Keesokan harinya, Zain meminta ijin kepada orang tuanya untuk ke Sungai Penuh, awalnya Ibu tidak mengijinkan tapi karena alasan yang dikemukakan sangat masuk akal maka Ibu memberi ijin. Lagi pula jaraknya tidak begitu jauh hanya sekitar 1- 2 jam saja dr desa Kersik Tuo. Sepanjang jalan menuju Sungai Penuh Zain tidak berhenti merapalkan doa, semoga perjalanan ini tidak ada kendala dan bisa menemukan Bening dengan selamat.
Zain melihat kearah jendela Bus sambil menikmati keindahan dan keelokan Gunung Kerinci yang memang tidak terbantahkan. Dikenal sebagai Atapnya Pulau Sumatera karena kegagahannya yang menjulang mengalahkan gunung- gunung lain di Pulau Sumatera. Dari jarak ini kita bisa melihat benar adanya bahwa Gunung Kerinci memang surga yang belum ditemukan. Eksotisme yang ditawarkannya sungguh menggoda, hamparan bukit teh terbesar dan tertua setelah Himalaya dan juga keindahan perkebunan kopi di tengahnya membuat siapa pun tersihir. Tidak hanya para pendaki tetapi juga para peneliti di seluruh dunia pun mengakuinya.
Zain mengetahuinya dari sang paman. Paman Zain adalah salah satu penyedia Homestay tertua di Kayu Aro bagi para pendaki atau peneliti Gunung Kerinci, beliau sangat fasih berbahasa Inggris dan jangan diragukan lagi pengetahuannya akan daerah kami. Satu hal lain yang tak boleh dilupakan, yaitu para pecinta Kopi Arabika Kerinci yang setiap tahun gelombang arus bisnisnya terus bertambah dan itu berarti peluang bisnis semakin terbuka lebar. Pamanku selalu berkata, anak muda harus bisa minum kopi dan terutama kopi Arabika Kerinci. Kopi ini mempunyai rasa yang kuat untuk anak-anak seumur Zain, tapi satu yang membuat Zain menyukai kopi ini karena aroma dan kehangatan yang diberikannya. Mengalirkan Hormon Endorphine yang ketika sampai ke otak langsung mengalirkan frekuensi Gamma. Cita-cita terbesar Zain adalah menjadi Profesional di bidang kopi dan kopi Arabika Kerinci lah yang akan diperkenalkan kepada dunia.
Lamunannya membawa Zain sampai di Sungai Penuh. Zain menyusuri tiap jalan dan gang yang menjadi basis perdagangan. Melihat dan bertanya, berkeliling sambil membawa poto Bening. Matahari sudah mulai tenggelam dan enggan untuk menampakkan sinarnya tetapi Zain masih belum menemukan Bening. Zain terduduk di tepian toko dan meluruskan kaki yang sangat lelah sambil memakan roti Bakpao hangat. Seketika dari kejauhan Dia melihat sosok yang sepertinya dikenal. Mengamati lamat-lamat sambil berdiri lalu Zain berlari menghampiri dengan terburu.
”Beniiinggg...”
Bening berhenti terhenyak dan seketika menutup mulutnya dengan kedua tangannya, terkejut dan tak percaya atas apa yang dilihatnya.
” Zaiiinnnn ... Zain ... Kau ada disini” Bening berlari lalu memeluk Zain erat. Air mata luruh dengan bebas menyentuh pipinya
“Ini benar kau Zain ... Aku merindukanmu,”isak Bening tak tertahan.
“Alhamdulillah ... Akhirnya kau kutemukan. Apa yang kau lakukan disini hah,? Dengan siapa? Rumahmu dimana?” berondong pertanyaan langsung aku tarakan sambil terus memeluk Bening dan mengecup puncak kepalanya.
“Ayo kita duduk dulu Zain,” sahut Bening lirih sambil menahan sesak di d**a.
“Apa yang terjadi dengan matamu? Ya Allah...,” Zain baru tersadar sebelah kanan mata Bening membiru. "Siapa yang melakukan ini padamu? katakan padaku Bening!” Zain mengguncangkan pundak Bening lalu menatap mata bulat yang layu itu. Bening tergagap lalu akhirnya bisa menguasai emosi yang mulai menyeruak.
“Kekasih mamahku yang melakukannya. Mamah dan kekasihnya seorang pecandu, berulang kali aku dipukul walau aku tak mengerti kesalahanku dan berulang kali pula aku memohon pertolongan mamah untuk sekali saja membela ... mendekap. Tapi yang aku dapatkan hanya acuh, dia terlalu sibuk dengan dunianya sehingga seringkali tak melihatku ada. Saat kesadarannya pulih mamahku selalu menangis dan berjanji akan mengusir kekasihnya itu tapi janjinya hanya janji, karena ketika mereka telah mengkonsumsi barang haram itu lagi semua kesadaran dan akal sehat hilang dan mereka tidak bisa mengendalikan apa yang mereka lakukan kepadaku,” urai Bening dengan napas terisak
“Aku kesini dengan mamah, aku menemaninya kesini untuk bekerja dan aku juga ingin menjauhkan nya dengan kekasih laknat itu. Tapi hari ini aku menyadari, bahwa laki-laki itu masih berhubungan dengan mamahku. Lelaki itu berjanji tidak akan memukulku lagi. Ini yang terakhir kalinya dia memperlakukan aku seperti ini. Entahlah Zain, aku bingung apakah harus mempercayainya atau tidak,” sambung Bening kembali.
“Ikutlah denganku Bening, aku akan menjagamu, orang tuaku sudah tau perihal dirimu dan mereka menerimamu dengan tangan terbuka. Maukah kau pergi denganku?”
Zain menggenggam jari mungil itu dan berharap jawaban iya dari Bening. Betapa dia sangat merindukan gadis ini. Gadis yang setiap harinya membuatnya tertawa dengan celotehan menakjubkan ala Bening Rembulan, seakan tak percaya bahwa ada orang Dewasa yang dengan sangat tega memperlakukan Bening seperti ini.
Raut muka Bening seketika bahagia, matanya berkaca-kaca mendengar hal yang diutarakan Zain, seakan tak percaya bahwa malaikat penolong itu ada dalam sosok Zain Al Fatih dan lalu Bening mengangguk tanda setuju.
“Aku akan melayani keluarga kalian Zain, jangan takut aku bisa menyapu mengepel dan semua pekerjaan rumah. Aku tidak bisa bayar kamu dan membayar keluargamu tapi aku bisa menjadi pesuruh di rumahmu Zain.”
Tidak ada yang gratis di dunia ini, Bening sadar akan hal tersebut tapi setidaknya hal inilah yang bisa dilakukan oleh gadis kecil seperti dirinya.
“Hahahahha ... Ada-ada saja Kau. Kau itu bukan pembantuku tahu. Tapi ... Aku akan senang dilayani oleh gadis cantik sepertimu,” Aku mengedip nakal dan mencubit pipi Bening yang kemerahan.
“Ayoo kita segera ke terminal, hari akan semakin larut, mungkin kita akan ikut keberangkatan bus pada pagi hari tapi setidaknya disana kita bisa istirahat dahulu. Disini aku rasa tidak akan aman, Aku membawa gadis cantik dan Aku hanya laki-laki yang belum dewasa. Aku sadar kekuatanku tidak akan sebanding dengan para preman sini”
Berfikir dengan logis pada saat tertekan adalah salah satu keistimewaan yang dimiliki lelaki, insting melindungi mereka sudah terlatih sejak dini, begitu pula denganku.
“Baiklah Zain, terima kasih sudah mencari dan menemukanku. Aku tak tahu bagaimana membalas semua kebaikanmu dan keluargamu nanti,” Bening memandang Zain dengan keharuan yang luar biasa. Zain sangat bisa diandalkan, sosok yang akan selalu Bening harapkan sebagai pelindungnya.
“Tak usah kau pikirkan itu sekarang, yang penting kau harus aman dulu. Ayoo kita berangkat!”
Langkah yang tidak mudah diambil oleh anak remaja berumur 14 tahun, segala resiko dan perhitungan Zain yang setengah matang membawanya kepada keputusan yang berdasarkan kata hati. Aku tidak peduli apapun kedepannya, Aku hanya ingin menyelamatkan Bening dari predator kejam yang berkedok calon ayah tiri.
Mereka berada di Bus menuju Kayu Aro, pagi masih sangat gelap sekitar pukul 3 pagi. Bening terlihat sangat kelelahan dan Aku tidak melepaskan genggamanku agar gadis cantik ini tetap tenang dalam tidurnya. Sesekali Aku mendengar Bening mengigau, tanda perih keluar dari bibir mungil itu.
“Bening, yang perlu kau tahu adalah pada saat titik tersakitmu ada aku yang selalu disini untuk memelukmu” janji Zain Al Fatih untuk Bening Rembulan.
Tatapanku tak lepas dari Bening sambil memperhatikan seluruh keadaan Bus. Aku selalu meningkatkan kewaspadaan untuk selalu menjaga Bening walau akhirnya rasa kantuk itu tiba dan tertidur, saling menggenggam memberikan kehangatan satu sama lain. Dalam hatiku akan selalu ada Bening, dan semoga dalam hatinya ada Aku sebagi tempat kembali.
Tepat pukul 5 pagi Aku sampai di kecamatan Kayu Aro lalu Aku melanjutkan dengan menaiki angkot menuju desaku, Desa Kersik Tuo. Sesampainya di rumah, Ibu langsung berlari memeluk Aku dan Bening secara bergantian dan mengajakku segera masuk karena cuaca masih sangat dingin di luar.
“Alhamdulillah kau menemukannya Zain. Ibu bangga padamu anak muda,” Ibu memelukku dan mengusap rambut Aku dengan lembut.
“Semua berkat doa Ibu dan Bapak,” sahutku dengan Bijak.
“Baiklah, Ibu tau kalian pasti lapar, jadi segeralah mandi lalu kita makan bersama.”
“Baik Bu..aku akan mengantarkan Bening ke kamar kak Gita.”
Kak Gita sudah di Jakarta selama 2 tahun terakhir ini untuk mengejar cita-citanya sebagai seorang Arsitek. Kak Gita pulang kesini 1 tahun sekali saat lebaran sehingga kamarnya yang kosong menjadi tempat bermainku. Aku suka membaca di ruangan Kak Gita karena koleksi bukunya sangat banyak, dan tentunya yang menjadi kegembiraan adalah Komik.
“Baiklah ... Ibu juga sudah menyiapkan beberapa baju ganti di kasur kak Gita. Tidak usah sungkan ya Bening,” Ibu mengecup puncak kepala Bening dan mendekapnya lagi.
(Saat awal Ibu tidak menyetujui kepergian Zain untuk mencari Bening, Ibu menganggap ini hanya pertengkaran 2 anak yang sedang pubertas. Tapi setelah Zain mengatakan keadaan sesungguhnya seorang Bening, Ibu langsung mendukung Zain untuk mencarinya karena Ibu tahu dibalik sikap Zain yang terlihat cuek ada rasa tanggung jawab yang besar dan Ibu bangga akan hal itu. Lagipula tidak ada salahnya menambah satu anak lagi dalam kartu keluarganya)
Setelah rapih Zain menuju ruang keluarga yang juga sebagai ruang makan bersama, sayuran dan ikan sudah tertata rapih di tikar yang digunakan sebagai alas. Zain tak mengenal meja makan karena lesehan seperti ini jauh lebih menyenangkan dan membuat hangat. Zain menghela napas saat melihat Bening meneteskan air mata di sudut mata bulatnya.
Kehangatan yang sangat Bening harapkan akan terjadi lagi di rumahnya. Semenjak Ayahnya pergi meninggalkan mamah semua kehangatan berubah menjadi derai air mata. Mamah yang sakit hati karena sang Ayah yang ketauan selingkuh dan lalu memilih selingkuhannya itu membuat Mamah patah arang dan rendah diri. Putus asa memikirkan bagaimana dia akan menghidupi Bening membuat Mamah jatuh kepada pergaulan bebas yang kelamaan menggerus kebaikan dan kehangatannya sebagai seorang Ibu. Mamah berubah menjadi seseorang yang sangat emosional dan rapuh disaat yang sama. Sikap labilnya dipengaruhi oleh obat-obatan terlarang yang selalu mamah konsumsi. tahu dalam hati sang Mamah sangat mencintai Ayahnya, karena Ayah adalah cinta pertama sang Mamah dan juga sahabatnya sejak SMA. Bening tahu semua sikapnya saat ini atas dasar kecewa yang terlampau dalam.
“Jangan bengong terus, makan yang banyak” ucap Zain sambil menyenggol lengan Bening.
“Iya Bening, makan yang banyak ya. Ayoo, habiskan semua lauknya,” Ayah tersenyum melihatnya.
“Bening suka makanan yang gimana?” Ibu bertanya untuk menghangatkan suasana. Bening yang sangat pendiam itu harus dipancing untuk berbicara, Ibu memang seorang pembaca keadaan yang paling handal. Entah apa yang terjadi jika keistimewaan ini tidak ada dalam sosok seorang Ibu, seakan dunia menghitam bagai jelaga.
“Apa saja Bu, Bening tak pemilih dalam hal makan,” ucapnya tersenyum manis.
“Soalnya kalo Zain itu beda, Dia tak suka masakan pedas, makanya Ibu selalu menyediakan sambal, Zain bisa sakit perut tuh klo makan pedas,” Ibu berhasil sekali lagi memancing Bening untuk fokus kedalam hal-hal yang santai seperti ini.
“Hah ... Kau tak makan pedas Zain? Tapi kau makan nasi goreng yang waktu itu aku buat, waktu pertandingan antar desa itu Zain, itu kan pedas kali itu!” ucap Bening tak percaya sambil membulatkan matanya.
“Shutttt ... Tak usah dibahas lagi Bening, dah lewat juga,” wajah Zain memerah lalu melengos tak peduli membelakangi Bening. Menahan malu karena Aku sangat sadar setelah ini akan ada rasa puas di mata kedua orang tuanya karena berhasil membuatku tak berkata-kata.
“Hahahha ... Hahahha ... Ternyata anak muda Ayah sudah mulai dewasa nih Bu,”Ayah tertawa terbahak melihat kelakuan Zain. Ayah dan Ibu terus saja menggoda membuat muka tambah merah padam.