Event kompetisi sudah berjalan selama satu minggu, semua orang yang bermain Battle Network sangat antusias dalam partisipasi mereka untuk memburu semua monster yang mereka tidak tahu bahwa monster itu merupakan visual dari virus Reinka-99.
Sakti bersama keempat teman-temannya juga tidak tinggal diam, mereka ikut berpartisipasi di dalam permainan tanpa memberitahukan mereka yang menjadi Game Master di Battle Network.
"Apa sebaiknya kita memberitahukan saja kepada semua pemain bahwa sosok monster yang mereka buru selama ini adalah virus Reinka-99?" tanya Sakti sembari menatap layar monitor memerhatikan banyak pemain di dekat karakternya yang tampak antusian memburu monster.
"Aku rasa jangan terburu-buru," sahut Rico.
"Kenapa?!" tanya Anata heran.
"Jika semua orang mengetahui bahwa monster yang mereka buru selama ini adalah wujud dari sebuah virus, mungkin suatu saat nanti akan ada seseorang di luar sana yang mengetahui bahaya virus Reinka-99 dan ingin memanfaatkan virus ini," sahut Yoland.
"Teman-teman!" seru Anata tampak keseriusan di wajahnya sambil menatap layar monitor di hadapannya.
"Ada apa, Anata?!" tanya Yoland heran. Sakti, Rico, dan Pom pun sama herannya dengan Yoland ketika menoleh dan menatap wajah Anata yang tampak serius.
"Apa kalian memerhatikan salah satu pemain yang memakai item jubah hitam dengan senjata pedang sabit di dalam kerumunan itu?!" sahut Anata balik bertanya.
Seketika Sakti, Yoland, Rico, dan Pom kembali menatap masing-masing layar monitor di depan mereka.
"Jubah hitam dengan senjata sabit?!" gumam Sakti lirih sembari dengan sungguh-sungguh menatap layar monitor mencari di mana posisi pemain yang dimaksud oleh Anata.
"Apa yang dia lakukan?!" tanya Yoland heran setelah berhasil menemukan posisi pemain yang dimaksud Anata tadi.
"Dia tidak berburu monster, tapi berburu pemain lain..." ucap Pom.
"Apa sebenarnya dia inginkan?!" Rico penasaran dengan pemain yang dimaksud oleh Anata itu.
"Di mana?! Sejak tadi aku tidak melihatnya!" ucap Sakti terus menatap layar monitor dengan serius karena sejak tadi masih belum menemukan posisi di mana pemain yang dimaksud Anata berada.
"Pemain itu memiliki status level yang lebih tinggi dari pemain lain yang di sekitarnya..." ucap Rico.
"Di mana?!" tanya Sakti masih mencari.
"Apa mungkin dia ingin merebut semua item langka yang dimiliki pemain di sekitarnya?!" terka Rico.
"Hei! Di mana?!" Sakti terus mencari posisi pemain itu.
"Bagaimana mungkin kau tidak melihatnya?!" ucap Yoland kesal, "Coba kau perhatikan di kerumunan pemain itu! Warna nama yang dia miliki juga berwarna merah."
"Pemain dengan status merah?!" Sakti mengerutkan kedua keningnya, tak lama kemudian ia pun berhasil menemukan posisi di mana pemain itu, "Jika dia berhasil merebut semua item yang dimiliki pemain lain, itu akan merugikan kita!"
"Merugikan?!" tanya Anata heran, "Bukankah dengan begitu dia akan menjadi lebih kuat dari pemain lain?!"
"Tapi, kalau hanya dia yang kuat, sedangkan pemain lain tidak, maka secara tidak langsung pemain itu memperlambat perburuan!" ucap Sakti.
Karakter dengan jubah hitam dengan memegang sebilah pedang sabit itu seketika mengayunkan pedangnya memutar sehingga semua pemain di sekitarnya terkena dampak serangan yang sangat besar. Satu per satu pemain pun mulai menghilang.
"Mereka menghilang kemana?!" tanya Anata heran.
"Jika status bar HP karakter yang dipakai pemain habis, maka mereka dipindahkan ke zona hijau dan memulai permainan dari awal lagi," sahut Sakti menjelaskan.
"Untuk masalah pemain yang memulai permainan dari awal, menurutku jika para pemain terlalu sering kalah, mungkin rasa bosan dengan Battle Network akan muncul perlahan," ucap Rico.
"Lalu, apa kita harus bertindak?!" tanya Pom.
"Jangan dulu! Sebaiknya kita awasi pemain itu, dan cari tahu apa tujuan dia mengumpulkan semua item dari pemain lain yang berhasil dia kalahkan," ucap Yoland.
Perlahan karakter berubah hitam dengan memegang pedang sabit berjalan ke arah di mana karakter Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom berada.
"Apa dia juga ingin mengalahkan kita?!" ucap Rico.
"Sepertinya begitu," sahut Sakti, "Baiklah, akan aku lawa dia dengan bersungguh-sungguh!" seru Sakti seketika menggerakkan karakternya membidik ke arah karakter berhubah hitam itu dan bersiap ingin menembak.
"Dengan satu peluru, aku pasti bisa menguras habis HP miliknya!" Sakti sangat yakin kemudian ia menyerang karakter itu dengan peluru terbaiknya.
Namun, karakter berhubah hitam itu tak bergeming. Ia menerima serangan yang dilancarkan Sakti.
Seketika kedua mata karakter berjubah hitam itu keluar sinar berwarna merah.
"Apa!" Sakti terkejut saat melihat status bar HP yang dimiliki karakter berjubah hitam itu tak berkurang sedikitpun.
"Bagaimana mungkin?!" Yoland pun bingung saat mengetahui bahwa karakter berjubah hitam itu sangat kuat.
Karakter berjubah hitam berdiri tepat di depan karakter Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom.
"Aku akan menghalangi siapapun yang mencoba memburu virusku!" Sebuah kalimat muncul tepat di atas kepala karakter berjubah hitam itu.
"Apa dia bergurau?!" Yoland bingung setelah membaca pesan yang dikirim oleh pemain yang menggunakan karakter berjubah hitam itu. Yoland mencoba membacanya lagi, "Apa dia salah ketik?!" tanya Yoland masih merasa bingung dengan pesan kalimat yang dikirim oleh pemain itu.
"Sepertinya dia benar-benar menuliskan kalimat itu!" Raut wajah Sakti mulai serius. Kemudian kesepuluh jemarinya beradu dengan keyboard di depannya.
"Apakah kau yang menciptakan virus Reinka-99 ini?!" Sakti mengirimkan pertanyaan kepada pemain dengan karakter berjubah hitam yang berdiri tepat di hadapan karakter Sakti.
"Ya, aku adalah pencipta virus Reinka-99 ^^." Sebuah kalimat tidak disangka muncul tepat di atas kepala karakter berjubah hitam itu.
"Apa! Benarkah dia orang yang menciptakan virus Reinka-99?!" tanya Rico terkejut.
"Jika benar kau pencipta virus Reinka-99, lalu apa tujuanmu menciptakan virus ini?!" tanya Rico.
"Sebelumnya, aku sangat berterima kasih dengan kalian semua bahwa sudah menciptakan alat pengendali untukku." balas pemain dengan karakter berjubah hitam itu, "Kalian bisa memanggilku Ecline." Pemain dengan karakter berjubah hitam itu memperkenalkan dirinya.
"Ecline, apa tujuanmu menciptakan virus ini!" tanya Sakti.
"Kalian tidak perlu tahu apa tujuanku, yang terpenting, aku sangat berterima kasih dengan kalian atas game ciptaan kalian ini!" Tiba-tiba suara dari pemain sekaigus pencipta virus Reinka-99 terdengar dari semua speaker yang terhubung ke masing-masing komputer yang dipakai Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom.
"Apa! Dia bisa melacak koordinat lokasi kita!" Rico tercengang.
"Jadi, dia juga berasal di sini..." ucap Sakti.
Rico pun segera memasang headphone ke kepalanya sembari mencolokkan kabel headphone ke CPU komputernya. Kemudian diikuti oleh Sakti, Yoland, Anata, dan Pom.
"Ecline! Apa kau tahu jika virus ciptaanmu ini bisa membahayakan negaramu sendiri!" ucap Rico kesal.
"Ya, aku tahu! Lalu, apa masalahnya?! Sebaiknya saat ini kalian jangan mengkhawatirkan tingkat bahaya dari virus ciptaanku ini, tapi khawatirkan dengan penyebaran virusku!" sahut Ecline.
Tit... Tit... Tit....
"Sial! Sambungan komunikasinya sudah dia putus!" ucap Rico kesal.
"Sepertinya kita harus mengembangkan game ciptaan kita agar para pemain lain tidak merasa dirugikan oleh Ecline si pencipta virus Reinka-99," sahut Sakti.
"Kau benar..." sahut Yoland sembari mengangguk.
"Baiklah, sepertinya kita harus mengatur jadwal perbaikan sistem game Battle Network sebelum Ecline berhasil meretas seluruh datanya!" ucap Rico.
"Ayo!" seru Yoland.
Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom keluar dari game, kemudian mereka memulai mencoba memperbaiki sistem demi menyempurnakan game Battle Network setelah mengumumkannya kepada seluruh pemain.