81. Saya Terima

1187 Words

“Ta-tapi,” gagap Fauzi. “Tolong jaga putri semata wayang saya. Ibunya telah tiada, dan sepertinya saya akan menyusul.” Napas pria itu terengah-engah. “Bapak, jangan banyak bicara dulu,” ujar dokter yang menangani, mengingatkan. “Sebelum saya tiada, saya ingin menjadi wali nikah untuk putri saya. Dia sedang di perjalanan dari pesantren Lirboyo menuju ke sini. Tolong nikahi dia. Pak Huda, tolong jaga putri saya.” Pria itu menangis. Cekalan tangan Fauzi di tangan Alula terlepas. Dunia Fauzi seolah-olah runtuh saat ini juga. Tidak berbeda jauh dengan Fauzi, Alula membeku dan terpaku di tempat. Beberapa bulan terakhir memintal kebersamaan, kebahagiaan, candaan, dan kegilaan bersama Fauzi, lalu hari ini baru saja mereka saling menerima dan mulai dalam tahap keseriusan, harus diurai lagi de

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD