Tubuh Lusi terasa seperti dibakar dari dalam. Panasnya tidak wajar, merambat dari kepala hingga ke ujung kaki, membuat setiap helaan napas terasa berat. Pandangannya berkunang-kunang sejak membuka mata pagi itu. Langit-langit kamar berputar pelan, seolah dunia sengaja mempermainkannya. Ia meringkuk di atas ranjang, menarik selimut tipis ke dadanya, mencoba menahan gemetar yang tak kunjung reda. Kepalanya berdenyut hebat. Setiap detak jantung seakan memukul pelipisnya tanpa ampun. Tenggorokannya kering, bibirnya pecah-pecah, dan tubuhnya begitu lemas hingga sekadar menggerakkan jari pun terasa mustahil. Lusi tahu dirinya sakit. Bukan sekadar lelah, bukan sekadar masuk angin. Ini lebih dari itu. Tubuhnya seperti sudah menyerah. Pintu kamar terbuka dengan kasar. Gerald berdiri di ambang pi

