“Aku... mulai besok mau pindah ke kamar di lantai dua.” Aruna tiba-tiba bilang seperti itu tanpa angin atau hujan. Gyan keheranan mendengarnya tapi mana mungkin ia melarang-larang kan? Beberapa hari belakangan perempuan itu semakin pendiam, dia jarang menyahuti tawaran atau niat baik Gyan kemudian tahu-tahu akan berpisah kamar dengannya. Yah, memang hubungan mereka hanya sebatas itu. Mereka bukan suami istri sungguhan, jadi tidak perlu harus tidur sekamar segala. “Oh…” Gyan menyahuti pada akhirnya. “Nanti aku bantu bawa barang-barang kamu ke atas,” lanjutnya kemudian. Aruna bergeming dan tetap tidur memunggunginya. Ah, Aruna… tidur di sebelahnya saja masih terasa begitu jauh dan sulit digapai. Bagaimana jika ia pindah ke kamar lain? Dan setelah deklarasi itu, Gyan kira Aruna membutuhk

