Bab 7 - Baper

2872 Words
Lagi-lagi, Alessea terlambat bangun untuk pergi ke sekolah. Semalam, ia bekerja keras untuk menghafalkan lirik lagu yang akan ditampilkan kelompoknya. Ia rela tidur jam tiga pagi. Itu hal biasa bagi Alessea sebelum kakinya menginjakkan di Jakarta. Ia bahkan jarang tertidur seharian karena mengalami masa yang sulit. Alessea berlari sekencang mungkin keluar dari apartementnya. Ia lupa kalau motornya belum dibawa ke bengkel. Kemaren ia berangkat bersama Dylan. Membuat gadis itu tak ingat bahwa motornya bocor dan perlu di ganti bannya. "Mana bentar lagi masuk." Alessea menekadkan dirinya untuk berlari berangkat sekolah. Sama seperti hari pertamanya. Walaupun sebenarnya dia tidak percaya akan tekadnya. Baru saja dia keluar dari perkarangan apartemen nya, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Kaca mobil itu terbuka menampakkan wajah Rolan. "Naik," suruh Rolan tanpa berniat membukakan pintu mobilnya. Tanpa menunggu lama lagi, Alessea masuk dan duduk di kursi penumpang. Ia bersyukur karena niat untuk berangkat dengan berlari tidak jadi. Dan ia tak akan terlambat. "Lo kok tahu tempat tinggal gue?" tanya Alessea di tengah perjalanan. "Dari Dylan. Dia minta gue jemput lo." Alessea mengangguk-anggukkan kepalanya. "Thanks ya," "Gue nggak bilang ini gratis ya," sembur Arlan. Membuat Alessea mencibir. "Wah, lo jadi orang pelit banget sih." Alessea melipat kedua tangannya di depan d**a. Arlan menoleh ke kursi penumpang dimana Alessea memasang raut muka yang kesal. "Lo nggak sadar diri ya? Lo juga pelit bangsul." "Cewek pelit mah wajar. Kalau cowok pelit, kelihatan banget miskinnya," pedas Alessea yang membuat kesal Arlan. Terdengar suara tawa dari Rolan saat mendengar ucapan pedes dari Alessea. Rolan menepuk pelan pundak kembarannya. Wajahnya itu menunjukkan ekspresi mengejek. Membuat Arlan mencibikkan bibirnya. "Ngomong sama lo bikin esmosi aja. Nggak mau kalah." Arlan kembali menghadap ke depan. "Siapa juga yang ngajak lo ngomong." Alessea terlihat tidak mau mengalah. Gadis itu seperti memiliki dendam pribadi pada Arlan. Rolan kembali mengelus bahu adiknya. Membantu menstabilkan emosi Arlan yang tercipta karena Alessea. "Sabar, Ar. Orang sabar pasti banyak ceweknya." Mobil Rolan terparkir di halaman sekolah. Tak sengaja, baik Alessea, Rolan, maupun Arlan, membuka pintu mobil secara bersama. Mungkin kalau di tambah efek slow motion udah seperti di senetron Ganteng-Ganteng Serigala. Ketiganya berjalan bersamaan dengan Alessea yang di ampit Rolan dan Arlan. Semua mata tertuju pada ketiganya. Dengan songongnya, Alessea berjalan dengan angkuh. Begitu juga dengan si kembar. "Itu murid baru menang banyak." "Iya, kemaren berangkat bareng Dylan. Sekarang sama si kembar." "Dasar centil." "Sok cantik banget, sih," "Gue emang cantik, mata lo aja yang rabun," batin Alessea mendumel. Alessea berpura-pura tidak mendengar ocehan para siswi disepanjang koridor. Ia sadar, yang namanya hidup pasti selalu ada pihak yang tidak menyukainya. Setinggi apapun kedudukannya, setampan atau secantik apapun parasnya. Itu semua tidak penting jika hati seseorang sudah terselut rasa iri. Yang ia harus lalukan adalah menjadi dirinya. Tak peduli banyak orang yang membencinya nanti. Ia selalu mengingat pesan Kim Namjoon saat pidato PBB. Tentang pentingnya mencintai diri sendiri. Kamu nggak bakalan bisa menutup semua mulut orang yang membencimu. Cukup tutup kedua telingamu dan lakukan apa yang benar menurutmu tanpa rasa takut. Setelah sampai di kelas, baik Alessea dan si kembar, kompak tertawa keras. Membuat seisi kelas menatapnya kebingungan. Dylan dan Alvaro yang sedang berunding, mendekati ketiganya yang duduk di bangku depan. "Lo pada kenapa? Datang-datang kayak kesurupan." Gadis songong itu bahkan sampai menitikkan air matanya karena saking menjiwai tertawanya. Arlan berhenti tertawa, disusul Rolan. "Lo nggak lihat tadi." Dylan, Alvaro, dan April masih bingung dengan pernyataan Arlan yang setengah. "Lihat apa?" tanya ketiga orang itu serempak. "Lo pada ingat nggak, adegan GGS waktu si Tristan sama adik-adiknya pertama datang ke sekolah?" tanya Arlan. Alessea kini ikut bingung. Apa maksud dari adegan GGS? Namun ia hanya terdiam. Kalau ia bertanya, Alessea yakin mereka akan menatapnya aneh. "Ingat. Yang mereka semua keluar dari mobil bersamaan terus pakai kacamata hitam. Kenapa emang?" Alvaro masih tak paham. "Gue, Rolan sama Sea baru saja niru adegan itu." Walaupun Alessea tidak tahu seperti apa adegan yang dimaksud Arlan. Tapi setelah mendengar Rolan, ia jadi paham. "Mana para murid pada ngelihatin. Berasa lagi lagi meranin GGS gue." Arlan setuju dengan kembarannya. "Iya, lo jadi vampirnya," celetuk April. Rolan mengedipkan satu alisnya. "Lo yang jadi darah sucinya, ya." "Dih." Dylan tiba-tiba ingat dengan kata Alessea kemaren saat mereka lagi makan dikantin. Tentang ketidaksukaannya pada tatapan para murid ke dirinya. "Se, bukannya lo kemaren nggak suka sama tatapan mereka?" Alessea menatap Dylan, kemudian mengibaskan rambutnya yang diikat. "Gue sadar, mereka pada natap sinis ke gue, karena gue kembarannya Lee Ji-eun." Seketika, detik itu juga, Dylan, Alvaro, dan si kembar membubarkan diri. Alessea menghentakkan kakinya. Lalu duduk dengan hati yang kesal. April mencoba untuk menahan tawa. Bisa kena sembur kalau ia ketahuan menertawakan temannya. "s****n banget sih mereka semua. Nggak bisa lihat kembarannya Lee Ji-eun seneng dikit." "Sabar, Se." -o0o- Jam pelajaran pertama kelas 12 IPA 1 adalah kesenian. Pak Jeff menyuruh semua anak didiknya untuk ke ruang musik. Mereka semua duduk sesuai dengan kelompoknya. Alessea duduk ditengah-tengah para cogan. Para siswi iri dengan Alessea yang notabenya murid baru, namun sudah bisa sedekat itu dengan pangeran sekolah. "Gue berasa jadi princess snow white," ucap Alessea secara tiba-tiba membuat mereka berempat menoleh secara bersamaan. "Kok bisa?" tanya mereka kompak membuat seisi kelas menatap kearahnya sebentar. "Ya soalnya di kelilingi para kurcaci." Alessea tertawa renyah membuat kedua matanya menghilang. Bukannya mendapat respon yang baik. Gadis itu harus menerima jitakan dari ke empat cowok itu. Alessea seketika langsung mengaduh kesakitan. Sakit? Sudah pasti jangan ditanya lagi bagaimana nikmatnya mendapat jitakan dari empat orang sekaligus. "Sakit bego." Alessea mengelus kepalanya yang terasa sakit. "Nggak ada akhlak banget lo, ngatain kita kurcaci," kesal Dylan dan Arlan tak sengaja bersamaan. "Ya kan emang gitu. Gue tanya sekarang, snow white di kelilingi siapa pas tidur gara-gara makan apel?" Alessea melemparkan pertanyaan pada teman-temannya itu dengan rasa kesal. "Kurcaci," jawab Dylan dan si kembar bersama. Alvaro hanya terdiam. Ia sudah tahu bagaimana endingnya. "Nah, salah gue dimana coba. Serba salah gue," kata Alessea mendramatis. Gadis itu bahkan sampai berpura-pura mengelap air mata. "Makanya nggak usah hidup kalau nggak mau di salahin." Ucapan Dylan barusan menohok dihati Alessea. Sampai membuat gadis itu terdiam. Mereka semua belum tahu bagaimana beratnya hidup seorang Alessea. Ia memang pedas dan barbar karena untuk menutupi kesedihannya yang tak pernah lepas darinya. Terlebih, Alessea memanfaatkan waktu kebebasannya sebaik mungkin sebelum dirinya akan menjadi tahanan dalam rumahnya lagi. Ke empat cowok itu jadi heran dengan perubahan sikap Alessea. Gadis itu tiba-tiba melamun dan diam tanpa membalas ucapan Dylan. "Lo kenapa, Se?" tanya Alvaro. "Gue nggak apa-apa kok," balas Alessea tersenyum paksa. Dylan jadi bingung dan merasa bersalah dengan ucapannya tadi. Mungkinkah ucapannya terlalu pedas di Alessea? Tapi, mana mungkin. Bahkan gadis itu selalu mengeluarkan ucapan pedas. "Abis ini kelompok kita kan?" tanya Rolan mencairkan suasana lagi. "Eh iya, tampilan gue gimana? Rambut gue udah rapi belum?" tanya Alessea sambil membenarkan rambutnya. "Se, lo bukan mau konser dengan raturan ribu penonton," kata Arlan menggelengkan kepalanya. "Gue gugup banget soalnya. Ini pertama kalinya gue nyanyi dan main piano di depan banyak orang." Alessea memainkan jemarinya karena merasa gugup. Gadis itu langsung kaget saat tangan kekar milik Dylan menggenggam erat jemarinya. "Anggap aja lo lagi konser di kamar mandi." Tidak ada yang bagus dari kalimat Dylan barusan. Tapi, rasa gugup itu seketika sirna. Alessea menarik napas panjang lalu perlahan menghempaskannya. "Jodohnya Jimin pasti bisa!" Mereka semua menahan diri untuk tidak menjitak kepala Alessea lagi. Dari pada nanti mereka mendapat pembalasan dari Alessea setelah pelajaran tiba. "Selanjutnya, kelompok Dylan." Pak Jeff memanggil kelompok Dylan. Mereka semua berdiri dan berjalan ke depan ruangan. Lalu, berpegangan satu sama lain dan menundukkan tubuhnya sedikit. Memberi salam pada para murid kelasnya. Dylan dan kelompoknya mengambil posisi sesuai kemaren saat berlatih. Dylan sebagai vokalis, Alessea vokalis dan pianis, si kembar sebagai gitaris, dan Alvaro Drummer. Musik mulai berbunyi. Alessea, Rolan, dan Arlan mengawalinya terlebih dulu secara bersamaan. Lalu di susul oleh Alvaro. Semuanya hening. Bahkan ada yang mengarahkan ponselnya untuk merekam penampilan dari Tambal Band. Yang mana, ini adalah pertama kalinya bagi grub itu duet dengan seorang perempuan. Dylan menyanyikan bagian awal dari lagu kelompoknya. Suaranya yang berat dan bagus mampu menghipnotis semua orang yang berada di ruangan. Kemudian di lanjut dengan Alessea. Namun ternyata salah Harapan ku pun musnah Semua orang yang berada di ruangan musik, terkesima dengan suara emas Alessea. Tak ada yang menyangka, jika murid baru itu memiliki suara yang lembut. Dan lagi, cara menyeimbangi dengan permainan pianonya menambah nilai plus. Pak Jeff bahkan terbengong, namun tak lama tersenyum. Namun mengapa saat jatuh cinta Sayang-sayang dia ada yang punya Semuanya kembali dibuat terkesima saat suara berat milik Dylan di padukan dengan suara lembut milik Alessea. Mereka semua di bikin baper oleh dua sejoli yang sedang berduet itu. Sebagian dari murid bahkan mengangkat tangan mereka dan menggerakkannya ke kanan dan kiri sesuai alunan lagu. Apalagi saat Dylan dan Alessea bertatap muka. Semakin membuat baper seisi ruangan. Bahkan sampai ada yang teriak histeris. Dylan dan kelompoknya mengakhiri tampilan mereka dengan senyum yang merekah. Seisi ruangan bertepuk keras untuk penampilan kelompok Dylan yang seperti konser sesungguhnya. "Gue bilang apa, mereka bakalan terkesima mendengar suara gue," bisik Alessea percaya diri pada Dylan. Dylan memutar bola matanya. Lalu tersenyum. Tangannya mengacak-acak rambut Alessea. "Songong lo." Perlakuannya barusan, membuat kaum hawa menjerit seakan meminta belaian. Pak Jeff mendekati kelompok Dylan yang masih berdiri di panggung kecil. "Bapak nggak tahu kalau kamu punya suara bagus, Alessea," puji Pak Jeff tersenyum. Alessea hanya tersenyum malu. Rasanya bahagia ada seorang guru yang memujinya. "Kelompok kalian bisa mewakili sekolah untuk lomba seni musik yang akan di adakan lima hari lagi. Gimana?" Tanya Pak Jeff yang memang sedang mencari perwakilan sekolah untuk lomba seni. Dylan menatap ke samping kirinya. Meminta saran pada ketiga. Rolan, Arlan, dan Alvaro menangguk menyetujui. "Terima aja, kita belum pernah ikut lomba lho. Barangkali nanti ada produser musik yang suka sama penampilan kita." Dylan mengangguk menyetujui. Lalu beralih ke Alessea. "Lo gimana?" Alessea berfikir. Gadis itu menempelkan jari jempol dan telunjukkan ke dagu. "Gue setuju aja sih." "Gimana?" tanya Pak Jeff kembali. Berharap bahwa kelompok Dylan mau menerima penawarannya. "Iya Pak, kami siap buat ikut lombanya." Dylan menjawabnya dengan senyum sumpringah. Pak Jeff melebarkan senyumnya. "Akhirnya sekolahan punya perwakilan buat lomba seni tahun ini. Nanti Bapak kabarin lagi." Dylan dan kelompoknya turun dari panggung kecil itu dan kembali duduk di tempatnya. "Gue sedikit nggak yakin sebenarnya," kata Alessea dengan suara lirih. Takut Pak Jeff mendengarnya. Mereka semua menatap bingung ke arah Alessea. "Kenapa?" tanya mereka semua secara bersamaan. "Takut para penonton nanti pada ngefans sama gue. Gue belum siap buat di ajak foto atau di mintai tanda tangan kalau ketemu," jelas Alessea panjang lebar. Ke empat cowok itu berdecak. Menyesali sudah mendengarkan ucapan Alessea dengan serius. "Nyesel gue dengarnya." Dylan menatap ke depan. "Sama.Tingkat pedenya Alessea sudah di level maksimal." Rolan menggelengkan kepalanya. "Dasar orang sirik lo." "Baik murid-murid, karena jam pelajaran Bapak sudah habis, kalian bisa kembali ke kelas." Pak Jeff mengakhiri pelajarannya setelah mengucapkan salam dan pergi keluar ruangan. Dylan dan teman-temannya memilih keluar di akhir. Menunggu semua teman kelasnya keluar. April mendekati Alessea, lalu memeluknya. "Suara lo bagus banget, Se," pujinya. Alessea hanya tersenyum. "Pulang sekolah, gimana kalau kita main ke apartement lo?" tanya Dylan berjalan berdampingan menuju kelas. "Sea tinggal di apartement?" tanya Alvaro dan April yang terkejut. "Iya. Gimana, Se?" Alessea berpikir keras. Seharusnya nanti sekolah Alessea ada jadwal buat maraton DraKor untuk mengganti semalam. Tapi, para temannya ingin bermain di apartementnya. Kalau dia menolak, yang ada teman-temannya merasa aneh. "Boleh. Tapi, jangan lupa bawa cemilan yang banyak." Alessea terkekeh. Ini adalah triknya untuk mendapat cemilan gartis. Lumayan, buat stok nanti malam. Lagi-lagi Dylan mengacak-acak rambut Alessea. Hingga membuat rona merah di pipi Alessea. "Pikiran lo makan terus." "Dylan! Rambut gue jadi berantakan karena ulah lo!!" seru Alessea merapikan rambutnya. Mereka berdua tak sadar, bahwa banyak murid-murid dari kelas lain yang melihat kejadian barusan. -o0o- Bel pulang berbunyi, semua para murid bersorak gembira karena terbebas dari padatnya jam pelajaran yang membuat otak mereka lelah. Alessea, April, dan Tambal Band, berjalan menuju parkiran. Tujuannya setelah pulang sekolah adalah apartement Alessea. "Lo bareng gue." Tanpa menunggu balasan dari Alessea, Dylan menarik gadis itu menuju motornya. Alessea tersentak karena kaget. Setelah sampai di motor Dylan, ia berkacak pinggang. "Gue kan belum jawab mau bareng lo apa nggak." Dylan memberikan helm ke Alessea dan di terima gadis itu. "Tanpa nunggu jawaban lo, gue udah tahu. Lo nggak bakalan nolak." Alessea menirukan ucapan Dylan dengan ekpresi mengejek. "Pakai helmnya terus naik." Alessea mengenakan helm dan menaiki motor Dylan. "Mampir minimarket dulu buat beli cemilan," suruh Alessea setelah menaiki motor Dylan. "Nggak perlu, gue udah suruh Alva buat beli." Dylan menyalakan mesin motornya, kemudian mengendarai. Membelah jalanan yang rame karena banyak anak sekolah pulang. Tidak sampai sepuluh menit, mereka sampai di apartement Alessea. Keduanya menunggu mobil Rolan sampai di perkarangan apartemen nya. Hampir sepuluh menit menunggu, mobil Rolan memasuki perkarangan apartement Moon. Sama seperti Dylan dan si kembar yang terkejut soal apartement Alessea. Alvaro dan April juga sama seperti mereka. "Sea satu kawasan dengan apartementnya Felix?" bisik Alvaro pada Rolan. Mereka berjalan dibelakang Alessea dan Dylan. "Iya, gue juga kaget." Mereka semua sampai di lantai lima Dimana apartement Alessea berada. Lagi-lagi, si kembar, Alvaro, dan juga April terkejut saat tahu kalau apartement Alessea bersebelahan dengan apartemen Felix. Alessea menggesek card miliknya untuk mengakses masuk. "Mau minum apa?" tanya Alessea. "Ada coffe latte nggak?" tanya balik Arlan. "Nggak ada," "Ada fruit juice nggak?" tanya Arlan lagi. Alessea memutar bola matanya. "Ada." "Ada caramel macchiato nggak?" Alessea menarik napasnya dalam. Berkacak pinggang. "LO PIKIR APARTEMENT GUE CAFE APA?!" Arlan tersentak kebelakang mendengar seruan Alessea. Yang lain tertawa melihat Arlan yang gagal menjaili Alessea. "Gue buatin terserah." Alessea berbalik hendak menuju dapur. "Kalau gitu nggak usah nanya mau minum apa?" gerutu Arlan yang masih terdengar. "Gue dengar." Arlan langsung menutup mulutnya. Sepeninggalan Alessea, mereka semua berunding. Tentang sebuah kebetulan yang mengganjal. "Lo semua curiga sama Alessea nggak?" tanya Dylan mengawali. "Curiga gimana?" tanya April yang belum paham. "Gini lho, lo semua tahu kan kalau kawasan apartement Moon ini adalah yang paling elit di Indonesia?" semuanya mengangguk. "Buat beli apartement disini susah banget. Hanya untuk orang yang berkelas tinggi," lanjut Dylan mengeluarkan unek-uneknya. "Yang gue kepoin, keluarga Alessea setajir apa sampai bisa beli apartement di sini?" Semuanya terdiam memikirkan ucapan Dylan berusan. Kalaupun Alessea anak orang berada, mana mungkin ia berangkat sekolah menggunakan motor? Kenapa tidak memilih mobil? Para siswi di sekolah SMA Bintang yang berasal dari keluarga berada, memilih menaiki mobil sendiri atau diantar-jemput. Alasannya karena tidak mau panas-panasan. Lama mereka terdiam, Alessea datang dengan membawa nampan berisikan minuman. Mereka semua memutuskan untuk tidak membahas hal tersebut lagi. "Lagi mikirin apa sih? Serius amat." Alessea menaruh nampannya di meja. Lalu duduk di samping April. Arlan tersenyum jail. "Lagi mikirin masalah Dylan. Dia katanya bingung mau ngajak lo jalan." Dylan terbelalak. "Kok gue jadinya." Alessea terkekeh, kemudian menjawab, "emang jadi cantik susah ya. Banyak yang mau ngajak jalan." "Gue nggak!" tolak Dylan. Gara-gara Arlan sikap songong Alessea kumat. "Udahlan Dy, akui aja." Alvaro ikut menggoda Dylan. "Diam lo semua," kesal Dylan menekuk mukanya. Ia terlihat malu jadinya. Mereka tertawa, padahal tidak ada yang lucu. Selera humor mereka memang kelewat recehnya. Disela tawa mereka, ponsel April yang ditaruh di meja menyala. Sebuah notifikasi masuk. April membuka pesan dari ibunya. "Hmm, gue balik dulu ya." April berdiri sambil menggendong tasnya. "Kenapa, Pril?" tanya Alessea. "Udah disuruh balik sama ibu," balas April. "Padahal baru sampai lho, Pril." Alessea terheran. "Lain kali gue main kesini lagi kok. Cafe gue rame pengunjung soalnya. Kasihan Ibu sendirian disana." April berdiri lalu menyalami Alessea. "Lo punya cafe?" kaget Alessea. April terkekeh. Bagaimana gadis secantik Alessea ini seorang yang pelupa. "Gue kan kemarin udah bilang, Se." "Yaudah, kapan-kapan kita ke cafe lo. Tapi gratisin ya," gurau Alessea. "Otak lo otak gratisan ya," sembur Arlan. "Nggak usah munafik lo. Paling juga nanti ikut makan." Bukan Alessea kalau tidak mau kalah. Tiba-tiba Rolan ikut berdiri. Membuat semuanya menatap kebingungan. "Gue anter lo pulang." April jadi gugup sendiri. Ia tak pernah berboncengan berdua dengan seorang cowok. Kecuali abangnya. Itupun terakhir tiga tahun yang lalu. "Nggak perlu, Lan. Gue bisa pulang naik angkot," tolak April. "Nggak terima penolakan. Dy, pinjam motornya." Dylan melempar kunci motornya. Rolan menarik tangan April untuk mengantarkan pulang gadis berkacamata itu. "Ar, lo kalah sama kembaran lo," ejek Alvaro menyenggol lengan Arlan. "Siapa bilang. Se, gue anter pulang yuk." Arlan berdiri dari duduknya. "b**o, lo pikir kita sedang dimana kalau bukan di apartementnya Sea." Dylan dan Alvaro melempari cemilan ke Arlan. "b**o di pelihara," ucap Alessea pedas. Arlan tidak terima. "Masih mending pelihara b**o, dari pada pelihara mantan kan?" Ketiganya melongo. Tak percaya apa yang di dengarnya barusan. Tapi memang ada benaran ya. Maksudnya, tidak baik mempunyai mantan yang banyak. "Bukan temen gue," kata mereka bertiga serempak. "Kalian jihit sama dedek." Alessea melempari bantal sofa ke arah Arlan. Dirinya mendadak geli mendengar perkataan cowok sinting itu. "Geli banget gue dengarnya." Tubuh Alessea bergidik ngeri. Arlan yang tak terima langsung membalas dengan melempari bantal sofa ke arah Alessea. Tetapi serangannya itu malah terkena Dylan dan Alvaro. Membuat dia cowok itu tak Terima dan langsung menyerang Arlan secara bersamaan. Alessea yang melihatnya langsung ikut menyerang Arlan. "Curang lo semua. Tiga lawan satu!" "Hahaha rasain lo." TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD