Vana terus menggerutu sepanjang jalan menuju rumah. Dia melirik sengit ke arah pria di belakangnya yang terlihat tak enak hati. Namun, dia yakin jika Sean itu hanya akting. Secara suaminya adalah lelaki yang paling menyebalkan di dunia ini.
“Masuklah!” titah Vana tanpa menatap wajah Sean.
“Tunggu dulu!” Sean menarik lengannya, tapi segera ditepis. “Ah, maaf. Tapi, kamu tidur di mana? Biar aku saja yang tidur di luar, Van.”
Vana merotasikan kedua bola matanya malas. Dia lalu berbalik, menatap cemooh Sean yang sok peduli padanya. “Gak usah sok jadi orang baik, Sean. Aku udah terlalu jijik sama kamu. Jadi, mau seberapa pun usahamu untuk mendekatiku, maka aku juga akan lebih keras untuk menjauhimu. Ingat itu!”
Setelah itu, dia langsung masuk ke kamar ibunya. Beruntung ketika dia datang ibu sedang berada di kamar mandi. Jadi, tidak ada yang melihat jika kini dia sedang menghapus air mata di pipinya.
“Sial! Buat apa gue nangisin laki b*****t kayak dia. Mendingan juga gue mikirin gimana cara bujuk Mas Angga buat balikan lagi sama gue,” ujarnya.
“Loh, kok, kamu ada di sini?” Ibu bertanya heran dengan keberadaan Vana di kamar.
“Ah, itu. Sean tidur di sana, Bu,” jawab Vana ogah-ogahan. “Vana mau buang air kecil dulu ya, Bu,” sambungnya, lalu gantian dia yang masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah beberapa saat berdiam diri di kamar mandi, akhirnya Vana keluar dan menemukan ibu sudah tidur duluan. Sebelum tidur, dia sempatkan salat dan berdoa kepada Allah untuk diberi jalan terbaik dalam perjalanan cintanya.
Ketika pukul 1 dini hari, dia terbangun. Vana melihat ke arah ranjang, ibu sudah terlelap. Mata awasnya lalu memandang pintu, tepat di luar sana dia mendengar suara Vandi dan juga Vino yang terus-menerus ribut di ruang tengah. Sepertinya mereka sedang battle game di depan, tetapi selain jari mereka bekerja, mulut mereka pun tak bisa diam hingga saling melempar umpatan.
“Kamu pasti sulit tidur ya, Van?” Ternyata ibu juga belum tidur.
Vana menghela napas. Dia pun lantas bangun dan menurunkan selimutnya. Dia menghampiri ibunya di ranjang, sedangkan dirinya di kasur bawah. Ranjang ibu memang hanya muat untuk satu orang sehingga dia tidak mungkin nyempil di sana. Alhasil, dia mengambil kasur lipat milik Vandi untuk digunakan olehnya.
“Kenapa kamu gak tidur di kamarmu, hm? Apa kamu masih belum bisa satu tempat tidur dengan suamimu? Ini sudah hampir satu bulan loh kalian menikah. Apa kamu belum bisa memaafkan suamimu?”
Vana menunduk tidak berani menatap mata ibunya. “Aku terlalu takut untuk membuka hatiku untuknya, Bu. Rasa takut berdekatan dengannya membuatku trauma. Sementara hatiku masih tertambat pada Mas Angga,” cerita Vana jujur. “Aku harus bagaiamna, Bu?”
Tangan hangat ibu menghapus lelehan bening yang membasahi wajahnya. “Tidak baik kamu mendiamkan suaminya terlalu lama, Nak. Terlepas dari cara nak Sean mendapatkanmu, tapi dia juga berhak diperlakukan sebagai suami, Sayang.”
Air mata itu semakin deras mengalir. Hatinya terlalu enggan mencair hanya untuk seorang Sean. “Tapi, tetap saja semau ini salah dia, Bu!”
“Vana, dengarkan ibu!”
“Gak, Bu. Vana gak mau dengar apa-apa lagi. Jika ibu hanya ingin membicarakan pria itu terus, lebih baik aku keluar!” Vana pun beranjak kelaur kamar. Menemui kedua adiknya yang sedang main play station.
“Itu muka lo kenapa? Habis dapat wejangan apa dari ibu?” Vino bertanya padanya.
“Minggir!”
“Aish! Jangan gerak-gerak, Bego! Ini gue udah mau finish, yakh! Tuhkan, kalah. Mbak ini kenapa, sih? Kalau lagi badmood gak usah ganggu kita, deh!” Saking kesalnya, Vino berteriak tepat di wajah Vana.
“Dasar adik laknat!” Vana langsung memiting kepala Vino. “Lo tuh jadi adik gak ada simpatinya sama sekali sama mbaknya.”
“Ogah gue simpati sama lo. Lo aja nyiksa gue mulu. Lepas! Ini gue udah mau mata, Njir!”
Vana tidak peduli dengan teriakan Vino. dia justru terus memiting kepala adiknya itu. “An, ini abang lo kayaknya perlu dibuang ke tempat sampah, deh. Bisanya nyusahin doang!” ujarnya pada Vandi.
“Hm, buang aja, Mbak. Gue juga bete, males banget ngeliat muka dia mulu,” jawab adik keduanya, tanpa ekspresi. Vandi sendiri justru sibuk membereskan bekas cemilan yang jatuh di atas karpet dan mengumpulkannya pada satu tempat, kresek.
“Yakh! Kalian ini kakak adik yang gak punya perasaan, oh! Seenaknya mau buang gue ke tong sampah!” Vino masih berusaha melepaskan diri dari pitingan Vana.
Vana menyeringai, lalu melepas pitingannya dan membiarkan Vino bernapas. Sementara dirinya memilih tiduran di pangkuan Vandi yang sudah kembali duduk di sofa. “An, kepala Mbak mau pecah, nih! Tolong kamu pijitin!”
Vana langsung memejamkan mata saat tangan Vandi sudah memijit bagian kepalanya.
“Kalau lo emang gak bisa bahagia sama dia, kenapa lo masih tetap mau nikah sama dia?”
Hening.
Dia terdiam, sama seperti kedua adiknya yang juga sama-sama tak mengeluarkan suara. Hanya kesunyian dan suara dari layar plasma yang menyala tengah menanyangkan pertandingan sepak bola.
“Emang lo gak malu punya kaka kayak gue?”
“Malu, sih.” Vino menjawab cepat.
Vana tersenyum kecut, tetapi kakinya sudah menendang lengan adik pertamanya itu dengan sengit. “Kalau lo malu, terus ngapa lo masih minta duit ke gue, Bocah Edan!”
“Ya, secara elo doang yang bisa ngasih gue duit banyak tanpa banyak oceh!”
“Udah gak usah dengerin Mas Vino, Mbak. Dia emang agak lain.” Vandi menarik kepala Vana agar kembali tiduran di atas pangkuan, memijat dengan gerakan yang cukup membuatnya nyaman. “Sebenarnya kita hanya kaget, bukan malu, Mbak. Lagian, kita juga tahu kalau mbak gak salah. Jadi, daripada mbak nyusahin diri sendiri dengan tetap mengejar Mas Angga yang udah nyerah sama hubungan kalian, kenapa mbak gak buka hati mbak aja buat suami mbak?”
Perkataan Vandi dan ibunya benar-benar membuat Vana dilema. Benarkah jika hubungannya dengan Angga sudah tidak bisa diselamatkan lagi? Lalu, apa mereka pikir bisa semudah itu membuka hati untuk seorang lelaki yang menghalalkan segala macam cara demi bisa mendapatkan obsesinya? Vana berdecih sinis.
“Udah gak usah banyak omong kamu, An. Mending lo pijit kepala gue sampai gue tidur.” Vana memilih untuk mengabaikan ucapan Vandi dan juga ibu. Dia terlalu sensitif jika membahas masalah Sean.
Entah jam berapa Vana tertidur, tapi satu hal yang dia sadari ketika bangun tidur adalah sebuah lengan memeluknya erat, bahkan kepalanya begitu nyaman berada di atas d**a bidang Sean.
Menyadari hal tersebut, Vana langsung beringsut bangun. Menjauh yang dia bisa asal tidak kembali satu ranjang dengan Sean. Namun, karena gerakannya yang begitu cepat, sosok yang tadi terlelap kini terbangun dan membuka mata.
Sean tampak kaget saat menyadari kehadirannya. Pria itu lantas bangun dan berdiri salah tingkah di pojok ruangan. Mulut suaminya terlihat terbuka, tapi kembali tertutup seolah sedang merangkai kata. Namun, sulit untuk diucapkan.
“A-aku–”
“Diamlah! Aku tau ini ulah adikku. Jadi, kamu gak usah takut kayak gitu.” Vana berdecih, “lagian gak usah sok salah tingkah di depanku, aku udah terlalu hilang respect sama kamu. Jadi, mau sebaik apa pun kamu, aku tak akan pernah tergugah untuk membuka hatiku untukmu!”
Vana mengabaikan ekspresi bersalah di wajah pucat itu. Dia memilih untuk masuk ke kamar mandi agar bisa mendinginkan kepalanya yang hampir tergoda oleh Sean.
“Lo kalau sampai mau bukan hati buat dia, lo gila, Van! Ingat, dialah yang udah bikin rencana pernikahan lo sama Angga bubar! Jadi, gak usah lemah dan membiarkan hati lo dikuasai oleh perasaan bersalah!” ucap Vana, memperingati dirinya sendiri di depan cermin.