"Bastian ...." "Iya, Pa." "Papa mau bilang sesuatu padamu," kata pria tua itu dengan perlahan, Bastian duduk di tepi ranjangnya tangannya menggenggam tangan Papanya dengan erat. "Akhir-akhir ini Papa dan Bunda ikut mengaji, kami mengkaji ilmu agama kadang ikut kajian bersama, tapi tiap hari kami undang Ustad menjadi guru tetap kami ...." Papa Sagala mengambil jeda ceritanya dengan menarik napas panjang. "Terus?" "Papa merasa berdosa denganmu, Nak. Papa sudah menghancurkan kebahagiaanmu." "Maksud Papa apa?" "Maafkan Papa, awalnya Papa tidak menyukai Santi karena Papa seperti melihat Virda di diri Santi. Papa tidak ingin engkau mengalami nasib yang sama seperti yang Papa alami. Namun, ternyata memisahkan suami istri itu dilarang agama," kata Sagala dengan sendu. "Sudahlah, Pap. Ak

