Gema di Ruang Tengah

901 Words

Kehidupan di lantai dua belas itu tidak pernah benar-benar statis. Jika tahun-tahun sebelumnya adalah tentang membangun fondasi, tahun ini adalah tentang mendengarkan gema dari apa yang telah mereka bangun. ​Arka kini bukan lagi balita yang bisa ditenangkan hanya dengan segelas s**u cokelat. Di usianya yang menginjak enam tahun, ia telah bertransformasi menjadi seorang pengamat yang kritis. Ia memiliki mata tajam ibunya dan cara bicara yang terstruktur persis ayahnya. Hal ini sering kali menciptakan situasi "sidang meja makan" yang membuat Ayla dan Reza saling pandang dengan takjub sekaligus ngeri. ​"Ma, kenapa langit Jakarta warnanya sering abu-abu, tapi kalau di lukisan Mama warnanya bisa ungu dan jingga?" tanya Arka suatu sore, sambil menatap jendela besar yang menampilkan siluet gedu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD