Seberat apa pun rasa rindu...
Tidak akan saling bertemu...
Jika tak saling melepas belenggu...
Terpisah... Rindu...
___
Moza berpikir semalaman ketika ia mengingat perkataan kakak iparnya.
Pagi ini setelah mengantar Kevin ke sekolah ia akan ke kantor Sam untuk bicara dan menunjukkan sesuatu yang menurutnya sangat penting kepada Sam.
Ia sudah memasuki gedung kantor PT Zaidan Faeyza Land Tbk yang sangat megah. Semua sudah mengenalnya itu sebabnya ia bisa sampai ke ruangan pemilik gedung ini dengan begitu mudah.
"Assalamu'alaikum..., pagi Kak Sam," ia menyapa ketika di ambang pintu ruangan Sam yang sepertinya sedang sangat serius di hadapan laptopnya dan setumpuk kertas di mejanya.
"Wa'alaikumussalam. Hai Za, selamat pagi. Ada apa pagi-pagi berkunjung ke kantor? Biasanya ke rumah." Sam mempersilahkan Moza untuk duduk.
"Sekalian habis antar Kevin ke sekolah, terus ke sini. Kalau aku sengaja minta waktu untuk ketemu Kak Sam, ya pasti susah. Ketemu orang sibuk."
"Nggak seperti itu kalau untuk kamu, Za. Kamu adik aku sampai kapan pun juga, kita tetap keluarga." Sam tersenyum, kemudian mengerutkan keningnya sebelum lanjut bicara. "Aku tau ini pasti ada yang sangat penting, sampai kamu tidak bisa lagi menunggu aku pulang ke rumah. Ada hal yang sangat penting yang ingin kamu sampaikan, kan."
"Tepat sekali. Tepatnya ... penting sejak sepuluh tahun lalu--"
Sam mencari sesuatu yang bisa ia mengerti dari kata-kata adik iparnya hingga senyum dibibirnya perlahan memudar, menjadi sebuah rasa penasaran yang teramat besar mendengar kata sepuluh tahun lalu.
"Moza, apa yang sedang ingin kamu sampaikan sekarang?" todongnya dengan suara pelan namun terdengar berat.
"Tepatnya setelah mendengar kata-kata penuh amarah Kakak kepada ... wanita yang mengantar Valery ke rumah aku kemarin. Um, siapa namanya, Zo...?" selidik Moza, mencoba mengingat nama wanita itu atau memancing reaksi Sam jika menyinggung nama itu.
"Zoya? Apa yang kamu tau dan tidak aku tau tentang dia?"
"Aku tau semua tentang kalian ... dari Kak Marwa. Semua." Bola mata Moza bergerak-gerak ke kanan dan kiri mencari sesuatu dari balik bola mata Sam, kakak iparnya yang ia ketahui tidak pernah mencintai kakaknya, Marwa.
Sam menengadah pasrah. "Artinya ... semua yang aku katakan kepada Marwa ... kamu tau?"
Moza menyilangkan kakinya, lebih menghadap kepada Sam. "Kak, aku tau kamu sangat menyayangi Kakak aku, Marwa. Dan sampai dia terkena penyakit... kanker p******a itu lalu meninggal, dia sangat tau bahwa dirinya hanya disayang, bukan dicintai. Tapi aku tau Kak Sam sudah berusaha membahagiakan Kak Marwa selama dia hidup. Aku nggak bisa marah ke Kak Sam. Karena perasaan itu nggak bisa dipaksakan atau pun dibohongi. Aku juga kagum pada kalian yang tetap bersama, Kak Marwa yang meminta Kak Sam jujur tentang siapa yang ada di mata dan hati Kakak. Dan Kak Marwa yang mengerti kesulitan Kak Sam untuk ... move-on."
"Tapi kamu tau kan, seandainya dia masih ada, aku tidak akan bisa menceraikannya hanya karena Zoya kembali."
"Iya Kak, aku tau itu. Meski mungkin alasan terbesar adalah... Valery. Tapi aku juga tau Kak Sam nggak akan sanggup menyakiti perasaan Kak Marwa yang sangat lembut. Aku rasa, andai dia masih ada di dunia ini, dia akan rela dimadu setelah bertemu Zoya." Moza terdiam, menahan sesuatu yang sudah hendak ia ucapkan. "Sekarang masalahnya Zoya kembali di saat Kak Marwa sudah nggak ada. Valery pun sangat membutuhkan seorang pengganti Ibu. Kak Sam juga jelas-jelas masih sangat... sangat ... cinta dengan dia." Moza bicara dengan sangat bijak dan hati-hati agar Sam dapat mengerti kondisi hatinya yang masih sangat mencintai Zoya dan putrinya membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Moza melihat karakter seorang ibu yang baik dari sosok wanita seperti Zoya. Itu yang terpenting baginya sebagai seorang tante dari Valery.
"Dia hanya kembali, Moza. Bukan hadir dalam hidup aku. Aku dan dia sudah bicara panjang lebar kemarin. Tidak ada yang bisa diperbaiki dari kami. Semua ... sudah berakhir sejak sepuluh tahun lalu. Aku tidak bisa memulainya lagi. Tidak bisa, Moza. Tidak--"
"Bisa, Kak." Moza tetap memaksa, ia tahu kakak iparnya hanya mempertahankan keegoisannya yang bagai dinding kokoh dan tinggi yang sulit dihancurkan.
"Tidak."
"Berusahalah."
"Percuma."
"Mulailah dari awal."
"Moza."
"Hanya dia yang Valery mau, dan Kak Sam cintai sampai kapan pun. Bahkan saat menikahi Kak Marwa Kakak nggak bisa berhenti mencintai Zoya."
"Dia tidak menginginkan aku lagi."
"Tapi Kakak menginginkan dia. Val membutuhkan dia. Berjuanglah."
"Dia sangat keras kepala Moza. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk meluluhkan hatinya kembali."
"Val bisa."
"Maksud kamu?" Sam semakin tidak memahami maksud dari perkataan Moza.
"Dia akan terus menuruti permintaan Val seolah dia adalah seorang ibu peri yang bisa mengabulkan segala keinginannya dengan sekejap mata.
"Oh, tidak. Aku nggak akan menggunakan Val sebagai alat. Itu tidak benar, Moza."
"Oke, baiklah. Kita tidak memperalat tapi... Val akan mengendalikan semuanya."
"Moza..."
Sam, Abrisam, tidak bisa lagi berkata-kata. Ia seperti terlempar kembali pada masa-masa bahwa Zoya adalah hal terindah yang ia temui. Hingga ia tersadar bahwa tak ada yang dapat menggantikan tempat di hatinya selain wanita itu. Wanita yang telah meninggalkan tempat istimewa di hatinya.
"Sebentar, aku hampir lupa karena keasyikan bicara." Moza mencari sesuatu dari dalam tas mungil yang ia bawa. Mengeluarkan handphone, kemudian dengan tidak sabar ia membuka sebuah video lalu dengan penuh minat ia berikan kepada Sam. "Ini menjadi bukti bahwa Val yang telah memulai semua ini."
"Apa ini?" Sam melihat video kejadian di pesta beberapa hari lalu yang mempertemukan Val pada Zoya.
"Kevin merekam kejadian itu dengan handphone-nya. Val yang cerdas dan selalu penasaran sengaja menumpahkan minum pada gaun Zoya hanya untuk mengetahui apakah Tante yang menurutnya cantik itu juga baik. Dan hasilnya mereka menjadi dekat."
"Oh Tuhan..., Valery... selalu saja!"
"Sekali lagi aku katakan, Valery akan mengendalikan semuanya."
"Moza ... aku tidak yakin."
"Kita lihat saja nanti. Siapa yang lebih cerdas, Kakak ipar aku atau keponakan aku?" Moza tersenyum puas, akhirnya bisa menyadarkan kakak iparnya. Kemudian bangkit dari kursi dengan wajah semringah "Baiklah, aku permisi sekarang, Kak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Oh ya, Moza, aku akan meeting di Bandung hari ini, mungkin akan pulang sore atau bahkan malam nanti."
"Oke Kak, aku tau apa yang harus aku lakukan, aku akan urus Valery. Aku akan menjemput dan mengurus keponakan aku tersayang."
Sam mengantar Moza hingga ke pintu. Menutup kembali pintu ruangannya dan mematung di sana untuk beberapa detik tanpa terasa.
Setelah cukup lama ia bergeming,
kemudian kembali ke sofa dan termenung di sana. Video kejadian di pesta itu berputar kembali di kepalanya. Di sana Zoya terlihat sangat anggun, sangat sempurna. Selalu sempurna di matanya. Terlebih lagi perlakuan Zoya kepada putrinya meski mereka baru pertama kali bertemu. Meski putrinya membuat kesalahan pada gaun indah milik wanita itu. Tapi dia..., dia selalu bersikap manis terhadap anak kecil. Terhadap siapa pun...
... Zoya, andai saja hari itu aku melihat dirimu yang begitu indah, aku tidak akan pergi ke mana-mana hanya untuk memandangmu dari jauh. Meski hanya dari jauh. Meski hanya diriku yang mengerti betapa kamu begitu berharga...
__
(Banda Neira : Hujan di Mimpi)
Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta ia kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah
Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari
Semesta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan
Atau perlahan menjadi lautan?
...
___
Cinta memang membahagiakan, seharusnya. Namun tak ada seorang pun yang mampu memprediksi seperti apa drama percintaan di hidupnya. Tidak ada satu hal pun yang selalu baik-baik saja di dalam cerita kehidupan dunia ini.
Baik Abrisam mau pun Zoya tetap saling mengikat perasaan cinta mereka yang kuat, meski sejauh apa pun berusaha saling menjauh.
Abrisam tak bisa menyingkirkan bayangan Zoya meski ia telah menikah. Begitu pula dengan Zoya yang tak mampu melupakan Abrisam, Abi-nya sejauh apa pun ia berlari dan menghilang dari kehidupan pria itu.
Ketika Zoya memilih untuk pergi dari kehidupan Abrisam Zaidan Faeyza, ia bertekat harus melanjutkan studi S2-nya di Swiss. Tujuan awal Zoya adalah Universitas California, namun ia ingin menghilang dari Abi-nya, Abrisam. Sedangkan ia tak memiliki sedikit pun lagi rahasia dari laki-laki yang telah bertahun-tahun mencintainya itu. Jadi, ia harus memilih Universitas lain, juga negara lain. Dan pilihannya jatuh pada Swiss. Sebuah perguruan tinggi arsitektur terbaik yang dimiliki negeri itu.
Zoya kembali ke Indonesia dan bekerja pada perusahaan milik Pamannya. Ia tak pernah berharap akan bertemu kembali dengan Abrisam, karena ia tahu pria itu sudah memiliki istri dan anak. Hatinya memang terasa sepi dan mati ketika tak bisa lagi mengharapkan pria itu kembali dalam hidupnya. Ia hanya fokus pada pekerjaan yang memang merupakan impiannya. Yaitu sebagai seorang arsitek.
Saat ini ia telah jelas-jelas tahu bahwa Abrisam Zaidan Faeyza telah menjadi duda dengan seorang putri yang telah berhasil merebut hatinya. Lalu bagaimana ia mengendalikan perasaannya yang dahulu telah meninggalkan pria itu.
Pada kenyataannya ia tak bisa mengalahkan rasa cinta dan rindu yang begitu menyiksa. Hanya mampu merengkuh pelik sendiri dalam jeruji sepi.
__
(Mira Putri : Siksa Rindu)
Tenggelam 'ku dalam sepi
Dahaga hati yang melanda
Harap wujudmu hadir menjelma
Hangat belaimu kudamba
Indahmu tak mampu kujamah
Jarak telah memisahkan kita
Andai kau tahu beratnya rasa
Menanggung rindu di dada
Adakah kau jua merasakan
Deraan rindu yang kualami
Di sini 'ku 'kan selalu setia
Menjaga hati untukmu, cinta
Kurindu hadirmu, kasih
Kembali 'tuk temani aku
Tak sanggup 'ku menahan
Rindu ini sungguh menyiksa
Dengarlah, duhai kekasih
Jeritan di hatiku ini
Terombang jiwa berharap
Kau dekap erat kembali...
____