73.Tamu

1024 Words

Lutfan tersenyum. Seperti itulah ibunya, tidak mungkin terus membenci seseorang yang notabene tidak salah. Apalagi membenci Alula. Rasanya tidak mungkin. Mungkin sang ibu masih butuh waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri menerima asal-usul gadis itu. “Iya. Aku berangkat. Assalamualaikum.” Lutfan mencium tangan ibunya takzim. “Waalaikumussalam.” Lutfan tergesa-gesa keluar rumah. Ia sesekali melihat arloji, sudah sangat terlambat. ‘Nanti saja sepulang dari kampus aku ke Alula. Sekarang tugas negara dulu.’ Pria itu membatin. Ia melajukan sepeda motor menuju tempatnya menyalurkan ilmu. Lutfan tidak tahu kalau Alula sudah keluar dari rumah sakit bersama kedua sahabatnya. Mungkin, Alula tidak akan menampakkan diri di hadapan Lutfan lagi. “Apa yang sebenarnya terjadi, sih, La? Mana ibunya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD