Pagi hari di kota Virellon datang dengan warna pucat. Matahari hanya menggantung seperti bola cahaya yang malas, seolah enggan menyinari dunia yang mulai membusuk dari dalam.
Di pinggir distrik pelatihan sihir, seorang gadis berdiri di atas reruntuhan taman tua. Rambutnya panjang, keemasan seperti langit senja, dan matanya menyimpan kesedihan yang tidak pernah dibagi. Namanya Alenia Veyron. Dulu disebut “Mawar Terakhir” dari Keluarga Veyron. Sekarang, hanya seorang instruktur kecil yang dikirim ke daerah paling tak berarti oleh bangsawan yang dulu mengaguminya.
Ia memandang bunga-bunga liar yang tumbuh di sela-sela batu. Beberapa hidup. Beberapa layu. Tapi satu di antaranya, ungu pucat, tampak seperti ingin mekar, namun tak pernah berhasil.
“Seperti aku,” gumamnya.
Langkah kaki pelan terdengar dari arah belakang. Suara langkah yang tak terlalu berat, namun menyiratkan kekuatan yang disembunyikan.
“Ayzen,” katanya pelan, tanpa menoleh.
Ayzen menghentikan langkahnya di belakang Alenia. Untuk beberapa detik, ia tidak menjawab. Hanya menatap punggungnya yang kecil tapi kuat.
“Aku dengar kau tetap tinggal,” ujar Ayzen akhirnya.
“Aku tidak punya tempat lain,” jawab Alenia. “Dan bahkan kalaupun aku pergi, aku tidak tahu siapa yang akan mengingatku.”
Ayzen berjalan mendekat. Ia menatap bunga ungu yang belum mekar itu. Dan ia tahu, bunga itu sama seperti gadis ini. Dihancurkan oleh keputusan orang lain. Ditinggalkan oleh dunia yang memilih kekuasaan di atas kasih.
“Aku kembali, bukan hanya untuk balas dendam,” ujar Ayzen.
Alenia menoleh. “Lalu untuk apa?”
“Aku ingin membuat dunia ini ingat,” jawab Ayzen pelan. “Ingat bahwa ada harga untuk menginjakkan kaki di atas penderitaan orang lain.”
Alenia tersenyum. Bukan senyum bahagia. Tapi senyum seseorang yang lelah berharap.
“Masihkah kau menganggap aku orang yang pernah kau kenal?” tanya Ayzen.
“Tidak,” jawab Alenia. “Tapi aku percaya… orang yang kau tinggalkan dalam dirimu itu belum mati.”
Ayzen menatap matanya. Dalam dan jujur. Dan untuk sesaat, jiwa lamanya yang terkunci di bawah lapisan kutukan dan kekuatan neraka, bergolak pelan.
Ia mengulurkan tangannya.
“Kalau aku jatuh lagi, kau akan menarikku?”
Alenia menggenggam tangannya.
“Aku tidak akan membiarkanmu jatuh sendiri.”
Untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke dunia ini, Ayzen merasakan sesuatu yang asing. Bukan kemarahan. Bukan kekuatan. Tapi harapan.
Namun harapan tidak pernah berdiri sendiri.
Dari bayang-bayang taman, seorang pria bertopeng mengamati mereka. Matanya merah menyala. Ia menekan manik kristal kecil di telapak tangannya.
“Target ditemukan,” katanya.
Dari balik langit, simbol Majelis Rahasia mulai menyala. Sebuah perintah telah dikeluarkan.
Eksekusi Ayzen. Tanpa bekas. Tanpa nama. Tanpa suara.
Malam turun dengan diam. Tidak ada angin. Tidak ada suara. Hanya ketegangan yang terasa menggantung di udara, seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang. Ayzen berdiri di depan gerbang tua bekas markas penyihir api di barat Velmora. Matanya menatap kosong ke kejauhan.
Ia tahu mereka datang.
Satu, dua, tiga sosok berpakaian gelap muncul dari kegelapan. Tidak mengenakan lambang. Tidak membawa dokumen resmi. Tidak ada salam, tidak ada tuduhan. Hanya kematian yang mereka bawa. Dan Ayzen tahu itu.
“Kalian dikirim oleh Majelis Rahasia?” tanyanya pelan.
Tak ada jawaban. Hanya pedang sihir yang ditarik. Bilahnya hitam. Tidak memantulkan cahaya. Karena cahaya takut pada mereka.
Ayzen menghela napas. “Bahkan wajah kalian tidak layak disebut.”
Pria bertopeng pertama bergerak lebih dulu. Langkahnya nyaris tidak terdengar. Tapi Ayzen sudah bergerak sebelum serangan datang. Ia bukan hanya mantan penyihir kegelapan. Ia adalah Kaisar Neraka yang pernah membakar tujuh langit.
Tangannya membentuk segel kuno. Tidak dari sekolah sihir mana pun. Bukan dari dunia ini.
Api hitam menyembur keluar dari tanah. Bukan membakar… tetapi memakan sihir. Pedang sihir pria pertama mencair seketika sebelum mengenai tubuh Ayzen. Dan tubuhnya sendiri? Tidak sempat menjerit. Hilang tanpa bekas.
Dua sisanya tidak menyerang. Mereka hanya menatap. Mencoba menilai ulang apa yang mereka hadapi.
“Kalian dikirim untuk membunuh seseorang yang sudah mati,” kata Ayzen. “Tapi kalian lupa. Yang mati… kadang kembali tanpa batas.”
Salah satu dari mereka mencoba membalik tubuh, melarikan diri. Tapi tanah di belakangnya telah berubah. Tidak ada jalan. Hanya mata sihir yang terbuka lebar dari tanah, menatap penuh rasa lapar.
“Tolong…” pria itu berbisik. “Aku hanya…”
Ayzen menatapnya. Tenang. Dingin.
“Kau hanya menjalankan perintah? Maka matilah sebagai alat.”
Tanah menelan pria itu, tanpa suara. Tanpa darah. Tanpa ampun.
Tersisa satu.
Ia melemparkan jubahnya. Berlutut.
“Ayzen… aku dulu pengikutmu. Aku tahu siapa kau. Aku…”
Ayzen tidak bicara.
Ia berjalan perlahan ke arah pria itu. Tangannya membentuk segel lagi. Tapi kali ini, bukan untuk membunuh.
Melainkan untuk menanam tanda.
Tanda kutukan.
“Kau akan kembali ke mereka,” ujar Ayzen. “Tapi tidak dengan utuh. Kau akan membawa satu pesan.”
Ia menekankan telunjuknya ke dahi pria itu.
“Jika mereka ingin bermain dengan dewa yang telah jatuh… maka biarkan mereka tahu. Dewa itu tidak lagi bersabar.”
Seketika, mata pria itu berubah hitam. Pupilnya terpecah. Dan ia pun menghilang, dikirim kembali ke Majelis Rahasia sebagai wadah pesan.
Ayzen berdiri sendiri.
Lalu dari bayang-bayang reruntuhan, suara pelan terdengar.
“Kau tidak membunuhnya?”
Itu Alenia.
“Aku sudah terlalu banyak membunuh,” jawab Ayzen. “Saatnya dunia tahu rasanya dihantui.”
Ia menatap bulan yang menggantung di atas.
“Karena aku tidak datang kembali untuk hidup.”
Ia mengepalkan tangan.
“Aku kembali untuk mengakhiri segalanya.”
Langkah Ayzen bergema di lorong batu tua bawah tanah. Ruangan itu pernah menjadi aula pemujaan sihir tingkat tertinggi, sekarang hanya dihuni debu, tulang, dan kutukan yang menempel pada setiap dinding. Dulu, setiap lantai dipenuhi penyihir yang menyebut namanya dengan hormat. Kini, hanya keheningan yang menyambutnya.
Alenia menyalakan satu-satu obor yang tersisa. Nyala birunya bergetar, seolah takut terhadap bayangan Ayzen sendiri.
"Tempat ini masih hidup," gumam Ayzen sambil menyentuh dinding penuh tulisan kuno. "Dan ia belum melupakan siapa tuannya."
Alenia menatap simbol-simbol sihir di pilar tengah. "Ritual pemanggilan jiwa terlarang. Ini sihir dari era sebelum hukum pertama."
Ayzen mengangguk pelan. "Satu-satunya cara untuk menyatukan kembali kekuatan lamaku. Tapi itu juga berarti menantang ingatan seluruh dunia."
Ia melangkah ke tengah lingkaran sihir dan menekuk lututnya. Tangannya mulai menggambar formasi sihir yang bahkan buku sihir tertua tidak berani menyebut. Huruf-huruf merah tua bercahaya di udara, membentuk pusaran lambat, lalu mengeras menjadi lapisan di sekelilingnya.
"Apa kau yakin ingin melakukan ini lagi?" tanya Alenia lirih. "Kalau ini gagal, bukan hanya tubuhmu, tapi jiwamu akan hancur."
"Aku tidak datang kembali untuk hidup tenang," jawab Ayzen. "Aku datang karena dunia telah menghapus semua yang kusebut rumah. Dan aku akan memaksanya mengingat."
Ia memejamkan mata.
Dalam sekejap, pikirannya tertarik ke dalam dimensi dalam: Ruang Jiwa.
Tempat itu sunyi. Tanpa warna. Tanpa waktu. Tapi di tengah kehampaan, berdiri sosok tinggi berjubah gelap, dengan wajah tertutup kain robek. Ia adalah Bayangan Pertama. Manifestasi Ayzen saat menjadi Kaisar Kegelapan.
"Akhirnya kau kembali," suara makhluk itu terdengar berat. "Kau ingin mengambil kembali segalanya?"
"Aku tidak butuh izin darimu," sahut Ayzen. "Aku adalah kau. Dan kau adalah aku."
Bayangan itu menyeringai.
"Maka kau tahu harga dari penggabungan ini."
Ayzen berjalan mendekat. Ia tidak gentar. Ia tidak ragu.
"Aku akan membayar dengan yang tersisa dari jiwaku, kalau itu berarti dunia kembali mengingat siapa Ayzen."
Seketika, seluruh ruang bergetar.
Bayangan itu melangkah dan melebur masuk ke dalam tubuh Ayzen. Cahaya hitam menyala seperti petir dari dalam d**a Ayzen, memancar ke segala arah, menembus dinding realitas.
Di dunia nyata, Alenia tersentak mundur. Sihir kuno yang terikat ribuan tahun mulai meledak dari tubuh Ayzen. Matanya terbuka perlahan. Kali ini, warna merah keemasan menyala di irisnya. Tanda seorang Kaisar telah kembali.
Ayzen bangkit, perlahan. Tubuhnya seperti dikelilingi aura tak kasatmata yang menindih udara. Suara langkahnya kini menggema dua kali, seolah dunia memberi gema khusus hanya untuk dirinya.
"Seluruh dunia membisikkanku sebagai legenda yang memudar," katanya dingin. "Sekarang... biarkan mereka bicara lagi, tapi dengan rasa takut."
Alenia berlutut.
"Aku siap mengikutimu sampai akhir, Kaisarku."
Ayzen menatap jauh ke atas. Langit belum retak. Tapi waktu sudah berpihak padanya.
Dan Velmora... akan menjadi tempat pertama yang membungkuk.