Tawa renyah memenuhi ruangan tersebut membuat siapa saja yang berada di sana akam senang dan ikut tertawa. Tapi semua itu tidak berlalu untuk kedua pemuda tampan yang berada di sana. Percakapan tiga orang wanita itu sama sekali tidak membuat mereka bahagia. Keduanya berdiri sambil bersandar di pinggiran balkon dengan wajah gelap. Hari sudah senja dan ketiga wanita itu tidak terlalu peduli. Mereka terus bercakap-cakap dengan seru hingga matahari hampir terbenam. Warna oranye di langit semakin lama berubah semakin gelap, hampir terlihat seperti awan tersebut terkena tetesan darah. "Sampai kapan mereka akan duduk disana?" Damarion bertanya dengan suara pelan. Ia sudah berdiri disana selama beberapa jam. "Kita tunggu sebentar lagi." Reynald menggertakkan giginya. Seharusnya kemarin dia

