin melindunginya, sekalipun itu tidak mungkin untuk memilikinya.
Rasa ingin menjadi teduhnya, saat terik menggarang harinya.
Rasa ingin menjadi hangatnya, ketika dingin menyiksa bumi yang ia pijak.
Rasa yang lebih dari sekedar memiliki, karena memastikan kebahagiaannya saja itu cukup membuatku merasa sempurna.
Tak mengapa, batinku cukup puas bisa mengaguminya. Kagum dengan apa yang dimilikinya. Sungguh dia berbeda, tak pernah bertingkah menarik perhatian siapapun, tapi justru itu yang membuat ku tertarik.
Sikap natural yang tak di buat- buat, wajah polos tanpa polesan berlebih, pembawaannya yang cenderung tenang, justru itu yang membuatku berdebar.
Apakah itu yang di sebut cinta?
Entahlah...
Bagiku pernah mengenal dan mengagumi sosoknya saja sudah cukup menjadi sejarah manis dalam hidup ku..
Jika memang itu Cinta...
Maka biarkan aku mencintainya dengan caraku sendiri..
Mario POV end
***