2. Pamer Doi!

997 Words
Rintik dan Naya sedang berjalan menuju kelas, mereka berdua baru saja selesai dari kantin, menghabiskan waktu istirahat di sana, mereka juga membeli banyak jajan untuk stok nanti di saat pelajaran ada yang kosong. Entah mengapa feeling mereka berdua mengatakan akan ada jam kosong hari ini. Lapangan basket saat ini sedang ramai dikunjungi oleh siswa-siswi, mereka melihat bagaimana anak-anak basket latihan untuk turnamen beberapa waktu ke depan. Tribun atas benar-benar penuh teriakan anak alay yang menyemangati idola mereka masing-masing. "Eh, Rin, liat basket dulu, yuk? Di sana bakalan ada Dava, loh! Gue yakin lo pasti bakalan kagum sama dia," ajak Naya yang lagi-lagi membuat Rintik jengah. Sudah berapa kali Rintik katakan? Rintik itu tidak penasaran dengan seseorang yang bernama Dava.  Dava siapa, anak mana, kelas berapa saja Rintik tidak mau tahu, apalagi bagaimana gambaran fisiknya. Padahal Dava adalah cowok ganteng yang menjadi dambaan sekolah ini, namun Dava tak membuat hati Rintik terpikat sehingga harus mencari tahu bagaimana sosoknya. Menurut Rintik, cinta itu membosankan. Setia itu omong kosong, semua pasti akan berubah hanya karena waktu. Beda waktu, beda keadaan, beda ucapan. Cinta itu pembohongan publik. Rintik tak pernah percaya dengan cinta. Banyak sekali yang kagum dengan Rintik, mulai dari kakak kelas, satu angkatan, sampai satu kelas sekalipun, Rintik hanya menganggap itu semua angin lalu. Bagaimana mereka bisa mencintai Rintik? Tentu saja selain paras yang cantik, Rintik adalah salah satu juara kelas, Rintik pandai, dan Rintik merupakan anak emas, Rintik juga ketua ekskul mading yang selalu menjadi kebanggaan Pak Budi, selain itu Rintik berpotensi menjadi penulis terkenal karena sudah bekerja di salah satu penerbit mayor. Rintik itu multitalenta, Rintik tidak suka jika ia lemah hanya karena cinta. "Lo aja sana, gue males berisik. Anak-anak alay teriak tentang idola mereka bikin gue pusing. Lagian di sana cuma buang-buang waktu, gue masih banyak kerjaan. Masih banyak tulisan mading yang perlu dikoreksi supaya terbit bulan ini. Masih ada naskah dari penerbit yang harus gue edit."  Rintik menceritakan bagaimana sibuknya, gadis itu memang benar-benar sibuk, kadang di saat istirahat ataupun ada jam kosong selalu Rintik manfaatkan supaya pekerjaannya berkurang, seperti mengedit naskah, mengoreksi kinerja tim mading, atau menerbitkan sesuatu di web sekolah. "Hai, Nay!" Tiba-tiba seorang cowok tampan datang menghampiri Naya dan Rintik. Seorang cowok tampan yang mengalungkan kamera. "Dava!" Naya langsung kegirangan melihat sang doi menghampirinya. Ia akan pamer dengan Rintik dan menceritakan semuanya sehingga Rintik bisa menerima Dava. Rintik memalingkan wajahnya, jadi ini yang namanya Dava, seseorang yang wajahnya lumayan tampan dan selalu mengalungkan kamera. Tidak ada yang istimewa sehingga Rintik harus mengatakan Dava sempurna, pasti hanya murid biasa yang selalu mengandalkan fisik. Rintik tidak suka itu. Pasti siswa yang suka melanggar aturan juga. "Oh iya, Dav. Kenalin ini Rintik, Rintik Ranayla Carisha sahabatku. Kamu pasti tau sama dia, kan? Kebanggaannya Pak Budi, ketua ekskul mading juga." Naya menjalankan rencananya, gadis itu benar-benar memperkenalkan Rintik dengan Dava. Dava mengangguk, siapa yang tidak kenal dengan Rintik? Gadis cantik dengan multitalenta yang selalu menjadi idaman dan incaran siswa sini. Dava mengangkat tangannya, niat ingin berkenalan dan berjabat tangan dengan Rintik. "Dava Danaraja, panggil aja Dava." Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tidak ada balasan apapun dari Rintik, tangannya tidak dibalas dengan jabatan, perkenalannya juga tidak disambut oleh Rintik. Kaku, benar seperti apa yang orang-orang nilai tentang Rintik, gadis kaku yang keras kepala. "Rintik! Bales perkenalan dia, dong!" seru Naya dengan tatapan tajam yang tak diindahkan. Naya langsung mendengus sebal. Salahnya memang, mengenalkan Dava dengan Rintik itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. "Dia emang orangnya gitu, Va. Maafin, ya. Dingin dan kaku," sahut Naya yang mulai menilai Rintik. Rintik mengangkat kedua bahunya, tidak peduli dengan penilaian orang lain. "Gue ke kelas dulu, gak mau deket-deket orang bucin." Rintik yang dari tadi hanya diam, sekarang pergi melangkah jauh. Gadis itu kembali ke kelasnya. Naya meringis, bisa-bisanya cowok setampan Dava tidak ada pengaruhnya bagi Rintik, padahal banyak yang mendambakan uluran tangan Dava. Entah Rintik yang tidak tahu diuntung, atau Rintik yang kokoh pendirian. Sama-sama sulit dibedakan. "Rintik itu kayak yang diomongin cowok lain, ya. Kaku, dingin, dan gak kesentuh, baru kali ini seorang Dava Danaraja ditolak uluran tangannya, tapi Rintik itu menarik, sekali dia gak mau dia tetep akan gak mau. Dia orangnya gigih pendirian," nilai Dava sebagai first imperession. Naya mengangguk, membenarkan apa yang dinilai Dava. Rintik memang seperti itu orangnya, berpusat pada pendirian yang ia anut, tak percaya banyak hal dan tak percaya terhadap apa yang orang lain katakan. Rintik sudah membuat benteng pertahanannya sendiri, oleh karena itu Rintik tidak mau dirinya hancur karena tidak gigih dalam menjaga benteng tersebut. *** Rintik mengetikkan satu kata di laptopnya. Rindu. Alunan musik klasik yang tersalur dari airpodsnya membuat Rintik ikut terhanyut dalam suasana. Rintik merindukan sosok yang pernah menghancurkannya, Rintik merindukan sosok yang dengan bodohnya pernah ia cintai begitu tulus. Sambil menyesap coklat panas yang Rintik buat di dapur sekolah, gadis itu terus memutar-mutar kursi kebanggaannya. Yap, benar! Saat ini gadis yang memakai sweater biru muda itu tengah berada di ruang jurnalistik, berusaha menyelesaikan satu puisi dengan tema rindu. Memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang, musik adalah salah satu mood kita. Dengan musik kita bisa merasakan banyak hal, dari yang tadinya sedih menjadi senang, dari yang tadinya senang menjadi sedih. Sedominan itu musik pada hidup orang-orang. "Rintik! Demi apapun lo udah bikin gue malu! Kok lo malah diemin uluran tangan Dava tadi, sih? Itu pertama kalinya Dava dicuekin loh, padahal banyak siswi lainnya yang mengharapkan dapat uluran tangan dari Dava, tapi lo malah gini!" Naya yang tiba-tiba memasuki ruang jurnalistik langsung mengungkapkan semua rasa sebalnya pada Rintik. Niat ingin mengenalkan Rintik dengan Dava jadi hancur semuanya. Rintik yang mendengar ocehan itu hanya diam sambil memandang wajah Naya. "Udah selesai ngocehnya? Ya baguslah, gue yang pertama kali ngasih dia pengalaman, supaya dia sadar diri aja, gak semua cewek suka sama dia." Pedas, ciri khas ucapan Rintik yang sama sekali tidak neko-neko, membuat Naya bergidik ngeri. Sebenarnya Rintik ini titisan macam apa, sih? Kok bisa-bisanya seperti ini? "Lo tau gak sih, Rin? Gue baru aja ditembak sama Dava!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD