Sudah dua minggu Dave menjalankan peran di G-hotel. Kegiatannya hanya berkutat antara hotel dan rumah. Ya, rumah tempat istirahat saat malam hari. Tak banyak waktu ia habiskan di rumah itu karena dia sungguh memforsir kemampuannya untuk bekerja.
Kebanyakan pegawai G-hotel sudah hafal bahkan beberapa mencoba akrab dengan Dave karena memang fisik Dave mudah mempengaruhi mereka.
Masih dengan sifat dingin namun cerdas, dia menanggapi orang di sekeliling dengan satu kata yaitu seperlunya. Namun, sikap itu justru menimbulkan rasa penasaran berbagai pihak, tak terkecuali koneksi kerja Arslan.
Pagi ini, dia berjalan dari ruangannya menuju lobby. Dia melihat bagaimana penyambutan tamu yang dirasa mulai crowded karena akhir pekan.
"........maaf Tuan, kalau anda belum bisa memastikan, mungkin anda bisa mengambil waktu untuk melihat profil kami terlebih dahulu."
"Tunggu...saya hanya masih bingung."
"Baik, Tuan. Silahkan duduk di kursi tunggu lobby, staff kami akan membimbing pilihan anda, sementara kami bisa melayani antrian selanjutnya."
"Hey, saya datang duluan daripada mereka."
"Iya, tapi ............."
Dave menyela perdebatan itu dengan sedikit terkejut namun tetap tersenyum.
"Mr. Hutomo.", Dave menyapa tamu tersebut.
Lelaki paruh baya itu beralih memandang Dave dengan kerutan di dahi.
"Ya, saya.", jawabnya sedikit ragu. Dia telisik kembali wajah di depannya. coba mengingat satu dan lainnya.
"Ohh, kami beruntung anda disini. Suatu kebanggaan tentunya.", ucap Dave.
"Dan sepertinya saya belum mendapat apa yang saya inginkan.", keluh Mr. Hutomo untuk sebuah sapaan.
"Oh... kami akan memastikan anda puas berada di Bali, Sir."
Melihat senyum Dave, Mr. Hutomo berhasil mengingat sesuatu.
"Kau, David? Apa aku salah?"
Dave semakin melebarkan senyum indahnya.
"Tidak. Saya benar David."
Akhirnya, tak ada wajah kaku dari Mr. Hutomo. Dia ikut tersenyum.
"Owh, sudah lama sejak pertemuan kita di New York. Jadi sekarang Indonesia? Keputusanmu."
Mr. Hutomo memegang pundak Dave.
"Mencari peruntungan baru. Belum secemerlang Mr. Hutomo tentunya."
"Ahh...kau selalu begitu. Jangan menyanjungku."
"Anda luar biasa, Sir. Hmm maaf sebentar...."
Dave mendekat ke pegawainya.
"Andini, keep satu VIP suite untuk Mr. Hutomo dan booking satu mobil untuk tiga hari kedepan. Gratiskan layanan gym dan spa untuk beliau juga."
"Baik. Saya catat."
"Good, thanks."
Dave kembali kepada Mr. Hutomo.
"Mari ke ruangan saya, Sir. Kita bisa bertukar pengalaman disana."
"Tapi aku belum selesai reservasi."
"Sudah teratasi."
"Benarkah? Bagus kalau begitu."
Akhirnya mereka berdua beranjak ke ruangan Dave. Tahun lalu, Mr. Hutomo menjadi tamu khusus untuk Dave saat di New York.
Kala itu, mereka bukan seperti tamu dan pegawai namun lebih seperti teman karena Dave kehilangan sosok Ayah.
***
Sore itu Dave menenangkan diri dengan berjalan di taman. Sedikit udara akan membuatnya kembali fresh. Dua minggu ini dia tak banyak memiliki waktu istirahat.
Sendiri, seperti biasanya. Dia menghabiskan waktu untuk berdiam diri dan mengamati aktivitas yang dilihatnya. Manusia dengan berbagai macam interaksi dan ekspresi.
Pandangannya jatuh pada dua manusia yang sedang berlarian di dekat danau untuk mengejar gelembung sabun yang berterbangan. Dave sangat mengenali salah satu diantara mereka. Tidak salah lagi, dia Anne.
Anne bersama anak kecil yang begitu manis lengkap dengan lesung pipi mirip dengan milik Anne. Dave belum pernah melihat anak itu sebelumnya.
Dave mendekat untuk membuang rasa penasarannya.
"Hey, kau disini?", sapa Dave dengan sikap coolnya.
Anne terkejut. Dia berhenti untuk membawa anak kecil itu kegendongannya.
"Ya, aku disini.... dan lebih wajar jika aku yang disini karena aku bukan lelaki seorang diri.", Anne memandang heran pada Dave.
"Maksudmu, aku?"
"Hmmm...ya. Oh maksudku tidak. Semua orang berhak disini.", Anne membenarkan. Tak ingin ada perdebatan.
"Apa kau tak mau mengenalkan anakmu?"
Rasa terkejut Anne bertambah seketika. Pertanyaan macam apa itu. Anne menjawab dengan sedikit ragu karena susah merangkai kata-kata.
"Anak? Ya, dia anak. Seorang anak.", jawab Anne.
Dave mengangkat kedua alis mendengar itu.
"Anakmu? Aku tak mendengar bahwa kau sudah menikah."
"Mmmh... Ya, seandainya dia anakku, maka aku pasti sangat bahagia. Sayangnya, dia lahir dari rahim kakakku."
"Ohh... Jadi?"
"Aku aunty dan dia keponakanku. Ruby."
Dave mengangguk-anggukkan kepala.
"Wooow, manis. Hay, Ruby. I'm Dave."
"Ruby tak suka orang asing. Bersiaplah untuk diacuhkan."
Dave memiringkan kepala dan mengangkat alisnya. Mungkin Anne benar karena anak itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun, batin Dave.
Anne dan Dave menuju bangku terdekat. Mereka biarkan Ruby sibuk dengan gelembung yang selalu ia pecahkan sendiri, sementara Anne tetap meniup sabun selagi berbincang dengan Dave.
"Dia manis. Dia bahagia.", ucap Dave melihat Ruby.
"Apa aku benar-benar sedang melihatmu tersenyum?", pertanyaan Anne lebih tertuju untuk dirinya sendiri.
Dave mematung dan mendatarkan wajahnya kembali.
"Ehemm.... ternyata bukan hanya aku yang meluangkan waktu disini.", tanggapan Dave.
"Biar saja Duty Manager yang mengurus sisanya. Dia juga harus bekerja.", sambung Anne.
"Apa dia benar bisa dipercaya?"
"Pertanyaan zero saat jawabannya adalah aku lebih mempercayainya daripada kau. Hampir lima tahun dia bekerja."
"Masa kerja tidak menjamin loyalitas."
"Ya, setidaknya dia tak pernah merugikan apapun."
"Baiklah."
Untuk beberapa detik mereka terdiam. Menikmati angin yang berhembus ke arah mereka.
"Aku dengar, kau memberi perlakuan istimewa untuk seorang tamu yang belum pasti memilih kamar di G-hotel.", tanya Anne.
"Apa kau sudah memeriksa identitas tamu itu? Apa kau mengenalnya?", Dave yakin perbuatan bersama Mr. Hutomo yang sedang Anne bahas.
"Belum. Aku hanya mendengar desas-desus dari para pegawai."
"Oh, mereka semakin gigih untuk membicarakanku di belakang."
"Beruntunglah, kau semakin populer."
"Bukan kebanggan tentunya."
Dave jengah dengan sikap pegawai akhir-akhir ini. Mereka berada di luar jalur walaupun tentu bertingkah saat di luar jam kerja. Hanya saja Dave tak nyaman.
"Lalu, tamu seperti apa dia?", tanya Anne lagi.
Dave menempelkan punggungnya di kursi sambil mencari posisi ternyaman saat ia bercerita.
"Dia memiliki sifat seperti Ayahku. Dia menganggapku sebagai anak karena sudah membantunya selama di hotel Pamanku di New York."
"Dave, haruskah aku ingatkan bahwa kita tidak boleh mengabaikan aturan demi masalah pribadi?"
Dave melebarkan mata atas tanggapan Anne.
"Hentikan pikiran rendahmu padaku."
"Hey, aku mengingatkan."
"Seolah aku bukan profesional? Terimakasih."
"Kau terlalu cepat marah.", Anne menegaskan kalimatnya.
"Aku tak ingin pengakuan darimu, tapi dia adalah tamu yang sangat penting untuk G-hotel."
"Jangan mengarang."
Dave menghembuskan nafas berat.
"Tidakkah kau mendengar marga Hutomo yang berasal dari Jawa Tengah?"
"Sepertinya."
"Jika dia puas, dia akan membawa peserta ghatering eksklusif para pegawai dari dunia industrinya untuk menjadi tamu kita. Aku tidak salah langkah."
"Darimana kau tahu?", balas Anne cepat.
"Berterima kasihlah pada hubungan pribadi yang kau sepelekan tadi. Dia membuka ide itu setelah aku melakukan perbincangan santai di ruanganku."
Kini Anne mulai percaya dan membenarkan sikap Dave.
"Bagus. Lanjutkan."
"Apa? Kurasa itu cukup."
"Arslan sudah mengetahui ini? Setidaknya dia juga bisa ikut menyambut Mr. Hutomo."
"Dia akan segera tahu.", jawab Dave.
"Well, good for you, dan maaf."
"Tidak perlu. Aku tidak bahagia menerima maaf itu. Giliran aku mengingatkan. Untuk memenangkan bisnis, kita harus menjadi manusia cerdik, juga siap untuk permainan yang kurang cantik. "
"Dan kau melakukannya? Tadi kau mengelak."
"Aku tidak melakukan sepenuhnya karena bukan kapasitasku. Jabatan di atas kitalah yang berebut untuk memakai cara itu. Setidaknya selama ini kita pasti dan akan pernah melakukannya walaupun hanya beberapa kali."
"Aku lebih dari tahu tentang itu.", tak ingin kalah, Anne membalas.
Mereka terdiam kembali atas perdebatan singkat sore itu. Menikmati sisa waktu hingga senja datang.
***
Hari makin gelap. Dave mengantar Anne pulang. Bisa dipastikan bahwa Anne tidak mampu menyetir dengan Ruby yang tertidur di gendongannya. Beruntung, Dave belum memiliki mobil sehingga dengan mudah dia memberi penawaran sebagai driver.
Sampai di rumah Anne, sang kakak sudah menyambut di depan rumah. Masih asri. Banyak tanaman di halaman. Rumah itu luas, memiliki desain klasik dengan interior modern.
Dave dipaksa untuk mampir makan malam karena sudah sudi mengantar Anne dan Ruby pulang. Rasa canggung timbul di hati Dave dan Anne. Bukan kondisi seperti ini yang mereka perkirakan.
Dave masih membenci Anne di masa lalu. Dia tidak seharusnya bersikap lunak seperti tadi sore. Sedangkan Anne masih tetap pada pendiriannya untuk tidak gampang menyerahkan hati pada seseorang.
"Terimakasih sudah mampir, Dave. Jangan menyesal. Seringlah berkunjung agar Ruby bisa mengenalimu lebih cepat.", ucap Nora Zhafir, kakak kandung Anne.
Nora Zhafir menikah dengan Galang Pradipa dan memiliki anak yang sangat cantik bernama Ruby Pradipa. Dianne Zhafir menumpang di rumah kakaknya setelah semua aset keluarganya dijual.
Hasil perceraian orangtuanya. Sebenarnya dia bisa membeli rumah sendiri dari pembagian warisan, namun dia memilih untuk mendepositokan uang itu. Tanpa tersentuh sedikitpun.
Dave pamit. Diantar Anne, Dave menuju pintu luar dan berniat untuk memanggil taxi online.
"Apa sebaiknya aku mengantarmu pulang?", saran Anne.
"Aku bukan lelaki cengeng."
"Hey, bukan itu maksudku."
"Cukup. Kita sudah sangat melewati batas, Anne. Kita tidak dalam hubungan sebaik ini, seharusnya."
Anne memikirkan kata-kata itu sejenak. Dia mencari dimana letak kesalahan pada hubungan mereka.
"Kau masih terganggu karena masa lalu?", pelan Anne mengucapkan itu.
"Kurasa kau belum mengenal arti kecewa sebenarnya."
"Jangan mengajariku. Aku lebih tau daripada siapapun."
"Oh ya? Bisa kau ceritakan bagaimana itu lebih mengecewakan daripada diberi harapan palsu oleh seseorang?"
"Hey, kau yang terlalu berharap waktu itu."
"Ya, karena kau tak pernah salah."
Anne menggeram menaham amarahnya. Dave selalu memojokkan Anne dan kesalahannya di masa lalu.
"Apa Arslan pernah kesini? Nora terlalu sering menyebut namanya saat makan."
"Kita tidak dalam hubungan sebaik itu hingga aku bercerita padamu."
Dave mendapat boomerangnya.
"Aku hanya penasaran. Aku pulang....."
Anne melihat Dave masuk ke dalam taxi online yang dipesannya. Tanpa salam lebih lanjut dan tanpa lambaian tangan maupun ucapan selamat malam mereka berpisah.
Anne masih mengingat lelaki itu dengan sangat baik. Di kehidupan sebelumnya, Anne tulus dalam menyayangi Dave sebagai teman. Lelaki blasteran Amerika Indonesia itu mengakrabkan diri pada Anne setelah tahu Anne berasal dari Indonesia seperti Ibu Dave.
Dave lahir di Indonesia. Usia empat tahun, dia kembali ke Amerika, rumah Ayahnya. Ayah Dave bukan orang miskin namun dia sangat jarang bekerja, bahkan sangat malas. Aset Ayah Dave sudah dijual setelah Ayahnya meninggal. Sejak awal Dave telah diajari Ayahnya untuk bermain taktik dalam investasi. Dave tinggal bersama sang Paman selama dia kuliah.
Anne sempat bertemu Ayah Dave sebelum lelaki itu meninggal.
~
Flashback on.
Dave berdiri di depan pusaran sang Ayah dengan raut muka sedih namun tanpa meneteskan air mata.
"Hey, I am sorry."
"It's ok, Ann. He left me alone saat aku bahkan tak tahu apakah ibuku masih mengingatku."
"Dave......", Anne mengelus pundak lelaki itu.
Hanya ada mereka berdua disana. Pemakaman itu sudah ditinggalkan oleh para tamu dan keluarga Dave lainnya.
"Dia lelaki b******k yang tidak suka mengemban tanggungjawab dalam keluarga. Dia bercerai tanpa melihatku. Sebenarnya dia pantas mendapat pukulan dariku."
"........", Anne tak membalas.
"Tapi dia orang yang dengan tertatih sudah merawatku. Pertikaian hampir setiap hari. Tak ada nasehat berarti. Tak ada contoh yang ia beri. Tapi dia pernah mengatakan bahwa dia sangat menyayangiku."
"Aku percaya.", jawab Anne pelan.
"Aku bahkan belum membalasnya. Aku belum mengatakan bahwa aku juga menyayanginya. Sebrengsek apapun dia, dia tetap seorang Ayah untukku. Bukan perkara mudah merawat anak lima tahun yang ditinggal ibunya, tanpa nanny, tanpa ibu tiri. Bukankah dia hebat?"
"He was a great daddy, Dave."
"Ya, kau benar. Dia tak perlu repot memusingkanku lagi. Tenanglah disana, Ayah."
Anne menatap Dave yang kini sudah mulai mengeluarkan airmatanya. Pertama kali Anne melihat Dave menangis.
"Come on, Dave. Kita pulang. Aku yakin Ayahmu tak ingin melihat kau lemah."
"Ya, dia akan kecewa."
"Bagus. Berusahalah lebih keras untuk hidupmu. Aku mendukungmu."
"Kau?"
"Ya, Dave."
"Thank you, Ann."
Dave memeluk Anne seketika. Menyalurkan kepedulian masing-masing dalam pertemanan yang baru mereka jalani.
Flashback off.