5. 16 Januari 2003

2304 Words
Tiga belas tahun sudah sejak kejadian itu. Zain bekerja di penggilingan kopi di daerah nya. Peluh keringat terlihat jatuh di pelipis, lelah dan wajah datar yang hangat tetap menjadi andalan Zain. Lengan kokoh dibalik seragam putih terlihat sangat jelas. Badan yang tidak gemuk tapi juga tidak kurus itu selalu menjadi perhatian, ditambah diamnya seorang Zain membawa kesan yang sangat misterius. Atasan melihat ke arah Zain lalu melambaikan tangannya agar Zain ke ruangannya segera. “Zain, kau ingin aku rolling ke kantor pusat di Jakarta? Aku rasa ilmu dan pengalaman mu di sini sudah cukup untuk bisa bersaing disana,” ujar Pak Dani yang menjabat sebagai Kepala Produksi menyerahkan secangkir kopi kepada Zain. “Zain, apa kau tak mau keluar dari sini hah...? Apa selamanya kau mau membusuk di sini?” sambung Pak Dani mencoba memberi pandangan untuk masa depan Zain yang dia rasa sangat berpotensial. Muda ganteng dan berbakat. Sesungguhnya Pak Dani merasa jengah karena dia sangat tahu isi kepala seorang Zain. Zain pernah berujar dia akan tetap disini karena dia menunggu seseorang kembali. Zain tak perduli apapun yang orang katakan padanya, sogokan materi yang bisa dia raih di Ibu kota tidak menyilaukan matanya. Di hati Zain masih tersimpan nama Bening Rembulan. Menunggu Bening untuk kembali padanya. “Sudahlah Pak ... Kirim saja yang lain ke Jakarta dan terima kasih kopinya ya Bapak Ganteng...,” Zain melengos pergi sambil tersenyum meledek ke Pak Dani yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. “Dasar anak itu, kapan dia akan move on sih...,” Pak dani menggerutu sendiri karena dia sebenarnya sudah tahu jawaban Zain, dia pusing sendiri untuk menjawab surat yang dikirimkan kantor pusat tersebut. Jangan mengira kalau Zain tidak mengetahui apa yang orang lain pikirkan padanya. Dia cukup peka untuk tahu bahwa teman-teman dan saudara di sekitarnya sangat berusaha untuk merubah keyakinan yang terlanjur terpatri di dalam benaknya. Entah sampai kapan nama itu ada disana yang Zain tahu dia masih enggan menyingkirkan nama Bening Rembulan dalam hati dan pikirannya. Tanpa Zain sadari ada sepasang mata indah yang sedari tadi menatapnya dari kejauhan. Sulit untuk tidak melihat sosok Zain di sekitar pabrik itu karena badan tinggi nya terlalu mencolok jika dibandingkan pekerja lainnya. “Mari Mr.Kurota dan nona Rika saya akan ajak anda berkeliling ke seputaran area produksi biji kopi kami.” Pak Dani rupanya memiliki agenda lain hari itu. Beliau kedatangan seorang Peneliti dari Jepang yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Mr. Kurota merupakan seorang Kimiawan asal Jepang, beliau di Indonesia sudah 10 tahun lamanya, beberapa tempat sudah banyak dijambangi Kimiawan itu. Mr.Kurota juga seorang peneliti kopi dari berbagai daerah di Indonesia sebagai bahan Penelitian nya di bidang Kimia Organik. Mr, Kurota yang asli Jepang menikah dengan wanita asli Indonesia yang bernama Kasih Mulia Chaniago, seorang pengusaha Retail asal Jambi berdarah Padang dan memiliki anak bernama Rika Kurota Chaniago. Wajah Rika merupakan perpaduan 2 negara yang sangat kentara, mata sipit Mr. Kurota, hidung Bangir kepunyaan Kasih, bibir tipis khas wanita Jepang diikuti bentuk rahang yang tegas khas wanita Sumatera. Rika sosok yang sangat mandiri sejak kecil karena kesibukan kedua orang tuanya mengharuskannya seperti itu. Rika bekerja di kantor pusat perusahan penggilingan kopi ini sebagai Quality Assurance Manager, dan saat ini bersama ayahnya yang bertugas sebagai konselor untuk membuka unit Laboratorium di sini. “Zain kemari sebentar!” Pak Dani memanggil Zain untuk mendekat. “Tolong antarkan Mr.Kurota dan nona Rika untuk keliling Pabrik ini. Survey lapangan ini dikhususkan untuk melihat lokasi strategis pembangunan Laboratorium Kimia di area Pabrik kita!” Pak Dani menjelaskan tugas yang harus dilakukan Zain saat ini. “Silahkan Mr Kurota dan nona Rika untuk selanjutnya saya serahkan kepada Zain untuk menemani. Jangan sungkan untuk bertanya apa pun kepada Zain karena dia seorang yang berpengalaman di bidang ini dan berpengetahuan cukup luas walau masih muda,” Pak Dani tersenyum dan menyenggol tangan Zain dengan sengaja, menggodanya. Pak Dani sangat tahu bahwa sejak tadi nona Rika selalu mencuri pandang kepada Zain. “Baik Pak, saya akan berusaha sebaiknya,” ucap Zain sambil memasang senyum ramah dan sedikit datar. “Mari Mr. Kurota dan nona Rika, kita berjalan ke sayap barat terlebih dahulu,” Zain berjalan berdampingan di sisi kiri Mr.Kurota sedangkan Rika di sisi kanannya. “Jadi ini adalah area produksi kita, luasnya sekitar 2 hektar dan dibagi dengan beberapa bagian Departemen Produksi,” Zain menjelaskan dengan detail. “Area sortir memang memakan lebih banyak tempat, karena menurut saya disinilah awal mula citarasa kopi dimulai. Ada kurang lebih 4 hal yang harus diperhatikan dlm mensortir buah kopi, seperti mungkin yang nona Rika sangat paham, buah premium merah, buah merah semburat hijau, buah hijau dan buah merah retak. Tapi kenyataan di lapangannya bisa saja mendapat lebih dari 4 jenis tersebut,” Zain menjelaskan dengan anggukan setuju dari Rika sambil menambahkan beberapa hal kepada ayahnya. “Jadi memang sebenarnya perusahaan pusat mau mengembangkan Research and Development Laboratory di sini karena ternyata varian yang dihasilkan perkebunan bervariasi. Sehingga diharapkan pengembangan produk akan terealisasi dengan mumpuni dan baik, Yah,” Rika menjelaskan kembali maksud perusahaan kepada Mr.Kurota sebagai konselor. “Dari perkebunan sendiri memang selalu mencari varietas bibit baru yang unggul. Dan ini yang sebenarnya membuat saya tertarik untuk terus mencari jenis biji kopi pilihan. Jenis baru atau pengembangannya,” Zain terlihat sangat antusias saat menjabarkan, hal ini merupakan tujuan dan mimpi Zain bekerja di perusahaan ini. Bagaimanapun kehadiran kompetitor baru membuat perusahaan pasti memikirkan cara untuk berinovasi dan mengembangkan apa yang mereka miliki saat ini., “Betul sekali Pak Zain,” Mr.Kurota mengamini pernyataan Zain. “Aduh Mister, panggil saja Zain, saya merasa tua jadinya, padahal kan saya masih gagah begini Mister,” sambil mengangkat kerah bajunya yang tak terlihat. Zain sangat tahu mencairkan suasana. Membuat orang lain disekitarnya merasa nyaman adalah prinsip hidup Zain. Bertolak belakang dengan dirinya yang Introvert. Mungkin Zain hanya meletakkan segala sesuatu sesuai pada porsinya saja. “Hahahaha ... Baiklah Zain ... Mari kita lanjutkan,” Mr.Kurota tertawa melihat pola tingkah Zain. Dalam benaknya, Supervisor Produksi di Pabrik ini hebat, karena kemampuannya memang tidak bisa dianggap rendah. Mereka melanjutkan survey lapangan ini dengan melihat beberapa area produksi, seperti area pengelupasan kulit dengan metode basah dan kering. Layaklah bila kopi Arabika Robusta memiliki harga yang lumayan tinggi dibandingkan yang lainnya karena proses produksinya juga memakan biaya besar. Lalu mereka melanjutkan ke sistem pengelupasan kulit ari ke 2 dan lalu ke area pengeringan. Semua mesin-mesin besar terjajar rapi dan bersih karena perusahaan ini walaupun kapasitas produksi per tahunnya belum bisa menyaingi hasil perkebunan milik BUMN tetapi salah satu perusahaan bertaraf internasional yang diakui oleh para pesaing di bidang yang sama. Mempertahankan kualitas adalah harga mati untuk para pekerja produksi, rasa kepemilikan antar pegawai sangat tinggi karena Perusahaan juga mengapresiasi kerja keras mereka dengan sangat layak. “Kita istirahat dulu Mister dan nona Rika. Nanti kalau sepulang dari sini saya sarankan untuk pijat kaki agar tidak merasa pegal dan kelelahan. Bagaimanapun saya tidak mau ditegur sama perusahaan pusat jika setelah ini anda sakit.” Sambil tersenyum jenaka kepada para tamunya hari ini. “Ide yang bagus Zain, atau setelah ini Anda bisa Saya sewa untuk sesi pijat berikutnya?” Mr.Kurota membalas aksi jenaka Zain. “Hahahaha ... Hahahah ... Boleh-boleh Mister, saya akan dengan senang hati melayani anda Tuan Paduka Raja” Zain menimpali Banyolan Mr.Kurota membuat Rika juga tersenyum lebar melihat interaksi keduanya. Mereka menuju Chill Out Area. Zain yang menamainya karena dia selalu bicara seperti itu dengan pekerja lainnya “Just Chill and smoke..”dan Area santai ini adalah area favorit Zain, di sini biasanya dia dan para pekerja lain akan melakukan selonjoran kaki sejenak, 8 jam bekerja dengan berdiri bukan perkara yang mudah. Zain membangun kursi dan meja di bawah pohon pinus besar ini untuk melepas penat dan lelah. Kontur tanah yang sedikit berbukit bagai kursi pijat alami. Sempurna karena team Pantry ternyata sudah menyiapkan kopi panas dan cemilan di meja untuk dinikmati tamu Zain. “Silahkan diminum dahulu Mister dan nona Rika, mumpung masih panas.” Zain menawarkan kopi yang disediakan oleh team pantry. Mr.Kurota menyesap aroma kopinya lamat-lamat. Menyeruput sedikit demi sedikit, merasakan rasa pahit, asam dan manis di saat bersamaan. Cafein yang terkandung memang mendatangkan Euphoria tersendiri, menenangkan dan membuat rileks. “Enak sekali kopinya Zain. Pantas saja menjadi salah satu yang diperhitungkan” Mr.Kurota tersenyum penuh arti. “Menenangkan ya Mister. Seperti ada yang memanggilmu dari jarak yang cukup dekat tapi kau enggan tuk menoleh.” Zain berfilosofi. “Betul sekali Zain. Aroma, suasana, dan analogimu. Ya itu bisa menjadi sesuatu yang sangat bagus.”balas Mr.Kurota. Setelah survey ini berakhir, baik Zain Mr. Kurota dan Rika saling bertukar kartu nama lalu Mr.Kurota diantar Pak Dani untuk kembali ke Hotel Di Sungai Penuh karena keesokan harinya Mr. Kurota harus kembali ke Jambi lalu melanjutkan ke Jakarta. Sedangkan Rika masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor dengan Pak Dani. Rika diantar Zain dengan menggunakan mobil Jeep yang dia punya. “Terima kasih Zain sudah berkenan mengantarkan saya ke motel, saya hampir tidak ada ide tadi untuk kembali mengingat ini hari pertama saya ke Kersik Tuo” “Jangan sungkan Nona,” “Panggil Rika saja, saya bukan majikan kamu By the way” “Oke Rika, nice to meet you, by the way, it’s so surprising cause Mr.Dani didn’t mention about this before, so big apologies if some reason I am making You and Your Father uncomfortable.” “Don’t be Zain, You and Your joke were always fine for me and also my father. Good to know that this company has you in a production line. I had been mentioned by Mr.Director about You and Mr.Dani, and what he said before totally right.” Zain tersenyum mendengarkan apa yang diutarakan Rika. “Besok saya akan jemput kamu jam 7 ya, atau masih terlalu pagi untukmu?” ucap Zain sambil bergegas membuka Seat Belt Rika. Hembusan napas Zain saat berbicara itu serta merta masuk ke penciuman Rika dan membuat ia sedikit terdiam. Damn! I think I got attracted by this man. “Seven will be fine and thanks for today. See u tomorrow” “Sleep tight and hot milk before, will be the right choice” Zain dan semua bentuk perhatiannya, tak sedikit yang menyalah artikan dan tak sedikit juga yang protes. Tapi Zain dan wajah datar hangat itu sepertinya sudah terbiasa. “Thanks again Zain ... Bye!” Setelah ini Rika harus bersusah payah menormalkan degup jantungnya sendiri. Lelaki itu dan segala bentukannya sukses menyentil sudut hati Rika yang telah lama mati suri. Hati yang hangat adalah satu pujian yang bisa Rika sematkan untuk sementara. Oh! Apa dia berfikir untuk mendekatkan diri dengan pemuda itu?. Ide yang bagus untuk memuaskan hati dan ide buruk mengingat ini masih terlalu awal. Rika sebaiknya mengikuti usul Zain, minum s**u hangat lalu tidur, bagaimanapun dia tak boleh telat untuk Mr.Dani besok. Pagi yang sangat cerah dan menyegarkan, mood yang harus dipertahankan Zain sampai akhirnya dia bisa kembali ke rumah. Zain tinggal terpisah dengan Bapak dan Ibunya sejak 2 tahun yang lalu, dia membeli tanah dan membangun hunian, dan percayalah huniannya sangat mencerminkan seorang Zain, sang Introvert tapi hangat di saat yang sama. Tidak banyak furniture yang didapati karena sebenarnya Zain hanya bingung. “ “Ok! Kuakui aku butuh sentuhan wanita di rumah ini!” monolog Zain. Zain melaju Jeep birunya ke Motel Rika. Senyumnya terbit sekilas saat mengingat Rika kemarin, bagaimanapun wajah uniknya sempat menyita Zain. “Come on! It’s totally normal”. Zain hanya membenarkan alasan yang dikirim ke otaknya. Apa ini berarti dia teralih?. "Peralihan yang normal dan baik kurasa," sekali lagi Zain ingin berspekulasi dengan otaknya atau hatinya. Berbicara dalam benak sedari tadi membuat waktu terasa cepat dan seketika dia sudah berada di Motel. “Hai Rik ... Aku tepat kan ya?” “Yes ... Let's go ...” Rika segera masuk saat pintunya sudah dibukakan oleh Zain. “So gentleman! Ok Rika!ini masih pagi, mari kita fokus terhadap pekerjaan dulu". Percakapan hati yang membuat ekspresi Rika berubah dan perubahan ini tertangkap jelas di mata Zain. “Ada apa? Apa semalam kakimu pegal-pegal sehingga sulit tidur?Sepertinya kau tak ikut saranku untuk minum s**u hangat ya!” “Ohohoho...Tuan yang banyak bertanya ternyata. Baiklah Bapak Zain yang ganteng. Kaki saya baik-baik saja dan Ya saya mengikuti saran Bapak untuk minum s**u hangat sebelum tidur dan Ya lagi, saya tidak tahu kalo Bapak ganteng begitu perhatian sama saya” Rika menjawab pertanyaan Zain dengan sangat kilat sampai dia tidak tersadar bahwa dia memanggil Zain ganteng! “What!Twice!Damn...what happen with you Rika, you and your mouth!! Oh I hope his didn’t realize that words” monolognya. Zain tersenyum penuh arti, sambil terus melajukan Jeep birunya. “ Oh..Oke terima kasih pujiannya, by the way” Rika memerah dan sekali lagi hal itu tertangkap jelas di lirikan mata Zain. “Langsung ke Pak Dani kan Rik?” mencoba membangun percakapan profesional selalu menjadi jurus jitu untuk memecah kecanggungan. “Iya Zain, aku harus membuat proposal hasil survey kemarin sebagai pembanding di Cost Fund nanti. Bagaimanapun Perusahaan perlu tahu perencanaan biaya internal sebelum mereka setujui proposal dari pihak kedua.” Zain mendengar penjelasan Rika dengan seksama. “Oh jadi seperti itu ya cara kerja nya! Jadi semisal nilai yang kamu dapat terdapat gap yang jauh dari punya pihak kedua lantas akan seperti apa?” Kali ini Zain sangat serius dan bersemangat mendapat ilmu baru dari Rika. “Aku tak berhak memutuskan hal itu sebenarnya, Accounting Manager nanti yang punya peran. Tapi setidaknya laporan akan membantu mereka untuk membuat keputusan, apakah meneruskan kerja sama dengan pihak kedua dengan win-win solution atau relocated atau mencari konselor lain dengan gap yang tidak terlalu jauh. Paling tidak itu yang biasa aku ketahui dari hasil rapat nanti,” Rika menjawab santai pertanyaan Zain, tanpa beban. Percakapan berkualitas dengan orang yang berkualitas?STOP it RIKA!!!. Pikiranmu jangan terlalu jauh! Perlahanlah agar ketika tersandung kau tak merasa itu berdarah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD