Matahari baru saja tergelincir di balik cakrawala Jakarta, meninggalkan semburat warna violet dan amber yang menyapu dinding studio Ayla. Di usia yang telah melewati angka enam puluh, setiap gerakan terasa lebih bermakna. Tidak ada lagi ketergesaan. Dunia luar boleh saja berputar dengan kecepatan cahaya, namun di lantai dua belas ini, waktu seolah-olah dipaksa untuk melambat. Reza duduk di kursi rotannya, memandangi Ayla yang sedang menatap kanvas kosong. Ia menyadari bahwa istrinya tidak sedang mengalami artist block, melainkan sedang melakukan sebuah ritual—sebuah kontemplasi. "Kenapa belum ada goresan pertama, Ayl?" tanya Reza lembut. Suaranya kini memiliki tekstur seperti kertas tua; kasar namun penuh sejarah. Ayla menoleh, memberikan senyum yang masih sanggup meluluhkan pertahan

