Tak terasa pekan UKK telah berlalu. Tinggal menunggu hasil dari perjuangan 1 pekan kemarin. Waktu menunggu pembagian lapor, di isi dengan berbagai kegiatan perlombaan, termasuk olimpiade computer tahunan.
Secara otomatis Nisa dan seluruh panitia pelaksana dalam mode sibuk. Mulai dari penggalangan dana, penerimaan peserta olimpiade dan lainnya. Hingga terlaksananya hajat yang dimaksud.
"Cape Rik?"
"Banget Nis"
Saat ini mereka baru saja rehat dari segala kesibukan.
Menantang angin agar terbangkan lelah yang menggelayut.
"nih.." tiba- tiba Mario beri sebotol air mineral ke arah Nisa.
"Kok cuma 1 sih, ih jealous aku.." rengek Erika.
"Mau...?" tanya Mario pada Erika. Yang mengangguk semangat.
"Beliii..." lanjut Mario, buat Erika manyun seketika.
Sontak mengundang tawa panitia lain.
"Jahat..". Dengus Erika beranjak menuju kantin.
"Gitu aja marah.." cegat Merio, sebelum Erika melangkah. Memberi sebotol air lain yang tadi sengaja disembunyikannya untuk candai Erika.
"Hayo.., minum gih. Gitu ja manyun". Lanjut Mario, karena Erika sok jual mahal.
Nisa yang memperhatikan dalam diam sedari tadi hanya mengulum senyum, saksikan betapa lebaynya sahabatnya ini.
Beribu kali dirinya coba menyangkal, pada kenyataannya, hadirnya sosok Mario mampu membuat harinya berwarna, mulai dengan kejahilannya, candaan recehnya, percekcokan kecil, hingga perhatiannya. Semua terkemas dengan sangat rapi. Sehingga Anisha merasa nyaman dengan semua itu.
Tak hanya Anisha yang rasakan itu. Tapi juga orang- orang di sekitarnya. Itu salah satu hal yang Anisha ambil sebagai poin plus dari Mario.
Perlahan hati Anisha mulai luluh, namun itu bukan akhir dari perjuangan panjang Mario. Karena mulai nampak riak- riak kecil bibit badai yang siap mengguncang bibit rasa yang mulai saja ditabur itu
***
Pelaksanaan berbagai perlombaan telah usai. Termasuk Olimpiade Computer Tahunan TCC.
Beberapa hari lalu Mario dan Anisha disibukkan dengan garapan bidang masing- masing. Hingga frekuensi pertemuan mereka berkurang.
Baru hari ini lagi Anisha bisa sedikit bernafas lega. Sekedar bersantai, bersandar di pilar teras kelasnya. Dengan sebuah buku ditangan.
"Hey, Lo tau si Lena anak X- 2, kemarin nembak si Rio Loh?" ujar seorang siswi. Yang Nisa kenali sebagai tetangga kelasnya.
"Rio..? Mario maksud lo? Mario Dewantara?" tanya lainnya meyakinkan.
"Iya lah. Cuma ada 1 Mario di sekolah kita, sapa lagi kalo bukan Mario Dewantara, Anak X- 6. Yang di OSIS itu memang sapa lagi, satu sekbid malah sama si Lena!" sahut si pembawa berita.
"Terus.., terus gimana..? Di terima?" yang lain ikut penasaran.
"Itulah yang jadi masalahnya. Cintanya ditolak, sampe si Lena histeris kemarin and gak masuk sekolah hari ini. Untung ja ujian dah kelar.. Kabarnya sih dia keterusan sakit. Kita tengok balik nanti yuk". Pungkas si pembawa berita.
"kayaknya doi bakal mundur dari OSIS".
"bukan cuma dari OSIS, doi mo mundur dari sekolah malah..."
Dan semua pembicaraan itu tertangkap sempurna di pendengaran Anisha Shanum Bramantyo.
***
Anisha POV on
Syukurlah semua semua acara olimpiade selesai. Baru hari ini lagi aku bisa sedikit bernafas lega. Pagi ini aku haraf bisa sekedar bersantai, bersandar di pilar teras kelas seperti biasa. Dengan sebuah buku ditangan, menurutku sangat sempurna.
Sambil sesekali ku tebar pandangan, mencari sosok yang selama ini berhasil warnai hari ku. Sebagai seorang teman.
Setidaknya merubah sedikit pandangan ku, bahwa tak semua pria seberengsek Anton dan seluruh konconya.
Setidaknya aku merasa nyaman.
"Hey, Lo tau si Lena anak X- 2, kemarin nembak si Rio?" ujar seorang siswi tetangga kelas ku.
"Rio..? Mario maksud lo? Mario Dewantara?!" tanya lainnya meyakinkan.
"Iya lah. Cuma ada 1 Mario di sekolah kita, sapa lagi kalo bukan Mario Dewantara, Anak X- G. Yang di OSIS itu memang sapa lagi, satu sekbid malah sama si Lena!" sahut si pembawa berita.
Deg...
Tiba- tiba saja dadaku terasa sesak dihimpit beban.
"Terus.., terus gimana..? Di terima?" yang lain ikut penasaran.
"Itulah yang jadi masalahnya. Cintanya ditolak, sampe si Lena histeris kemarin and gak masuk sekolah hari ini. Untung ja ujian dah kelar.. Kabarnya sih dia keterusan sakit. Kita tengok balik nanti yuk". Pungkas si pembawa berita.
"kayaknya doi bakal mundur dari OSIS".
"bukan cuma dari OSIS, doi mo mundur dari sekolah malah..."
Semua pembicaraan itu tertangkap sempurna di pendengaran ku.
Deg...
Apa ini Ya Rabb..
Lagi- lagi serasa dihantam beban berton- ton beratnya, tiba- tiba dadaku terasa makin sesak. Oksigen yang ku hirup sepertinya mendadak menghilang dari bumi yang ku pijak.
Saat ku mulai membuang egoku, saat ku mulai anggap dia ada, saat ku mulai berusaha membuka hati. Saat ini pula ku tahu ada hati lain yang lebih membutuhkan Mario.
Tidak, aku tidak cemburu. Aku malah merasa iba, aku pun punya hati seperti dia. Tak sampai hati ku bahagia di atas lukanya.
Ku ikhlas Ya Rabb...
Lepaskan semua ini...
Berkali- kali Ku tarik nafas dalam, dan hembuskan perlahan. Berharap sesak ini segera enyah.
Ku tengadahkan wajah menatap langit, namun tak sanggup, kabut bening menghalangi pandangan ku. Akhirnya ku pejamkan mata. Tak kuasa menahan bulir yang mulai menggumpal.
"Hei Nis, dah makan..?" Tiba- tiba Mario duduk di sebelah ku. Sodorkan sekotak kue.
Lekas ku tekan sudut mataku. Tak ingin ia temukan jejak itu.
"Sudah". Jawab ku singkat.
"Yo, Aku ke best camp TCC dulu ya. Takutnya dah mulai" lanjut ku absurd. Bahkan aku sendiri tak faham apa yang hendak di mulai itu.
"Loh.. Loh Nis, Bawa ini. Aku sengaja bawa banyak Loh.." panik Mario. Saat ku beranjak.
"Masih kenyang Rio. Tadi sarapan di rumah. Makasih..". Secepatnya aku berlalu. Tinggalkan Mario dengan tatapan anehnya.
Tak sanggup rasanya ku mengingat hal tadi di samping Mario.
Anisha POV end
***
Mario POV on
Pagi ini sengaja ku bawa bekal, ingin sejenak habiskan waktu bersamanya. Tak banyak, hanya beberapa potong cake cokelat dan keju, serta beberapa potong buah.
Karena ku tahu agenda acaranya telah usai. Tinggal rapat pembubaran panitia. Dan itu pun nanti, setelah laporan dari tiap- tiap sekbid selesai.
Mataku berbinar. Saat ku temukan dia di tempat favoritnya. Seperti dugaan awalku. Ku percepat langkah. Sedikit heran dengan apa yang dilakukannya. Menatap langit dengan mata tertutup?.
Aku mengelengkn kepala. Bahkan dia tak menyadari kehadiran ku. Apa mungkin sedang melamun lagi.
"Hei Nis, dah makan..?" setelah terduduk di sebelahnya. Ku sodorkan sekotak kue.
Anisha terperanjat, lantas menekan sudut matanya. Ada jejak air mata di sana. Aku melihatnya.
"Su.., sudah". Jawabnya singkat. Nampak salah tingkah.
"Yo, Aku ke best camp TCC dulu ya. Takutnya dah mulai" lanjutnya.
"Loh.. Loh Nis, Bawa ini. Aku sengaja bawa banyak Loh.." panik ku. Saat dia beranjak.
"Masih kenyang Rio. Tadi sarapan di rumah. Makasih..". Secepatnya dia melarikan diri berlalu. Tinggalkan ku dengan berbagai pertanyaan.
Mulai?
Apanya yang mulai?
Bahkan tadi best camp-nya pun terkunci.
Ada apa ini?
Kemarin rasanya semua baik- baik saja. Bahkan untuk pertama kalinya Anisha tak menolak saat pulang bersama.
Ku tutup kembali kotak bekal. Putuskan mengejar Anisha.
Begitu tampak siluetnya, aku bernafas lega. Tapi dia tidak menuju best camp, melainkan mengarah ke gerbang utama.
"Pulang.. ?" lirihku.
Ku percepat langkah ku, berniat mengejarnya. Namun terhenti, saat dia tiba- tiba berbalik. Ada seseorang yang memanggilnya. Tampaknya coba mendekati Anisha.
Pria itu mengulurkan tangannya, nampak begitu gentle. Anisha nampak ragu menyambutnya.
"Tidak Nis, tidak.. Jangan.." lirihku berharaf Nisa tak menyambutnya.
Namun sayang, harapan ku pupus. Anisha menyambutnya. Walaupun singkat. Lantas mereka jalan beriringan. Aku terduduk ditempat, kedua kakiku seolah kehilangan energi untuk menopang tubuhku. Niat ku mengejar Anisha terhenti.
"Apakah ini akhirnya Ya Rabb..?" lirihku masih terduduk, belum temukan kembali kekuatan ku.
Mario POV end
***