Rayuan Kintan

2068 Words
"Eh, calon adik ipar. Dunia sempit sekali, ya?" "Bukannya lo emang buntutin gue dari tadi? Ada apa? Bang Fiko nggak sama gue." Geo jelas menyadari sedari tadi gadis yang digadang-gadang akan menjadi calon ipar kebanggaan sang mamanya itu diam-diam mengekori dirinya sejak ia keluar kantor hingga sekarang Geo berada di minimarket tak jauh dari apartemennya. Bibir Kintan menukik. "Ops, ketahuan, ya?" Kemudian dengan gerakan penuh drama, menutup mulut dengan satu tangannya. "Ikut gue kalau begitu." Gadis itu menarik paksa ujung dasi Geo. Geo menepisnya. "Apaan sih lo!" ketusnya. Mereka tidak sedekat itu, by the way. Gadis itu bukannya tersinggung malah tersenyum mendekat sembari menggoyangkan salah satu telunjuknya ke depan. "Nggak boleh begitu sama calon ipar. Itu nggak sopan." "Emang lo narik dasi gue kayak tadi itu, sopan?" Sungguh, tiba-tiba perasaan Geo tidak enak. Seperti ada yang janggal dari tatapan gadis di hadapannya itu. "Masih sopan-sopan aja, tuh." Kintan mulai berani mendekat. "Gue kasih tahu apa yang dinamakan tidak sopan ya sama lo." Gadis itu kembali menarik dasi Geo, beringsut maju untuk mengecup bibirnya singkat. Geo tidak sempat menolak apalagi menghindar. "Lo!" seru pria itu setelah sadar apa yang baru terjadi dengannya. Kintan tertawa lalu menarik paksa Geo untuk ikut ketempat yang tidak ada orang berlalu lalang. Gadis itu mendekatkan dirinya, mengukung Geo dengan tubuhnya walau terlihat sia-sia. Bagaimanapun juga tubuh Geo lebih besar dan tinggi dari pada dirinya. "Lo mau ngapain?" Ekspresi Geo terlihat masih syok. "Mau tidur sama gue?" "Sinting!" Kintan tertawa. Lalu berlenggang pergi begitu saja. Iya, pergi begitu saja meninggalkan Geo yang cengo di belakangnya. Geo jelas bingung, itu barusan apa? Apakah hanya keisengan gila? Tunggu apakah ada kamera di sekitarnya? Pria itu buru-buru mengamati sekitar, kemudian memukul kepalanya saat merasa dirinya bodoh. Ternyata, tidak hari itu saja Kintan menganggu Geo. Hari-hari selanjutnyapun sama. Gadis itu menerornya, bersikeras mengajak bertemu, dan berusaha menghubunginya. Namun tentu saja semua itu hanya diabaikan saja. "Menurut lo, suka sama orang yang gak harusnya disukai itu gimana?" tanya Kintan kepada Adit, bartender kenalannya. Adit terkekeh. "Kenapa lo? Bukannya mau nikah? Kok masih galau?" Kintan mengangkat bahu, tubuhnya merosot hingga badannya sepenuhnya tertumpu pada meja di depannya. Mendadak dia tidak ingin berbicara. Suara kursi di seret berhasil memecah kesadarannya. Menoleh malas ke sampingnya, ia terkejut ada Geo yang sudah duduk di sana. "Ini beneran lo?" Kintan mencoba memegang wajah Geo. Gadis itu meringis saat tangannya ditepis begitu saja. Kintan terkekeh. "Gue pikir lo nggak bakalan datang." Dia tidak berharap lebih saat mengirimkan pesan suara tadi kepada pria itu. Hanya sekedar memberi tahu saja bahwa sekarang dia di sini sendirian dan ingin sekali bertemu. "Mau lo apa si sebenarnya?" "Gue mau lo," jawab Kintan dengan telunjuk lurus menghadap Geo. Gadis itu terlihat serius dengan perkataannya. Geo geleng-geleng kepala. "Lo ada masalah apa sama abang gue?" "Bisa nggak sih bahas kita aja!" Geo mendorong kursi dengan kakinya ia berdiri bersiap-siap untuk pergi. "Kalau ada masalah sama bang Fiko, jangan bawa-bawa gue. Urus masalah kalian sendiri." Agak menyesal dia datang ke sini. Sungguh, rasa kemanusiaannya benar-benar harus ia revisi. Kintan yang tidak siap dengan gerakan Geo yang akan meninggalkannya buru-buru menahan tangan pria itu. Karena terlalu terkejut, Kintan sampai terhuyung dan pasti jatuh kalau tidak ada Geo yang menahannya. Efek cocktail yang baru diminumnya mulai menunjukkan reaksinya. "Jangan pergi," pintanya. Geo menghela napas membantu Kintan berdiri dengan tidak berbesar hati. Pria itu cukup terganggu dengan bau-bau minuman keras, makanya ini kali pertama ia menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Kintan yang kesenangan tersenyum melingkarkan tangannya di tubuh Geo. Aneh, bahkan tubuh ini lebih nyaman dari pada tubuh Fiko calon suaminya. Tubuh ini seolah pas saja ada dipelukannya. Kintan tidak melebih-lebihkan. Dia sendiri juga heran, kenapa. Namun ternyata kenyamannya tidak bisa ia nikmati leluasa, Geo sudah berusaha keras melepas tautannya. Kintan akhirnya dengan terpaksa melepas pelukannya juga. Menatap pria di depannya lekat. Sungguh, Geo berkali-kali lipat lebih manusiawi dari pada Fiko abangnya. Walau Kintan tahu, pria itu tidak nyaman dengan perilakunya, namun Geo tetap sopan tanpa merendahkannya. "Gue...." Gadis itu menggerakkan tangan dengan gerakan melingkar dari pelipis turun perlahan dan berhenti pada bibir Geo lalu mengetuk-ketuknya dengan kuku-kuku runcing yang baru dipasangnya seminggu lalu sambil tersenyum menggoda. "Tidur sama gue, ya?" Geo mengumpat. Demi apa dia harus menghadapi wanita gila yang sialnya adalah calon kakak iparnya. Jadi harus bagaimana? Apakah dia akan membuangnya saja? Kalau ada yang bilang kenapa dia tidak menghubungi abangnya, sungguh dia sudah berulang kali melakukannya. Bang Fiko tidak akan menghiraukannya, apalagi jika pria itu sedang berkencan dengan berkas-berkas yang ada di kantornya. Geo menarik kepalanya mundur saat tiba-tiba Kintan memajukan wajahnya. Dia tahu apa yang akan gadis itu lakukan jika dia diam saja. Belum selesai rasa terkejutnya, Kintan sudah kembali berulah. Gadis itu tersenyum menggoda dengan menarik turun tali tipis tanktopnya. Buru-buru Geo mengembalikan ketempat semula sebelum mengundang banyak bencana. "Lo gila? Banyak orang di sini!" semprot pria itu sudah benar-benar kehabisan kesabaran. "Terus gimana dong? Mau ketempat yang gak banyak orangnya?" Geo memijit pelipisnya. "Ayo, gue anterin pulang." "Habis itu lo tidur sama gue?" Geo diam saja memapah Kintan yang diambang kesadaran. Pria itu sudah tidak mampu berkata-kata lagi dengan tingkah ajaib gadis di dekatnya. Begitu memasuki mobil, dia mengencangkan sabuk pengaman, dan buru-buru menyalakan mesin. Syukurlah, kegiatan itu berjalan damai-damai saja. Perjalanan mereka juga cukup aman sampai— "Kintan!" seru Geo menepis tangan Kintan yang tiba-tiba sudah berada pada selangkangannya. Buru-buru pria itu menepikan dan mematikan mesin mobilnya. "Sumpah ya lo! Lo bener-bener! Sebentar gue teleponin abang gue biar dia aja yang anter lo pulang—" Kintan melempar ponsel Geo asal, bergerak maju naik ke pangkuan pria itu walau tentu saja Geo bersikeras mendorongnya. Kintan yang seperti kesetanan menciumi bibir Geo tidak peduli seberapa keras pria itu menolaknya. Bibir Kintan bergerak kemana-mana terus turun ke leher sembari tangannya ikut bekerja. Gadis itu berusaha keras melepas kancing-kancing kemeja Geo. Mereka seperti sedang berkelahi di dalam sana. Tangan Kintan menjambak rambut Geo menariknya ke belakang. Menggigit bibir Geo lalu menjamahnya di dalam sana. Pria itu sempat mengerang lalu mendorong keras Kintan hingga kepala gadis itu terbentur pintu mobil. Kintan meringis merasakan denyut ngilu pada belakang kepalanya, tapi itu bukan apa-apa dibanding pemandangan yang dilihat di depannya. Geo begitu berantakan dengan beberapa kancing kemeja yang sudah hilang tak tau kemana. Bibirnya berdarah, lehernya ada bercak merah kebiruan dan itu pemandangan menakjubkan bagi Kintan. "Sorry ... sorry," ucap Geo khawatir melihat Kintan tidak bergerak di tempatnya. Pria itu akan menolongnya, Kintan tersenyum licik memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali menyerangnya. Kintan naik lagi ke pangkuan Geo, menarik paksa kemeja pria itu hingga kancing-kancing kemeja itu berhambur dan terbuka sepenuhnya. Ia menelan ludah dengan susah payah. Matanya berbinar seolah kehausan selayaknya musafir yang melihat oase di padang pasir. Bibirnya lalu meciumi apa-apa yang terpampang di sana tidak menghiraukan Geo yang berusaha keras melepasnya. "Kintan! s**t! Lo apa-apaan sih! Gue aduin ya lo sama bang Fiko! Lo lupa gue ini siapa? Kintan!" Kali ini Kintan menghentikan aksinya. Gadis itu mengerjap menghirup napas dalam-dalam menata degup jantungnya yang tidak karuan. Menatap mata Geo sedekat ini tanpa penghalang apa-apa sungguh luar biasa. Dengan gerakan perlahan Kintan mulai kembali mendekat, mendaratkan bibirnya setelah sebelumnya membuka tanktop tipis yang sebenarnya tidak terlalu berguna menutup tubuhnya. Aneh, karena kali ini Geo hanya diam saja tidak menolaknya. Ciuman Kintan semakin lama semakin menuntut ia meraup apa-apa yang ada di sana. Menikmatinya, seolah tindakan yang dilakukan adalah tindakan paling benarnya. Gerakannya semakin tidak terkendali dan Geo yang akhirnya mulai tersadar kembali mendorongnya saat tangan Kintan mulai merambah bergerak membuka sabuk celananya. Dengan gerakan kilat Geo melepas sendiri sabuk yang ia kenakan kemudian mengunci badan Kintan dengan benda itu. Pria itu terlihat begitu amat frustrasi. Geo menunduk menata napasnya yang memburu. Dia hampir saja kehilangan kendali. Mencengkeram kemudi pria itu menatap Kintan yang tengah terengah. "Lo bener-bener gila, Kintan." Setelah hari itu Kintan sudah tidak bisa lagi bertemu bahkan menghubungi Geo. Nomor miliknya benar-benar diblokir dan bukan Kintan kalau harus menyerah begitu saja. Malam itu Kintan nekat menemui Geo di apartemen pria itu setelah diam-diam mencuri kartu akses masuk di tempat Fiko yang ternyata diam-diam pria itu memilikinya. Entah, kenapa kekasihnya itu menyimpan kartu akses masuk ke apartemen saudaranya. Yang jelas semoga saja Fiko tidak menyadari, jika ia telah mencurinya. Terang saja Geo terkejut mengetahui Kintan tiba-tiba ada di hadapannya. "Lo, kenapa bisa masuk?" tanyanya histeris. Kintan hanya tersenyum, melangkahkan kakinya dengan drmatis mencoba mendekat. "Lo sakit, sih! Keluar!" Geo lari tapi Kintan ternyata lebih cepat. Gadis itu menarik kaos belakang Geo hingga pria itu terjatuh karena terjegal oleh kakinya sendiri. "Kintan! Lo mabuk lagi?" Kintan menggeleng sambil meraih kaki Geo. "Gue gak mabuk. Yang kemarin lusa juga gue gak mabuk. Gue sadar sepenuhnya." Geo terlihat berusaha mencerna semuanya. Lebih rileks akhirnya ia memutuskan menyerah dan duduk menghadap kekasih abangnya. "Oke oke. Sekarang bilang yang sebenarnya sama gue. Lo butuh apa? Uang?" "Gue cuma butuh lo. Gue pengen tidur sama lo." Kintan tetap saja bersikukuh. "Habis itu apa? Habis lo tidur sama gue apa? Lo mau batalin pertunangan sama abang gue? Lo suka sama gue?" "Gue cuma pengen tidur sama lo itu aja." "Sinting!" "Gue masih suka sama Fiko. Tapi lo tau sendiri abang lo sesibuk apa. Masak gue cantik kayak gini dianggurin?" "Jangan sama gue. Kalau lo bosan sama abang gue mending sama orang lain aja." "Tapi gue penasarannya sama lo?" Kintan mendekat, mengetahui itu Geo langsung berancang-ancang untuk menghindar. "Lo, kenapa nggak tergoda sama gue? Gue tahu, itu lo menginginkan gue kemarin." Gadis itu melirik bagian bawah Geo lalu kembali menatap pria itu. "Tapi, kenapa lo berusaha keras buat nolak?" "Gue masih waras. Nggak mungkin gue nikung abang gue sendiri." "Munafik!" Geo berdiri. "Gue anter lo pulang." Entah kenapa semakin pria itu menolaknya, semakin Kintan ingin sekali memiliknya. Biarlah, sebut saja ia gila. Ia terlalu putus asa dengan hubungannya selama ini dengan calon suaminya. Kintan tahu Fiko bukan hanya sibuk tentang pekerjaannya. Kintan menanggalkaan seluruh bajunya serta harga dirinya. Menyadari itu buru-buru Geo berlari mengambil selimut lalu melemparkannya ke arahnya. "Sumpah lo lagi birahi atau apa sih! Gue gak pernah nemuin cewek seaneh lo!" "Tidur sama gue lalu gue gak bakalan ganggu lo lagi." Geo di depannya memejamkan mata memijat pangkal hidungnya. "Gue suka cowok." Kintan tertawa. "Nggak mungkin, punya lo berdiri. Dia gak mungkin bisa bohong." Geo terlihat misuh-misuh. "Ayo cepet pakai pakaian lo. Gue anter pulang. Ini udah malam." "Lo mau gue sama orang lain terus tertular penyakit lalu nularin itu ke abang lo?" "Gue bukan anak kecil yang bakal tertipu sama omongan lo itu. Cepet pakai pakain lo. Atau gue panggilin satpam bilang lo orang gila." "Palingan lo yang dituduh merkosa gue." Geo benar-benar kehabisan energi menghadapi tunangaan abangnya. "Lo perlu priksa ke rumah sakit sih Kin. Otak lo kayaknya cuma separo." Kintan bukannya sakit hati malah seolah senang. "Gue birahi, Ge bukan sakit jiwa." Sialan! "Gue punya ide. Gimana kalau gue panggilin bang Fiko aja? Lo kesepian karena bang Fiko lebih mentingin kerjaan kan? Gue minta tolong nyokap gue buat bikin dia pulang. Bang Fiko selalu menuruti apa yang nyokap gue bilang. Gimana? Lo bisa nglakuin itu sama dia." "Gue cuma mau lo Geo. Bukan Fiko atau yang lain. Gue mau lo." Geo mengusap rambutnya kasar. "Gue penyakitan. Lo gak takut tertular penyakit dari gue?" bohongnya. Kintan tertawa, mendekat, ia menyentuh dagu dan bibir Geo dengan ibu jarinya. "Masak yang kayak gini penyakitan si? Gue malah semakin antusias buat ngebuktiinnya." Brian langsung menepis tangan Kintan. "Gue mau keluar. Kalau lo mau tetap di sini terserah lo!" "Mau main di luar?" "Sinting!" Buru-buru ia meraup jaket yang ada pada sofa tak jauh darinya. "Kenal di mana sih bang Fiko sama modelan yang kayak gini," gerutunya hendak akan pergi. Namun, langkahnya terhenti saat Kintan di belakang tiba-tiba terisak. "Lo jahat banget sih sama gue. Masak gue harus sama orang lain sih. Gue kan nggak mau sama orang lain. Tapi kalau lo emang beneran nggak mau nggak apa. Gue akan cari orang random di depan apartemen sana." Menunduk, Kintan kembali memakai pakaiannya dan bersiap akan pergi. Geo mengepalkan kedua tangan mendengar suara sepatu hak tinggi Kintan yang berjalan di belakangnya. Saat gadis itu sudah akan memegang gagang pintu, Geo memanggilnya. Pria itu kemudian balik badan, mendekat, menatap Kintan agak lama. Menimang-nimang apa yang harus ia lakukan setelah ini. "Oke, lakuin apa yang lo mau sama gue," ucap Geo setelahnya. Entah, karena kesurupan setan apa. Kintan mengerjap tapi tidak membuang banyak waktu langsung berhambur meraup bibir Geo yang selalu menjadi incarannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD