9

1192 Words

Jika ditanya, apakah Samantha siap menjadi seoranh istri. Tentu saja jawabannya tidak! Memang sih harus Samantha akui, dulu saat ia pertama kali melihat Adam, dia sempat mengaggumi sosok berkulit pucat itu. Tapi itu hanya rasa kagum, tidak lebih. Seiring berjalannya waktu Samantha lebih merasakan pertemanan dengan laki-laki itu. Bukan sebagai laki-laki yang kenyataannya sebentar lagi akan menjadi suaminya. Suami, memikirkan satu kata itu berhasil membuat kehidupan Samantha berubah seratus delapan puluh derajat. Bisa dipastikan kehidupan mandirinya tidak akan sama lagi. Memikirkannya saja membuat kepala Samantha berdenyut nyeri. Belum lagi ditelinganya saat ini, Kayla sedang menghadiahinya dengan puluhan pertanyaan dan kalimat yang keluar dari ponsel tipisnya itu. Mungkin ini nilai plus d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD