Dusta Bara

1021 Words
Nisya langsung menarik ketat bibirnya, kemudian bicara, “Maaf kalau kedatanganku mengganggumu, Mas. Soal Lana, aku udah kasih tau dia, kok, tapi ponselnya mati,” katanya sambil melihat ke arah kiri atas. Ia lalu memandangi Bara hingga lelaki itu meletakkan ponselnya kembali ke dalam laci. Bara lalu mengangguk. “Nggak masalah. Aku cuma kaget aja. Biasanya nggak ada yang berkunjung pas makan siang. Apalagi tamunya tenyata kamu. Ada perlu apa, ya, Sya?" “Oh, iya, aku ke sini cuma mau kasih ini, Mas. Sebagai ucapan terima kasihku atas undangan makan malam kemarin.” Nisya mengangsurkan sebuah tas kecil berwarna merah yang bertuliskan Tupperware di atasnya. Hingga membuat Bara memandangnya dengan penuh tanda tanya. “Mas belum makan siang, kan?” Tanpa menunggu jawaban, dengan cepat Nisya membuka tas bekal yang ia bawa. Aroma kaldu langsung menyerbu indra penciuman Bara beberapa detik setelah kotak bekal dibuka. Capcay daging sapi yang mengeluarkan wangi bawang bombay dan saus tiram terlihat sangat menggugah selera. “Be-lum, sih,” jawab Bara sambil menelan liur. Ia langsung lupa pada ikan nila dan sayur tumis tauge yang Lana bekalkan tadi pagi. Bukan sengaja, hanya apa yang Nisya sajikan lebih menggugah selera makannya dibandingkan dengan apa yang sudah Lana siapkan. “Ya sudah, pas kalau gitu. Ayo dimakan.” “Ini semua kamu yang masak?” “Iya, Mas. Gimana rasanya? Suka?” “Mmh, suka banget. Enak. Bahkan lebih enak dari masakan restoran yang biasa aku makan.” “Yang bener, Mas?” “Iyalah. Masak aku bohong.” Bara terus menyantap sajian hingga habis tanpa sisa. Wajar saja, karena makanan yang wanita itu bawakan memang salah satu makanan kesukaannya. Tanpa Bara ketahui, Nisya sudah mencari informasi mengenai apa saja makanan yang Bara sukai melalui Lana. Nisya tahu jika Lana tidak terlalu pandai memasak, apalagi memasak menu Chinese food seperti kesukaan Bara. Nisya pun menarik satu sudut bibirnya ke atas kala teringat sesumbar Lana saat sahabatnya itu mengatakan kalau Bara hanya bisa makan hasil masakan Lana seorang. Buktinya, lelaki itu sangat lahap memakan masakan yang ia bawakan. “Kalau … sama masakan Lana, enakan mana?” Nisya bertanya perlahan. “Apalagi itu. Jauh, Sya. Jauh banget. Eh, maksud saya,” ucap Bara yang langsung menghentikan aktivitas makannya. Nisya langsung tertawa. "Aku cuma bercanda, Mas. Nggak usah dianggap serius." *** Tepat lima menit menjelang jam istirahat berakhir, Nisya pamit pulang. Bara pun mengantarnya sampai ke lobi depan. “Makasi, ya, Sya. Saya suka banget makanannya.” “Sama-sama, Mas. Kalau mau, saya bisa kok buatkan makan siang untuk Mas Bara. Setiap hari. Gratis." "Ah, nggak usah. Malah ngerepotin kamu," ucap Bara seraya berjalan mengekori Nisya menuju lobi. Namun, saat Nisya akan pergi, seseorang memanggil Bara. "Pak Bara, jadinya kapan, ni, syukuran kenaikan jabatannya?" ucap salah seorang rekan kerjanya yang bernama Haris. Kepalanya kemudian memutar ke arah Nisya yang berdiri tepat di sebelah Bara. "Ini pasti Bu Bara, ya? Pantes aja nggak pernah diajak ke acara kantor. Wong cantik gini. Pasti Pak Bara takut nih, istrinya bakal dilirik banyak orang," ujar Haris disambung tawa hingga membuat Bara dan Nisya salah tingkah. "Bu-bukan, Ris. Ini bukan istri ...." Baru saja Bara akan menjelaskan pada Haris, Farid--atasan Bara yang baru selesai makan siang di luar--pun ikut mendekat. "Pak Bara, laporan yang saya minta sudah selesai?" "Sudah, Pak. Sebelum makan siang tadi sudah saya berikan ke sekretaris Bapak." Farid manggut-manggut sambil memandang ke arah Bara. "Oke. Bagus. Selesai istirahat akan saya cek." Sama seperti Haris, fokus Farid teralih pada sosok wanita di sisi Bara. Karena bagi mereka berdua, hal itu adalah pemandangan yang cukup langka. Selama ini Bara tidak pernah terlihat bersama seorang wanita. Terlebih saat jam makan siang. "Ini, istri Pak Bara? Kenalkan, saya Farid. Direktur Teknik di kantor ini. Senang bertemu dengan Anda," ucap Farid tanpa bertanya apa pun. Jelas saja Nisya menyambutnya dengan senyum lebar. "Saya Nisya. Terima kasih, Pak Farid. Saya juga senang bertemu, Bapak." Mulanya Nisya agak gugup menyambut uluran tangan Farid, tetapi dengan cepat ia bisa mengatasi keadaan. Ia sebenarnya tidak tahu harus bicara apa selain memamerkan deretan giginya yang putih dan terawat. Toh, Bara sendiri juga tidak membantah. "Pak Bara, jangan lupa ajak istrimu ke acara ulang tahun kantor kita minggu depan, ya." Sontak, Bara membelalak. "Maksud Pak Farid, Nisya?" Tentu saja Farid menautkan kedua alis hitamnya. "Memangnya kamu punya istri lain?" "Enggak, Pak. Bukan itu maksud saya." "Ya sudah," ucap Farid yang langsung melenggang menuju ruangannya bersama Haris. "Ba-baik, Pak." *** Setibanya di rumah, Nisya kembali menghubungi Bara "Gimana, ni, Mas? Mas Bara, si, malah diam aja tadi," ujar Nisya melalui pesawat telepon. Sebenarnya dia senang dengan apa yang terjadi di kantor Bara tadi, hanya saja ia tetap harus bersikap biasa. Tidak boleh terlihat terlalu senang. Bara tidak boleh tahu mengenai maksudnya yang sebenarnya. "Aku juga baru mau bantah tadi, tapi Pak Faridnya keburu pergi. Ya gimana lagi." "Maksudnya?" "Terpaksa minggu depan kamu ikut saya ke acara ulang tahun kantor," ucap Bara yang membuat senyum Nisya mengembang. *** Satu minggu kemudian, Bara benar-benar mengajak Nisya. Sebenarnya ia ingin beralasan sakit agar tidak perlu datang. Dengan begitu, ia tidak harus berbohong pada semua orang di kantornya, tapi enggak mungkin seorang kepala divisi teknik tidak hadir di acara penting perusahaan. Akhirnya ia lebih memilih berbohong pada Lana. "Mas, ada meeting sama klien penting. Mungkin pulangnya telat. Nanti kamu tidur duluan aja, ya," ucapnya pada Lana seraya memasang dasi kupu-kupunya. "Malam jam berapa, Mas? Nggak apa, biar aku tunggu aja. Aku takut tidur sendirian." Bara refleks melihat ke kiri atas. Ia pun mulai gelisah. "A-cara baru selesai jam du-a belas, Dek. Kasihan kalau kamu harus nunggu Mas pulang." "Kok, malam banget, Mas? Memangnya meeting apa, si?" Lana menautkan alis sambil membantu Bara memasang jasnya. Setelahnya wanita itu menyetrika bagian depan jas suaminya dengan telapak tangan. "Biasa, Dek. Kantor, kan, mau ada proyek baru, jadi butuh investor. Klien yang mau ketemu Mas ini adalah salah satu calon investor utama. Kamu doakan aja, ya, biar lancar." "Pasti, Mas. Lana selalu doakan." "Mas berangkat dulu, ya." Sebelum memasuki mobilnya, Bara mencium kening Lana lalu memeluknya agak lama. Maafkan Mas, ya, Dek. Mas terpaksa berbohong. Mas janji ini tidak akan terulang. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD