"Nisya, kamu apa-apaan, sih? Lepasin!"
"Mas," Nisya lalu melepas tangannya dan memutar tubuh Bara agar menghadapnya. "Jujur sama aku. Aku tahu Mas Bara nggak bahagia kan menikah dengan Lana?"
"Jangan asal kamu! Aku pergi!" Bara menepis kasar tangan Nisya hingga sahabat istrinya itu terdorong beberapa meter ke belakang. Ia lalu meninggalkan Nisya begitu saja.
"Mas, tunggu!" Nisya berusaha mengejar, tapi Bara bergeming. Ia masuk mobil dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah.
Sepeninggal Bara, Nisya yang kesal karena diabaikan, sontak membuang sisa makanan di meja makan hingga berantakan ke lantai. "Mas Bara, aku tahu kamu juga punya perasaan yang sama denganku. Nggak usah munafik, Mas!"
Dalam perjalanan pulang, Bara terus menarik napas dalam sambil menyesali sikap kasarnya pada Nisya. Seraya memutar setir bundar, tangan kirinya juga memukul keras dashboard.
"Arggh, go*lok. Seharusnya gue nggak bersikap sekasar itu."
Bara sadar jika perasaannya tengah kacau akibat kemunculan Nisya. Wanita itu tiba-tiba memasuki hati dan pikirannya bersamaan dengan keberadaan Lana di sana. Meski ia berusaha menepis, ia tidak mau jika Nisya membencinya.
"Mas, kenapa pucat gitu mukanya?" sapa Lana saat Bara tiba di kediamannya. Bara tidak menjawab. Ia malah langsung memeluk Lana, berharap rasa gundah yang tengah ia rasakan bisa cepat menguap ke udara. Bara berharap jantungnya juga bisa berdebar cepat, sama seperti kemarin saat ia sedang bersama Nisya. Namun, harapannya tidak terjadi. Getaran cinta itu sudah tidak sekuat dulu.
"Mas nggak pa-pa, Dek. Ayo masuk. Mas kangen."
Bahkan, pagi itu Bara tidak ke kantor karena ia ingin berduaan dengan sang istri sehari penuh. Masih dengan harapan yang sama, agar kebersamaannya dengan Lana bisa mengusir Nisya dari pikirannya.
"Mas lagi ada masalah di kantor ya? Tumben banget pengen di kamar terus?" ucap Lana sambil menyandarkan kepala di d**a telanjang sang suami. Bara tiba-tiba bangkit dan memutar kepalanya ke arah Lana.
"Dek, Mas ingin punya anak." Bara lalu mencium lama kening Lana. Sekejap kemudian dan untuk kesekian kalinya di pagi itu, keduanya sudah tak berjarak dan larut dalam kenikmatan pernikahan.
Namun, tanpa setahu Bara, rasa tak nyaman perlahan menyusup ke d**a Lana, membuat ia kurang menikmati sentuhan sang suami. Karena sudah lama sekali Bara tidak mengungkit soal keturunan, Lana mengira jika perhatian suaminya itu sudah teralihkan dengan pekerjaannya di kantor. Terlebih setelah ia naik jabatan. Raut wajah Lana pun seketika muram dan terus menyalahkan diri sendiri atas keinginan Bara yang belum bisa ia kabulkan.
Tiga bulan berlalu. Setelah berusaha hampir setiap hari sebagai pasangan suami istri, ternyata Allah masih belum mempercayakan amanahnya kepada Lana dan Bara. Bahkan tanpa setahu Lana, Bara kerap emosi saat Lana mengabarkan kalau istrinya itu sedang datang bulan. Namun di depan Lana, Bara tetap berusaha bersikap manis.
"Mas, ini bekal makan siangnya," ucap Lana saat mengantarkan sang suami ke teras depan.
Bara hening sesaat sebelum akhirnya menjawab. "Dek, mulai hari ini kamu nggak usah bawakan aku makan siang lagi, ya."
"Loh, kenapa, Mas?"
"Kamu sebaiknya banyak istirahat, ya. Nggak usah capek-capek. Biar kita cepat punya anak," ucap Bara sambil memeluk Lana. Lagipula aku udah pesan katering di kantor."
"Kok, tumben? Mas biasanya nggak suka makanan katering kantor?"
"Um," Bara menjeda kalimatnya, "yang ini beda lagi, Dek. Karena orangnya rekomendasi dari atasan, jadi Mas nggak enak kalau nolak."
Meski sedikit kecewa, akhirnya Lana mengangguk. Ia harus menerima kenyataan pahit bahwa hasil masakannya yang ia siapkan sejak sebelum subuh tadi ditolak oleh sang suami.
"Ya udah, aku berangkat, ya."
Tanpa setahu Lana, sebenarnya sudah lama Bara tidak lagi memakan bekal makan siang yang Lana bawakan. Ia selalu memberikannya ke keamanan. Sedangkan ia sendiri menyantap hasil masakan Nisya. Sejak perlakuan kasarnya pada Nisya dulu, Bara merasa bersalah. Ia sengaja memesan makan siang pada Nisya, seperti yang pernah wanita itu tawarkan.
Tentu saja Nisya seperti mendapat durian runtuh. Bahkan, dia menolak saat Bara akan membayarnya. Nisya pun rela datang setiap jam makan siang ke kantor Bara demi bisa makan siang bersama sang pujaan. Sejak sering bersama Krisna pulalah, Nisya sering menolak jika Lana mengajak bertemu atau mengobrol panjang lebar.
"Besok aku mau coba masak cumi saus tiram, Mas. Aku baru lihat resepnya kemarin di youtube. Cuminya spesial, lho. Bukan yang kecil kayak biasa," kata Nisya saat siang itu menemani Bara makan siang.
"Boleh tu, aku suka cumi. Apalagi kalau kamu yang masakin. Pasti enak," ucap Bara yang membuat Nisya sontak tertawa. Terlebih saat melihat Bara begitu lahap menghabiskan bakmi seafood yang ia bawakan.
Bara yang sadar kalau sedang ditertawakan, mengangkat wajahnya. Namun, ia seketika tertegun saat melihat keindahan di depan matanya. Wajah Nisya yang sedang tertawa mampu membuat jantung Bara yang semula tenang mendadak berisik.
"Mas," ucap Nisya hingga membuat Bara gelagapan. Nisya lalu tersenyum seraya menatap Bara dengan pandangan mesra. Seketika harapan untuk bisa bersama Bara kembali muncul di dadanya.
"Aku mau ngomong sesuatu." Nisya lalu menarik napas dalam sebelum memulai bicara. Sedangkan Bara yang sempat mengalihkan pandangan kembali fokus menatap Nisya.
"Aku sudah lama suka sama Mas Bara. Sejak pertemuan pertama kita, aku sudah jatuh cinta," ucap Nisya yang membuat Bara terbatuk-batuk.
Nisya berdiri lalu menepuk-nepuk pelan punggung Bara. Nisya juga memberikan segelas air mineral pada lelaki itu.
Setelah batuk Bara reda, Nisya bicara lagi,
"Aku juga tahu kalau hubunganmu dengan Lana sedang renggang. Bisa terlihat dari sikap Mas ke aku. Mas begitu nyaman denganku, bahkan Mas tidak pernah membicarakan tentang Lana saat bersamaku." Nisya menjeda kalimatnya beberapa saat. "Kalau perasaan Mas Bara ke aku gimana?"
Meski kikuk, Bara akhirnya tersenyum hangat pada Nisya. Setelah Nisya menyatakan perasaannya, Bara akhirnya menyerah. Tak ditampiknya lagi, bahwa sejak lama, ia pun memiliki rasa untuk wanita itu.
"Aku juga punya perasaan yang sama ke kamu, Nis. Tapi masih ada Lana di sisiku. Jadi sebaiknya kita nggak usah ketemu lagi. Aku nggak mau membuat Lana kecewa."
Sontak, wajah Nisya menegang. Matanya mulai berkaca. "Lalu aku? Mas tega membiarkanku terluka? Aku juga punya perasaan, Mas. Sama seperti Lana. Mas jangan cuma memikirkan perasaan Lana aja."
Bara menarik napas dalam. Sebenarnya ia pun tidak mau memperlakukan Nisya sekejam itu. Biar bagaimanapun, Nisya mampu membuatnya merasa bahagia.
"Lalu mau kamu apa, Nis?"
"Nikahi aku, Mas. Aku janji nggak akan mengganggu hubunganmu dan Lana. Aku hanya ingin merasakan kebahagiaan yang sama seperti Lana."
Bersambung.