Diruangan nuansa hitam putih, seorang wanita muda duduk di kursi kebesarannya berhadapan dengan seorang wanita yang usianya lebih tua dari nya, dia duduk dengan posisi kedua kaki selonjoran ke meja kecil di depannya sedangkan wanita yang lebih tua tadi duduk di sofa berhadapan dengannya
"lo udah nyiksa dia ?" tanya wanita yang lebih muda
"sudah, sesuai yang kamu minta" jawab wanita paruhbaya itu
wanita muda itu terkekeh puas
"bagus, lo bisa terima bayar lo nanti malem, dan lo harus siksa dia lebih dan lebih lagi karena gue gak trima gara gara dia gue di keluarin dari sekolah, mungkin dia fikir dia bakalan aman gak ada gue disana tapi dia gak tau kalau gue punya kaki tangan buat ngebuat dia hancur !" ucap wanita itu menggeram kesal
dia adalah Clara orang yang sudah pernah membully Alin, dia sangat dendam kepada Alin karena semenjak kejadian itu keluarga Gavin memutuskan kerjasama dengan ayahnya, lalu dia mendapat hukuman sanksi selama 1bulan penjara karena ayahnya mati matian membelanya jadi sekarang misi dia hidup adalah membuat Alin menderita
"iya, saya juga membenci anak itu" jawab Aryana tak kalah geram
Clara tersenyum miring
"pulang dan siksa dia, kirim videonya ke gue !" perintah Clara menatap nyalang Aryana, bukan membenci Aryana hanya saja saat mengingat Alin emosinya muncul dengan sangat menggebu gebu
Aryana mengangguk lalu pergi dari ruangan itu, saat Aryana mabuk dan dibawa kerumah Clara, dia diminta untuk menyiksa Alin dan dia akan mendapatkan imbalan berupa uang, Aryana langsung mengiyakan karena menyiksa Alin adalah hobi ter favoritnya, menjalankan hobi dam dibayar, siapa yang tidak mau ?
"gue harus pastiin, lo menderita sebelum mati Crystalin" gumam Clara dengan segala kebenciannya.
****
Nicholson Mansion
08:30
Dihari libur sekolah dan libur kerja begini keluarga Nichol berkumpul di taman belakang mansion nya untuk sekedar bercerita apa yang mereka lakukan selama sepekan ini, berhubung Dirga sudah kembali ke london untuk kuliah jadi hanya ada dua putra yang menemani Rose dan Nichol
Adam dia sedang duduk di kursi kayu sambil memangku laptopnya, dia enggan meninggalkan pekerjaannya barang sehari saja, sedangkan Gavin sedang memijit betis Nichol, dan Rose sedang menyuapi suaminya itu biskuit coklat favoritnya
"Adam, dad dengar kamu membatalkan proyek milayard an rupiah hanya karena hal sepele" ucap Nichol, Adam menghentikan aktifitas mengetiknya sejenak
"tidak ada hal sepele jika terlambat" jawab Adam, lalu kembali mengetik di atas keyboard laptopnya
"hanya karena terlambat beberapa menit kenapa harus sampai dibatalkan, dia salah satu donatur terbesar dam" ucap Nichol sedikit kesal, pasalnya dia sendiri mengincar perusahaan itu dari lama sedangkan anaknya yang mendapat kerjama dengan perusahaan itu malah membatalkan nya hanya karena telat 10menit saja
"aku gak suka orang tidak disiplin dad" jawab Adam santai tanpa melihat ke arah Nichol
"kau tau ! dady sudah lama mengincar perusahaan itu dan kamu malah membatalkannya saat sudah ada di depan mata"
"dia sendiri tidak mematuhi peraturanku"
"dasar keras kepala" desis Nichol kesal, Rose mengelus lengan suaminya agar tidak marah di pagi hari
Adam hanya diam saja tanpa membalas cibiran ayahnya, dia tau dia keras kepala tapi prinsip tetaplah prinsip dia tidak suka orang tidak tepat waktu dan bertele tele
"memang berapa kerugian yang harus di ganti dari pembatalan kerjasama itu dad?" tanya Gavin yang sedari tadi menyimak pembicaraan bisnis itu
"dua belas milyard" jawab Adam enteng tanpa beban dan dosa, sedangkan Gavin sudah menjatuhkan rahangnya ke lantai, dua belas milyard hilang hanya karena keterlambatan dan kekeras kepalaan kakaknya itu
"tutup mulutmu Gav sebelum liurmu itu jatuh" tegur Rose sambil terkekeh melihat reaksi anak ketiga nya yang berlebihan, mungkin menurut Gavin itu sangat besar tapi apa kata Adam, harga segitu tidak sebanding dengan kedisplinan
Gavin mengantupkan bibirnya rapat rapat
Nichol sangat menyayangkan sifat anak tertuanya itu, keras kepala dan tetap pada pendiriannya walau badai menerpa dirinya, tapi dia akui anaknya itu kuat, cerdas dan mandiri, sebanyak itu kerugian yang anaknya alami tapi Adam tidak pernah mengeluh dan meminta belas kasihan, dia bekerja keras sendiri untuk mengembalikan dana yang hilang itu, tapi ya tetap saja Nichol ingin menjerit saat ini karena uang segitu bisa buat bulan mau keliling dunia dengan istri tercintanya
Adam mematikan laptopnya, lalu menutup dan memasukkannya ke tas khusus laptop, setelah itu dia membereskan berkas yang ada di meja dan mengangkatnya saat berkas itu di angkat ada selembar foto yang terjatuh dan melayang lalu berhenti di kaki bangku yang Rose, Gavin dan Nichol duduki
Adam menengang seketika saat foto itu berhenti tepat di kaki bangku kedua orang tua dan adiknya tapi untung posisinya terbalik atau gambarnya ada dibawah, saat dia akan mengambilnya dia kalah cepat dengan Rose yang sudah lebih dulu mengambilnya dan membalik foto itu untuk melihat apa gambar dari foto itu

Rose gemetar seketika saat melihat foto itu, matanya terasa panas dan bendungan air mata mulai berkumpul di matanya, nafasnya pun sudah tidak beraturan, dadanya sesak dan sakit sekali
Gavin dan Nichol yang melihat perubahan raut wajah Rose langsung berdiri dan melihat foto yang di pegang Rose
semuanya terdiam dan tiba tiba mejadi hening, Adam merutuki dirinya sendiri yang ceroboh menyimpan foto itu di dalam berkasnya saat kemaren buru buru keruang meeting, dia berjalan mendekati Rose yang sudah menangis tanpa suara air mata mami nya itu sangat melukai hati Adam
"mam" ucap Adam lirih, Nichol merangkul pundak Rose yang bergetar karena menahan tangisannya, sedangkan Gavin mengambil foto itu dari tangan Rose, dia menatap rindu foto itu tanpa sadar air matanya juga lolos seketika namun dia menyekanya dengan cepat
"mam maafin Adam, Adam gak ada niatan bikin mami sedih dan mengingat masalalu" ucap Adam dengan nada beratnya menahan mati matian air matanya agar tidak jatuh
Rose langsung memeluk Adam meremas dengan kuat kaos bagian punggung anaknya itu dan menangis sejadi jadinya di pelukan Adam, Adam mengeratkan pelukannya kepada Rose, dia ikut sakit melihat Rose seperti ini
"hikss,, hiks,,, putriku" lirih Rose di sela sela tangisnya, Adam memejamkan matanya dan air mata nya jatuh begitu saja
Nichol hanya terdiam melihat keluarganya menangis lagi karena masalah yang sama, dia juga ingin menangis tapi rasanya air matanya sudah habis hanya sisa sakit yang membekas sampai sekarang, sampai disetiap malam ayah dari Adam itu selalu memandangi foto yang sama saat Rose tidur agar tidak membuat Rose sedih
Gavin langsung masuk kedalam rumah membawa foto seorang bayi perempuan itu, dia meremasnya sambil berjalan ke kamarnya, dia rindu, rindu adiknya, adik yang baru dua hari dilahirkan tapi sudah pergi entah kemana hanya foto ini yang menjelaskan bahwa dia mempunyai adik perempuan karena pada saat kejadian na'as itu usianya masih 2tahun, tapi tidak bisa di pungkiri bahwa dia juga merasakan kehilangan sama seperti anggota keluarga lainnya hanya saja dia diam karena dia tidak ingin membangunkan kesedihan maminya
ditaman Rose masih terus menangis di pelukan Adam sampai kaos putih Adam basah di bagian dadanya
"maafin aku mam" lirih Adam mengelus punggung Rose, Rose melepas pelukannya dan menangkup wajah Adam
"hiks, kamu gak salah sayang, maafin mami gara gara mami kalian harus diam diam menyembunyikan kerinduan kalian kepada putri kecil mami karena takut mami histeris lagi, maafin mami sayang"
Adam menggeleng keras, Rose tidak salah seorang ibu yang mengandung 9bulan dan berjuang antara hidup dan mati lalu kehilangan anaknya akan merasakan hal yang sama dengan Rose bahkan ada yang sampai gila, Adam tidak menyalahkan Rose hanya saja mereka diam karena kasihan jika Rose selalu menangisi putri mereka yang hilang di culik orang
FlashBack On
Nichol mondar mandir diruang operasi, didalam sana istrinya sedang memperjuangkan hidup dan matinya demi anak ke empat mereka
Adam dan Dirga anak pertama dan kedua mereka duduk di bangku tunggu juga tidak kalah risau dan bahagia karena sebentar lagi mereka akan mempunyai adik perempuan, Gavin yang masih berusia 2tahun harus ditinggal dirumah dengan baby sisternya
Lampu berubah menjadi hijau, Adam dan Dirga berdiri di samping dady nya menunggu dokter yang menangani Rose keluar
'Ceklek' pintu terbuka dan keluarlah dokter perempuan dengan pakaian serba hijau, dokter itu menurunkan masker di mulutnya lalu tersenyum
"selamat pak, anak bapak perempuan dan sangat cantik, ibu dan putri bapak juga selamat"
Nichol terharu mendengar ucapan dokter itu, dia menitihkan air mata bahagianya dan mengucap syukur sebanyak banyaknya
"terimakasih dok" jawab Nichol menyalami tangan dokter itu dengan gemetaran
"yeyy aku punya adiikkk" teriak Adam kegirangan
"adik ku itu bang !" protes Dirga menarik ujung baju Adam
"adik ku lah !" kekeh Adam tidak mau kalah
"dady, di dalam sana adiknya dirga kan ?" tanya Dirga dengan wajah polosnya sambil menunjuk pintu ruang oprasi
"bukan bukan, adiknya Adam kan dady" tanya Adam tak mau kalah dengan adiknya itu
Nichol tersenyum haru lalu merangkul kedua putranya yang tingginya hanya seperut Nichol di kiri dan kanan
"didalam sana adalah adik kalian berdua, dan juga adik Gavin" jawab Nichol dengan senyum yang tidak pernah luntur semenjak dokter membawa kabar bahagia itu
"aku tidak mau Gavin dady, dia cerewet bagaimana kalau Gavin kita berikan saja kepada orang lain, kita kan sudah punya adik baru" usul Dirga dengan wajah polos dan menyebalkannya , Nichol tertawa mendengarnya mana bisa dia memberikan salah satu putra kesayangannya kepada orang lain, ada ada saja putra keduanya ini
"tidak boleh begitu sayang, Gavin dan adik yang didalam tetap adik kalian berdua, kalian harus berjanji menjaga dan menyayangi mereka dengan baik ya" ujar Nichol menasehati Adam yang masih berusia 8tahun, Dirga 7tahun
kedua putra Nichol itu lalu mengangguk beberangan, Nichol mencium pipi kedua putranya dengan sayang, keluarganya sangat lengkap sekarang ada istri terhebatnya, putra putra pintar dan cerdas serta putri cantiknya yang baru launching
****
Kini Nichol sedang menggendong putri pertamanya, wajahnya sangat cantik hidungnya mirip dirinya dan bibirnya mirip Rose walau lebih mungil bibir anaknya, dia menyuruh suster untuk mengabadikan momen disaat jari nya dan jari Rose di genggam oleh putrinya itu
"lihatlah Rose dia sangat cantik sepertimu" ucap Nichol disamping Rose yang sedang di periksa tensi darahnya
Rose menoleh dan tersenyum melihat putrinya terlelap di gendongan ayahnya
"kemana ketiga putra kita?" tanya Rose saat menyadari tidak ada Adam, Dirga dan Gavin
"mereka masih perjalanan kesini Rose"
"apa kamu sudah menyiapkan nama untuk putri kita Nic" tanya Rose serasa mengambil alih putrinya untuk di susui
"sudah, dan akan aku umum kan besok saat Papi dan Mami sudah sampai disini" jawan Nichol dengan senyuman bahagianya
"kasih tau aku Nic !" paksa Rose
Nichol mengeluarkan benda bertuliskan nama anaknya dan dia menunjukkannya kepada Rose
"Queena --" ucapan Rose terhenti saat ketiga putranya masuk dengan tingkah menggemaskannya
"Mamiii !!"
"Dady !!!"
"Maaamm !!" teriak Gavin yang masih di gendongan maid
teriak ketiga putra Nic, yang langsung membuat Nic dan Rose mengalihkan pandangannya
"Haii pangeran pangeran ku" sapa Rose dengan sumringah melihat ketiga putranya datang
"mana adik ku !" pinta Adam dengan semangatnya mengulurkan kedua tangannya seakan meminta adik perempuannya untuk diberikan
"Adam masih kecil gak boleh gendong adik nya nanti jatuh" tegur Nichol pelan
"tapi aku ingin menggendongnya" lesu Adam dengan raut wajah sedih
"naiklah sayang, kamu bisa memangkunya" sarkah Rose yang tidak tega melihat wajah sedih putranya
"yey !!" pekik Adam girang lalu naik ke atas ranjang Rose yang memang besar
"kalau aku apa boleh mami?" tanya Dirga dengan pupy eyes nya
Rose terkikik geli melihat betapa lucunya saat Dirga meminta sesuatu
"boleh sayang, naik juga duduk di samping abangmu nanti gantian ya" jawab Rose
Dirga pun memekik heboh lalu naik ke ranjang juga, duduk bersila seperti Adam
Rose menaruh putrinya yang di gedong di pangkuan Adam dengan sangat hati hati, setelah posisinya pas Rose menahannya agar tidak terjatuh sedangkan Adam sangat hati hati memegang badan adik kecilnya, dia tidak ingin melukai atau sampai menjatuhkan adik kesayangan ini
Gavin yang juga ingin bergabung melihat adiknya pun memberontak, dan maid menaruh Gavin di samping Adam juga
"lihatlah Dir dia mirip aku " seru Adam heboh melihat wajah adiknya yang menurut Adam mirip dirinya
"tidak, tidak ! dia mirip mami, dia cantik" kata Dirga tertawa girang memandang adik dan maminya bergantian
Nichol merangkul Rose yang sedang memegang putrinya dari samping, dia tersenyum bahagia melihat keluarganya utuh dan bahagia
"Jangan cerewet seperti Gavin ya dek, nanti kakak buang !" titah Adam tiba tiba membuat yang lainnya tertawa sedangkan Gavin hanya diam tidak mengerti
"dan jangan semenyebalkan seperti bang Adam nanti kakak jewer !" celetuk Dirga tiba tiba
"siapa yang menyebalkan !" sewot Adam melirik Dirga tajam
"abang !!" tuduh Dirga tanpa rasa takut sedikitpun
"sssst jangan berantem nanti adiknya nangis" tegur Rose pelan di sela tawanya
"aku akan menjaganya mam, akan ku tendang siapa saja yang menyakitinya" ucap Adam tulus sambil mengelus pipi merah adiknya
"aku juga ! aku akan menjaganya juga mam" ucap Dirga tak mau kalah
Rose dan Nichol hanya saling pandang dengan senyuman bahagia
****
"CEPAT KERAHKAH SEMUA ANAK BUAH KU !!!!!" bentak Nichol lewat sambungan telfon , suasana menjadi mencekam saat putri nya tidak ada diranjang tidurnya, CCTV rumah sakit juga di sadap, Rose waktu kejadian juga sedang tidur, Nichol mengurus administrasi kepulangan sedangkan ketiga putranya dirumah
dia saat ini sedang kalang kabut semua bawahannya di kerahkan untuk mencari putrinya yang diculik, iyaa putri yang baru dua hari lalu lahir sekarang dibawa orang entah siapa, Rose menangis meraung raung sambil di tenangkan oleh mama dan mami mertuanya, sedangkan ayah dan ayah mertuanya juga ikut menyuruh orang orang handal untuk mencari cucu mereka, mereka baru sampai dirumah sakit dan dikejutkan dengan banyaknya polisi yang mengepung rumah sakit, serta banyak anak buah Nichol yang bersiap akan pergi
"Putriku !!!!!! putriku Nic, mana putri ku !!! mana !!!!!" jerit Rose sambil mengacak ranjang dimana putrinya tadi ditidurkan
Nic segera memasukkan hp nya dan langsung merangkul Rose yang terus memberontak
"mana putriku !!! mana Nic ! bawa dia kesini, bawaaa Nic ,hiks hikss" ucap Rose lagi dengan isakan tangisnya yang memilukan
"tenanglah sayang" bujuk Nic memeluk erat tubuh istrinya yang terus memberontak seperti orang kesetanan
"tidaakk !!! kembalikan putriku !! siapa yang membawanya Nic ! kenapa dia jahat sekalii !! bawa putriku Nic, BAWA !!!! hiks hiks hiks,,, bawaaa Nic"
Nichol menitihkan airmatanya melihat istrinya sehisteris ini , dia juga tidak tau dimana dan siapa yang menculik putrinya, siapa yang sudah bermain main dengannya, dia berjanji akan membunuh siapa saja yang membawa putrinya
Mami Nic dan mama Rose juga tak henti hentinya menangis, mereka belum melihat wajah cucu mereka tapi sudah di culik orang tak punya hati, apa salah putri kecil mereka sehingga tega melakukan hal keji ini
sejak kejadian itu Rose selalu mengurung diri dikamar, menangis dan menangis bahkan dia sampai dibawa ke psikiater karena selalu merebut bayi orang lain saat di gendong ibunya di mall, atau dijalan sekalipun, ketiga putra mereka tak kalah sedih dan histeris bahkan Adam mencari sendiri adiknya dengan berjalan kaki dan berteriak
"QUEEN !!! QUEEN !!!"
Adam sampai pingsan di jalanan karena berjalan sangat jauh dari rumah sambil membawa foto adiknya waktu baru lahir
keluarga itu hancur setelah kejadian itu , Adam menjadi pendiam, Dirga tidak sejahil dulu dan Gavin selalu menanyakan dimana adiknya yang berujung membuat semua keluarga menangis, si penculik sangat lah licik dan pintar seperti ada seseorang yang membantu penculik itu melarikan diri, menyadap CCTV, menipulasi identitas sehingga sangat sulit bagi Nichol dan para hacker handalnya untuk menembus pertahanan lawan untuk mengetahui lokasi penculio tersebut
bahkan dia juga pintar mengalihkan pelacakan, yang awalnya titik ada di B dan saat para bodyguard Nichol kesana ternyata kosong dan mereka lari dari titik yang lain
Flashback Off