Suara genderang nya sudah bertalu dan itu adalah sebuah tanda acara akan dimulai.
Ya, seperti biasa di setiap tahunnya para sesepuh akan mengadakan acara di desa kami yang merupakan wujud syukur kehadirat Allah karena telah melimpahkan banyak rizki sehingga panen raya kali ini berjalan sukses. Jangan harap ada kepala kerbau atau sesembahan antik lainnya di acara kami karena masyarakat desa kami sudah meninggalkan jauh sekali kebiasaan animisme itu setelah agama Islam masuk dan perlahan membuang segala macam adat istidat yang sebenernya kutak paham juga arah tujuannya, tapi setidaknya itulah yang aku dengar dari para sesepuh desa.
Desa Kersik Tuo di kecamatan Kayu Aro adalah tempat lahir. Gerbang utama untuk masuk ke Gunung Kerinci. Tempat bertukarnya budaya karena merupakan jalur pendakian yang efektif bagi para pendaki dan Pasar Kersik Tuo adalah aula terbukanya, menyimpan keunikan dan keberagaman budaya, tempat yang paling menyenangkan bagi para pengunjung untuk saling bertukar pandangan baik budaya, pengetahuan, hasil alam, kerajinan, bahkan kisah sedih dan kisah kebahagiaan. Minimnya kriminalitas mencirikan tempat kami yang aman dan banyaknya area perbukitan di sekitar tempatku merupakan area yang sangat aku gemari. Duduk berjam jam menatap perkebunan teh yang terbentang, hijau kekuningan sepanjang mata memandang dan harum teh yang dibawa semilir angin selalu sukses membawaku terbang menuju angan-angan yang dapat ku capai, memabukkan dan menjadi candu, mengalirkan frekuensi gamma ke alam pikiranku.
Namaku Zain Al Fatih dan yang sedang berlomba denganku sekarang adalah Abi ... Abiyaksa Purnama
“Huaaaaaaa ... Abiiiii tunggu aku...”teriakku sambil sambil terus mengayuh sepeda tiada henti dan tidak ada niat untuk melambat...
“Hahahaha ... Ayo!!! Zain ... Jangan banyak teriak dan segera susul akuu...” Abi teriak sambil menjulurkan lidahnya.
'Sial Abi...Aku selalu saja kalah dengan nya. Aku harus menyalahkan badanku yang kurus ini lagi kah dan kaki ku yang kerempeng...Aaarggghhhh...Sebeeellllll...Abi liat saja aku akan mengalahkanmu kali ini.'
Kami berlomba mengayuh sepeda menuju area perbukitan atas tempat terselenggaranya acara. Ayah dan Ibuku dan para orang tua yang lain sedang menyiapkan makanan dan aneka jajanan di bawah tenda putih yang sangat luas. Para Pemuda dan Pemudi merapihkan tempat duduk dan meja di tenda yang lain, ada pula yang menghias bukit ini dengan semua ornamen lampion atau bola bola lampu kertas.
Acara ini sangat tidak bisa dilewatkan begitu saja karena acara ini adalah cara yang paling efektif untuk saling menyambung tali persahabatan antar warga. Para ayah sudah duduk di lingkaran meja besar saling bercerita dan memberi saran yang harus diperbaiki dari alat-alat perkebunan mereka, bagaimanapun para Ayah adalah ujung tombak untuk kelangsungan panen raya berikutnya walau para ibu tidak kalah dalam memberikan sumbangsih nyata untuk kelancaran panen raya nanti.
Aku dan Abi sekarang kelas 2 SMP, badan bongsor Abi yang tegap selalu membuatku iri walau kadang Abi juga merasa iri atas kelincahan memainkan bola kaki. Semua kelebihan dan kekurangan inilah yang membuat kami saling melengkapi.
“Zainnnn...pelan sedikit..” Abi berteriak karena khawatir Zain akan kehilangan keseimbangan bila ia terus melaju kecepatan, karena Abi sangat tahu Zain tak tahu medan.
Dan tak lama kemudian..
“Aaahhhhhhh ... Bruughhhhh...” ( slow motion: sepeda melayang di udara dan begitu pula Zain. Mendarat dengan sempurna di bukit rumput)
Sepeda yang melayang itu kontan membuat dua gadis yang sedang duduk santai di bukit ikut melongo dan menatap tak berkedip. Liat sepeda melayang di udara sambil bergidik dalam hati, apakah mereka tak salah liat???.Jangan-jangan itu jelmaan hantu, tapi apa hantu mau ganti wujud jadi sepeda??. Lalu hal berikutnya membuat mereka tersadar karena melihat Zain yang juga melayang dibelakang sepeda. Seketika Adel membayangkan adegan Squidward terpental dengan gerakan memutar ala balerina di kartun kesukaannya Spongebob Square Pants.
“Aaaahhh...Brruuughhhh” bunyi nya sangat berat. Zain terkapaaarrrr. Seketika lamunan 2 gadis ini berhenti dan berganti dengan helaan napas panjang dan tertawa tertahan sesudahnya.
“Hahahahhahahaha...Kau tak apa Zain?” Abi bertanya sambil terbahak begitupula dengan Adel dan Bening yang akhirnya tak tahan untuk ikut terbahak.
“Sialan Kau Abi....Bukannya bantuin malah ketawa”. Zain merengut kesal.
Bening langsung berlari mengejar Zain, sambil tersenyum dia membuka tasnya dan memberikan Plester yang memang selalu ada di dalam tas kecilnya. Zain membersihkan siku dan kaki nya dari tanah dan rumput yang menempel, memeriksa apakah ada yang luka, Zain belum sadar sepenuhnya akan keberadaan Bening yang sedang mengulurkan Plester ke arahnya.
“Hai...Kau tak papa?”gurat khawatir menyelimuti wajah ayu Bening.
“Eh...Eh...Hemmm..sedikit tergores di siku sepertinya” Zain menatap Bening dan mematri wajah ayu itu dengan sangat dalam. Dua tahi lalat di dagu dan pipi, poni rambut yang menutupi dahi, hidung kecil dan merah seperti tomat dan bola mata yang membulat sempurna. Zain tersadar dari lamunan beberapa detiknya.
”Kau tak papa..??”sambil melihat pergelangan tangan Bening yang sedang diperban.
Bening tersenyum, percayalah sangat sulit untuk melihat gadis itu tersenyum. Bening selalu menyendiri dan selalu terlihat murung di wajah cantiknya itu. Adel lah satu-satunya teman yang sangat memperhatikan keadaan Bening setiap harinya karena mereka sekelas.
“Hei...Kau yang terluka kan..” Bening tersenyum dan membuat Zain ikut tersenyum juga. Bening membantu Zain menempelkan Plester sambil memapahnya untuk berdiri kembali.
Adel dan Abi tersenyum melihat kedua temannya itu dari kejauhan dan segera menyusul mereka. Keempatnya lalu bersenda gurau sambil bercanda dan bernyanyi mengikuti acara festival panen raya di desa nya.
“ Aku Zain..” sambil mengulurkan tangan ke arah Bening dan Adel.
“Bening dan ini Adel..” sambil menunjuk Adel disebelahnya.
“Dan Aku Don Juan!..hahahaha..maaf..maaf...aku Abi” kata Abi sambil nyengir kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya. Abiyaksa Purnama memang sangat tampan. Kulit sawo matangnya bersanding dengan ketinggian yang membuat Zain iri. Badan yang berisi dan jangan dilupakan jendela hatinya yang sedikit sipit khas pribumi asli Jambi.
Acara kali ini sangat berbeda karena suhu udara yang sangat dingin membuat keempatnya saling menggenggam tangan masing-masing saling menyalurkan kehangatan.
“Dingin sekali tahun ini ya..” Adel menggenggam tangan nya sendiri sambil menghembuskan udara hangat yang keluar dari napasnya.
“Del kesini mendekatlah padaku..”Abi menarik tangan Adel yang membeku.
Bening tersenyum melihat ulah keduanya sambil menggosok telapak tangannya sendiri yang mulai mendingin. Zain melihat itu dan langsung mendekati Bening, berinsiatif untuk menggenggam jemari Bening yang imut untuk saling memberikan kehangatan satu sama lain sambil tersenyum hangat.
Hari semakin larut dan mereka segera beranjak untuk pulang ke rumah masing-masing sambil berjanji akan bermain esok hari pada saat udara sudah mulai menghangat. Menyempatkan untuk berfoto bersama sebagai kenangan tahun ini di umur mereka yang masih 14 tahun.
Adel menatap foto yang mereka bikin malam ini dan membuat coretan di belakangnya.
18 Oktober 1990, Dingin yang menghangat karena ada kalian Adel, Abi, Bening dan Zain.
***
Pagi yang cerah ini dipakai Zain untuk bersepeda ke sekolah sambil menunggu Bening yang mengayuh pelan sepedanya. Saling tertawa menanggapi kekonyolan masing masing sungguh membuat Bening sesaat melupakan “kesakitan” yang setiap saat menghampiri hatinya.
“Kamu tau persamaan kamu ma Aer?. Zain memulai aksi tak jelasnya,
“Halah...paling sama-sama bening..kaya namaku..” dengan logat melayu yang mendayu-dayu menambah keimutan seorang Bening Rembulan.
“Salah...”
“Ahhh masaaa.....jadi apa pulak tuh?”
“Sama-sama...Melegakan...Dahaga dan hatiku..” jawab Zain asal kena, walau tak ada sedikitpun nyambung kurasa.
“Eaaa...Eaaa....Ea....Hahahhaha...Hahahha...Bisa aja kamu...Raja gombal kali, tapi asli tak nyangka kamu bisa ngegombal juga Zain.”
“Hahahhaha...mungkin karena disebelah ada kau dan disebelah yang lain ada yang bisikan..” Jawab asal Zain kali kedua.
“Sreeetttt.....”Bening otomatis ngerem sambil melihat ke kanan dan ke kiri lalu melihat ke arah Zain.
“Zain...Jangan maen-maen, ga ada siapa siapa di sebelah Kau!”. Bening membola dengan sempurna bikin Zain terpingkal - pingkal menahan perutnya yang sakit akibat tertawa terlalu keras, selain itu tatapan kaget dan polos Bening sangat lucu dan menggemaskan, hidungnya memerah tanpa disadari dan membuat Zain otomatis mencubit hidung tomat Bening.
“Awwww...sakit Zain..”
Zain melengos sambil terus tertawa dan mengayuh sepedanya kembali meninggalkan Bening.
“Zain tunggu...Aku takuutttt” Bening menyusul Zain cepat karena tiba tiba tangannya meremang membuat bulu-bulu halus di tangannya berdiri.
Sesampai di parkiran sekolah mereka bertemu dengan Adel dan Abi yang juga sedang memarkirkan sepedanya.
“Zain...Pengumuman Team sepak bola merah putih dah ada di mading lohh!”
“Wahhh....Yang bener Bi...Ada namaku tak?”
“Tak tau laahh Zain...Aku juga mo langsung kesana buat ngecek..Semoga kita masuk Team ya”Abi tersenyum semangat sambil merangkul pundak Zain.
“Tenanglah...aku yakin kita berdua kan masuk”. Mereka melihat pengumuman di mading kelas dan ketika nama yang mereka cari ada mereka langsung TOS TANGAN...
“Aku bilang juga apa Bi ... kita pasti masuk laahhh...Secara aku si jago gocek dan kau Beck teryahuuuddd... seantero sekolah..” sambil berlagak membanggakan diri.
“Hahahhaha....Benar kali yang kau kata...Semoga kita bisa memenangkan pertandingan tahun ini ya dan melaju ke tingkat Kecamatan.”
“Aamiin...semoga..semoga..”. Mereka berdua berjalan ke kelasnya, kelas 3B.
Adel dan Bening masuk ke kelas 3A dan langsung mengeluarkan buku yang akan dipakai jam pertama ini. Guru IPA sudah datang, Bening sangat antusias mengikuti pelajaran IPA karena dia sangat menyukai pelajaran tersebut disamping pelajaran Prakarya yang juga menjadi favoitnya. IPA mendekatkan Bening yang selalu terpesona dengan keindahan alam, angin yang menyapa kulit, matahari yang menghangatkan perjalanan dan eskalasi bintang yang menakjubkan. Semua hal kecil dari alam membuat hati Bening tenang sesaat dan membuat senyumnya sedikit terkembang. Sedikit saja karena sakit yang dideritanya ternyata lebih banyak menyita hati dan pikiran, rasanya yang terjadi padanya saat ini terasa tak adil. Tapi Bening hanyalah anak berumur 14 tahun yang belum memahami kehidupan apa yang sebenarnya berjalan di sekitarnya. Kata kata kenapa dan apa selalu saja terngiang-ngiang di kepala membuat dadanya sesak dan napasnya menjadi tersenggal.
“Bening...Kita ke kantin yuk..” Sapaan Adel memecah lamunan Bening.
“Ohh.Eehh..Eeh...Aku disini sajalah Del..” Jawabnya menolak.
“Kebetulan aku membawa bekal yang agak banyak dari biasanya nih, karena kemarin ada syukuran di sebelah rumah jadinya rumah aku kecipratan makanan juga ..Hehhee”
“Kita makan bareng yuk Bening...barangkali kita ketemu juga sama Zain dan Abi yaa...biar langsung abis nih bekel yang aku bawa”
“Baiklah...ayooo”Bening tersenyum mengambil uluran tangan Adel.
DPR...Dibawah Pohon Rindang...kami menyebutnya begitu untuk sang kursi panjang dibawah pohon tinggi besar yang sangat menggoda untuk diduduki dan jadi rebutan anak-anak lain.
“ Yeayyyy..Untunglah Zain dan Abi sudah ada disana, jadi kita bisa tenang tak berebut ma yang lain”
“Hai Abi Zain...Kita makan sama-sama yuk...aku bawa banyak banget nih bekelnya soalnya di rumah ada yang lagi sukuran”
“Wahhhhh...Dengan senang hati Del” Sahut Zain dan Abi bersamaan.
Berceloteh riang, lontaran senda gurau, ejekan tanda sayang dan juga janji – janji terpatri di benak masing-masing. Persahabatan yang mereka harapkan akan tetap ada walau kedepannya mereka tidak mengetahui arah kaki mereka akan melangkah. Cerita apa yang menanti, peristiwa kesedihan kah atau kesenangan, semua terlalu jauh untuk mereka pikirkan saat ini. Saat ini hanya ada Zain, Bening, Abi, dan Adel.