Suara riuh terdengar dari setiap penjuru sekolah di kala bel istirahat berbunyi. Jelas saja, waktu istirahat hal yang sangat ditunggu-tunggu. Begitupun dengan Ervin dan Alga, mereka sudah bangkit dari bangkunya.
"Ke kantin gak, Sa?" tanya Ervin.
"Gak, lo aja. Gue harus ke ruang pak Tirto," jawab Raksa.
"Yaudah kalo gitu gue sama Alga ke kantin dulu. Yuk Ga!" ajak Ervin pada Alga.
Mereka pergi ke kantin. Tinggal'lah Raksa seorang diri di kelas. Bukannya langsung pergi ke ruangan pak Tirto, Raksa malah duduk lebih lama di kelasnya. Sudah 10 menit dia duduk, tapi rasanya ada yang kurang.
Berkali-kali dirinya melihat ke ambang pintu. Tak ada tanda-tanda Senja datang. Ya, Raksa menunggu cewek itu. Entah ada apa dengan dirinya yang jelas ketika cewek itu tidak datang ke kelasnya serasa ada yang kurang.
Tidak biasanya Senja absen menemui dirinya. Tapi sekarang, cewek itu benar-benar tidak datang. Dengan berat hati dia pergi dari kelasnya untuk menemui pak Tirto.
Setelah selesai urusannya dengan pak Tirto, Raksa kembali ke kelasnya yang kebetulan melewati kelas Senja. Tepat saat dirinya lewat di depan pintu, Elijah keluar.
"Ngapain lo di sini, Sa?" tanya Elijah heran.
"Senja mana?"
Elijah semakin heran saat Raksa menanyakan Senja. "Tumbenan banget lo nanyain dia? Biasanya juga bodo amat."
Raksa berdecak. Percuma saja dia bertanya pada Elijah, tidak akan mendapat jawaban. Kemudian Raksa berlalu dari sana.
"Senja gak masuk sekolah, dia bolos kayaknya," ujar Elijah tiba-tiba.
Raksa sempat menghentikkan langkahnya, tapi dia kembali berjalan dengan hati yang bertanya-tanya.
Sementara Elijah mendengus kesal melihat sikap Raksa. Cowok itu bukannya berterimakasih malah langsung pergi.
Belum sempat Elijah melanjutkan langkahnya lagi menuju toilet dia di hadang oleh Aster. Cewek itu terlonjak kaget, namun dengan cepat menormalkan eskpresinya.
"Senja mana?" tanya Aster.
Elijah menggeleng. "Dia gak masuk sekolah."
"Kenapa?"
Elijah mengedikkan bahunya. "Gue gak tahu."
"Dia biasa bolos kayak gini?"
"Engga. Biasanya dia kirim pesan dulu ke gue kalo gak sekolah."
"Oke kalo gitu." Aster berlalu dari hadapan Elijah.
"Enak banget lo, Ja. Di cariin dua pangeran, pengeeenn!" pekiknya saat melihat kepergian Aster.
***
Sejak pagi sampai siang, Senja duduk di rooftop gedung tua, tempat yang sering dikunjungi. Tubuhnya masih terbalut seragam. Sengaja. Karena dari rumah dia memakai seragam tapi tidak pergi ke sekolah. Dia tidak ingin memperlihatkan memarnya di pipi dan sudut bibirnya. Tidak ingin terlihat lemah di depan Raksa.
Tadinya dia ingin beristirahat saja di rumah. Tapi itu bukanlah ide yang bagus mengingat Ajeng, ibunya, sangat tidak menyukai keberadaannya itu. Jangankan melihat raga Senja di sana, mendengar Senja bernapaspun sepertinya tidak suka.
Kakinya dia gerak-gerakkan untuk menghilangkan kebosanan. Bermain ponselpun tidak ada yang seru karena ponselnya sering kali melamun alias lemot.
"Kenapa gak sekolah lo?"
Senja tersentak dengan suara Aster yang baru saja datang. Dan kini Aster duduk di sampingnya.
Aster sempat mengerutkan keningnya saat melihat wajah Senja. "Kenapa tuh muka?"
"Gue berantem," bohongnya.
"Sama siapa?"
"Cewek yang deketin Raksa." Lagi-lagi Senja harus berbohong.
"Segitu sukanya lo sama Raksa?"
"Suka banget."
Ada yang berbeda dari nada bicara Senja. Tidak biasanya dia berekspresi masam sepeti itu. Apalagi cewek itu hobby-nya cekikikan. Ada yang aneh dengan Senja hari ini.
Aster menyodorkan satu batang coklat pada Senja. "Nih!"
Senja memandangnya aneh. "Buat apa? Gue gak suka manis," tolaknya.
"Muka lo pahit, pasti lo butuh pemanis," ujar Aster.
Akhirnya Senja menerima coklat itu dan memakannya sedikit demi sedikit. Matanya berbinar ketika rasa manis menguasai mulutnya. Sekarang dirinya kembali tersenyum.
Aster yang melihat perubahan ekspresi Senja ikut tersenyum. Cewek itu memang lebih pantas untuk tersenyum daripada bermuka masam.
"Enak banget! Lo beli ini di mana?" seru Senja senang.
"Apa gue bilang, lo butuh itu," balas Aster, "Gue beli dari anak kecil yang tadi lewat."
Senja menggut-manggut sembari memakan coklatnya. Terkadang ketika suasana hati sedang tidak mendukung, yang dia butuhkan adalah rasa manis. Entah dari manapun asalnya, yang terpenting rasanya manis.
"Jadi, kenapa lo gak sekolah?" tanya Aster.
Ditengah-tengah kegiatannya Senja menjawab, "Gue gak mau Raksa liat luka di wajah gue."
"Emang Raksa bakal peduli?"
Senja terdiam. Benar juga, kenapa dia harus menyembunyikan lukanya dari Raksa yang tentunya tidak akan pernah peduli. Ternyata pikiran Senja terlalu dangkal.
"Kalo dia gak suka sama lo, dia gak akan peduli apapun tentang lo, Ja."
Senja menatap Aster dengan terang-terangan. "Gue yakin, gue bisa bikin Raksa jadi suka sama gue!" tekannya.
Aster tersenyum miring. "Good luck."
Senja memperlihatkan jempol tangannya pada Aster sebelum dia lanjut makan coklatnya. Sementara Aster mengisap sebatang rokok yang dia bakar.
Mereka sekarang sama-sama diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya kepulan asap yang keluar dari mulut Aster. Begitupun Senja yang hanya mengeluarkan suara kunyahannya.
"Aster," panggil Senja tanpa embel-embel 'kak'.
Aster yang terpanggil menoleh. Satu batang rokok sudah dia habiskan, hingga tersisa puntungnya yang kemudian ia injak.
"Menurut lo, apa itu rumah?" tanya Senja tiba-tiba.
Pertanyaan Senja mengundang keheranan bagi Aster. "Kenapa lo tanya gitu?"
Senja berdecak. "Jawab aja."
"Rumah...," cetus Aster yang terlihat berpikir. "Bagi gue rumah itu ya tempat buat pulang, kalo bukan rumah, kita emang bisa pulang kemana lagi?" jawab Aster.
Senja manggut-manggut mendengar jawaban Aster. Jawabannya sangat berbeda dengan jawaban dirinya. Baginya rumah adalah sebaliknya dari jawaban Aster. Tidak bisa Senja menyebut rumahnya sebagai tempat pulang. Justru dengan Senja tinggal di sana, semakin banyak rasa sakit yang harus dirinya tahan.
"Lo bener, rumah itu tempat pulang. Tapi kenapa gue gak ngerasa kalo gue pulang ya?" ujar Senja pelan.
Aster mengamati Senja. Ada yang aneh dengan cewek itu. Hari ini Senja terlihat sedikit murung. Dia tidak tahu apa penyebabnya. Suasana berubah menjadi agak canggung.
Tiba-tiba Senja terkekeh. "Setiap pulang gue selalu diomelin sama orang tua gue, lo tau? Nyerocos sana sini!"
Aster menghela napasnya yang sempat tertahan. Dia kira Senja sedang berada dalam masalah, tapi ternyata itu bukanlah hal yang serius.
"Orang tua gue juga kayak gitu kok, bukan cuma orang tua lo doang."
"Masalahnya, nyokap omelin gue tiap hari." Senja sengaja berbohong, dia tidak ingin terlihat menyedihkan.
"Orang tua emang begitu, itu tandanya dia sayang sama lo."
Senja berdecih dalam hatinya. Mendengar kata sayang membuat hatinya mencelos ketika ingat tidak ada salah satu keluarganya yang menyayanginya. Mereka semua membencin Senja. Yang mereka inginkan hanyalah dirinya ... menghilang.
"Iya, mereka mungkin sayang sama anak-anaknya."
***
Raksa berjalan memasuki rumahnya. Hatinya sekarang sedang berada dalam suasana yang buruk. Ponselnya yang sering berdering akibat pesan spam yang Senja kirimkan, kini mendadak hening.
Raksa mencoba menepis perasaan aneh di hatinya yang kerap kali muncul. Ia merasa tidak tenang karena tak melihat Senja hari ini. Ada apa dengan dirinya itu?
"Bang, tadi gue beres-beres kamar dan gue nemu ini." Shaletta tiba-tiba datang dengan memperlihatkan ikat rambut berwarna pink.
"Terus?"
"Kayaknya ini punya pacar lo deh," ujar Shaletta.
"Pacar? Gue gak punya pacar," cetus Raksa.
"Jadi beneran gak pacaran ya?"
"Siapa?"
"Senja. Yang waktu itu lo bawa kesini. Kalian pacaran, kan?"
"Kata siapa, gue gak pacaran sama dia." Raksa berjalan memasuki kamarnya, dan Shaletta tetap mengikutinya.
Shaletta mendesah kecewa."Yahhhh... Padahal gue suka kalo lo pacaran sama dia."
Raksa terkekeh. Dulu saja adiknya itu terlihat tidak suka dengan keberadaan Senja. Tapi sekarang malah sebaliknya.
"Lo mau gue pacaran sama dia?"
Shaletta mengangguk antusias.
"Nanti, kalo ada waktu."
Shaletta memberenggut kesal. "Kalo gak suka Senja, yaudah. Gak usah dipaksain. Nanti cewek itu malah sakit hati."
Raksa sibuk melepas kancing kemeja seragamnya. "Gue gak bilang gak suka, Ta."
"Bagus deh, jarang-jarang loh gue izinin lo pacaran sama cewek. Lagian nih ya, Senja tuh kayaknya tipe cewek yang baik-baik, gak banyak tingkah," cerocos Shaletta.
"Gue mau mandi, mending lo keluar!" usir Raksa.
"Yaudah kalo gitu, gue taruh di sini aja ya?" Shaletta meletakan ikat rambut milik Senja di meja belajar sebelum keluar dari kamar.
Raksa mengamati ikat rambut itu. Sepertinya dia mulai terbiasa dengan kehadiran Senja di hidupnya. Apalagi cewek itu terus membuntutinya selama lebih dari setahun. Raksa yakin itu waktu yang cukup lama. Tapi hatinya masih seperti biasa. Mungkin belum saatnya perasaan itu singgah.
"Sekarang gue ijinin, Ja. Silahkan buat hati gue berlabuh di hati lo."
***
Pagi-pagi sekali Senja sudah berdiri di depan kelas Raksa. Senyumnya terbit di kala Cowok yang ditunggunya itu datang. Dia kembali sekolah karena memar di pipinya sudah hilang, tinggal menyisakan sedikit luka di sudut bibirnya yang terlihat samar.
"Hai, Sa! Kangen gak sama gue?" sapa Senja.
"Gak."
"Elijah bilang lo kemarin nyariin gue. Bau-baunya lo mulai suka sama gue," rayu Senja kesenangan.
Raksa harus menahan malunya. Kenapa juga dia harus menanyakan Senja pada Elijah. Sudah jelas Elijah adalah teman Senja yang pastinya akan mengadukan hal itu pada orangnya.
"Ngaku deh lo!" pojok Senja.
"Gue kemarin gak sengaja."
Senja terkikik geli melihat ekspresi Raksa yang menahan malunya.
"Kenapa ketawa?" sinisnya.
"Lo lucu! Jangan-jangan lo beneran suka sama gue? Jadi kapan? Kapan gue bisa jadi pacar lo?"
Bukannya menjawab Raksa melengos masuk kedalam kelas tanpa menghiraukan Senja lagi. Namun Senja tak menyerah. Dia terus menggoda Raksa.
"Kasih tahu gue, Sa! Biar gue bisa mempersiapkan diri jadi pacar yang baik. Buruan kasih tahu!" paksa Senja.
Raksa menoleh. "Gue gak ada niat jadiin lo pacar. Nyusahin tahu gak?" celanya.
Senja sempat terdiam beberapa saat sebelum kembali berbicara. "Kalo gitu, gimana kalo gue jadi istri lo aja?" antusiasnya.
Raksa menghela napasnya kasar. Ini yang membuatnya tidak menyukai Senja, cewek itu selalu saja mengoceh hal-hal yang menurutnya terlalu jauh.
"Mending lo keluar dari kelas gue," usir Raksa masih dengan suara yang dingin.
"Bisa gak sih gue pindah kelas aja kesini?"
"Mana bisa, udah penuh kelas gue, sana-sana keluar!" timpal Ervin yang baru datang.
Senja mencebikkan bibirnya kesal. "Ga, tukeran kelas gimana?" tawarnya pada Alga yang tengah duduk menyalin PR milik salah satu temannya.
"Enak aja! Gak!" sergah Alga dengan cepat.
"Gue bantu deh lo balikan sama Elijah, gimana?" bujuknya.
Alga sempat berpikir. Elijah adalah mantannya, dan dia sangat berharap bisa balikan dengan teman mantannya itu. Tapi tentunya tidak dengan cara itu juga. Dia pikir pindah sekolah gampang apa.
Dengan cepat Alga menggeleng, menolak tawaran Senja yang menggiurkan. "Gue pengen banget balikan sama Elijah, Ja. Tapi gak gini juga caranya woy!"
"Ja, mending lo balik aja ke kelas lo. Udah mau bel nih," sela Ervin.
"Lo ngusir gue?" Senja menatap Ervin tajam.
Ervin yang ditatap seperti itu oleh Senja langsung ciut. "Maksud gue, lo diem aja di sini sepuasnya. Mau lo peluk, cium ataupun gigit Raksa di sini juga no what what!" ucap Ervin kaku.
Sementara Raksa langsung menatapnya juga dengan tajam juga. "Omongan lo jaga, ya!"
"Siap, Pak bos!"