Yudna berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit itu, dadanya berdebar. Ia tidak tahu sudah dua belas hari adik iparnya dirawat di sini. Gyan begitu tabah menghadapi semuanya sendirian. Yudna salut sekaligus kesal padanya. Perempuan itu menenteng kantong belanjaan berisi beberapa makanan yang akan Aruna makan berbekal pengetahuan Gyan tentu saja. “Mbak…” Yudna mengangkat panggilan dari Hara dan memperlambat jalannya di sepanjang koridor itu. “Apakah benar yang aku dengar?” Suara Hara berahutan. “Iya,” jawab Yudna singkat. “Sekarang aku sedang di rumah sakit untuk mengunjunginya.” “Ya ampun…” Hara terdengar syok. “Kamu juga harus datang, kita bisa gantian menjaganya dan biarkan Gyan hanya datang malam hari sepulang bekerja. Ku dengar kondisinya cukup parah.” “Ah…Mbak…” Hara mengerang

