TIGA PULUH TUJUH

813 Words

“Ibu, aku bawakan buburnya.” Aruna mengetuk pintu kamar mertuanya dengan hati-hati. Kabarnya wanita itu sedang marah besar dan semuanya sudah terjadi berlarut-larut, puncaknya adalah malam kemarin ketika makan malam keluarga dan ia tidak diizinkan masuk. Aruna tahu pasti ibu mertuanya sangat sedih dan terluka. Para asistennya bilang ia jadi mogok makan dan tidak mau keluar kamar kecuali Aruna mau datang untuknya. “Apa yang kamu masak untukku? Hanya bubur putih?” “Ibu…makanlah dulu.” “Biar ku coba masakanmu,” ujarnya tak mengindahkan. Wanita itu mencicipi buburnya seujung sendok kemudian meludahkannya kembali. “Kamu masih saja tidak berubah,” ujarnya sinis. “Kamu datang membawa petaka dan tidak bisa apa-apa. Kamu membuat putraku menjauh dariku, kamu membuatnya melawan padaku!” “Ibu ma

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD