Sadarkan diri

2099 Words
Sarah kembali masuk ke kamar inap tempat Gavin di rawat. Ia baru saja pulang ke rumah untuk sekedar menemui cucu satu-satunya—Zayn. Anak yang malang. Di usianya yang masih satu tahun, Zayn harus kehilangan ibunya untuk selama-lamanya, sedangkan ayahnya saat ini sedang koma karena kecelakaan yang telah merenggut nyawa ibunya. Sarah menatap pilu wajah putra satu-satunya yang sudah lebih dari 3 hari belum juga sadarkan diri. Benturan keras di kepalanya membuat putranya mengalami koma. Ia tak bisa menahan rasa sedih yang dirasakannya saat ini. Tak ada perubahan pada kondisi putranya itu. Hanya suara monitor detak jantung yang bisa Sarah dengar saat ini. Padahal ia berharap, setiap ia masuk ke dalam ruang rawat inap putranya itu, ia akan melihat senyuman putranya yang menyambut kedatangannya. Tapi, apa yang Sarah inginkan, belum bisa terkabul, karena Gavin sampai saat ini belum juga sadarkan diri. Kedua mata itu masih tertutup rapat. Sedih itu pasti. Berat rasanya melihat orang yang kita sayangi dalam kondisi lemah tak sadarkan diri. Kita bahkan tak tau kapan dia akan sadarkan diri dan kembali berkumpul dengan keluarganya. Gavin adalah anak satu-satunya. Tempat dirinya menggantungkan hidupnya. Tempat dimana dirinya mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya. Penyemangat hidupnya dan yang membuat dirinya bisa bertahan sampai saat itu. Sarah mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di samping ranjang. Ia lalu menggenggam tangan putranya itu. “Sayang, Mama baru saja menemui putramu. Bangunlah, Sayang. Apa kamu gak merindukan putramu? Apa kamu gak ingin memeluknya.” Kedua mata Sarah mulai mengembun, “Mama punya kabar bagus untuk kamu. Zayn sekarang sudah mulai bisa bicara. Kata pertama yang diucapkannya adalah... mama.” Hati Sarah seakan tersayat-sayat. Apa yang akan dialami putra dan juga cucunya nanti, saat mereka tau, kalau orang yang sangat mereka sayangi sudah tak ada lagi di dunia ini. Belum lagi kabar bahwa jasad Yasmin—menantunya sama sekali tak bisa ditemukan. Cairan bening yang sejak tadi Sarah tahan, akhirnya mengalir tanpa izin darinya, membasahi kedua pipinya. “Sayang, Mama harap, setelah kamu sadar nanti, kamu akan menerima dengan ikhlas dengan apa yang sudah menjadi takdir kalian. Mungkin kamu dan Yasmin hanya bisa berjodoh sampai disini.” Sarah begitu terkejut saat melihat ada cairan bening keluar dari sudut mata Gavin. Sepertinya putranya itu bisa merasakan dan mendengar apa yang baru saja dikatakannya. Ia langsung memencet tombol berwarna merah yang berada di samping ranjang. “Sayang, Mama berharap ini adalah berita bagus. Segera bangunlah, saat ini Zayn sangat membutuhkan kamu. Dia butuh sosok papanya. Pelukan hangat mu saat dia tidur. Selama kamu dirawat di rumah sakit, Mama selalu melihat wajah kesedihan Zayn. Tapi, Mama gak bisa membawanya kesini.” Sarah lalu mengecup punggung tangan putranya. “Bangunlah, Sayang. Mama dan Zayn sangat merindukan kamu,” ucapnya dengan suara yang semakin parau karena isak tangisnya yang semakin tak bisa ditahannya. Sarah mendengar suara pintu diketuk, lalu mulai terbuka dengan perlahan. Seorang dokter yang biasa memeriksa Gavin dan dua orang perawat masuk ke dalam ruang rawat inap Gavin. “Dok, tadi saya melihat anak saya menangis. Apa itu kabar yang baik? Apa anak saya akan segera sadarkan diri?” tanya Sarah saat melihat dokter yang sedang memeriksa kondisi Gavin. “Nyonya. Silahkan anda keluar dulu. Biarkan dokter memeriksa kondisi putra anda lebih dulu. Kami butuh ketenangan untuk mengetahui kondisi putra anda,” ucap salah seorang perawat yang tadi masuk bersama dengan dokter itu. Sarah mengangguk mengerti. Meskipun berat untuk keluar dari ruang kamar inap putranya, tapi ia juga tak ingin mengganggu konsentrasi dokter saat sedang memeriksa kondisi putranya itu. Dengan sangat berat, Sarah akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari ruang kamar inap Gavin. Ia berharap dokter akan memberikan kabar gembira nantinya. Setengah jam setelah Sarah keluar dari ruang kamar inap Gavin, dokter dan kedua perawat tadi keluar dari ruang rawat inap Gavin. Sarah beranjak dari duduknya, melangkah menghampiri dokter itu, “bagaimana keadaan anak saya, Dok?” “Pasien sudah melewati masa kritisnya. Sekarang kita tinggal menunggu pasien sadarkan diri,” ucap Dokter itu dengan senyuman di wajahnya. Sarah mengucap syukur. Ia juga berterima kasih kepada dokter itu. “Kalau begitu saya permisi dulu. Nanti kalau ada sesuatu, segera hubungi saya.” Sarah menganggukkan kepalanya, “terima kasih, Dok.” Sudah satu minggu Gavin tak sadarkan diri. Selama itu pula Zayn sudah tak pernah lagi bertemu dengan papanya. Sarah yang melihat ada kesedihan dan kerinduan di wajah cucu semata wayangnya. Akhirnya memutuskan untuk mengajak Zayn ke rumah sakit. Sarah juga mengajak baby sitter yang selama ini merawat Zayn. Tak lupa ia membawa perlengkapan yang Zayn butuhkan nantinya. “Mina, sudah gak ada yang tertinggal kan?” tanya Sarah sambil menggendong Zayn dalam gendongannya. “Iya, Nyonya. Semuanya sudah saya masukkan ke dalam tas.” “Kalau begitu kita berangkat sekarang. Saya takutnya terjadi apa-apa sama Gavin.” Sarah lalu mengajak cucunya melangkah keluar dari rumah, dan diikuti Mina tentunya. Mereka lalu masuk ke dalam mobil. Sarah duduk di kursi penumpang depan, sedangkan Mina duduk di kursi penumpang belakang. Sang supir pribadi keluarga Gavin, mulai melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Gavin. Dalam perjalanan Zayn tertidur pulas. Zayn memang sudah bisa berbicara sedikit demi sedikit. Tapi cara bicaranya belum bisa lancar. Sesampainya di rumah sakit, Sarah, Zayn, dan Mina langsung menuju ruang kamar inap Gavin. Suster yang memang diminta untuk menjaga Gavin saat Sarah pulang, pamit undur diri saat Sarah, Zayn, dan Mina sudah masuk ke dalam ruang kamar inap itu. Sarah mengecup pipi Zayn yang berada di gendongannya. “Sayang, kamu ingin ketemu sama Papa kamu ‘kan?” Zayn menganggukkan kepalanya, “Pa... pa...,” ucapnya terbata-bata. “Iya, Papa. Zayn akan ketemu sama Papa. Nenek berharap, setelah Zayn bertemu dengan papa kamu, papa kamu akan segera sadar.” Sarah lalu melangkah menuju ranjang, mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di samping ranjang. “Sayang, bangunlah. Mama sengaja membawa Zayn kesini. Dia sangat merindukanmu, Sayang. Apa kamu gak ingin melihat senyuman putramu? Apa kamu gak ingin mendengar dia memanggilmu papa?” kedua sudut mata bahkan sudah mulai mengembun. Zayn yang saat ini berada di pangkuan neneknya, menyentuh punggung tangan papanya. “Pa... pa,” panggilnya. Air mata yang sejak tadi Sarah tahan, akhirnya luluh lantah membasahi kedua pipinya. Mina—baby sitter pun ikut menangis saat anak yang selama ini ia rawat memanggil papanya dengan suara lucunya. “Pa... pa. Papa.” Zayn terus memanggil papanya. Sarah memeluk cucunya erat, mengecup puncak kepalanya. “Sayang, bangunlah. Apa kamu gak kasihan melihat putramu yang sejak tadi memanggilmu. Bangunlah, Mama mohon,” lirihnya. “Papa... Papa.” mulut mungil Zayn kembali memanggil papanya. Sarah semakin tak bisa menahan laju air matanya. Apalagi setiap mendengar suara lucu cucunya yang terus memanggil papanya. Tapi, Gavin sama sekali tak merespon panggilan putranya itu. “Mina,” panggilnya kepada baby sitter cucunya. “Iya, Nyonya.” Mina yang sejak tadi berdiri di belakang Sarah menyahut sambil melangkah maju. “Bawa Zayn keluar dari sini. Sepertinya Gavin tetap akan betah memejamkan kedua matanya. Dia bahkan tak peduli dengan putranya yang sejak tadi memanggilnya.” “Baik, Nyonya.” Mina lalu mengambil Zayn dari pangkuan neneknya. “Jika itu yang kamu inginkan, Mama bisa apa, Gavin. Mama hanya sedih melihat Zayn yang selalu mencari mu,” lirih Sarah sambil menghapus air matanya yang membasahi kedua pipinya. Mina yang berdiri menatap wajah sang majikan yang lemah dan terbaring di atas ranjang, begitu terkejut saat melihat ada air mata yang mengalir dari sudut mata Gavin. “Nyonya, Tuan Gavin,” lirihnya. Sarah menatap wajah putranya, ia juga melihat air mata itu. Dengan perlahan ia mengulurkan jemarinya untuk menghapus air mata putranya. “Sayang, kamu merespon ucapan Mama? kamu bisa mendengar suara putramu yang memanggil kamu dengan panggilan ‘papa’?” Sarah lalu memeluk tubuh putranya yang lemah itu. “Sayang, bangunlah, Mama mohon.” Mina kembali dikejutkan dengan kedua mata Gavin yang mencoba untuk terbuka dengan perlahan. “Nyonya... Tuan Gavin, Nyonya. Tuan Gavin membuka kedua matanya,” ucapnya penuh haru. Sarah melepaskan pelukannya pada tubuh Gavin. Ia menutup mulutnya tak percaya. Saat ini Gavin sudah membuka kedua matanya. “Mama,” lirih Gavin. “Sayang... akhirnya kamu sudah sadar. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih Engkau telah mengembalikan putra hamba di tengah-tengah kami lagi.” “Gavin ada dimana, Ma?” Saat Gavin membuka mata, kedua matanya merasa silau dengan lampu ruangan itu yang begitu terang. Belum lagi ruangan itu begitu tampak asing untuknya. Melihat mamanya yang memeluknya dengan erat, dan merasakan hangatnya air mata yang membasahi dadanya. “Kamu di rumah sakit, Sayang. Kamu baru saja sadar dari koma.” Sarah langsung memencet tombol warna merah yang berada di samping ranjang tempat Gavin terbaring. “Rumah sakit?” Gavin teringat akan seseorang yang bersamanya saat itu. “Ma, dimana Yasmin?” tanyanya kemudian. “Yasmin... dia...” “Ma... katakan! dimana Yasmin?” desak Gavin lagi. “Sayang, tenanglah. Kamu baru sadar setelah satu minggu kamu koma. Biarkan dokter memeriksa kondisi kamu dulu.” Pintu kamar inap Gavin mulai terbuka. Dokter dan dua perawat masuk ke dalam ruangan itu dan langsung memeriksa kondisi Gavin. Setelah memeriksa kondisi Gavin, dokter itu mengatakan jika apa yang terjadi pada Gavin saat ini adalah sebuah keajaiban. Dokter itu juga menyuruh kedua perawat yang ikut bersamanya untuk melepas alat bantu yang selama ini menopang hidup Gavin selama koma. Dokter juga meminta Gavin untuk menghitung jumlah jari yang ditunjukkannya untuk mengetahui kondisi penglihatan Gavin. Dokter itu juga meminta Gavin untuk menggerakkan kedua tangan dan kakinya. Semua dalam kondisi baik. “Pasien sudah sepenuhnya melewati masa kritis. Kondisinya juga semua baik-baik saja, kini hanya tinggal menjalani masa pemulihan saja,” ucap dokter itu. Sarah tersenyum bahagia, “terima kasih, Dok. Terima kasih,” ucapnya sambil menjabat tangan dokter itu. “Kalau begitu saya permisi dulu. Untuk saat ini biarkan pasien untuk beristirahat. Jangan membebani pikiran nya terlebih dahulu,” ucap dokter itu. Sarah menganggukkan kepalanya, “baik, Dok. Sekali lagi terima kasih.” Dokter dan kedua perawat itu lalu melangkah keluar dari kamar inap Gavin. Sarah lalu mengambil alih Zayn dari gendongan Mina. Mengajaknya untuk mendekati Gavin. “Sayang, apa kamu gak merindukan putramu? Selama ini Zayn begitu sangat merindukanmu,” ucapnya sambil mendekatkan Zayn pada Gavin. “Pa.. pa,” panggil Zayn dengan suara lucunya. Terlihat keharuan di kedua mata Gavin, “apa, Sayang. Tadi kamu panggil apa?” tanyanya sambil menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi Zayn. “Papa... Papa.” Zayn kembali memanggil papanya. “Ma... Zayn sudah bisa memanggil Gavin ‘papa’,” ucapnya penuh haru. Gavin mengecup tangan mungil putra semata wayangnya. “Iya, Sayang. Sekarang Zayn sudah bisa memanggilmu dengan panggilan ‘papa’.” Sarah lalu merebahkan Zayn di samping Gavin. “Mama tau kamu sangat merindukan putramu. Peluklah dia.” Gavin mencoba untuk menggerakkan tubuhnya secara perlahan, tubuhnya masih terasa agak kaku, karena selama satu minggu sama sekali tak digerakkan. Belum lagi ia merasakan sakit di kakinya. Tapi, Gavin tak menyerah, rasa rindu kepada putra semata wayangnya mengalahkan rasa sakit yang dirasakan saat ini. Gavin mencium seluruh wajah Zayn, “Papa sangat merindukan kamu, Sayang. Maafkan Papa karena telah meninggalkanmu,” lirihnya sambil mengecup kening Zayn. Mina dan Sarah kembali mengeluarkan cairan bening dari kedua sudut matanya. Air mata itu adalah air mata kebahagiaan. Akhirnya Zayn bisa kembali merasakan pelukan hangat sang ayah yang selama ini dia rindukan. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih telah mengembalikan putra hamba dalam keluarga hamba. Sarah menatap Gavin yang terus mencium wajah putranya hingga membuat Zayn tertawa geli, karena bulu-bulu halus yang tumbuh di rahang Gavin terasa menggelitik saat mengenai wajah Zayn. Sayang, semoga kamu kuat saat kamu mengetahui kenyataan kalau Yasmin tak bisa lagi kamu lihat dan peluk. Bahkan kamu tak bisa melihat makamnya, saat kamu sangat merindukannya. Mama sudah berusaha meminta polisi dan tim SAR untuk menyusuri sungai itu. Tapi jasad Yasmin sama sekali tak bisa ditemukan. Sarah mengambil Zayn lalu menggendongnya. Ia tak ingin sampai Gavin kembali dalam kondisi buruk, karena dia baru saja sadarkan diri. “Sayang, lebih baik sekarang kamu istirahat. Kondisi kamu masih sangat lemah,” ucapnya lalu memberikan Zayn pada Mina. “Ma... tadi Mama belum menjawab pertanyaan Gavin. Dimana Yasmin? Gavin sangat merindukannya. Kenapa dia gak ada disini untuk menemani Gavin? Apa Yasmin juga koma seperti Gavin? Dia baik-baik saja ‘kan, Ma?” “Sayang, sebaiknya kamu jangan memikirkan yang lain dulu. Setelah kamu sembuh, Mama akan memberitahumu semuanya.” Gavin menggelengkan kepalanya, “gak, Ma. Gavin ingin bertemu Yasmin saat ini juga. Tolong bawa Yasmin kesini, Ma. Gavin mohon.” Sarah menggenggam tangan putranya, “Sayang, kamu harus ikhlaskan Yasmin.” Gavin mengernyitkan dahinya, “maksud Mama apa? apa yang terjadi dengan Yasmin?” “Yasmin... istrimu... dia... sudah meninggal dunia.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD