Valen menatap acuh seseorang yang kini sedang berjalan berlawanan arah darinya, Valen ingin tau seberapa kuat Devan menahan keinginannya itu. Tanpa menatap Devan sama sekali, Valen terus melangkah dengan cantik.
Kita lihat uncle, apa benar kau kuat jauh dariku. Batin Valen, sedetik kemudian ia tersenyum miring setelah kepergian Devan yang memandang haus ke arahnya.
Devan menggeram kesal, melihat Valen yang acuh tak acuh padanya. Ia kesal pada dirinya sendiri, mengapa malam itu dia harus mengatakan bahwa Kenya adalah kekasihnya. Sebenarnya niat awal Devan hanya ingin mebuat Valen cemburu, namun ia terlalu terlewat batas hingga akhirnya gadis itu emosi dan memilih mogok bicara dengannya.
"Wajahmu mengapa murung?."
Tanya Zeesya yang tengah duduk di atas meja kelas,Valen menaikkan satu alisnya.
"Apa aku pernah tampak murung?."
Zeesya terkekeh, meskipun mulut Valen menyangkal tapi Zeesya bisa menebak perasaan sahabatnya itu.
"Masalahmu dengan Devan belum selesai?." Valen hanya menggumam sebagai jawaban.
"Biar dia merasakan bagaimana rasanya jauh dariku, rasanya tidak mendapat sentuhan tanganku, biarkan dia menyesal atas kebodohannya itu."
Imbuh Valen sambil menyeringai sengit, baginya mempermainkan seseorang yang pernah mempermainkan diri kita menjadi sebuah kesenengan tersendiri untuknya.
"Uh dia pasti akan sering bermain dengan sabun."
Tawa Zeesya meledak mendengar kata katanya sendiri.
"Diam Zee, aku sedang tidak mood membahas hal seronok seperti itu." kesal Valen karena pada kenyataannya bukan hanya Devan yang menderita menahan rindu serta hasrat manusiawinya.
"Oh baiklah baiklah."
❄❄❄❄
Perlu kalian ketahui bahwa di dalam rumah yang super mewah ini hanya ada Valen dan Devan yang menjadi penunggunya, kedua orang tua Valen berada di Jerman karena pekerjaan yang selalu membuat mereka tidak bisa terus di rumah. Keduanya telah menitipkan Valen pada Devan, meskipun Devan tau ia ragu akan dirinya sendiri apakah dia bisa menjaganya atau malah merusaknya.
4 hari sudah berlalu sejak adegan dramatis yang di mainkan oleh Devan dan Kenya, selama itulah Devan tidak mengerti dengan perubahan sikap Valen padanya. Gila memang, namun Devan mengakui bahwa ia rindu sentuhan itu, rindu suara lembut yang selalu membuatnya mengeras, dan rindu akan sosok gadis nakal yang tidak akan berhenti bicara saat Devan mengabaikan ucapannya. Kini berbalik malah Devan yang di acuhkan dan di abaikan oleh gadis itu.
Devan mengusap wajahnya kasar, ia bingung ada apa dengan dirinya? Seharusnya dia senang ketika si nakal itu tidak mengganggunya namun apa yang terjadi? Devan malah menginginkan hal itu kembali. Dimulai dari kata katanya yang memabukkan, sentuhan hangat yang menenangkan dan lumatan bibir yang membuat Devan terus menerus menginginkannya.
Kini Devan tengah uring uringan di sofa ruang keluarga, matanya menangkap sosok yang ia rindukan tengah berjalan melewatinya menuju dapur, Valen melewati dirinya bagai angin yang tak terlihat. Oh s**t! Devan lagi lagi mengumpat dalam hati, mengapa di situasi yang seperti ini matanya malah disuguhkan pemandangan tubuh indah Valen yang terbungkus hotpans putih dan tanktop warna hitam.
"Arghh... Sialan akibat ulahku aku juga yang merasakan ini semua!."
Umpat Devan lagi.
Valen menyeringai puas ketika melihat keadaan Devan, ia tau sebesar apapun ego pria itu tetap saja batinnya haus akan sentuhan pikir Valen. Valen sengaja mengenakan pakaian yang serba minim apalagi tanktopnya yang hanya sebatas pusar, yang ketika ia mengangkat tangannya maka perut mulusnya akan kelihatan begitu sexy ditambah lagi terdapat satu tindikan di pusarnya.
Valen mengeluarkan sebuah toples dari lemari kaca miliknya di dapur, seperti sebuah kebetulan toples itu berada tepat di bagian paling atas lemari, dengan sedikit menjinjit Valen mengambil toples tersebut. Kini perut mulusnya tengah terekspos bebas, Devan berkali kali menelan salivanya kasar dengan bodohnya dia malah mengikuti Valen ke dapur.
"Aih kenapa tinggal sedikit isinya."
Gumam Valen, jujur Valen tidak mengetahui kalau Devan mengikutinya ke dapur.
Valen kembali mengambil sebuah bungkusan snack di lemarinya, dan lagi lagi mata Devan melihat perut mulus itu.
Ah sial aku h***y! Devan mengumpat sebal atas reaksi tubuhnya, dengan tidak sabar Devan mendekati tubuh mungil indah itu memeluk posesiv, semua kerinduannya seakan akan lenyap begitu saja.
Grepp
"Eh..."
Valen merasakan sentuhan hangat di pinggangnya, dua buah tangan melingkari pinggangnya. Devan menelusupkan kepalanya di ceruk leher Valen, menghirup aroma bunga lily yang menenangkannya. Valen menyeringai puas, see aku memenangkannya batin Valen sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan lakukan ini padaku."
Ucap Devan di sela sela pelukannya.
"Maksudmu bagaimana hm? Bukankah ini keinginanmu uncle?."
Valen sengaja mendrama di depan Devan, ia juga ingin melihat seberapa besar obsesi Devan padanya.
"Tidak, itu tidak benar."
Sanggah Devan cepat, Valen terkekeh pelan. Sejurus kemudian Valen membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Devan, tangan mungilnya terulur menyentuh rahang tegas milik pria pujaannya itu.
"Apa dia meninggalkanmu huh?."
Tanya Valen lagi, Devan menggeleng pelan tangannya masih stay di pinggang keponakannya yang nakal itu.
"Dia bukan kekasihku."
Jujur Devan, Valen menaikkan satu alisnya maksudnya apa? Tanyanya dalam hati.
"Kenya adalah teman lamaku, saat itu aku hanya ingin melihat reaksimu tapi yang kudapat adalah sikap acuhmu."
Ucap Devan lemah.
"Uncle ingin membuatku cemburu? Maksudnya bagaimana?."
Valen benar benar bingung dibuatnya.
"Aku menyukaimu, aku gila akan sentuhanmu, aku ingin mendengar suara lemah lembutmu saat menggodaku, aku ingin kau duduk di pangkuanku, aku ingin semuanya Carl."
Aku Devan sambil memeluk tubuh Valen erat, bagai sebuah hadiah di hari natal Valen sangat bahagia mendengar penuturan paman kesayangan itu, matanya mengerjap berkali kali seakan tidak percaya.
"Katakan sesuatu Carl, arghh.... Aku sungguh merindukanmu."
Erang Devan frustasi.
"Sungguh?."
"Sentuh aku Carl, jangan lepaskan. Jadikan aku pria beruntung yang memilikimu."
Valen tersenyum akhirnya mulut itu mengucapkan kekalahannya.
"Apa harus aku yang memulainya?."
Tanya Valen dengan tampang yang ia buat sok lugu.
Perlahan Devan mendekatkan wajahnya kearah Valen, Valen dapat merasakan hembusan nafas Devan yang menerpa wajah cantiknya. Dan benda kenyal itu kini telah menyentuh bibir sexy Valen, bukan hanya menyentuh namun juga ada pergerakan pergerakan lembut yang memabukkan setiap orang yang merasakannya. Valen mengalungkan tangannya ke leher Devan, sedang tangan Devan masih setia bertengger di pinggang Valen. Keduanya menikmati ciuman itu, ciuman kedua mereka setelah beberapa hari lalu. Dengan lembut Devan terus melumat bibir ranum itu, Devan tak lupa mengabsen deretan gigi Valen bagi Devan bibir Valen lah yang mampu membuatnya gila. Iya benar gila seperti saat ini.
Mereka melepaskan panggutan bibir itu, memberikan celah untuk masing masing mengambi l nafas, kemudian melanjutkan ciuman mereka kembali, dengan cara yang lebih panas.
❄❄❄❄