Chap 12

1262 Words
Bella berjalan di lorong istana sambil bersenandung pelan. Dia ingin mengunjungi taman bunga di halaman belakang untuk menanam bunga Kristal dari kerajaannya. Bruk... Bella menabrak seseorang hingga terjatuh. Bella mengulurkan tangannya menawarkan bantuan. "Ah, maaf aku tidak sengaja menabrakmu. " Adriana mendongak melihat seorang gadis cantik yang tersenyum ke arahnya. Dia menerima uluran tangan tersebut. "Tidak apa-apa, lagi pula aku yang bersalah karena tidak berhati-hati." "Aku baru melihatmu dan dari pakainmu kau seorang putri. Kau dari kerajaan mana? Namaku Bella Viona Avram, dari kerajaan Angle." Bella melihat penampilan Adriana dari atas hingga bawah. "Ah, aku bukan seorang putri. Aku matenya Reynald, dan aku half demon. Namaku Adriana Graciela Elizabeth." Adriana memperkenalkan dirinya. "Kalau begitu kau seorang rakyat biasa?" "Bukan, aku tinggal di dunia manusia dan tidak sengaja masuk ke portal dan bertemu dengan Reynald. " "Kalau begitu kau adalah kakak iparku. " Bella menggangguk mengerti lalu mereka berdua tertawa. "Nona, anda dari mana saja? Saya mencari anda. Ini sudah waktu makan siang dan pangeran menyuruh saya untuk menyiapkan makan nona. " Riri terlihat berlari menghampiri Ana. "Aku hanya ingin ke perpustakaan saja. Bawakan saja makanku ke perpustakaan. Oh iya, Bella apa kau mau ikut?” "Tentu, kalau begitu ayo. " Bella melupakan tujuan awalnya dan mereka berjalan ke arah perpustakaan. "Adriana, apa kau tahu bahwa besok Raja,Ratu, dan para putri dari istana wizard akan datang ke sini?” Bella memberitahukan berita yang didengarnya. "Aku tidak tahu, memangnya kenapa?” Adriana terlihat cuek. "Aku mendengar bahwa salah satu putri menyukai Reynald." Bella sedikit menurunkan nada suaranya. "Rey tidak akan menyukainya." Adriana tidak suka berita yang di dengarnya dan ia tidak rela jika Reynald bersama orang lain. ***** Di gerbang kerajaan berdiri Lord Livian dan Queen Clarissa menunggu kereta kencana milik kerajaan Wizard sampai. Wajah Queen Clarissa sedikit ditekuk karena kejadian kemarin. Saat dia sampai diaula aula utama bau darah sangat menyengat dan putranya berdiri di tengah-tengah genangan darah miliknya sendiri. “Queen.” Lord Livian memanggil dengan sedikit memelas. “Diam!” Queen Clarissa melirik dengan sinis suaminya. Jika suaminya ingin menghukun Reynald setidaknya dia harus mengetahuinya. Dua buah kereta sampai di kerajaan Lucifer. Pasangan suami istri turun dari kereta pertama di susul dengan tiga putri cantik dari kereta ke dua. "Selamat datang di kerajaan Lucifer Raja, Ratu, serta Putri-putri dari istana Wizard. " Lord Livian menyambut mereka. "Terima kasih atas sambutannya Lord Livian dan Queen Clarissa." Lord Alvian mengangguk singkat dan kedua raja itu bersalaman. "Silahkan masuk. Jika para putri ingin berjalan-jalan silahkan saja." Queen Clarissa bersikap ramah. Tapi sebenarnya dia ingin sekali mengumpat. "Tentu aku akan jalan-jalan, apa kalian akan ikut. " Putri Valerie mengajak ke dua adiknya. "Tidak kakak saja, kami akan bersama ayah dan ibu. " putri ke dua menjawab dan mendapat anggukan dari putri ke tiga. "Ya sudah kalau begitu, aku akan jalan-jalan dulu. Saya permisi Lord Livian dan Queen Clarissa." Valerie memberi salam lalu pergi. "Mari silahkan masuk." Lord Livian mempersilahkan mereka masuk. ***** "Pangeran, maaf jika saya lancang. Tapi apakah anda akan melakukan ritual pembangkit itu?" Brain bertanya hati-hati, ia takut salah bicara dan membuat junjungannya marah. "Ya, tapi aku akan membuatnya menjadi demon seutuhnya. Aku akan memberikan darahku padanya." Reynald sibuk memeriksa tumpukan kertas didepannya. "Lalu kapan anda akan melakukan upacara tersebut?" "Aku akan menunggu sampai Adriana siap." Reynald meletakan pulpen bulunya. "Satu hal lagi Brain, kau saja yang memeriksa seluruh hutan. Aku sedang malas kemana-mana dan jangan lupa seluruh tugas milikku kau kerjakan. Nanti aku akan memeriksanya. " Setelah itu Reynald pergi meninggal istana utama punggungnya masih sedikit sakit karena bekas cambukan kemarin. "Hah...pangeran selalu saja. " Brain menghela nafas dan pergi menggunakan teleport untuk memeriksa hutan. ***** "Riri, aku ingin memakai baju milikmu. Miliku sangat berat dan terlalu glamor. " Adriana mengeluh saat baju yang di pakainya terasa sangat berat. Ia melihat model gaunnya berwarna blue black dengan motif bunga Mawar dan tanpa lengan yang melekat pas di tubuhnya.  "Maaf nona, tapi pangeran sudah menyiapkan gaun ini untuk di pakai nona karena akan ada tamu dari kerajaan lain. " Riri mencoba membujuk Adriana. "Sekarang ayo ke kamarmu, aku ingin melihat baju milikmu." Adriana yang memang keras kepala ngotot ingin menggunakan gaun sederhana milik Riri. Sampai di sana Adriana langsung memilih pakaian yang ia suka. Ia memilih gaun berwarna hijau dengan renda di bagian d**a, lengan, dan bawah bajunya lalu di hiasi beberapa pita.  "Nona, pangeran akan marah bila anda memakai pakaian ini. " Riri terlihat sangat takut. "Rey tidak akan marah. Kalau begitu kita pergi. " Adriana berjalan di depan. Adriana melihat dari kejauhan seorang gadis dengan pakaian yang kurang bahan. Terlihat bahwa gadis itu seorang putri. Dari gaunnya yang berwarna merah berpadu hitam lalu bagian kanannya robek sampai pinggang memperlihatkan paha mulus miliknya.  "Kalian, tunjukan di mana aula istana! " Valerie memberi perintah. "Anda bisa mencarinya sendiri karena saya tidak tahu letaknya." Setelah itu Adriana melangkah pergi tapi tertahan karena rambutnya di jambak. "Nona..." Riri menghampiri mereka dan mencoba melepaskan genggaman tangan Valerie dari rambut Adriana. "Diam, apa kalian tidak tahu aku ini siapa? " Valerie menepis tangan Riri "Memangnya anda siapa? " Adriana mencoba bersikap sopan walau Dewi batinnya menjerit ingin mencakar wajah putri yang memandang mereka remeh. "Kau tidak tahu, aku ini adalah tunangan dari pangeran Reynald." Valerie tersenyum miring. Degh... Entah kenapa hati Adriana terasa sakit sekali walau yang di katakan nya adalah bohong. Bagai mana bila Rey menerimanya? Lalu menjadikannya istri dan ia hanya menjadi selirnya saja begitu? "Anda tidak perlu berbohong seperti itu kepada saya dan saya sarankan anda segera bangun dari mimpi anda, karena pangeran Reynald tidak terlalu suka kepada seorang gadis lain kecuali 'mate' dan ibunya." Entah mendapat keberanian dari mana Adriana mengatakan itu dan ia juka menekan kata mate. "Dasar pelayan sombong dan tidak tahu diri. Kau harus mendapat hukuman karena tidak menjaga ucapanmu. " Valerie mengangkat tangannya dan keluar cahaya berwarna ungu yang mengarah kepada Adriana. Dengan cepat rRiri berdiri di depabnDengan cepat Riri melepaskan tangan Valerie dan dia berdiri didepan Adriana. Sayangnya keduanya terpental dan melayang hingga menabrak tembok. Bagian belakang kepala Adriana mengeluarkan darah karena benturan yang sangat keras. "PENJAGA PENJAGA..."Riri berteriak memanggil penjaga, lima orang penjaga datang dan menghampiri Riri. "Cepet bawa Nona Adriana ke kamar! " Salah seorang penjaga hendak membawa tubuh Adriana tapi tidak jadi karena sebuah teriakan menghentikannya. "APA YANG TERJADI? " Teriakan Reynald menggema di lorong istana. Valerie menghampiri Reynald dan bergelayut manja. "Reynald para pelayan itu sangat tidak sopan, maka dari itu aku menghukumnya." Gadis itu mengadu dengan nada manja. Melihat Adriana yang tidak sadarkan diri emosi Reynald naik sampai ubun-ubun. Ia sudah memiliki firasat buruk dan itu terbukti karena bau harum tubuh Adriana tercampur dengan darah yang sangat menyengat di penciumannya. Reynald membawa Adriana lalu pergi ke istana barat dan mengobati luka di kepalanya. Riri mengikuti Reynald pergi ke istana barat. Tubuhnya juga terluka tapi dia bukan manusia. "Ck, memangnya siapa dia sampai Reynald sangat perduli padanya? Kalian, tunjukan aula utama! " Valerie berdecak sebal. "Anda tinggal lurus saja lalu belok kiri di sana ada pintu putih yang berukiran emas." ***** "Baiklah langsung saja, kedatangan kami ke sini karena kami ingin membahas perjodohan putri kami Valerie dengan putra anda pangeran Reynald. " Lord Alvian memulai percakapan dan dengan tidak tahu malu langsung ke inti masalah. "Ya benar, putri kami sangat tergila-gila kepada putra anda. Saya tidak bisa meyalahkannya karena putra anda sangat tampan, hebat, kuat, berani, dan bijak sana." Queen Anggella terkekeh pelan. Muka Queen Clarissa berubah masam mendengar penjelasan Raja dan Ratu dari kerajaan Wizard tersebut. Tapi dia tetap tersenyum dan menghitung kerusakan tambahan yang akan muncul secara tidak terduga dikepalanya. "Maaf sekali, kami tidak bisa menyetujuinya. Putra kami sangat berpegang teguh pada pendiriannya. " Lord Livian mencoba membatalkan perjodohan ini. Ia sangat tahu jika putranya sangat mencintai matenya selain itu istrinya sudah menganggap Adriana putrinya sendiri dan pangeran kecil mereka Ernest juga sangat menyukai Adriana. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD