Bagian 3 – Rindu

1916 Words
Bagian 3 – Rindu ❀✿•♥•✿❀   Sebulan kemudian… Pov’s Raka.   Aku memandangi wajah Anita yang masih terlelap dalam tidurnya, kondisi Anita sudah semakin membaik, walaupun masih harus menjalani perawatan. Wajah pucat Anita sudah tersamar oleh make-up tipis di wajahnya. Beberapa detik lagi, wanita ini akan menjadi istriku kembali. Sungguh aku sangat senang dia menjadi istriku kembali, tetapi di lain sisi hatiku terasa berat menikahinya kembali. Kenapa harus dengan cara seperti ini aku menikahinya kembali? Aku menikahinya saat dia sedang melupakan ingatannya dan dia baru saja di tinggal oleh suaminya untuk selamanya.  Bagaimana jika aku sudah menikahinya, dia mengingat semuanya? Apakah aku siap?   "Bagaimana apa anda sudah siap?" tanya Paman Anita yang bernama Erwin berada di hadapanku membuyarkan lamunanku.   Aku mengangguk pelan dan menjabat erat tangan Erwin. Ya yang menjadi penghulu di pernikahan ku dan Anita adalah paman Anita, sejujurnya keluarga Anita tidak menyetujui jika Anita menikah denganku kembali. Mereka tidak ingin aku menyakiti hati Anita kembali. Tetapi ibuku menyakinkan semua keluarga Anita, bahwa aku telah berubah dan ibuku yang menjamin bahwa aku tidak akan lagi menyakiti hati Anita. Namaku sudah tercoreng di mata keluarga Anita, mereka semua membenciku.   Lalu aku memandangi ibuku yang menangis tertahan di sampingku. Sedangkan Ibu Anita dia tidak berada di ruangan ini, dia tidak sanggup melihat aku menikahi anaknya kembali. Hanya Beberapa Dokter dan Suster yang menjadi saksi di pernikahan kami.   "Saudara Raka Pratama Bin Ferri Pratama, saya nikahkan dan saya kawinkan Engkau Dengan Anita Zahra dengan mas kawinnya berupa perlengkapan alat shalat dan dan uang sepuluh juta seratus sebelas ribu rupiah dibayar tunai." Seru Erwin keras menjabat erat tanganku.   Aku memandangi Anita sesaat, Bismillah... "Saya Terima Nikahnya Dan Kawinnya Anita Zahra Binti Denny Dermawan dengan mas kawinnya yang tersebut Tunai." Ucap ku lantang.   "Bagimana sah?" tanya Erwin kepada semua saksi, semua langsung mengatakan sah. Dan kami semua langsung mengucapkan Alhamdullilah.   Aku langsung menghusap kening Anita dan mencium keningnya lembut, sekarang aku sudah menjadi suami Anita kembali. Senyumku mengembang tipis, rasanya hatiku sangat bahagia bisa menikahi Anita kembali. Menikahi wanita yang masih sangat aku cintai hingga saat ini.   Anita aku berjanji kepadamu aku tidak akan pernah menyakiti hatimu lagi, aku akan selalu membuatmu bahagia. Aku berjanji Anita.   "Raka," panggil Ibuku, aku langsung memeluk ibuku yang sudah hampir menangis. "berjanjilah pada mama Raka kamu tidak akan pernah menyakiti Anita lagi," ucap ibuku dengan nada memohon.   Aku melepaskan pelukan ibuku, "Aku berjanji demi Allah aku tidak akan pernah menyakiti hati Anita lagi ma, aku akan selalu menjaganya dan membuatnya bahagia." Kataku bersungguh-sungguh.   "Kamu sudah bersumpah atas nama Tuhan, jagalah keponakanku. Jika kau menyakitinya lagi karma Tuhan akan datang lebih keji kepadamu." Ucap Erwin dengan penuh penekanan dan pergi dari hadapanku dan ibuku.   Aku hanya terdiam memandangi paman Anita itu. Aku tahu Paman Anita masih sangat marah dan kecewa denganku. Dialah orang pertama yang menentang aku untuk menikahi Anita kembali.   Tidak lama para Dokter dan Suster memberi selamat kepadaku atas pernikahan ini. Aku hanya tersenyum penuh arti dan membalas ucapan mereka satu persatu. Hatiku benar-benar bahagia saat ini.   ❀✿•♥•✿❀ Sementara itu,   Langkah mungil itu terus berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Dia terus berlari sambil membawa piagam penghargaan yang baru saja ia raih, dia ingin segera memperlihakan kepada ibunya. Gadis itu sangat merindukan ibunya Anita , baginya hanya  Anita yang dimiliki saat ini. Sejak ayahnya Benny dan adiknya Deva meninggalkannya dia merasa sendiri dan kesepian. Kedua neneknya tidak peduli kepadanya, dari dulu kedua neneknya memang tidak pernah peduli dengannya. Hanya Anita, Benny dan Deva yang menyayanginya. Kehilangan papa dan adiknya membuatnya sedih, belum lagi dia harus melihat ibunya masih terbaring lemah di rumah sakit membuat hatinya semakin sedih.   Semua kenangan indah bersama keluarganya terbayang diingatannya, jauh di dasar hatinya ingin mengulang waktu bahagia itu. Waktu bahagia ketika papa, mama dan adiknya masih bersamanya.   Tapi langkahnya terhenti ketika melihat di kamar ibunya banyak sekali orang, jantungnya seakan berhenti dia takut sesuatu terjadi kepada ibunya. Airmata gadis itu kembali jatuh ketika dia melihat orang yang dia tahu adalah pamannya menikahi ibunya.   "Menikah?" tanyanya kepada dirinya sendiri dengan kening berkerut. "kenapa Om Raka menikah dengan mama?" tanyanya kembali dengan wajah bingung.   Gadis itu langsung pergi dari tempat itu sambil menyeka airmatanya, melihat pemandangan itu sangat menyakitkan hatinya.   ❀✿•♥•✿❀   Beberapa jam kemudian...   Anita menatap kosong luar jendela, jarinya menusuk-nusuk roda dari kursi roda yang dia pakai saat ini. Wanita itu tersenyum samar ketika melihat seseorang sedang berlari.   "Mama..." panggil seseorang membuat Anita menoleh. Anita mengerutkan keningnya ketika melihat seorang anak berseragam sekolah sambil membawa piagam dan airmata menetes diwajahnya. Tiba-tiba dia langsung memeluk Anita, Anita hanya memandanginya heran, "Mama aku kangen banget sama Mama..." Isaknya. "Ma, lihat aku menang juara Fisika dan ini piagamnya ma." Ucapnya memperlihatkan piagamnya di hadapan Anita.   Anita menatapnya bingung dengan pandangan tidak mengerti, "kamu siapa?" tanya Anita heran.   "Aku Khansa Ma..." seru Khansa parau. Hatinya sangat sakit ketika ibunya tidak mengingatnya.   "Khansa?" tanya Anita membuat Khansa mengangguk mantap, "aku tidak mengenalmu..." Ucap Anita kemudian membuat Khansa tertegun.   "Ma, aku Khansa anak Mama..." Katanya lirih.   "Maaf tapi aku tidak mengenal kamu..."  balas Anita tersenyum tipis.   Khansa kembali menangis ketika mendengar perkataan ibunya yang sama sekali tidak mengenalnya. Khansa menggengam lembut tangan Anita dan mengecupnya, Anita hanya memandangi anak itu dengan kening berkerut.    "Ma, walaupun mama melupakan aku, aku akan tetap selalu menyayangi Mama. Ma, aku sangat takut mama akan meninggalkan aku. Hanya mama yang aku punya saat ini." Ucapnya lirih dan merebahkan kepalanya dipangkuan Anita.   "Aku tidak mengenal kamu. Mungkin kamu salah orang." Ujar Anita, Khansa mengangguk mengerti, hatinya sangat sedih ketika Anita mengatakan itu.   "Khansa..." panggil seseorang membuatnya menoleh. Dilihatnya Raka sedang berdiri di ujung pintu, "Om, ingin bicara padamu." Ucap Raka dan memberi kodenya kepada anaknya untuk keluar dari ruang inap Anita   Kemudian  Khansa langsung pergi keluar ruang kamar Anita dan berjalan mengikuti Raka, "Ada apa Om?" tanya Khansa saat mereka berada di sebuah taman.   Raka menggengam bahu Khansa, "Nak, om minta kamu jangan bicara apapun kepada mama kamu. Kamu tahu kan dia melupakan sebagian ingatannya?" tanya Raka membuat Khansa mengangguk. "Om tidak ingin terjadi sesuatu kepada mama mu."   "Lalu kenapa om menikahi mama ku, jika mama melupakan ingatanya?" tanya Khansa dengan wajah penasaran membuat Raka terdiam, "Kenapa Om?" tanya Khansa kembali. Dia sungguh tidak mengerti kenapa Raka menikah Anita ibunya.   Raka menghela napas, "Ada satu hal yang tidak bisa om cerita ke kamu," jawab Raka memandangi Khansa. "Jadi om mohon, kamu jangan katakan apapun kepada mama-mu sampai dia benar-benar pulih." Pinta Raka, Khansa langsung mengangguk mengerti dengan perkataan Raka.   Raka tersenyum dan mengacak lembut rambut Khansa, kemudian Raka pergi dari hadapan Khansa yang masih terdiam memandanginya.   Lalu Khansa berjalan pelan, dia ingin kembali menemui ibunya di kamarnya. Namun, diurungkan niatnya itu ketika melihat Raka pamanya menggendong tubuh ibunya Anita dari kursi roda ke ranjang tempat tidur. Khansa merasa ada yang aneh dengan semua ini.   "Apa yang telah terjadi?" tanyanya kepada dirinya sendiri. Dia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh semua orang darinya.   ❀✿•♥•✿❀   Dua minggu kemudian... Pov’s Raka…   Aku baru saja tiba di kediaman lamaku. Lalu aku membuka bagasi mobil dan menurunkan kursi roda, aku membuka lipatan kursi roda itu dan mendorongnya ke depan pintu mobil. Kemudian aku membuka pintu mobil pelan, aku tersenyum memandangi Anita yang sedang menatapku dengan pandangan sulit diartikan.   Kemudian aku menggendongnya dan menurunkanya di kursi roda. Aku mendorong pelan kursi roda kearah pintu rumahku. Napasku berhembus kencang sambil memandangi sekeliling rumah ini, sudah lama aku tidak kembali ke rumah milikku. Lalu Aku membuka pelan pintu rumahku, wangi lavender langsung menusuk hidungku. Aku sangat merindukan wangi ini, wangi yang selalu Anita berikan di setiap sudut rumah ini.   Aku membawa Anita kembali kerumahku yang dulu atas permintaan Ibuku, karena rumahku ini tidak pernah diubah furniture-nya dan foto pernikahan aku dan Anita juga masih terpajang rapi di dalam.   "Mas..." panggil Anita ketika kami sudah berada di dalam rumah. "Tania kemana Mas?" tanyanya membuatku terkejut.   Ya Tuhan Aku hampir saja lupa, Anita masih mengingat kalau Tania masih menjadi istriku. Kemudian aku berlutut di hadapannya, "Tania, dia pergi entah kemana ketika kamu kecelakaan. Dia bilang dia membenciku." Kataku membuatnya mengerutkan keningnya.   "Mas, kamu tidak mencarinya?" tanya Anita membuatku menggeleng. "Kenapa kamu tidak mencarinya? Kamu kan sangat mencintai Tania." Ucapnya, membuatku tertunduk. Aku tidak tahu harus beralasan seperti apa kepada Anita. Aku tidak ingin terlalu jauh berbohong kepadanya.   "Dia sudah tidak mau bersama ku lagi dan dia sudah menceraikanku." Kataku akhirnya.   Anita menatapku tidak percaya. "Mas, aku ingin bertemu Tania. Seharusnya aku yang pergi bukan dia mas yang pergi dari sini." Ujarnya sambil memegang bahuku. "Mas, cari Tania mas! Dia tidak boleh pergi mas, dia sangat mencintaimu!" Ucapnya dengan wajah panik.   "Anita, aku tidak tahu sekarang dia berada dimana..." kataku merengkuh wajahnya.   "Mas, kamu mencintainya kan? Kenapa kamu tidak berjuang mencarinya?" tanyanya membuatku kembali terdiam. "Dia mencintai kamu mas, cari dia mas..." pintanya lirih, aku hanya menggeleng pelan.   "Anita, Tania sudah tidak mencintaiku lagi. Aku juga sudah tidak mencintainya." Balasku dengan hembusan napas.   "Kenapa?" tanyanya heran.   "Karena aku sangat mencintaimu Anita, sekarang, esok, nanti dan selamanya..." kataku memandanginya dalam. Anita menatapku tidak percaya. "Aku mencintai kamu Anita..." Ulangku pelan, aku ingin dia tau perasaanku selama ini kepadanya. Aku tidak bisa menahan untuk tidak mengatakanya. Bertahun-tahun aku memendam perasaanku untuknya.   Anita menangis tertahan, "Aku sudah tidak mencintaimu lagi mas, maaf..." katanya lirih, aku menghusap airmatanya yang jatuh.   Aku tidak peduli dia mencintaiku atau tidak, yang aku inginkan sekarang aku akan membuatnya bahagia agar dia kembali mencintaiku. Aku langsung memeluk erat tubuh Anita, mataku terpejam  karena bisa merasakan memeluk wanita itu kembali. Anita mendorong tubuhku pelan sehingga pelukanku kepadanya terlepas.   "Mas tolong jangan seperti ini... kamu membuatku bingung." Ucapnya dan pergi dari hadapanku.   Aku hanya memandangi punggungnya lirih yang sedang mendorong kursi roda dengan kedua tangannya.  Aku dan Anita memang sudah menikah, tapi pernikahan ini tidak akan pernah bisa bahagia karena Anita tidak mencintaiku.   ❀✿•♥•✿❀   Pov’s Anita…   Aku mendorong kursi roda yang ku pakai dengan kedua tanganku, sekali-kali aku menyeka airmataku. Kemudian aku membuka pintu kamar Benny, aku sangat butuh dia disaat seperti ini. Aku masuk ke dalam kamarnya. Namun, kamar Benny kosong. Aku langsung menuju lemari pakaian dan membuka pintu lemari itu, tetapi di sana tidak ada satupun pakaian milik Benny.   Benny dia pergi kemana? Sejak aku kecelakaan dia tidak pernah datang menjengukku, kenapa dia tidak ada kabar? Apa dia meninggalkanku karena aku lumpuh?   "Benny! Ben..." teriakku memanggil namanya. Aku mengarahkan kursi roda ke pintu kamar mandi dan mendorong pintu itu tapi tetap aku tidak menemukannya. Aku langsung menangis sejadi-jadinya, entah kenapa aku ingin sekali bertemu dengan Benny. Aku sangat merindukannya, benar-benar merindukannya.   ❀✿•♥•✿❀   Raka yang melihat Anita menangis hanya memandanginya dari ambang pintu kamar yang pernah dipakai oleh Benny. Hatinya terasa sakit melihat Anita menangis ketika mengingat Benny. Walaupun Anita melupakan ingatannya, hati wanita itu tetap untuk Benny.   Kemudian Raka menghampiri Anita yang sedang menangis, tangan kanannya menyentuh bahu wanita itu. Anita kontan mendongakan kepalanya, lalu ia menyingkirkan tangan Raka dari bahunya. Raka menghela napasnya ketika Anita memperlakukannya seperti itu.   Lalu Anita kembali pergi dari hadapan Raka, Pria itu hanya menatapnya dengan hati terluka.   Tuhan, hukuman darimu sangat menyakitkan. Seperti ini kah rasanya jika perasaan cinta kita di abaikan? Dulu aku sering mengabaikan hatinya, tetapi kini aku yang di abaikan olehnya. Rasanya sangat sakit Tuhan… Batin Raka tertunduk lirih.   ❀✿•♥•✿❀
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD