Di suatu masa di mana konsep "waktu" tidak lagi linier dan "ruang" hanyalah sebuah pilihan frekuensi, entitas yang dulu kita kenal sebagai lantai dua belas telah mengalami Transfigurasi. Ia bukan lagi sebuah lokasi geografis di Jakarta, melainkan sebuah keadaan kesadaran. Jika kau menutup matamu dan mencari titik paling damai di tengah hiruk-pikuk jiwamu, kau akan menemukan dirimu berdiri di depan sebuah pintu kayu jati tua yang wangi jenggi dan cat minyak. Ayla dan Reza kini berada dalam wujud yang paling murni: Cahaya yang Saling Berpilin. Mereka tidak lagi membutuhkan kata-kata untuk berkomunikasi, karena setiap pikiran adalah warna dan setiap perasaan adalah nada. Namun, demi menjaga keindahan tradisi manusia yang mereka cintai, mereka sering kali mewujud kembali ke dalam ingatan yan

