Dia Sudah Tua

1734 Words
Malam berlalu. Perempuan itu sedang duduk di atas ranjangnya. Dia tidak tidur sebab memikirkan hal memalukan semalam. Pikirannya ke mana-mana hingga untuk memejam saja tidak nyaman. Ya, ketika sudah membersihkan diri dan mengganti bajunya yang basah kuyup karena hujan, anak itu diminta untuk menyapa tamu yang kata Ibunya sangat spesial. Hal itu, lah, yang menjadi mula kenapa pikiran Kala kacau sekali hingga tidak bisa tidur. "Ayo, Kala. Temui sebentar saja nggak papa, kasihan mereka sedari tadi menunggu kamu," ujar Ibunya yang mendatangi kamarnya dan sedari tadi menanti Kala berganti baju. Dia benar-benar berharap anaknya mau mengikuti perintahnya sebab itu juga akan memengaruhi dirinya sendiri. Ya, jika Kala tidak mau, maka dia akan dianggap tidak mendidik Kala dengan baik, terlebih lagi ketika Kala tadi melenggang begitu saja meski tahu jika ada tamu. Setidaknya Kala keluar dan menemui mereka supaya tidak ada anggapan macam-macam. "Bilang saja Kala sakit, habis kehujanan, jadi nggak bisa nemuin mereka." Tentu saja Kala tidak mau menemui sekalipun Ibunya sendiri yang meminta. Selain masih kesal dengan salah satu tamu karena memarkirkan mobil sembarangan hingga Kala sulit memarkirkan motornya, anak itu juga paling tidak suka bertemu dan bahkan mengenal orang baru. Dia memang terbilang sukar bersosialisasi sebab baginya mengenal banyak orang itu melelahkan dan tanggung jawabnya juga besar. Kala juga selalu takut jika orang-orang kembali menorehkan luka padanya. "Mulutmu itu, loh. Orang sehat gini, kok, nanti kalau sakit beneran gimana? Udah, ayo, lagi pula mereka tadi lihat kamu sehat mana percaya kalau tiba-tiba dikasih tahu kamu sakit." Pada akhirnya Kala mau menemui tamu. Bagaimana mau menolak lagi jika tangannya digenggam erat dan dirinya digiring ke ruang tamu. Ah, padahal Kala tadinya mau langsung tidur dan menyelimuti diri dengan selimut tebal, tapi keinginannya harus diurungkan. Perlahan, Kala dan Ibunya sampai ke ruang tamu. Mereka sama-sama duduk. Kala yang sedari tadi menunduk pun merasa agak risih karena dirinya terkesan ditatap mereka semua. Kala tentu saja menjadi pusat perhatian. Akhirnya dia mendongakkan kepala. Senyumnya ditampilkan sembari menatap satu per satu orang di sana. Dan senyumnya pudar ketika lelaki yang ditatapnya terakhir menatapnya dengan sinis. Sial, Kala mengenalinya. Langsung banyak pertanyaan yang berkeliaran di kepalanya dan intinya dia menanyakan kenapa bisa ada orang itu di rumahnya. "Sepertinya Kala langsung mengenali Abi," seru Bu Ratih dengan senyum yang begitu lebar pertanda senang. Ada rasa senang tentunya ketika anaknya dikenali oleh Kala. Hal itu dikarenakan Kala menatap Abikara cukup lama, pun sebaliknya dengan Abikara yang menatap Kala dengan lama seolah memang tidak asing lagi keduanya. "Tentu, saya selalu menyalakan kamera ketika perkuliahan, semua mahasiswa pasti mengenali saya, termasuk dia. Dia pasti mengenali dosennya sendiri yang tadi dilempari kunci motor dan diminta untuk memasukkan motornya ke garasi!" Abikara langsung membuka mulut ketika perempuan yang ditunggunya keluar juga. Dia begitu kesal diperlakukan tidak semestinya oleh mahasiswinya sendiri. Kekesalannya diperlihatkan dengan senyum sengit seolah bersiap balas dendam kepada Kala. Meski demikian, Abikara juga bisa menoleransi perbuatan Kala sebab ia juga menaruh salah. Sedang yang lain masih merasa bingung dengan Abikara. Rupanya telah terjadi sesuatu antara Kala dan Abikara tadi. Tapi, tidak apa, cerita tadi terdengar gemas. Kala sendiri terdiam dan duduk di kursi kosong dekat ibunya setelah menuntut dirinya untuk bersalaman dengan Pak Dibyo serta Bu Ratih, yang baru ditemuinya sekali. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa tidak salah sepenuhnya sebab Abikara yang ternyata pemilik mobil tadi menghalangi jalannya. Tapi, tetap saja dia salah besar sudah melemparkan kunci motor meski kesal alasannya. Harusnya memang dibicarakan baik-baik dan tadinya Kala tetap memasukkan motornya ke garasi sendiri, bukan malah meninggalkannya. Semuanya sudah telanjur kini. Saatnya Kala mencari alasan yang memperkuat dirinya. "Oh, jadi Mas Abi tamu orang tua saya. Sekaligus orang yang tidak bisa parkir dengan benar ketika bertamu," balas Kala. Dia sedikit membela dirinya meskipun sebenarnya tetap takut. Dengan menyalahkan Abikara, itu artinya Kala tidak salah sepenuhnya. Tapi, apa yang dikatakan Kala ada benarnya juga. Hal itu juga merupakan sebab mula Kala bersikap kurang baik pada Abikara tadi. Ah, luput, Sandykala atau Kala memanggil Abikara dengan sebutan ‘Mas’ dikarenakan dari awal perkuliahan lelaki itu meminta mahasiswanya untuk memanggilnya ‘Mas’. Mungkin ingin lebih dekat dengan para mahasiswanya atau mungkin tidak mau terlihat tua. Sepertinya alasan itu akan lain bagi Abikara. Apapun alasannya, jelasnya panggilan Mas bukan sesuatu yang spesial. Bukan hanya Kala yang akan memanggil Abikara dengan sebutan itu. Pertemuan pertama secara tatap muka dengan dosen yang cukup dikenalnya dipenuhi rasa kesal, malu, dan bersalah. Pertemuan pertama memang harus berkesan, tapi caranya menjadi berkesan tidak seperti itu. Kala tidak henti-hentinya memikirkan hal itu. Tidak hanya kejadian itu yang membuat Kala tidak bisa tertidur semalam, tapi karena ada hal mengejutkan lainnya. Terbilang sangat mengejutkan. Dia akan menikah dengan lelaki yang baru saja ditemuinya meski sudah cukup lama kenal. Tidak tahu kenapa tiba-tiba orang sekitarnya punya pemikiran seperti itu. Padahal semuanya agaknya juga paham bagaimana Kala selama ini yang tidak pernah dekat dengan lelaki sebab punya ketakutan sendiri dan tentunya tidak punya pemikiran untuk menikah. "Dia sudah tua. Berapa usianya? Sudah sekitar tiga puluh lima tahun, kan? Lalu, usiaku sendiri berapa? Astaga! Kita selisih lima belas tahun!" Perempuan yang akrab disapa Kala dan lebih senang dengan panggilan singkat itu bergumam dengan dirinya sendiri. Dia sedang terlihat kesulitan memendam kekesalannya. Bagaimanapun juga hal itu sangatlah menyebalkan. Lingkungannya memang seolah tidak akan membiarkan dirinya tenang. Semuanya meminta Kala untuk memenuhi senang ataupun ingin mereka tanpa memedulikan apakah hal-hal tersebut sesuai dengan diri Kala. Tubuhnya akhirnya ditidurkan. Matanya yang berkantung itu tertutup sempurna. Dia tidur sekitar jam setengah enam pagi. Tidak peduli lagi jika Ibunya akan marah karena dirinya bangun siang nantinya. Dia sudah cukup lelah dengan hal semalam yang telah menjadikan dirinya menyiksa diri dengan tidak tidur. "Pak, zaman itu sudah berubah. Cukup kita saja yang dijodohkan orang tua dulunya. Biarkan Kala nanti menikah dengan lelaki pilihannya sendiri. Tidak perlu menjodohkan dia sekalipun dengan lelaki yang mapan dan mumpuni dalam segala halnya," kata Bu Kusuma kepada suaminya yang baru saja menyeruput teh hangat seperti pagi biasanya. Dia agaknya kurang setuju dengan perjodohan. Maka dari itu sebisa mungkin membuat suaminya mengubah pemikirannya. Pak Bagas tidak kunjung menanggapi perkataan istrinya yang memang ada benarnya juga. Dia justru menikmati pisang goreng yang baru saja matang. Tidak terasa manis, gurih, atau apa selain panas. Baru saja matang, sudah gegabah mau menikmati. Baru segigit, dikembalikan lagi ke piring. Tahu rasa dia lidahnya tersakiti akibat pisang yang panas. "Benar. Tapi saya juga berpikir akan perkataan Sandykala ketika bertengkar dulu. Kamu juga masih mengingatnya bukan?" Tanggapan dari Pak Bagas itu membuat Bu Kusuma berpikir jauh lagi. Dia lantas mengingat pertengkaran hebat yang terjadi antara suami dengan anak sulungnya. Di sela pertengkarannya yang sekaligus sebagai luapan hati, Kala berkata bahwa dia sangat takut menikah dan berdekatan dengan laki-laki. Hal itu dikarenakan pikirannya telah tertutup dan berasumsi bahwa semua laki-laki akan sama seperti Ayahnya yang jahat bagi dirinya. Bahkan Kala juga berkata bahwa dirinya tidak akan pernah menikah. Selamanya dia memilih sendiri sebab merasa lebih aman dan nyaman. "Kalau tidak dinikahkan, maka Kala akan memenuhi perkataannya. Kita juga yang repot nantinya. Ini mumpung ada yang mau, nikahkan saja dia." Pak Bagas kemudian beranjak dari tempat duduknya dengan teh hangat di cangkir yang tidak lupa dibawanya. Begitu pula pisang goreng bekas gigitannya. Dia hendak pergi menjauh dari istrinya yang sudah diyakini akan membicarakan hal yang sama. Keputusan Pak Bagas sudah bulat. Dia benar-benar harus bertanggungjawab atas perbuatannya yang membuat Kala takut dengan laki-laki dan tidak ingin menikah. Dia tetap akan menikahkan Kala dengan Abikara. Dia kembali mengenang masa lampau, tidak disangka bahwa candaannya dua puluh tahun lalu akan segera direalisasikan. Lagi dan lagi, Bu Kusuma hanya bisa diam. Dia agaknya tetap kurang rela jika menjodohkan Kala. Perempuan itu takut sekali apabila Kala merasakan seperti dirinya yang juga dijodohkan. Namun, sebisa mungkin dia meyakinkan diri bahwa kejadian yang dialaminya belum tentu terulang kepada anaknya. Bu Kusuma berharap penuh bahwa perjodohan anaknya nanti hanya akan membawa ke hal-hal yang baik. "Senangkan Ibumu, Bi. Senangkan Ayah juga. Jangan terlalu berlarut dengan kesedihan, kembalilah senang. Temukan senang yang sudah lama bersembunyi itu di dalam diri Kala. Ayah yakin kalau anak itu akan menciptakan banyak senang untukmu," tutur Pak Dibyo layaknya seorang Ayah yang menasihati anaknya seperti umumnya. Dia juga sedang memberi keyakinan pada Abikara untuk tetap menikahi Kala meski dirinya sendiri agak takut jika kejadian Abikara terulang. Meski sudah dewasa, Abikara tidak pernah abai terhadap petuah Ayahnya maupun juga Ibunya. Bagaimanapun juga seorang anak yang entah sudah berapa umurnya tetap akan terlihat kecil dan menggemaskan di mata orang tua. Begitu dengan orang tua Abikara yang selalu mengkhawatirkan anaknya sekalipun anaknya sudah menginjak kepala tiga. Namun, untuk kali ini, entah kenapa Abikara ingin sekali abai. "Ayah… Kalau untuk senang, bukankah tidak hanya bisa didapat dari anak itu? Apakah tidak ada kesempatan buat saya untuk mencari orang yang mampu menciptakan senang selain anak itu? Lagi pula usia kami sangat berbeda jauh. Nantinya saya akan terkesan mengasuh dia." Abikara berusaha meyakinkan Ayahnya jika dia dan Kala tidak bisa bersama. Bukan karena usia ataupun kelakuan Kala di malam itu, tapi pikiran Abikara jauh lebih panjang. Jika dia sungguh menikahi Kala, maka kasihan anak itu. Masih terlalu dini dan dia juga berhak mendapat pasangan yang muda serta lebih sesuai untuk mendampinginya nanti. Perjalanan Kala pun juga masih panjang. "Perjalanan anak itu masih panjang. Dia bahkan belum tamat kuliah, cita-citanya juga belum tercapai pastinya. Kalau dia menikah dan setelahnya dituntut lingkungannya untuk mempunyai anak, apakah kalian tidak memikirkan akan jadi apa anak itu nantinya? Dia berhak untuk hidup lebih bebas lagi tanpa ada ikatan pernikahan." Perkataan Abikara jauh lebih panjang dan mendalam dari perkataan sebelumnya. Kali ini dia berkata dengan tegas dan benar-benar berharap supaya Ayahnya paham, begitu pula dengan Ibunya yang berada di dapur yang tidak jauh dari tempatnya berbincang. "Dia tetap bisa berkuliah dan mengejar cita-citanya. Untuk cucu, kami sepakat untuk tidak berburu-buru. Kami juga paham kalau kamu bisa menyikapi semuanya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kamu dan Kala akan saling membantu," sahut Bu Ratih dengan nada yang sendu. Hampir menangis dia setelah mengucapkan kalimat terakhirnya karena memuat arti yang sangat dalam. Saling membantu. Abikara belum memahaminya sebab yang dia pahami sejauh ini hanyalah Kala yang diharapkan akan membantunya. Dia akan membantu Kala apa hingga akhirnya bisa dimaknai 'saling membantu'? Suasana rumah memang tenang, tapi tidak dengan suasana di kepala Abikara. Berkecamuk hebat sejak dia diminta menikahi seorang perempuan dan yang mengejutkan perempuan itu adalah mahasiswinya sendiri yang tentunya usianya terpaut jauh. Masih banyak hal pula yang tidak setara. Ini sangat membingungkan dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD